Contoh Soal Simulasi MM1

Sistem dual band 900 MHz dan 1800 MHz

Inter arrival time terdistribusi eksponensial negatif. Service Time terdistribusi eksponensial negatif. Lamda = 2 dan myu = 3.

Buatlah simulasinya dan hasil probabilitas blocking (B terhadap N) untuk sistem di bawah ini

a) Jumlah server (N) di dalam sistem 1 = 1, 2, 3….10

a1

Figure 1. Sistem untuk soal a

b) Jumlah server (N) di dalam sistem 1 dan sistem 2 berpasangan = (1,1), (2,2), (3,3),…(10,10)

a2

Figure 2. Sistem untuk soal b

Distribusi Exponential Negatif

Untuk membuat distribusi exponential negatif, penulis menggunakan Simtools dari www.uchicago.edu. Fungsi yang digunakan adalah EXPOINV(probability, mean). Fungsi inilah yang digunakan untuk membuat angka-angka untuk Inter Arrival Time (IAT) pada kolom B dan Panjang Paket pada kolom C di file Simulasi.xlms.

Catatan : Dalam simulasi ini, panjang paket yang datang merepresentasikan Service Time (karena bukan sistem tunggu).

Inter-arrival time diasumsikan memiliki lama waktu dari 0 sampai 1 detik. Panjang paket juga demikian. Masing-masing dibuatkan angka-angka dengan penyebaran berdistribusi eksponensial negatif. Contoh gambar 3 di bawah ini adalah sebaran untuk salah satu sampel 1000 angka inter arrival time yang dibuat (di sini tidak ditampilkan ke seribu anga tersebut, hanya statistiknya saja). Averagenya adalah 0.48472 dimana angka ini mendekati ti yaitu (1/lamda) atau 0.5

 

IAT

Frekuensi kemunculan

0.1

165

0.2

173

0.3

129

0.4

99

0.5

88

0.6

68

0.7

46

0.8

50

0.9

31

1

24

1.1

18

1.2

26

1.3

15

1.4

11

1.5

8

1.6

5

1.7

10

1.8

4

1.9

5

2

3

2.1

6

2.2

1

2.3

5

2.4

2

2.5

2

2.6

2

2.7

1

2.8

0

2.9

1

3

0

4

2

Table 1. IAT dan Frekuensi Kemunculannya (berdistribusi eksponensial negatif)

a3

Figure 3. Grafik Frekuensi kemunculan vs IAT

Dengan cara yang sama, dibuatkan angka-angka berdistribusi eskponensial negatif untuk panjang paket (karena loss system, maka panjang paket ini bisa menggambarkan sebaran untuk waktu layanan oleh server). Berikut diberikan histogramnya (menggunakan Toolpack Data Analysis Excel 2007)

a4

Figure 4. Grafik Frekuensi kemunculan vs Panjang Paket

Bin

Frequency

Cumulative %

Bin

Frequency

Cumulative %

0.000456

1

0.10%

0.118806

322

32.20%

0.118806

322

32.30%

0.237156

202

52.40%

0.237156

202

52.50%

0.355506

135

65.90%

0.355506

135

66.00%

0.473856

88

74.70%

0.473856

88

74.80%

0.592206

77

82.40%

0.592206

77

82.50%

0.710556

48

87.20%

0.710556

48

87.30%

0.828906

37

90.90%

0.828906

37

91.00%

0.947255

25

93.40%

0.947255

25

93.50%

1.065605

21

95.50%

1.065605

21

95.60%

1.183955

14

96.90%

1.183955

14

97.00%

1.420655

9

97.80%

1.302305

3

97.30%

1.539005

6

98.40%

1.420655

9

98.20%

1.657355

4

98.80%

1.539005

6

98.80%

1.302305

3

99.10%

1.657355

4

99.20%

1.775705

2

99.30%

1.775705

2

99.40%

2.012405

2

99.50%

1.894055

1

99.50%

0.000456

1

99.60%

2.012405

2

99.70%

1.894055

1

99.70%

2.130755

0

99.70%

2.604154

1

99.80%

2.249105

0

99.70%

2.722504

1

99.90%

2.367455

0

99.70%

More

1

100.00%

2.485804

0

99.70%

2.130755

0

100.00%

2.604154

1

99.80%

2.249105

0

100.00%

2.722504

1

99.90%

2.367455

0

100.00%

2.840854

0

99.90%

2.485804

0

100.00%

2.959204

0

99.90%

2.840854

0

100.00%

3.077554

0

99.90%

2.959204

0

100.00%

3.195904

0

99.90%

3.077554

0

100.00%

3.314254

0

99.90%

3.195904

0

100.00%

3.432604

0

99.90%

3.314254

0

100.00%

3.550954

0

99.90%

3.432604

0

100.00%

More

1

100.00%

3.550954

0

100.00%

Table 2. Histogram Distribusi Panjang Paket

 

Proses Simulasi untuk Soal “a”

Dalam file Simulasi.xlms ini dtampilkan kolom-kolom berikut :

· Kolom A untuk menampilkan nomor iterasi (1 sampai 1000)

· Kolom B menampilkan Inter Arrival Time, yang telah berdistribusi eksponensial negatif

· Kolom C adalah untuk Panjang Paket, yang telah berdistribusi eksponensial negatif

· Kolom D sampai M adalah menampilkan sisa waktu layanan pada saat paket datang.

· Kolom N menyatakan apakah suatu paket terlayani (dinyatakan sebagai angka “1”) atau tidak terlayani (loss) yang dinyatakan sebagai “0”.

· Kolom O, P dan Q adalah informasi statistik dan kolom memasukkan data jumlah server, lamda. Masing-masing variabel in dapat diganti-ganti dalam batasan tertentu dimana jumlah server tidak bisa lebih dari 10.

 

Iterasi ke

inter-arrival time

panjang paket

server-1

server-2

server-3

1

1.0841

0.2981

0.2981

0.0000

0.0000

2

0.9929

0.1290

0.1290

0.0000

0.0000

3

0.8418

0.3671

0.3671

0.0000

0.0000

4

0.1753

0.1119

0.1918

0.1119

0.0000

5

0.2417

0.5848

0.5848

0.0000

0.0000

6

0.3157

0.0227

0.2691

0.0227

0.0000

7

0.2527

1.1663

0.0164

1.1663

0.0000

8

0.6758

0.1661

0.1661

0.4904

0.0000

9

0.1305

0.1107

0.0356

0.3599

0.1107

10

0.4807

0.2806

0.2806

0.0000

0.0000

11

0.3797

0.0459

0.0459

0.0000

0.0000

12

0.0362

0.2250

0.0097

0.2250

0.0000

13

0.0999

0.0697

0.0697

0.1251

0.0000

14

0.0630

0.7999

0.0067

0.0622

0.7999

15

0.3314

0.6359

0.6359

0.0000

0.4686

Table 3. Salah satu sampel simulasi dengan jumlah server = 3

a5

Figure 6. Visualisasi kedatangan paket untuk iterasi-1 sampai iterasi-5

Cara kerja proses identifikasi loss packet dalam simulasi ini adalah sbb (berdasarkan tabel sampel di atas)

· Pada iterasi pertama (dimulai dari detik ke nol misalnya), pada detik ke 1.0841 datang paket dengan panjang 0.2981. Maka paket ini langsung menduduki server-1, sehingga pada t=0 itu sisa waktu layanan server-1 adalah sama dengan panjang paket yaitu 0.2981 detik.

· Pada iterasi kedua, muncul paket kedua, dengan jarak inter arrival time antara paket pertama dengan kedua ini berjarak 0.9929 detik. Karena IAT nya lebih besar daripada sisa waktu layanan pada server-1 maka pada saat paket kedua ini datang server-1 sudah dalam keadaan “menganggur”, sehingga paket kedua inipun dilayani oleh server-1 ini.

· Pada iterasi ketiga juga sama dengan keadaan pada iterasi kedua karena Inter arrival time antara paket ketiga yang datang ini terhadap paket kedua adalah 0.8418 detik, yang lebih besar daripada panjang paket kedua yaitu 0.1290 detik.

· Pada iterasi keempat, inter arrival time antara paket keempat yang datang dibandingkan kedatangan paket ketiga adalah 0.1753 detik. Saat paket keempat ini datang, server-1 masih membutuhkan waktu (0.3671 – 0.1753) detik yaitu 0.1918 detik untuk memproses paket ketiga. Jadi pada saat paket keempat ini datang server-1 masih dalam keadaan sibuk. Maka paket keempat ini masuk ke server-2. Jadi kini server-1 sudah tinggal memiliki sisa waktu layanan sepanjang 0.1918 detik yaitu dari panjang paket ketiga yang sedang dilayaninya (yaitu 0.3671 detik) dikurangi IAT paket keempat (yaitu 0.1753 detik).

· Pada kedatangan paket kelima, server-1 dan server-2 sudah bebas semua karena sisa waktu layanan mereka lebih kecil daripada IAT antara paket keempat dengan paket kelima, sehingga paket kelima dilayani ke server-1, dan server-2 dalam kondisi bebas.

· Demikian seterusnya.

