Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub-sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi yang secara rasional mampu menstransformasikan data sehingga menjadi informasi dengan berbagai cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang ditetapkan.
Dari Wikipedia, disebutkan bahwa tujuan Umum dari Sistem Informasi Manajemen adalah :
1. Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.
2. Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.
3. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ada salah satu kekurangan dari suatu sistem informasi adalah ketidakmampuan dalam memahami cara berfikir manusia (manajer) dalam memproses data sehingga output atau proses sistem informasi manajemen tidak dapat optimal. Cara berfikir manusia ini diwujudkan dalam bentuk gaya manajemen, struktur organisasi, aturan atau kode etik, mekanisme penggajian, iklim persaiangan, inovasi, dan lain-lain. Karenanya suatu sistem informasi yang baik harusnya sudah mengakomodasi cara berfikir tersebut.
Metode manajemen yang digunakan harus jelas dulu sebelum pembuatan sistem informasi, agar pembuatan sistem dapat menyesuaikan algoritmanya sesuai dengan tujuan metode. Penggunaan metode Balanced Score Card (BSC), Economic Value Added (EVA), Activity Based Management (ABM), Six-Sigma jelas berbeda maksud, mekanisme dan tujuannya. Bahkan penerapan metode ABM di suatu perusahaan A misalnya, bisa jadi berbeda dengan penerapannya di perusahaan B, karena semuanya disesuaikan dengan gaya manajemen, kondisi yang unik, atau dengan kata lain “cara berfikir” organisasi yang berbeda antara satu dengan lainnya.
Metode ini menentukan metrik apa saja yang akan diukur, bagaimana cara mengukurnya, aplikasi apa yang akan diterapkan, dan bahkan tindakan apa yang dilakukan jika terjadi ketidaksesuain antara kriteria dengan kondisi kinerja.
Contoh penggambaran untuk penerapan cara berfikir Balanced Scorecard, dapat dilihat pada gambar berikut.
Gambar. Piramida balanced scorecard, diambil dari http://www.primerusconsulting.com
CONTOH KASUS
Contoh kasus ada Sistem Informasi X (SIM X) yang diterapkan pada suatu perusahaan ABC, yang digunakan terutama untuk monitoring hasil manajemen review. Status hasil pelaksanaan kesepakatan manajemen review dapat dimonitor di sini, bahkan sistem ini memiliki fasilitas notifikasi dan warning via sms dan email. Selama suatu manajemen review belum di-closed oleh pejabat yang berwenang, maka notifikasi ini akan terus dilakukan setiap hari.
Gambar. Bisnis Proses SIM X
Pada gambar bisnis proses SIM X terdapat metode Balanced Scorecard di dalamnya, jadi sistem informasi ini memiliki Performance Management System juga, dengan metrik-metrik Balanced Scorecard.
Metrik-metrik apa yang dimaksud di sini ?
Ya sesuai dengan keempat perpektif yang ada pada konsep BSC, yaitu perspektif finansial, perspektif kastamer, perspektif proses internal, dan perspektif pembelajaran & inovasi. Apa yang diukur dan target apa yang harus dicapai. Itu semua harus ada dalam sistem informasi SIM X tersebut.
Gambar. Balanced Scorecard (sumber : http://www.clickhrd.com)
Gambar. Balanced Scorecard (sumber : http://www.jiscinfonet.ac.u)
Maka untuk menilai bagus tidaknya sistem informasi X ini, dibutuhkan analisa tentang Balanced Scorecard, pemahaman Manajemen Review, bagaimana mekanisme di dalamnya mampu menggambarkan konsep-konsep ini, dan akhirnya tentu saja bagaimana efektivitasnya sebagai tool manajemen untuk mencapai tujuan awal dari sistem informasi SIM X pada perusahaan ABC.
Lihat contoh uraian kinerja eksekutif di bawah ini, dimana di dalamnya telah di-breakdown beberapa parameter ukuran kinerja berdasarkan kategori perspektif yang ada.
Gambar. Contoh Uraian kinerja eksekutif dalam Balanced Scorecard
MANAJEMEN REVIEW
Dari SOP-nya SIM X ini, dijelaskan bahwa SIM X merupakan tools bantu untuk mendokumentasikan setiap event management review yang berbentuk meeting, coffee morning, workshop atau kegiatan lain yang menghasilkan suatu kesepakatan untuk ditindaklanjuti.
Dalam ISO 9000, definisi singkatnya manajemen review adalah sebuah ulasan sistem manajemen mutu yang dilakukan secara periodik, dilakukan oleh Manajemen untuk menganalisa efektivitasnya. Namun dalam definisi umum, manajemen review ini diartikan sebagai sebuah studi suatu status proyek dan analisa alokasi sumber daya di dalamnya.
Manajemen review ini dapat dilakukan secara informal, namun pada umumnya dilakukan secara formal menyesuaikan dengan struktur organisasi dan aturan yang ada.
Di dalam manajemen review dilakukan kegiatan-kegiatan monitoring progress, menentukan rencana dan jadwal, konfimasi persyaratan dan alokasi sistem, atau mengevaluasi efektivitas pendekatan manajemen untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Hasil manajemen review ini digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan tentang aksi koreksi, perubahan alokasi sumber daya atau perubahan ruang lingkup proyek.