Maka didapatkan hasil simulasi sbb :

Hasil Simulasi Sistem Tunggal 900 MHz

 

Jumlah Server (N)

Blocking Hasil Simulasi (%)

Blocking Erlang Hasil Hitung (%)

1

39.30

40.000

2

10.10

11.765

3

2.50

2.548

4

0.60

0.423

5

0.10

0.056

6

0.00

0.006

7

0.00

0.001

8

0.00

0.000

9

0.00

0.000

10

0.00

0.000

Table 4. Hasil simulasi dan Hasil perhitungan menggunakan ErlangB – soal a

Jika dibuatkan line chart-nya adalah sbb :

a6

Figure 7. Chart Blocking vs Jumlah Server Hasil Simulasi dan Hasil Perhitungan ErlangB untuk Soal a.

Jika dibandingkan dengan hasil hitung menggunakan rumus ErlangB, maka hasilnya tidak beda jauh. Terlepas dari persyaratan pada soal, Simulasi juga telah dicobakan untuk lamda dan my lainnya, dan hasilnya mendekati hasil hitung dengan menggunakan fungsi ErlangB.

Proses Simulasi untuk “Soal b”

Dalam file Simulasi untuk soal b, sebenarnya sama saja dengan proses simulasi pada soal a, hanya saja saat ini jumlah servernya berpasangan yaitu (N1,N2) à (1,1), (2,2),…(10,10)

Ini dapat disimulasikan dengan memanfaatkan file Simulasi.xlms, dengan menggunakan N=2 untuk (1,1), N=4 untuk (2,2), N=6 untuk (3,3) dan seterusnya.

Hasil Simulasi Sistem 900 MHz dan 1800 MHz

Jumlah Server (N1+N2))

Blocking Hasil Simulasi (%)

Blocking Erlang Hasil Hitung (%)

(1,1)

10.60

11.765

(2,2)

0.40

0.423

(3,3)

0.00

0.006

(4,4)

0.00

0.000

(5,5)

0.00

0.000

Table 5. Hasil simulasi dan Hasil perhitungan menggunakan ErlangB – soal b

Untuk pasangan server (6,6) sampai (10,10) tidak disumulasikan disini karena kemungkinan besar Probabilitas blockingnya Nol.

a7

Figure 8. Chart Blocking vs Jumlah Server Hasil Simulasi dan Hasil Perhitungan ErlangB untuk Soal b.

 

Kesimpulan

  1. Hasil simulasi sistem Loss System dengan inter arrival time dan lama layanan berdistribusi eksponensial negatif (pada soal a dan b) menunjukkan kesesuaian dengan ErlangB.
  2. Untuk tawaran trafik sebesar 2/3 (lamda = 2, myu = 3), dengan jumlah server enam, sudah memberikan sistem bebas dari blocking.

Berdasarkan data bank dunia 2007, Indonesia sudah memiliki penduduk miskin 100 juta, dari jumlahnya yang sudah mencapai 230 juta, dengan income rata-ratanya hanya 1.918 dolar US. Bandingkan dengan Thailand yang sudah mencapai 3.851 dollar US, Malaysia 6.807 dollar US, Brunei 3.217 dollar US dan Singapura yang sejahtera di posisi 35.160 dollar US.

Itu baru dari sisi income per capita saja, belum lagi ratusan parameter ekonomi lainnya yang digunakan untuk menilai kesejahteraan suatu negara, pasti kita sudah masuk juara untuk deretan bawah. Mungkin hanya menang jika pembandingnya negara-negara miskin di Afrika saja. Dan ini sulit sekali akan berubah untuk ke depannya, mengingat situasi ekonomi dunia plus kondisi sosial politik Indonesia yang masih saja berputar-putar di tempatnya.

Dalam suatu diskusi di Hamburg yang diadakan oleh sekelompok kaum pintar Indonesia di sana, yang menamakan dirinya IASI (Ahli dan Sarjana Indonesia) menyimpulkan bahwa Indonesia harus bergerak cepat dalam sektor riil dan infrastruktur, investasi di bidang pendidikan kejuruan, karena diketahui bahwa orang Indonesia jago dalam rekayasa recycling.

Iya sih, saya sering melihat banyak orang kita yang cerdik memutar otak untuk membuat sampah jadi hiasan yang menakjubkan, mobil tua diotak-atik jadi mobil bercitra rasa tinggi, belum lagi ribuan industri seni berskala UKM yang ada di Jogja, Bandung, Bali yang sering kewalahan jika mendapat order besar-besaran dari luar negeri. Secara nature Tuhan rupanya memberi kelebihan khas pada bangsa-bangsa.

Mobil-mobil tua juga berseliweran di jalanan, misalnya jip Willys bekas perang. Betapa kreatifnya komunitasnya, berikut bengkel-bengkelnya yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya.

Dulu pernah saya dengar ada orang bilang bahwa Indonesia tidak cocok untuk mengembangkan sektor manufacturing, karena memang secara nature-nya tidak mendukung, terutama SDM nya yang cenderung berfikir pragmatis, jangka pendek, cenderung malas dan korup (tidak jujur). Orang Korea dan Jepang memang seolah-olah “tercipta” menjadi orang-orang pabrik, disiplin dan doyan dengan rincian. India jago algoritma, sampai bisa-bisanya gape dalam mengambil pasar di BPO (Business Processing Off-Sharing) yang konon mencapai sudah mencapai angka 45 % growth-nya pada setahun terakhir, misalnya dalam bisnis call centre. Orang New York mau tanya nomor telpon saudaranya di Alaska, ternyata trafik ke call centre-nya dialihkan ke India, karena operator di India lah yang ternyata membantu si orang New York tadi. Ini revenue buat India, dan ke depannya akan makin berkembang lagi. Kursus dan pendidikan bahasa Inggris di sana menemukan salah satu “ulam”-nya. Belum lagi efek bola salju pada industri kreatif software di sana yang “nggak ada matinya”. Akhirnya kita mengenal istilah Chindia, yang merupakan sebutan untuk gabungan kekuatan ekonomi China dan India, menjadi raksasa yang menggetarkan Eropa dan Amerika.

Makanya kita memerlukan disruptive methode yang memberikan resep yang jitu untuk mengelola ekonomi kita. Setidaknya dalam jangka pendek ini harus diwaspadai adanya PHK sebanyak hampir 1.5 juta orang (prediksi Asosiasi Pengusaha Indonesia).

Untuk telekomunikasi, bagan besar yang dapat dijadikan pendorong untuk mengakomodasi jumlah tenaga kerja yang semakin besar adalah :

  1. ·Pengembangan menuju NGN membuka kesempatan banyak orang untuk ikut menikmati kue-nya. Skema NGN memang cenderung menguntungkan operator yang tidak memiliki legacy-aset yang besar. Mungkin cukup menjadi wartel saja orang sudah bisa menjadi operator telekomunikasi. Tetangga sekitar rumah (setingkat RT arau RW) sudah bisa berlangganan Internet, telepon dan bahkan video on demand hanya dengan menyambungkan suatu kabel atau bisa juga menggunakan wireless (Wimax sudah sangat memungkinkan hal ini) ke wartel itu. Jadi wartel kini menggantikan fungsi POP yang saat ini hanya bisa disediakan operator dan ISP besar saja. Rasanya Undang-undang telekomunikasi saat ini (nomor 36 tahun 1999) masih kurang nampak “bersemangat” untuk mendukung revolusi industri telekomunikasi semacam ini. UU ini masih berfikir bagaimana memainkan buah catur (alias operator) yang jumlahnya hanya puluhan saja, padahal dengan adanya wartel yang bisa berubah menjadi operator nantinya, maka akan ada ribuan operator baru.
  2. Masih seputar UU yang sama pasal 25 menyebutkan bahwa setiap penyelenggara jaringan telekomunikasi berhak mendapatkan interkoneksi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi. Sehingga jika XL, Telkomsel ataupun Telkom tidak membuka akses interkoneksinya, maka akan dapat diberi sanksi berupa pidana 6 bulan atau membayar uang sebesar 25 sampai 100 Milyar (pasal 48 ayat 1 UU Anti monopoli). Tentu saja jika mendapat sanksi, si operator eksisting ini harus tetap wajib membuka pintu interkoneksinya. Aturan ini menjamin rakyat untu dapat pintu masuk ke pasar telekomunikai, mendapatkan bagian kue di dalamnya. Namun yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai nanti muncul persaingan yang tidak sehat, yang menguasai hanya itu-itu saja orangnya. Harus agak sosialis sedikit untuk urusan bagi-bagi duit semacam ini, karena untuk perut rakyat. Mahatir Muhammad bisa melakukannya untuk pribumi melayu di Malaysia (tapi rasanya sulit sekali jika presiden kita nanti masih seputaran “orang-orang yang itu-itu saja”).
  3. Kagumnya saya pada langkah yang dilakukan Betti Alisjahbana, mantan bos PT Usaha Sistem Informasi Jaya (IBM-nya Indonesia), yang setelah 8 tahun menduduki tahta kursi direktur, turun langsung untuk memberi bakti sosialnya kepada bangsa, dengan membuka pintu-pintu kreativitas bangsa melalui QB Headlines-nya. Pengrajin furnitur ditampungnya untuk dicarikan pasar via Internet. Begitupula untuk kalangan pejuang kretivitas lainnya dalam bidang fashion, animasi, desain grafis, digital creative, dan saya sarankan juga satu bidang lagi yaitu creative telecommunication product, untuk mendirikan UKM-UKM telekomunikasi dimana-mana. Pokoknya membuka pasar nasional dan pasar global seluas-luasnya untuk memberi peluang pengembangan telekomunikasi pada rakyat.
  4. Ada banyak regulasi telekomunikasi Indonesia yang baru yang bisa “diakalin” untuk dapat memberikan peluang baru bagi para praktisi telekomunikasi dan rakyat umum. Misalnya syarat Penyelenggara Sertifikasi Elektronik atau Certificate Authority pada UU ITE yang baru saja diluncurkan. Pada pasal 13-nya disebutkan bahwa Penyelenggara Sertifikasi Indonesia harus berbadan hukum dan berdomisili di Indonesia, sedangkan Penyelenggara Sertifikasi asing harus terdaftar di Indonesia. Dengan demikian maka CA dari luar negeri (seperti Verisign dan Geotrust) harus dengan paksarela mau “dianggap” tidak memiliki cukup informasi untuk melakukan verifikasi terhadap identitas seseorang di dalam Indonesia. Dan ini adalah peluang bagi perusahaan yang berbasis di Indonesia.
  5. Bagaimana dengan skema gerakan open source ? Ya, kita bisa mengangkatnya tinggi-tinggi sebagai salah satu driver penyediaan lapangan kerja. Adik saya sekian tahun lalu melamar ke suatu bank sebagai agen asuransi. Diterima ? Ya, ternyata pasti diterima, dengan jabatan yang rada mentereng, sebagai asisten branch manager di suatu lokasi kerja. Tugasnya ya mencari kastamer sebanyak-banyaknya. Posisi seperti ini jelas 90% lebih pasti diterima karena yang membatasi hanyalah berapa jumlah nasabah yang bisa diciptakan. Jadi bisnis asuransi ini sangat-sangat terbuka pintu kesempatan kerjanya. Ya persis dengan open source tadi, tidak ada batas atasnya. Karenanya kenapa ya kok saya masih merasakan masih terlalu bertele-telenya pengajaran di jurusan IT di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Langsung saja tancap gas, adakan jurusan opens source, dimana semester 1 dan 2 nya teori pendahuluan dan resume dari semua pelajaran yang saat ini diajarkan (asal tahu saja, tidak perlu sampai mendalam), sedangkan semester 3 sampai 6 sudah harus diajarkan bagaimana proses pembuatan software open source-nya termasuk bagaimana memasarkannya, sampai praktek riilnya. Lalu semester-semester akhir mereka ditargetkan harus bisa membuat suatu software open source yang dapat “terjual”, via Internet misalnya. Entah itu software aplikasi jaringan, game, software bisnis, E-learning, atau lainnya. Jangan buang umur hanya untuk pelajaran yang tidak ada faedah riilnya nanti. Seperti saya juga dulu belajar banyak sekali hal teknik, tetapi ternyata saat ini hanya menggunakan kurang dari 25% nya saja, atau mungkin malah kurang. Bukankan sebaiknya sedari dulu sudah belajar tentang apa yang saya butuhkan di tempat kerja saya sekarang? Mengapa industri dan dunia pendidikan seperti bersaing dalam teknologi, kejar-kejaran, tidak pernah sinergi. Saya pesimis sekali jika sudah mendengar kata “sinergi” ini, yang jelas merupakan barang yang sangat langka di negeri ini.

Mengutip suatu tulisan yang membahas tentang buku Financial Shock karya Mark Zandi, dikatakan bahwa prinsip sirkulasi keuangan saat ini sebenarnya tidak pernah netral pada dirinya sendiri, karena dia sebenarnya adalah subyek dari “permainan para aktor ekonomi” yang bernafsu binatang. Ini membawa perenungan pada pertanyaan apa sebenarnya yang didapatkan rakyat Indonesia dari perkembangan telekomunikasi sampai saat ini. Harga yang harus dibayar konsumen telekomunikasi memang sudah mulai sangat murah, bahkan ada beberapa diantaranya (pada suatu syarat kondisi tertentu) yang sudah mencapai harga dasar bahkan gratis. Ini memang terlihat “menyenangkan”, tetapi siapa sebenarnya yang benar-benar senang dan tertawa lebar? Saya bisa menjawabnya dengan analisa yang simple saja, ya investornya tentu. Dan sayangnya investor itu sebagian besar bukan Indonesia, yang tentu saja tidak bisa diharapkan terlalu banyak perannya dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia. Selama regulasi di negeri ini terlalu pro pada liberalisme telekomunikasi, tunggu saja dampak ketergantungan yang semakin parah kepada asing. Ingat bahwa Minsky (2008) pernah memperingatkan bahwa kegagalan ekonomi bersumber pada keberhasilannya (the origin of economic instability is the stability).

Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis….begitu saya baca dari salah satu buku tentang menulis, dimana si penulis buku ini mengambil kalimat tersebut dari seorang pengarang (kebetulan saya tidak memperhatikan namanya). Makna bebasnya adalah bahwa menulis ya menulis saja, titik. Ketika kita berfikir untuk menulis, itu belum bisa dikatakan menulis. Ketika sudah ada konsep besar di kepala untuk ditulis, jelas itu juga belum bisa dikatakan tulisan, sebelum ditulis.

Bahkan dalam situs Lingkar Pena, saya dapatkan riwayat seorang pengarang besar (yang lagi lagi saya nggak memperhatikan namanya), selalu mengawali kehidupan sehari-harinya dengan menulis, tidak memulainya dengan berfikir. Artinya ya menulis sudah menjadi nafas kesehariannya, bukan berfikir, walaupun menulis membutuhkan keaktifan otak. Tapi coba saja sendiri, ada keanehan ketika jemari ini bermain-main di atas keyboard, seolah dia sedang menggerakkan feeling daya penulisan kita, yang terkadang mengalir begitu saja, tanpa kita benar-benar menyengaja untuk melakukannya.

Ada banyak kisah, ratusan bahkan mungkin ribuan yang sebagian besarnya berujung pada kesimpulan bahwa menulis adalah kegiatan yang bermanfaat. Ada orang sakit parah ternyata sembuh ketika menggunakan resep menulis sebagai terapi penyembuhannya. Mungkin dengan menulis, maka kerja otaknya menjadi teratur, tidak berfikiran yang negatif karena waktu habis untuk menggerakkan jari-jarinya untuk menulis. Apalagi jika tema tulisannya adalah tema yanng menggugah hati, motivasi dan semangatnya untuk sembuh atau membuat hidup lebih baik lagi.

Kabar baiknya adalah bahwa banyak orang-orang yang baik hati memberikan pengajaran dan inspirasi dalam menulis, bahkan gratis. Forum Lingkar Pena, sekolahmenulis-online, penulislepas, adalah beberapa diantaranya. Ada beberapa cerita keberhasilan dari beberapa orang yang tergabung di dalam perkumpulan di dalam website tersebut yang akhirnya kini sudah menjalani profesinya sebagai penulis dengan baik dan mampu memberikan nafkah yanng lumayan bagi keluarga. Terbukti bahwa kegiatan menulis bisa menghasilkan uang yang terkadang malah sangat besar. JK Rowling tentu salah satu contohnya.

Lalu siapa yang harus menulis? Saya kira, semua orang seyogyanya menulis. Bahkan kegiatan menulis harus dikembangkan juga di kalangan kaum teknis, insinyur, para praktisi telekomunikasi, dan lain-lain. Ada banyak pemahaman dan ide di kepala mereka yang memerlukan sarana untuk dikeluarkan, di-share dengan manusia lain di luar mereka agar dapat memberi daya manfaat lebih luas dan lebih besar lagi.

Perhatikan saja baik-baik pada kemampuan menulis para ilmuwan-ilmuwan yang kerjanya meneliti, biasanya cukup rendah. Bukan karena tidak memiliki isi (malah mungkin sebagian sudah full dengan wawasan, pengetahuan dan wawasan) tetapi tidak memiliki keinginan kuat untu men-share-kannya kepada masyarakat luas). Bagaimana orang lain dan orang luar negeri akan menghargai kemampuan sang ilmuwan jika sang ilmuwan ini tidak mampu menuliskan dengan baik apa yang ada di otak mereka. Masih tidak percaya pada fenomena ini? Saya lupa nama indeks yang memberi gambaran bahwa setiap sekian juta penduduk suatu bangsa, ada sejumlah X paper ilmiah dalam setahunnya. Indeks ini dipakai untuk melihat bagaimana kehebatan aktivitas ilmiah di suatu negara. Dan dapat ditebaklah, Indonesia masuk papan bawah, jauh dibandingkan negara-negara Asia lain yang sudah maju pesat, seperti India, Jepang, bahkan Malaysia sekalipun. Rupanya para dosen kita sudah terlalu sibuk, sehingga urusan menulis sudah tidak ada alokasi waktunya.

Padahal kalau dipikir-pikir, benar juga seperti yang dikatakan Betti Alisjahbana bahwa menulis itu bagian dari pekerjaan, karena bukankan selama kita bekerja kita juga menulis? Betti bilang bahwa dia belajar menulis sambil menulis (kunjungi situsnya di qbheadlines.com berikut blogspot dan facebooknya).

Seperti halnya bangsa ini yang pada tahun ini banyak ditinggalkan tokoh-tokoh pentingnya. Ada sebagian diantara mereka yang belum sempat menuangkan wawasan (bahkan rahasia negara) ke dalam tulisan yang bisa disebar di seantero dunia via Internet. Almarhum Pak Sjahrir, Pak Adam Malik, termasuk juga almarhum Pak Harto, semua masih memiliki informasi yang sebenarnya masih dapat di-share untuk generasi terkini, untuk dapat mengambil pelajaran dari sejarah. Tentu saja mereka tidak hanya memiliki sejarah saja, tetapi pasti ada resep alternatif yang bisa dipakai saat ini.

Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis….begitu saya baca dari salah satu buku tentang menulis, dimana si penulis buku ini mengambil kalimat tersebut dari seorang pengarang (kebetulan saya tidak memperhatikan namanya). Makna bebasnya adalah bahwa menulis ya menulis saja, titik. Ketika kita berfikir untuk menulis, itu belum bisa dikatakan menulis. Ketika sudah ada konsep besar di kepala untuk ditulis, jelas itu juga belum bisa dikatakan tulisan, sebelum ditulis.

Bahkan dalam situs Lingkar Pena, saya dapatkan riwayat seorang pengarang besar (yang lagi lagi saya nggak memperhatikan namanya), selalu mengawali kehidupan sehari-harinya dengan menulis, tidak memulainya dengan berfikir. Artinya ya menulis sudah menjadi nafas kesehariannya, bukan berfikir, walaupun menulis membutuhkan keaktifan otak. Tapi coba saja sendiri, ada keanehan ketika jemari ini bermain-main di atas keyboard, seolah dia sedang menggerakkan feeling daya penulisan kita, yang terkadang mengalir begitu saja, tanpa kita benar-benar menyengaja untuk melakukannya.

Ada banyak kisah, ratusan bahkan mungkin ribuan yang sebagian besarnya berujung pada kesimpulan bahwa menulis adalah kegiatan yang bermanfaat. Ada orang sakit parah ternyata sembuh ketika menggunakan resep menulis sebagai terapi penyembuhannya. Mungkin dengan menulis, maka kerja otaknya menjadi teratur, tidak berfikiran yang negatif karena waktu habis untuk menggerakkan jari-jarinya untuk menulis. Apalagi jika tema tulisannya adalah tema yanng menggugah hati, motivasi dan semangatnya untuk sembuh atau membuat hidup lebih baik lagi.

Kabar baiknya adalah bahwa banyak orang-orang yang baik hati memberikan pengajaran dan inspirasi dalam menulis, bahkan gratis. Forum Lingkar Pena, sekolahmenulis-online, penulislepas, adalah beberapa diantaranya. Ada beberapa cerita keberhasilan dari beberapa orang yang tergabung di dalam perkumpulan di dalam website tersebut yang akhirnya kini sudah menjalani profesinya sebagai penulis dengan baik dan mampu memberikan nafkah yanng lumayan bagi keluarga. Terbukti bahwa kegiatan menulis bisa menghasilkan uang yang terkadang malah sangat besar. JK Rowling tentu salah satu contohnya.

Lalu siapa yang harus menulis? Saya kira, semua orang seyogyanya menulis. Bahkan kegiatan menulis harus dikembangkan juga di kalangan kaum teknis, insinyur, para praktisi telekomunikasi, dan lain-lain. Ada banyak pemahaman dan ide di kepala mereka yang memerlukan sarana untuk dikeluarkan, di-share dengan manusia lain di luar mereka agar dapat memberi daya manfaat lebih luas dan lebih besar lagi.

Perhatikan saja baik-baik pada kemampuan menulis para ilmuwan-ilmuwan yang kerjanya meneliti, biasanya cukup rendah. Bagaimana orang lain dan orang luar negeri akan menghargai kemampuan sang ilmuwan jika sang ilmuwan ini tidak mampu menuliskan dengan baik apa yang ada di otak mereka.

Seperti halnya bangsa ini yang pada tahun ini banyak ditinggalkan tokoh-tokoh pentingnya. Ada sebagian diantara mereka yang belum sempat menuangkan wawasan (bahkan rahasia negara) ke dalam tulisan yang bisa disebar di seantero dunia via Internet.

Akhirnya pemerintah plus DPR terbukti menjadi raja-raja tega dengan mengesahkan UU BHP. UU ini mengerdilkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPI). UU BHP yang lex specialis itu menggantikan pasal-pasal dalam UU SPI tentang status badan perguruan tinggi.

Akibatnya gampang ditebak, karena yang sudah ada pun (dalam kasus ITB dan Unpad misalnya sebagai PT BHMN) terbukti menjadi “mesin uang”, sebuah kata yang seharusnya dijauhi oleh kaum langitan yang memiliki tugas suci membuat pintar calon-calon pemimpin bangsa ini.

Namun apa lacur, karena sudah kehabisan akal, akhirnya UU ini harus segera diluncurkan.
Strategi menaikkan biaya pendidikan secara bertahap pasti akan dilakukan, kalau tidak mau sekarat tentunya. Setidaknya kini universitas harus memutar otak agar bisa mendapat proyek dari Dikti, dari Pemda, kalau perlu sampai ke ketua RW sekalian, untuk diikutsertakan dalam proyek-proyek yang nantinya dapat menambal kebutuhan keuangan perguruan tinggi.
Satu hal lagi kenapa jadi orang kaya di Indonesia nikmatnya minta ampun. Kalau anda ditakdirkan menjadi anak orang kaya, beruntung sekali anda! Kuliah tinggal tunjuk mau kemana, mau ke perguruan tinggi yang jaman saya muda dulu “angker” karena susah sekali masuk ke sana, kini akan membukakan pintunya lebar-lebar buat anda. Tapi kan harus ikut tes juga? Ah, jangan naif dan pura-pura tidak tahu.

Mengapa pendidikan di negara ini semakin membuang-buang umur saja. Sudah kurikulumnya sering sok teoritis birokratis, serba tidak disiplin di sana-sini, tidak mengasah kreativitas dan kemandirian mahasiswa, moral dibiarkan menurun terus. Teringat ucapan ustadz tadi saat saya sholat Jumat, yang berkata bahwa kita jangan pernah berharap bahwa hari esok ahlak manusia akan membaik. Kalau interpretasi saya, mungkin sudah “digariskan” harus begitu, kalau tidak maka kiamat tidak akan datanng-datang dong. Soal cepat tidaknya itu tentu soal lain.

Menjelang akhir tahun, banyak orang yang akan “membuang umur”-nya dengan mudik, rekreasi ke pantai, hotel, kota-kota wisata, bersama keluarga, menghabiskan uang yang sudah capek-capek dicari selama setelah lebaran sampai di ujung Desember ini. Wow...Kemacetan dimana-mana, disamping karena jalanan rusak, hujan terus, banjir. Wow….mari membuang umur di dalam mobil, di tengah-tengah kemacetan yang menggetarkan jiwa, kemarin saja dikabarkan Jakarta – Cikampek macet puluhan kilometer. Ck..ck…hebatnya negara ini, dan anehnya ya banyak yang mau begitu. Tahun depan, bisa ditebak, ya begitu lagi.

Dari LAPAN terpetik berita bahwa pada tahun 2014 nanti Indonesia akan mengorbitkan satelit menggunakan roket buatan sendiri, yang disebut SLV (Satellite Launch Vehicle). Mungkin akan diluncurkan dari Pulau Morotai (dekat Ternate) atau di Pulau Nias. Dan itu akan membutuhkan dana puluhan milyar. Nah, proyek mercusuar seperti ini sudah cocok kah untuk Indonesia?

Saya jadi berfikir, liberalisasi ternyata tidak hanya berpengaruh terhadap birokrasi pendidikan, tapi juga mental para pemegang kebijakan termasuk di dalam perguruan tinggi itu sendiri, termasuk dalam lembaga-lembaga penelitian. Mengapa kita tidak fokuskan saja semua gerak perguruan tinggi ke arah yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh bangsa ini, walaupun mungkin perlu waktu yang tidak sebentar? Saya bermimpi jika perkembangan ilmu IT, telekomunikasi, ilmu hukum, ilmu ekonomi yang diajarkan dan dipelajari seluruh mahasiswa Indonesia ini diarahkan saja ke pembangunan pertanian dan kelautan, yang jelas-jelas menjadi keunggulan komparatif bangsa. Lucu jika ada orang Indonesia berangan-angan untuk membuat tim sepak bola yang bakal menjadi juara dunia. Tingginya saja sepundak orang-orang bule, mau gaya pakai kirim bola melambung di depan gawang lawan agar dapat di-heading oleh kepala asli Indonesia. Ha..ha..mendingan mempertahankan supremasi bulutangkis yang jelas-jelas lebih cocok sifatnya dengan pergelangan tangan orang-orang Asia.

Menerawang masa-masa sekolah dulu, saya jadi agak menyesal, mengapa saya tidak masuk saja ke STM mobil, misalnya, kan lumayan sekarang bisa memperbaiki mobil ayah saya. Saya menyesal tidak belajar menjahit, supaya sekarang saya bisa menambal celana anak saya yang robek karena ulahnya yang super-aktif. Pendek kata, saya ingin memiliki ilmu yang bisa saya gunakan secara riil saat ini.

Namun apakah itu artinya ilmu murni tidak perlu ? Saya malah lebih condong berprinsip bahwa dari praktek justru akan banyak kesempatan untuk muncul teori baru. Dan itu sangat susah didapatkan jika hanya duduk di belakang meja, mengutak-atik teori belaka. Tentu saja hal ini masih lebih baik daripada tidak mengerjakan apa-apa. Namun lihatlah bahwa banyak proses pendidikan kita di Indonesia hanya sekedar “membuang umur” saja. Fokusnya entah pada lari kemana, yang punya pabrik juga bingung ketika menerima kehadiran pass graduate yang belum bisa apa-apa. Tentu saja, ilmu murni harus tetap diakomodasi juga, setidaknya seperti kecenderungan di negara-negara luar, dimana seseorang yang ingin jadi ilmuwan yang full dengan yang pure sciense masih mendapatkan tempat.