Berikut adalah contoh form / tabel manajemen review.
Tabel. Form Management Review Metting (Sumber : QualityIndonesia.com)
Dari analisa tentang definisi manajemen review ini, nampak bahwa SIM X tidak konsisten dan bias dalam menggunakan istilah manajemen review. Jika mengikuti ISO 9000, maka form harus mengikuti peryaratan mutu, lengkap dengan ketaatan dalam melakukan penomoran dokumennya, status terkontrol atau tidak, dan aturan siapa saja yang berhak mengaksesnya.
ASAS DAURHIDUP PENGEMBANGAN SISTEM
Suatu sistem informasi yang baik, secara teoritis harus taat pada asas dan standar pembuatan sistem informasi yang baik. Misalnya gambar di bawah ini, yaitu System development Lifecycle dan Tahapan perencanaan sistem informasi.
Pertanyaannya adalah apakah dalam pembuatan SIM X ini sudah mengikuti hal ini ?
Jawaban detail kemungkinan besar sulit dirumuskan karena ternyata dari tinjuan di lapangan SIM X ini didisain sudah cukup lama, sehingga informasi tentang bagaimana pembuatannya cukup sulit didapatkan. Namun demikian jika melihat kondisi saat ini, dimana sistem informasi manajemen kolaborasi sudah semakin banyak, rasanya SIM X ini sudah agak out of date.
Satu contoh saja dalam step “Support” pada gambar System development Lifecycle, dimana pada step ini dilakukan pemeliharaan dan updating sistem informasi menyesuaikan dengan kebutuhan, baik mengurangi maupun menambahkan bebera fungsi baru, dengan tujuan agar lifecycle time bisa lebih lama.
Nyatanya step ini kurang berkembang dengan baik. Dari pengamatan di lapangan, kemungkinan karena sarana feedback itu tidak dibuat oleh designer SIM X.
Gambar. System development Lifecycle (sumber http://muhammadiqbal97.blogspot.com)
PENGEMBANGAN SELANJUTNYA
Berikutnya ini ada beberapa “tantangan” (sekaligus tersirat di dalamnya adalah kelemahan SIM X) sehingga tool ini dapat lebih dikembangkan lagi agar dapat menjadi tool andalan sesuai dengan misi awal pembuatannya.
1. Dokumentasi yang diperluas
Dokumentasi file pada SIM X hanya sekedar mengumpulkan file untuk diupload ke dalam server. Dalam kenyataannya kadang dibutuhkan lebih dari kemampuan itu, misalnya adanya informasi History dari file dan fasilitas Search bahkan FAQ. Dengan fasilitas ini maka para pengguna SIM X dapat mengetahui filenya dalah file versi keberapa, karena bisa saja file yang digunakannya sudah kadaluwarsa (hasil download beberapa waktu lalu, padahal saat ini sudah ada versi terbaru hasil edit dari administrator).
(Gambar. Contoh bagian tampilan fasilitas History dari software kolaborasi Clearwiki)
2. Directory
Perlu ada fasilitas Directory yang dapat memudahkan karyawan jika ingin berkomunikasi menggunakan sarana komunikasi lainnya seperti telpon, email, dll. Dalam SIM X ini bisa memanfaatkan informasi pada database LDAP Portal, atau database HR yang mencantumkan informasi nomor telpon rumah, HP dan email address. Namun jika ini dilakukan, kelemahannya adalah bahwa data tersebut tidak update.
(Gambar. Contoh bagian tampilan fasilitas Directory dari software kolaborasi Clearwiki)
3. Search
Perlunya fasilitas Search untuk seluruh content yang ada pada suatu proyek pada SIM X.
4. Dashboard
Tampilan muka dari SIM X tampak terlalu kaku, dan agak sukar dipahami, terutama untuk para pengguna pemula. Diperlukan perbaikan pada tampilan awal (disebut dashboard).
Gambar. Contoh tampilan Dashboard pada SocialText)
5. Spreadsheet
Hasil kerja dari kolaborasi para karyawan yang terlibat dalam proyek tidak bisa “disatukan” dengan mudah, untuk kemudian dapat dimonitor bersama-sama. Laporan diberikan secara individual, dan tracking prestasi secara keseluruhan tidak mudah dibuat. Karenanya perlu ada tampilan kinerja tim secara keseluruhan secara real time.
Gambar. Contoh Spreadsheet pada SocialText)
6. Community Facility
Fasilitas ini mirip seperti Facebook, sehingga masing-masing anggota proyek pada SIM X dapat saling bertukar pesan (layaknya Milist) namun dengan kemampuan visual yang lebih baik.
Gambar. Contoh Community Facility pada SocialText)
KRITERIA PENILAIAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Untuk menilai atau mengaudit apakah SIM X ini merupakan sistem informasi yang baik, selain harus menyesuaikan dengan tujuan, harus pula dilihat bagaimana perbandingannya dengan produk lain dan fungsi generik apa saja yang ada di dalamnya. Sebagai sebuah sistem informasi, SIM X sebenarnya bisa dianalisa atau dinilai dari sudut pandang sebagai sistem informasi secara umum.