Tetapi masalahnya tidak hanya sekedar pembagian sederhana seperti itu. Kita lihat saja SMK yang ada di Indonesia, apakah sudah benar on the track. Pengalaman saya mengajar salah satu SMK, yang lumayan punya nama di suatu kota besar di timur Indonesia, ternyata masih terlalu sedikit yang diajarkan dari yang seharusnya, praktek masih kurang, biasa lah…selalu terbentur pada anggaran yang terbatas, sehingga fasilitas kurang.

Makanya saya senang sekalli mendengar Zirex membuat workshop di beberapa SMK jurusan IT, belajar sekaligus hasilnya digunakan oleh Zirex. Ini yang perlu dicontoh, harusnya ada undang-undang yang mengikat semua perusahaan di Indonesia, tanpa terkecuali, untuk membuat workshop semacam itu. Perusahaan apa saja lah. Libatkan semua perguruan tinggi, SMU, SMK di masing-masing daerah untuk dapat berperan serta. Soal hitung-hitungan nilai ekonomisnya, ya pintar-pintarnya perusahaan itu lah bagaimana mengaturnya.

Pola seperti ini apakah bisa diharapkan dari sebuah sistem yang liberal? Oh tentu tidak. UU BHP ini akan mempunyai efek besar, bukan hanya soal status perguruan tinggi, bukan hanya soal ongkos pendidikan yang lebih besar yang harus ditanggung para orang tua yang sebagiannya mungkin terlilit ancaman PHK akibat krisis multi dimensi dan global, tapi efeknya nanti adalah kedalam persoalan sistem yang keseluruhannya pun akan menjadi liberal. Kalau modal asing sudah sangat leluasa berkeliaran di negara ini dalam pendidikan, maka satu per satu perguruan tinggi akan gulung tikar.

Tapi tidak sedikit yang mungkin memandang ini adalah kesempatan untuk dapat lebih go internasional lagi. Betul, itu kalau kita memandangnya dari sisi manajemen. Tetapi tetap saja manfaatnya jauh lebih sedikit dari mudharatnya.

Karenanya saya pribadi cenderung mengarahkan anak-anak muda untuk dapat lebih kreatif menggali banyak pelajaran dari Internet saja. Pisau tajam bermata dua ini perlu diajarkan cara optimalisasinya dalam kehidupan. Dan itulah yang harus diajarkan oleh institusi pendidikan. Dan ini juga berarti ada faktor efisiensi yang bisa diberdayakan. Jika dalam satu semester misalnya, dalam satu pelajaran seorang mahasiswa harus masuk kuliah 20 kali, saya fikir cukup 10 kali saja, yang 10 lagi bertemu via Internet. Beri tugas-tugas, dengan bahan-bahan yang sepenuhnya bisa diambil dari Internet, profesor google dan yahoo siap membantu kok. Nah dari yang 10 pertama tadi, sebagiannya adalah praktek, itupun yang benar-benar dibutuhkan industri saat ini. Saya masih tertawa geli ketika mendapati pelajaran token ring dibahas lebih dari sebulan oleh mahasiswa-mahasiswa IT. Betul memang itu adalah pelajaran dasar, tetapi kenapa tidak cukup setengah jam saja? Saya curiga, jangan-jangan dosennya yang malas mengembangkan diri.

Kalau tidak ada upaya-upaya terobosan demi terobosan yang dilakukan, bukan hanya buang-buang waktu yang terjadi, tapi juga buang-buang umur. Kita semua bekerja keras, tetapi hasil minim. Bukankan saat ini sudah jamannya kita harus bekerja lebih cerdas? Innovalue, mari semuanya quality minded. Dan itu tidak akan didapatkan dari sebuah sistem yang liberal. Aneh, suatu negara zonder pendidikan terpimpin !
Kampus saya pernah kedatangan seorang pakar matematika dari Curtin University Australia. Namanya Prof Bill Atweh, PhD. Kedatangannya adalah dalam forum matematika yang dihadiri dosen matematika se-Bandung.

Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Pak Bill ini. Dia bilang bahwa tugas pendidikan tidak hanya mempersiapkan SDM untuk bekerja, melainkan juga mempersiapkan seseorang untuk menjadi warga negara yang aktif dan memiliki rasa tanggung jawab.

Well, menarik juga statement kritis ini. Namun rasanya terlalu muluk, walau bukan tidak mungkin, untuk bisa membuat target seperti itu dalam pengajaran di kampus. Untuk mempersiapkan SDM yang siap kerja dan siap pakai saja, sulitnya minta ampun. Pak Bill barangkali lupa kalau ini Indonesia, negeri yang super aneh dengan segala kekurangannya, susah banget mau maju. Bukan karena kurangnya orang pinter di sana, tapi karena sebagian orang pinternya yang aktif membangun negera kalah lantang dengan sebagiannya lagi yang pinter tapi aktif merusak negara. Dan anehnya orang-orang yang masuk dalam golongan kedua itu nggak merasa kalau dia sedang merusak. Aksi demo mahasiswa yang kebablasan bisa saja diartikan oleh mahasiswa tersebut sebagai ungkapan tanggung jawabnya pada negara, padahal jelas-jelas membuat panik warga setempat, membuat macet jalan, bahkan kerusakan bangunan. Tapi ya mau bagaimana, jika protes ditayangkan dengan “soft”, misalnya lewat media, terkesan tidak digubris sama sekali oleh lembaga atau sistem yang diprotes.

Tapi bisa saja kalau keinginan menjadikan mahasiswa menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab ini mulai diakomodasikan dalam bentuk tambahan wawasan bagaimana untuk menjadi seperti itu. Kampus bisa memberikan tips bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan sehari-har. Aturan fair dalam proses belajar mengajar sehari-hari, yang memberikan kesempatan sama kepada mahasiswa untuk saling berkompetisi sehat namun penuh daya inspiratif kreatif, juga tidak henti-hentinya memberi dorongan kepada mahasiswa untuk selalu bisa mandiri, jujur dan sifat-sifat baik lainnya. Soal bagaimana hasilnya, tentu ini nantinya dikembalikan sebagai masukan dari sistem yang dibuat, untuk bisa di-engineering menjadi mesin perubahan yang lebih baik lagi. Begitu seterusnya. Memang tidak akan gampang, bahkan akan banyak duri tajam menghambat proses pembentukan karakter tersebut, tidak ada rumus singkat (walau sudah puluhan kali benchmarking ke luar negeri sekalipun). Indonesia gitu loh!

Dengar-dengar nih, kampus tercinta saya akan ada penambahan kurikulum untuk tahun 2009, yaitu peningkatan sertifikasi internasional, pengembangan softskill, hingga pengembangan kultur bahasa Inggris. Pantas saja untuk yang terakhir ini, kampus sering kedatangan bule cantik dari RELO (Regional English Language Office) yang menjadi dosen tamu untuk conversation class. Sedangkan softskill yang dimaksud, ya gak jauh-jauh dari keinginan menjadikan mahasiswa profesional, inovator dan entrepeneur (makanya ada beberapa kegiatan bazar yang dari, oleh dan untuk mahasiswa agar mulai mengasah ketajaman “otak dagang”-nya).
Kalau soal sertifikasi internasional, ini adalah program untuk menciptakan kesamaan kualitas antar negara. Ada sertifikasi internasional di bidang telekomunikasi, informatika, programming, dll. Sertifikasi TOEFL, Cisco, SAP, dll, adalah sebagian saja dari program penyetaraan itu. Tapi bagaimana dukungan Dikti dan negara ini untuk membantu mahasiswa mendapatkan sertifikat itu masih menjadi pertanyaan besar di kepala saya. Wong saat ini saja pemerintah sudah “angkat tangan”, semua universitas akan dijadikan “perusahaan”. He..he..sejak kapan ada perusahaan tidak menargetkan duit ? Aneh, negara yang sudah 62 tahun merdeka ini zonder kebijakan yang memihak warganya. Saya teringat ada tulisan di suatu harian sekian tahun lalu, yang mengatakan bahwa menjadi orang kaya paling enak ya di Indonesia. Pajak bisa “diatur”, dan hampir semua segi kehidupan takluk pada duit. Bahkan seolah - olah kalau mau beli surga, ya di Indonesialah tempatnya.

Pak Bill juga menyoroti tentang peran Matematika dalam kehidupan. “Matematika membutuhkan pemikiran kritis, bukan teoritis. Jika dosen mampu membuat matematika menjadi pelajaran yang lebih menarik, maka pemikiran mahasiswa akan mudah tergali”.
Well, saya jadi ingat petuah dari seorang tentor di tahun 2002-an dulu, yang sampai kini maish menjabat jadi Sekjen PKS. Beliau bilang bahwa banyak orang pintar yang berhenti berkarya, dengan berbagai sebabnya. Padahal masih sangat berpotensi untuk menghasilkan ratusan lagi karya yang bisa bermanfaat untuk kemaslahatan bangsa dan masyarakat serta agama, minimal untuk ilmu itu sendiri.

Jangan salah, saat ini kalau mau jujur nih tidak sedikit dosen yang malas dalam berkarya. Omong kosong kalau potensinya tidak memungkinkan hal itu. Bahkan yang dulunya energik dan terus mengalirkan ide dan sumbangan keilmuannya, kini layu tak berkembang. Tentu ada banyak alibi untuk hal ini. Contoh saja, dosen yang dulunya sangat kreatif, lalu dijadikan manager dalam suatu program, maka “matilah” dia karena kesibukan rapat, penggunaan anggaran, koordinasi dan lain-lain, membuat dia tidak bisa lagi bebas ekpresif seperti dulu. Aneh, juara bulutangkis diberi hadiah pakaian renang untuk kemudian dipaksa menjadi perenang.

Lihat juga yang terjadi di tempat kerja lainnya. Seorang karyawan yang jago iptek berhasil mengembangkan inovasi tekniknya, menjadi juara dalam suatu kompetisi intern perusahaan, lalu tidak lama kemudian tebak apa yang terjadi. Serta merta dia menjadi manajer. Hebat sih, tapi karena dia “pure” peneliti, di meja rapat kerap diam saja, seolah kehilangan kepintarannya. Simple sih, karena itu bukan dunianya. Sekali lagi, juara tinju kini disuruh jadi atlit polo air. Rugilah dia, rugi pulalah perusahaannya.

Kembali ke konsep mister Bill tadi. Pemikiran kritis memang sangat dibutuhkan di negara ini. Percuma saja kalau teori jago, tapi begitu sudah menjadi karyawan, bingung mau ngapain. Ada persoalan yang membutuhkan pendekatan matematika misalnya, bingung mau diapain, mau pakai rumus apa, pakai rumus kalkulus yang mana. Well, ini sudah menjadi penyakit dimana-mana, termasuk yang dialami saya juga tentunya. Tapi inilah menariknya, tantangannya, yang harus dipecahkan dan dibiasakan untuk sudah dialami jauh-jauh hari sebelum si mahasiswa lulus. Biasakan untuk memberi tugas untuk bisa menyambungkan permasalahan dunia nyata dengan teori yang ada. Sayangnya dunia kerja kita tidak nyambung dengan perguruan tinggi. Effort nya terlalu besar. Nggak tahu akan sampai kapan begini terus. Maybe hanya mengandalkan kemauan dosen-dosen secara sporadis saja, alias mengandalkan “yang mau capek” saja untuk menggali lebih dalam konsep-konsep seperti ini.
“Tapi jangan lupa untuk selalu menggali student interest”, begitu kira-kira terjemahan bebasnya statement pak Bill lagi. Bahwa yang terjadi saat ini, sudah sedemikian kompleks, ruwet dan gak ketahun ujung pangkalnya dimana. Terlalu sulit kalau dosen saja yang aktif, mahasiswanya harus jauh lebih aktif, lebih banyak nanya, lebih sering berpendapat, lebih aktif belajar sendiri, lebih sering latihan mendalami kehidupan sebenarnya, dan lain-lain kegiatan terkait. Dukungan IT saat ini memberi kesempatan besar untuk itu. Teringat dulu saya jaman masih S1 di tahun 90-an, tidak mudah untuk mencari bahan suatu pelajaran, harus pakai duit, minimal ongkos jalan ke perpustakaan, itupun kalau ada. Mau pinjam ke teman yang lebih beruntung, kadang nggak enak hati kalau terus terusan begitu. Sekarang? Wah, dengan bantuan profesor google, rasanya sangat mudah mencari bahan, bahkan mungkin mudah untuk mendownload lebih banyak bahan daripada yang dosen punya. Tapi catatan pentingnya, apakah yanng didownload itu akan sempat dianalisa? Belum setengah jam menganalisa atau membaca, sudah beralihlah konsentrasi ke Youtube, atau minimal ke detik.com, misalnya. Tahu sendirilah, internet banyak setannya juga.

Betapa senangnya saya melihat ada beberapa mahasiswa yang berhasil menelurkan penelitiannya yang sangat berkelas, setidaknya menurut ukuran saya, menjadi Tugas Akhir terbaik. Ada karya “Aplikasi Mobile Remote Control Bluetooth untuk Winamp” (by Kuncara Widada), “Designing Business Game Application with Structured Analysis and Design Methodebased on Telecommunication Business System Model which Develop Using Artificial Neural Network” (by Ruli Gazali) dan “Peak to average Power Reduction Technique Analysis in OFDM using Active Constellation Extension for Wimax System (byAgus Suhendar) dan ada juga “Analisis dan Implementasi Aplikasi Video Conference berbasis Web di atas arsitektur IPTV” (by Andy Prabowo).

Hebat-hebat judulnya. Sayangnya saya nggak sempat banyak tahu materinya. But, saya appreciate sekali dengan mereka semua. Semoga menjadi terbaik pula kelak jika mereka sudah terjun di dunia kerja, tidak berhenti sampai disitu saja.

Satu lagi, betapa senangnya saya melihat event seperti Gemastik pada bulan Oktober lalu di kampus saya. Ada banyak contest yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa hebat dari ITS, Unbra, Ubinus, Budi Luhur, ITB, UGM, Unsu, dan tentu saja tuan rumah IT Telkom. Ada contest Data Mining, Smartware, Network Security, Bisnis Game dan Paper. Nggak penting banget lah soal siapa juaranya, tetapi saya melihat dari sisi semangat untuk lebih memasyarakatkan hal ini di kalangan mahasiswa lainnya, jangan yang itu-itu lagi nanti juaranya, atau tokohnya. Dari seratus orang mahasiswa, yakinkah kita minimal ada 10 yang memiliki semangat keilmuan ?

1. MPLS sebagai Cikal Bakal GMPLS

Pada trend pembuatan aplikasi-aplikasi terkini pada jaringan besar, bahkan berskala metro, bottleneck kelancaran dan kecepatan paket melalui jaringan salah satunya adalah backbone jaringan itu sendiri. Solusi terdahulu, dan paling mudah, adalah dengan menggelar jaringan private misalnya leased line, frame relay atau ATM via SDH. Namun pendekatan ini dirasakan terlalu mahal dan kompleks, sehingga muncullah keinginan untuk melewatkan paket tersebut melalui jaringan publik, yaitu jaringan IP. Dan ternyata pendekatan ini sangat populer, walaupun pada mulanya sangat sulit karena berbagai kelemahan mendasar pada IP itu sendiri.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya IETF menstandarkan solusi MPLS, untuk meningkatkan kinerja forwarding dan kecerdasan trafik engineering pada jaringan packet-based, misalnya IP dan ATM. Jadi MPLS merupakan suatu metode switching sekaligus forwarding pada suatu jaringan dengan memanfaatkan idnetifiakasi berupa label yang ditempelkan pada paket IP. Teknologi yang biasa dikategorikan pada layer 2.5 ini menyederhanakan proses routing yang menjadi beban router (karena harus menganalisa setiap header IP pada paket yang masuk) serta mengoptimalkan pemilihan path melalui kemampuan manajemen class of service dan traffic engineering. Sebenarnya mekanisme seperti ini mirip dengan apa yang terjadi pada ATM switch, dengan kemampuan VP dan VC switchingnya. Dan banyak orang mengatakan bahwa sebenarnya teknologi ATM inilah yang menjadi sumber inspirasi pengembangan MPLS. Maklum saja, saat itu memang ATM lah yang terbukti memberikan kemampuan Manajemen Quality of Service terbaik.

Dalam jaringan MPLS terdapat beberapa elemen yang saling bekerjasama satu dengan lainnya LSP (path yang dibentuk sebagai jalur yang akan dilalui paket MPLS), Label Switching Router (LSR), Label Edge Router (LER), MPLS Egress Node, MPLS Ingress Node, MPLS Label dan MPLS Node.




Gambar. Contoh pembentukan LSP-MPLS untuk merutekan paket dari Pengirim ke Tujuan

Di sini ada CBR (Constraint Based Routing) yang mempertimbangkan network constraint dan user constraint. Pertimbangan kedua constraint inilah yang disebut CSPF (Constraint Shortest Path First) yang kemudian akan menghasilkan explicit route yang berujung pada Resource Reservation (RSVP-TE dan atau CR-LDP). Resource Reservation bertugas memesan resource jaringan pada path spesifik yang telah dipesan sebagai jalan yang akan dilalui paket yang akan dikirim. Sebagai catatan, untuk kasus dimana CR-LDP sudah cukup untuk menjaga kinerja jaringan, maka tidak perlu menggunakan RSVP-TE. Tentunya ini akan semakin berat seiring dengan kebutuhan bandwidth yang kini menjurus ke Bandwidth on Demand, tidak lagi Bandwidth on Forecast.

2. Dari MPLS menuju GMPLS

Teknologi GMPLS (Generalized MPLS) hadir dari usaha pengembangan kemampuan switching dari MPLS untuk dapat mengakomodasi switching untuk non packet, misalnya TDM (Time Division Multiplex), FSC (Fiber Switch Capable), bahkan Lamda Swicth Capable (LSC). Dengan demikian fungsi GMPLS kini bisa “diinstal” di berbagai perangkat berplatform optik seperti SONET ADM, OXC (Optical Cross Connect) dan perangkat yang ada dalam sistem DWDM. Ini jelas tidak seperti MPLS, yang hanya didukung (terutama) oleh router dan switch saja.