Dalam sistem informasi manajemen semacam ini, ada beberapa parameter atau fungsi umum yang bisa dijadikan obyek analisa untu menilai canggih tidaknya sistem, antara lain :
1. Kemampuan Kolaborasi, meliputi :
a. Dashboard
b. Tim
c. Kalender / timeline
d. Kemampuna Tracking sebuah isu
e. Forum
f. Integrasi Email
g. RSS Feed
2. Manajemen Resource
a. Detil resource
b. Informasi skill resource
c. Timesheet
d. Material
e. Daftar email address
f. Cost
g. Catatan Reosurce
h. Grup
3. Manajemen Proyek
a. Manajemen tugas (task management)
b. Task feedback
c. Grant chart
d. Mind map
e. Reporting
f. Statistik
g. Work load
h. Finansial
i. Critical Path
j. Template proyek
k. Scope
l. Milestone
m. Baseline
n. Risk / Benefit
o. Analyzer
p. Automatic Notification
q. Privacy Setting
4. Kemampuan Remote
a. Multilingual
b. HP / Smartphone
5. Help / Support
a. General Support
b. Ada tidaknya Forum
c. FAQs
d. Demo Video Online
6. System Requirement
a. Window
b. Mac OS X
c. Linux
7. Harga
Dari soal biaya pembuatan, SIM bisa dibuat murah, misalnya dengan berbasis Web, hanya perlu “diinstall” di server, dibuat menggunakan PHP, Apache dan mySQL plus SMS Gateway, yang semuanya sudah tersedia free di Internet.
Dari parameter dan sub-sub nya inilah suatu sistem informasi manajemen dapat dilihat bagus tidaknya, terutama jika dibandingkan dengan sistem sejenis. Dalam prakteknya ada beberapa parameter yang perlu diberi prioritas lebih tinggi daripada lainnya, atau bahkan ada penambahan kriteria kusus, atau ada kriteria yang dapat dihapus.
Yang tidak disebutkan di atas adalah jaminan security, kelengkapan informasi, tingkat kebenaran informasi, relevansi, dan ketapatan waktu penyampaian informasi. Parameter-parameter ini bisa juga dijadikan pedoman dalam penilaian. Misalnya dalam hal completeness, jangan mentang-mentang teknologi ini berbasis ICT maka semua informasi disediakan di dashboard dengan tujuan memberi data selengkap-lengkapnya pada pengguna. Hal itu akan membuat pengguna jadi bingung mana yang harus dibaca. Namun demikian juga jangan sampai informasi terlalu singkat sampai membuat pengguna kesulitan menangkap makna informasi.
Satu hal lagi, sebelum sistem informasi dibuat biasanya dilakukan studi kelayakan, meliputi kelayakan ekonomi (echonomical feasibility), kelayakan operasi (operational feasibility), kelayakan teknik (technical feasibility), kelayakan jadwal (schedule feasibility) dan kelayakan hukum (law feasibility). Semua macam studi ini bisa saja diterapkan pada saat suatu sistem informasi sudah diterapkan dalam jangka waktu lama, karena pada saat itu kondisinya kemungkinan berbeda dengan kondisi saat sistem baru tahap perencanaan. Mungkin waktu itu sistem ini feasible dalam teknik, namun saat ini sudah tidak lagi. Lalu dari sini ambil pertimbangan apa yang harus dilakukan agar mengembalikannya ke posisi feasible lagi, bahkan bisa saja muncul keputusan untuk melakukan penggantian sistem secara keseluruhan.
Sebagai catatan akhir, perlu ditekankan bahwa yang namanya teknologi sebenarnya hanyalah pelengkap saja, karena yang lebih penting dari itu adalah bagaimana sistem informasi dapat efektif mencapai tujuannya. Kalau efisiensi yang diharapkan muncul ternyata tidak terwujud, bahkan menambah rantai birokrasi yang semakin panjang saja, tentu ini menjadi pertimbangan untuk perbaikan sistem lebih lanjut. Yang jadi masalah pelik adalah jika manusia penggunanya yang menjadi biang masalah utama, misalnya saling menyembunyikan data. Kalau begini keadaannya, sebagus apapun sistem informasi yang dibuat, tanpa ada dukungan dari para aktornya, sistem tidak bisa berbuat banyak. Semakin jelas terbukti, manusia juga yang sering menjadi sumber permasalahannya.
REFERENSI
1. Project Management Software Comparisons, http://project-management-software-review.toptenreviews.com/
2. Knowledge Management Review, http://findarticles.com
3. Clearwiki Website, http://www.clearwiki.com
4. Socialtext Website, http://www.socialtext.com
5. Mengelola Kinerja Perusahaan dengan Balanced Scorecard, http://strategimanajemen.net
6. Mutia Ismail, Konsep Sistem Informasi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara
7. Teguh Wahyono, Computer Based Information System (CBIS), Ilmukomputer.com, 2005