Setiap perbatasan pada gambar di atas diimplementasikan dalam suatu perangkat switch, misalnya antara antara TDM dengan Lamda terdapat SDH Cross Connect, antara lamda dengan fiber terdapat Optical Cross Connect, antara fiber dengan fiber bundle terdapat Fiber Cross Connect. Sedangkan pada packet / cell terdapat dua switching yaitu switching layer-2 (misalnya MPLS router atau ATM Switch) dan Packet Switching (misalnya IP Router).

Jadi GMPLS yang merupakan konsep konvergensi vertikal dalam teknologi transport, yang tetap berbasis pada penggunaan label namun kini mekanisme yang serupa dikembanngkan untuk jaringan DWDM, misalnya dengan menggunakan panjang gelombang (λ) sebagai label. Maka dikenallah standar MPλS. Bagaimana sebuah lamda dapat dinamai sebagai label? Mudah saja, kita bisa membuat label ”100” untuk lamda 1310 nm, label ”200” untuk lamda 1330 nm, dan seterusnya.

Jika ”G” di dalam istilah GMPLS ini adalah Generalized, lalu apa saja yang bisa digeneralisasikan?

”G” di sini membawa konsekuensi untuk menggeneralisasi segala elemen yang ada pada MPLS dan yang terkait MPLS, dari mulai labelnya, constraint, dan skema pemisahan antara control plane dan data plane. Hal ini dilakukan agar teknologi non paket dapat juga diambil alih pengaturan ”routing” dan ”forwarding”-nya.

Misalnya di protokol RSVP-TE, labelnya digeneralisasi untuk dapat mendukung pembentukan LSP pada setiap level hierarki.

3. GMPLS Framework

Muncul pertanyaan apakah GMPLS yang notabene adalah pengembangan dari MPLS, juga masih bisa disebut teknologi 2.5 ?

Perlu diketahui bahwa GMPLS sebenarnya bukan superset dari MPLS. Jika diibarartkan seorang anak, GMPLS adalah ”anak” yang lebih cerdas dari ibunya (karena kemampuan Traffic Engineeringnya yang semakin baik), lebih gaul (karena bisa diterapkan pada teknologi non packet) dan juga kini si anak bukan hanya jago di teknis namun juga jago di manajemen (karena ditambahkan lagi layer manajemen). Tidak seperti MPLS, GMPLS memiliki Link Management Protocol (LMP) untuk mengatur dan memelihara kesehatan control plane dan data plane antar node.

Jadi yang diambil oleh GMPLS dari MPLS adalah mekanisme Traffic Engineering-nya.

Dengan demikian bicara GMPLS secara keseluruhan adalah suatu sebutan untuk suatu framework yaitu keluarga protokol dengan anggota keluarga yang dapat dibagi dalam tiga kategori yaitu protokol untuk routing, protokol untuk signaling dan Link Management.




Gambar. Framework GMPLS

Dari framework tersebut, tampak bahwa GMPLS ini terlihat ”canggih” dan ”serba komplit”. Tapi muncul tantangan apakah dengan demikian secara keseluruhan mampu memberikan pendekatan yang sederhana dan efektif ? Jika dulu MPLS populer karena mampu memberikan kesederhanaan pada jaringan, kini dengan adanya GMPLS yang serba general ini, muncul keraguan apakah hal itu masih bisa sederhana.

Karenanya saat ini muncul varian lagi dari MPLS ini yaitu T-MPLS, yang merupakan bentuk langsing dari MPLS. T-MPLS ini akan membuat GMPLS semakin langsing dan konsep sederhana dari versi native MPLS masih dapat dipertahankan.

4. Faktor Pendorong Pengembangan GMPLS

Konvergensi dari dunia telecom dan datacom kedalam era infocom mensyaratkan infrastruktur jaringan harus multi service yaitu mampu mendukung beberapa tipe trafik dengan requirement yang berbeda dalam hal QoS. Karena trafik IP akan mendominasi, dan sifatnya yang self similar dan asimetrik terhadap data flow, maka infrastruktur jaringan juga harus mendukung requirement berupa fleksibilitas dan kemampuan untuk bereaksi terhadap perubahan demand terhadap waktu. Inilah ciri teknologi NGN (Next Generation Network), dan MPLS adalah salah satu pemeran utamanya terutama dalam teknologi transport-nya.

Sebenarnya faktor pendorong MPLS ini juga menjadi faktor pendorong GMPLS juga, ditambah lagi dengan munculnya kebutuhan pembentukan LSP secara hirarki karena kini sudah ada kebutuhan switching untuk teknologi yang tidak hanya non IP, tapi juga non paket. Bagaimana kerjasama antara LSP region yang berbeda (dalam multi Autonomous System) juga menjadi PR tambahan bagi teknologi GMPLS.

Jika dihubungkan dengan kebutuhan komersial maka perkembangan GMPLS mendapat dorongan dari teknologi dan market sekaligus. Dari salah satu sisi teknologi, perkembangan internet akhirnya menimbulkan ketidakcocokan antara asumsi kebutuhan bandwidth sebelumnya dengan realitas sebenarnya. Dari salah satu sisi market, untuk memperoleh peningkatan pangsa pasar maka akhirnya kebutuhan bandwidth meningkat secara kontinyu.

Mempermasalahkan mana yang lebih dulu harus diakomodasi adalah tentu tidak sama dengan membandingkan antara mana duluan antara telur dan ayam, yang tidak berujung pangkal. Namun kajian tekno-ekonomi, yang menganalisa secara mendalam semua aspek dari kedua sisi adalah tindakan bijak, namun terkadang menimbulkan persoalan lamanya deployment yang akan dilakukan.

5. MPLS dan GMPLS dalam Skema Konvergensi Jaringan

Ada beberapa skema roadmap konvergensi yang direncanakan oleh operator dunia maupun Indonesia sendiri. Tentu saja skema tersebut akan memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya saat ini disamping juga melihat potensi yang dapat dikembangkan di masa datang. Namun demikian, dari sekian banyak roadmap itu sebenarnya semua dalam posisi “wait and see”, apa sebenarnya yang akan benar-benar berkembang baik dari sisi teknologi maupun dari sisi demand. Terlalu naif jika operator hanya melihat dari satu sisi teknologi saja, misalnya, karena bisa jadi demand tidak menuju ke sana. Sialnya lagi, kecenderungan di negara lain seringkali tidak bisa dijiplak di Indonesia. Jadi roadmap para operator di Cina, Jepang, Korea, tidak bisa begitu saja dipakai di sini.

Namun demikian, nampak bahwa MPLS ditetapkan sebagai teknologi transport backbone dalam semua langkah migrasi menuju NGN, misalnya migrasi transport backbone dari TDM (PDH/SDH) ke full IP (IP MPLS) atau jika belum ada infrastruktur eksisting maka akan langsung dibangun jaringan IP/MPLS.



Pada perkembangannya kini, MPLS akan bersanding bersama GMPLS. Tentu saja ada persoalan migrasi dalam hal ini. Skenario migrasi menjadi perhatian penting juga karena jika tidak dilakukan secara “soft” maka akan menimbulkan dampak negatif ekonomi yang tidak kecil.

Saat ini GMPLS telah dikembangkan untuk memetakan trafik IP langsung ke atas layer optik (DWDM) dengan menurunkan kompleksitas dan penyediaan alokasi bandwidth yang cepat dan fleksibel bagi trafik IP. Pendekatan four layer terdahulu (IP over ATM over SDH over DWDM) kini sudah mengarah sepenuhnya ke pendekatan IP/MPLS over DWDM (two layer).

GMPLS mendefinisikan suatu set protokol untuk manajemen link, penentuan topologi dan route, signaling dan survivabilitas jaringan IP dan optik. Dalam implementasinya di layer jaringan core, Protocol GMPLS bekerjasama dengan MPIS.

Ada banyak lembaga yang secara aktif secara kontinyu mengembangkan standar untuk control plane pada teknologi transport (termasuk GMPLS), antara lain :

· ITU, yang mengembangkan ASON yaitu framework yang menggambarkan arsitektur pengendalian dan manajemen untuk mendukung fungsi jaringan switch otomatis berbasis transport optik. Sebagai catatan, ASON tidak sama dan tidak satu domain dengan GMPLS karena GMPLS adalah keluarga protokol sedangkan ASON adalah sebuah arsitektur jaringan optik.

· IETF, yang mengembangkan GMPLS, yang nantinya akan diterapkan pada ASON yang dibuat oleh ITU.

· OIF (Optical Internetworking Forum), yang mengembangkan interface antara user ke network atau sebaliknya dan antara network ke network. Dari lembaga ini muncullah teknologi O-UNI (Optical User Network Interface) dan E-NNI (External Network Node Interface).

· TM Forum, yang terutama mengembangkan manajemen network.

Salah satu contoh penerapan GMPLS, MPLS dan O-UNI dapat diihat pada gambar berikut :



Gambar. Jaringan dan Interface GMPLS

Dari gambar, tampak bahwa ditengah-tengah jaringan ini terdapat Link Management Protocol (LMP). LMP inilah yang akan menjaga kesehatan suatu link (melalui protokol Hello-nya) dan meyakinkan hubungan antar node secara fisik tetap terjaga serta pada kasus tertentu jika ada kesalahan pada suatu titik di jaringan, maka LMP ini akan melakukan isolasi, agar kesalahan ini tidak membuat “kepanikan” di titik-titik lain di jaringan.

Jadi pada implementasinya, untuk jaringan eksisting, penerapan GMPLS akan dimulai dari backbone utama dulu, misalnya dengan diterapkannya ASON, untuk kemudian menghubungkan antar elemen yang telah diinstal MPLS di dalamnya.

Label yang dibentuk dalam GMPLS dibentuk untuk melakukan ekstensi dari representasi single 32 bit number menjadi arbitrary length byte array yaitu pada RSVP dalam bentuk Generalized Label object dan pada CR-LDP berupa Generalized Label TLV dimana GMPLS membawa label dan informasi yang berhubungan untuk dikirim dari satu node ke node yang lain.

Karena pentingnya aspek kontrol dalam jaringan core GMPLS, sebuah control plane yang terpisah diterapkan pada protokol tersebut. Dengan adanya control plane ini maka GMPLS dapat mengontrol secara penuh jaringan optik dibawahnya. Control plane dalam GMPLS menyediakan enam fungsi top-level:

1. Neighbour discovery – Untuk dapat mengatur jaringan maka setiap perangkat yang terhubung ke jaringan harus kenali terlebih dahulu. Perangkat-perangkat tersebut antara lain switch, router, multiplexer (OADM), dan optical cross-connect (OXC).

2. Dissemination of link status – Selain mengetahui hardware apa saja yang terhubung ke jaringan, link yang menghubungkan perangkat-perangkat tersebut juga harus diketahui statusnya apakah link tersebut berjalan dengan normal atau down. Untuk mendapatkan informasi status link ini, suatu protocol routing harus digunakan. Dalam GMPLS, kedua protocol routing OSPF dan IS-IS dimodifikasi untuk keperluan ini.

3. Topology state management – Protokol-protokol yang mendeteksi status link seperti OSPF dan IS-IS dapat dipergunakan untuk mengontrol dan mengatur topologi jaringan.

4. Path management – MPLS menggunakan antara lain protokol RSVP untuk membangun link end-to-end. Namun jika data MPLS melalui jaringan telekomunikasi, protokol-protokol lainnya harus diimplementasi juga seperti UNI, PNNI, dan SS7. Saat ini IETF bekerja untuk memodifikasi protokol RSVP dan LDP untuk mendukung kontrol dan manajemen path.

5. Link management – Dalam MPLS, Label Switched Path (LSP) digunakan untuk membangun dan membebaskan link dan link-link agregat. Dalam GMPLS dibutuhkan kemampuan untuk membangun dan membebaskan kanal-kanal optik agregat. Link Management Protocol (LMP) mengembangkan fungsi-fungsi MPLS kedalam suatu optical plane dimana pembangunan link akan meningkatkan skalabilitas.

6. Protection and recovery – Dengan MPLS, sebagai ganti satu ring dengan satu ring backup untuk proteksi, jaringan dapat membuat suatu struktur mesh yang memungkinkan terciptanya beberapa path yang berbeda-beda.


6. MPLS dalam Service Hasil Konvergensi

Apa perbedaan antara Service yang mampu disediakan MPLS dengan GMPLS ?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat dulu service yang disediakan MPLS, karena sebagian besarnnya mampu juga nantinya disediakan oleh GMPLS.

Pada implementasinya, ada tiga penggunaan dasar MPLS sebagai service, yaitu

· MPLS VPN

· Layanan real time audio dan video

· MPLS Quality of Service (QoS) based service

· Any Transport over MPLS (AtoM)

· Tarffic Engineering, dimana posisi posisi MPLS di sini adalah orthogonal terhadap traffic engineering alias dapat digunakan bersamaan atau terpisah. Jika suatu jaringan tidak perlu menggunakan TE, maka tidak perlu diinstal TE di sana.

Jadi MPLS dapat digunakan sebagai fondasi berbagai value added service, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Dan itu dimungkinkan karena MPLS memiliki kelengkapan sifta yang support terhadap kinerja jaringan mulai speed, scalability, security dan service guarantees.




MPLS VPNs

VPNs bukan sesuatu yang baru bagi internetworking. Sejak pertengahan 90an, penyedia jasa layanan telah menawarkan private leased line, Frame relays dan ATM PVCs sebagai sarana penghubung kantor antar perusahaan. IPSec dan metoda enkripsi lainnya telah digunakan untuk membuat intranet pada IP umum atau share (seperti pada internet penyelenggara layanan [ISP] ). MPLS VPNs muncul sebagai teknologi yang standar untuk memenuhi persyaratan VPN, seperti private IP, kemampuan untuk mendukung alamat yang bertumpuk (overlapping address space), intranet, ekstranet (dengan routing optimal) dan koneksitas internet.

Quality of Service Pada Jaringan MPLS

QoS digunakan untuk mendiskripsikan sekumpulan teknik untuk mengatur packet loss, latency/ delay, dan network availability. QoS juga dapat dinyatakan sebagai pengukuran level performansi yang dibutuhkan untuk aplikasi tertentu. Ada dua pendekatan yang berbeda untuk mendukung QoS, yaitu :

a. Signalling QoS : pendekatan ini berdasarkan pada pembentukan koneksi dinamis dengan protokol pensinyalan (RSVP, ATM SVC). Ini digunakan dengan model Integrated Service (IntServ).

b. Configured QoS : pada pendekatan ini yang paling utama adalah memberikan skema manajemen bandwidth pada jaringan IP. Ini dilakukan dengan model DiffServ. Byte Type-of-Service (ToS) di tiap header paket IP yang ada ditandai dengan prioritas atau level layanan yang dibutuhkan oleh paket tersebut.

MPLS dan DiffServ merupakan teknik yang saling melengkapi yang dapat diimplementasikan pada suatu jaringan IP QoS. DiffServ memberikan mekanisme QoS sedangkan MPLS memberikan kemampuan rekayasa trafik dan teknik routing sehingga meningkatkan optimasi resource jaringan. MPLS dan DiffServ beroperasi pada layer yang berbeda. DiffServ beroperasi pada layer 3 sedangkan MPLS beroperasi antar layer 2 dan layer 3. Dengan menggunakan MPLS QoS, penyelenggara layanan dapat memberikan berbagai macam kelas layanan (Class of Service) dengan jaminan QoS kepada para pelanggan. Paket-paket akan diklasifikasikan ke dalam beberapa kelas pada LER ingress dengan arsitektur DiffServ. Tiap-tiap kelas akan dibedakan dengan menggunakan informasi bit pada DSCP. Pada DiffServ, trafik dibagi ke dalam beberapa kelas dan masing-masing ditangani secara berbeda khususnya ketika jumlah resource jaringan terbatas.

Pelanggan termotivasi menggunakan internet sebagai sarana umum untuk sejumlah aplikasi yang bermacam-macam mulai dari transfer file sampai dengan layanan yang sensitif terhadap delay dan jitter seperti suara. MPLS menawarkan fleksibilitas bagi penyelenggara untuk membedakan tiap-tiap trafik. Bit precedence digunakan hanya untuk mengklasifikasikan paket ke dalam kelas-kelas yang berbeda dan berdasarkan kebijakan service provider berupa SLA yang menentukan tipe layanan dan klasifikasinya. SLA dapat bersifat kuantitatif (misalnya trafik dengan tingkat layanan A akan dikirimkan dengan latency kecil) maupun kualitatif (misalnya 90% trafik dari tingkat layanan A latency kurang dari 50 ms). Dalam hal ini SLA merupakan kesepakatan non teknis yang ditawarkan oleh service provider kepada pelangggan. Service provider menentukan spesifikasi tingkat layanan sesuai dengan SLA yang ada.

Operator dapat mengambil dua buah pendekatan yang mendukung MPLS based class forwarding :

a. Aliran trafik yang melalui LSP tertentu dapat diantrikan untuk ditransmisikan pada masing-masing LSR outgoing interface berdasarkan setting bit precedence.

b. Service provider dapat menetapkan multiple LSP antara tiap-tiap pasang LER. Masing-masing LSP dapat diterapkan rekayasa trafik untuk mendukung performansi dan jaminan bandwidth. Di ujung akhir LSR dapat ditempatkan prioritas trafik tertinggi pada suatu LSP dan untuk trafik best effort dapat ditempatkan pada LSP lainnya.

Any Transport over MPLS (AToM)

AtoM adalah aplikasi yang membawa Layer 2 traffic, seperti Frame Relay (FR), Ethernet,dan ATM melewati awan MPLS.

Service GMPLS

GMPLS, yang bersinergi dengan ASON, mampu memberikan service yang beraneka ragam, yaitu :

a. Service yang ber-range lebar yang dapat ditawarkan, antara lain :

· Classical data (best effort Internet, Frame Relay)

· Ethernet (EPL, EVPL, EPLAN, EVPLAN)

· L1/L2/L3 Virtual Private Network (VPN)

· SONET/SDH switched connection (STS-n, VC-n)

· OTH switched connection (ODU, OCh)

b. Deployment skenario service yang beraneka, seperti :

· All services interface at the IP level

· Various services interface at L1, L2, and L3

· Various options for L1 and L2 topologies and re-configurability in access, metro, and core networks


REFERENSI

1. Rendy Munadi, Diktat Kuliah Advanced Telecommunication Network, Jurusan Teknik Elektro-S2, IT Telkom

2. Kuncoro Wastuwibowo, Pengantar MPLS, Ilmukomputer.com, 2003

3. Hezekieli Gulo, Integrasi Internet Dengan ATM dan MPLS, 2008

4. Akhmad Ludfy, Overview GMPLS, http://www.ristinet.com, Telkom RDC, 2006

5. Polaris Networks, GMPLS The New Big Deal in Intelligent Metro Optical Networking (white paper).