Akhirnya Jepang, Uni Eropa dan Amerika Serikat memberi “BLT” sebesar 100 Milyar US$ untuk mendukung IMF dalam rangka membantu negara-negara di dunia yang terkena dampak krisis global. Jangan dikira ini adalah sumbangan, karena mereka pasti sudah berhitung uang itu bermuaranya kemana nantinya, pastinya untuk kepentingan mereka juga.

image

Padahal kita semua tahu bahwa krisis ini karena ulah serakahnya para pendukung liberalisme di Amerika sana. Akhirnya dunia kena getahnya, dan negera miskin menjadi negara yang makin merana. Itu artinya lagi bangsa Indonesia mungkin akan berhutang lagi, entah dengan packaging apa nanti hutang itu direalisasikan. Dari data Ichsanudin Noorsy, salah satu pengamat ekonomi, beban utang per kapita saat ini bertambah, dari yang semula 5,8 jutaaan dimasa awal kepemimpinan SBY menjadi 7,7 jutaan rupiah (jadi hutang negeri ini makin meningkat, tidak sama dengan klaim dari iklan politik yg mengatakan hutang luar negeri menurun).

Indonesia memang miskin, itu kalau dilihat dari aspek finansialnya saja. Namun kita masih punya potensi yang sangat bisa dikembangkan untuk menahan gempuran PHK, gulung tikarnya pabrik, lesunya perdagangan dan ratusan jenis kehancuran lainnya yang sebagiannya sudah mulai menampakkan wajahnya dalam beberapa bulan terakhir ini. Potensi apakah itu ? Ya, yang pasti adalah potensi alamnya, yang sayangnya tidak diikuti dengan optimalisasi potensi manusianya. Kita masih bisa menyuapi anak-anak kita dengan ikan-ikan di laut kita sendiri. Memberi mereka makan menggunakan nasi hasil bercocok tanam di ribuan hektar lahan pertanian milik kita sendiri. Ribuan liter susu dari ratusan peternakan sapi perah milik bangsa sendiri. Dan itu semua hanya butuh satu hal saja, yaitu keseriusan.

Lihatlah kesiapan logistik pemilu kita sampai hari ini, menjelang 10 harian lagi akan Pemilu, masih saja ada banyak laporan ketidaksiapan di daerah-daerah. Saya berfikirnya simple saja, itu pasti buah dari ketidakseriusan. Bayangkan saja, uang ada, orang overdosis alias banyak tersedia, metode bisa dicari, apa lagi alasan mengapa masih saja tidak siap, sampai-sampai KPU Pusat diminta sebagian pengamat untuk menyatakan kondisi darurat.

Semua memang harus dimulai, dijalankan dan diakhiri dengan keseriusan, jangan “becanda” alias “nyantai” ketika menjalankan tugas bangsa. Menjadi menteri, jadilah menteri yang serius, lincah, penuh taktik dan strategi, komprehensif dalam berpikir. Menjadi petani, jadilah petani yang serius, menanam tanaman di bumi Tuhan, maka jagalah alam dengan serius, jangan dirusak hutan-hutan yang makin kritis saja keadaaannya. Menjadi guru, seriuslah mengajar dengan cara-cara yang lebih kreatif lagi, agar anak-anak didik mendapatkan sharing pengalaman belajar mengajar, bukan hanya sekedar hafalan, asal ulangan dapat nilai 100 atau nilai A. Tambaan lagi, menjadi guru haruslah benar-benar mau mengajar, jangan malas seperti ditemukan kasusnya di Tasikmalaya, dimana ada banyak guru sukwan yang mengganti sementara untuk para guru yang sudah berstatus PNS. Dan itu terjadi di sekolah-sekolah yang guru PNS nya sudah cukup. Jika mau serius sedikit saja, guru sukwan ini bisa didistribusikan ke sekolah lain yang masih kekurangan guru. Heran, sudah lama terjadi namun baru ini ditemukenali masalahnya.

Banyak sekolah yang merasa tidak punya dana cukup untuk keperluan belajar mengajarnya. Padahal di luar sana, ada saja perusahaan volunteer yang bersedia memberi bantuan, atas nama CSR misalnya. Seandainya kepala sekolahnya serius, ajukan saja proposal, kirim ke perusahaan-perusahaan tersebut, misalnya PT Indosat dengan program ISMS (Indosat Science & Multimedia School) yang memberi bantuan laptop, akses wireless broadband, projector, software sains, pelatihan IT, kepada SMU di tanah air.

Soal kawasan lindung, juga gak kalah tidak seriusnya dalam pengelolaannya. Dalam RTRW Jawa Barat misalnya, 45% dari 3.7 hektar luas keseluruhan hutan harus berfungsi sebagai hutan lindung, tapi nyatanya belum tercapai juga. Kalau mau serius, buat penegakan hukum yang baik. Saran dari seorang pengamat lingkungan bernama Supardiyono Sobirin agar pemerintah membuat Peraturan Gubernur kusus untuk itu, rasanya masuk akal. Tentu harus diimbangi dengan penegakan hukum yang tegas.

Setali tiga uang dengan pelimpahan tanggung jawab dari negara kepada masyakarat dalam hal pendidikan nasional, seiring dengan perbedaan isi dari UUD 45 pasal 31 yang menyatakan negaralah yang bertanggung jawab menyelenggarakan sisdiknas, di sisi lain ada UU BHP, yang kontroversial itu, yang mengisyarakatkan pembiayaan penuh hanya pada pendidikan dasar saja, setengah kebutuhan biaya SMA dan sepertiga kebutuhan perguruan tinggi. Tidak seriusnya negara ditambah pula dengan ketidakseriusan para aparat pendidikannya, jadilah proses pendidikan kita masih buram seperti saat ini. Sampai-sampai KPK dan BPK harus turun tangan untuk mengecek spesifikasi bangunan sekolah yang dicurigai di bawah standar, walaupun sudah ada Dinas Pendidikan di setiap Pemkot.

Tidak hanya negara, swasta di negeri inipun haus serius jika ingin maju dalam abad kompetisi seperti saat ini. Ada kabar 40 industri content provider dipecat XL gara-gara tidak serius (baca : tidak kreatif) dalam mengembangkan value added service, sebagai pengganti voice dan SMS yang saat ini semakin turun saja. XL saja sudah meninggalkan program branding Extra Large-nya dengan branding barunya Fun & Excitement, sehingga keseriusan untuk menghasilkan layanan yang mungkin tidak murah namun bermutu sangat diperlukan.

Baru saja Telkom meluncurkan paket-paket baru Speedy-nya, yaitu dengan hadirnya 7 paket, dari mulai paket mail dengan harga Rp 75 ribu, paket chat seharga Rp 145 ribu, paket family dengan kecepatan akses up to 384 Kbps seharga Rp 195 ribu per bulan, paket Load dengan kecepatan up to 512 dengan biaya Rp 295 ribu per bulan, paket game dengan kecepatan up to 1 Mbps dengan biaya Rp 695 ribu per bulan, paket Executive dengan kecepatan up to 2 Mbps seharga Rp 995 ribu dan akhirnya paket Biz kecepatan 3 Mbps dengan biaya Rp 1.695.000. Tidak cukup sampai di sini, Telkom harus membuktikan keseriusannya untuk menjaga kinerja jaringan Internetnya jika ribuan kastamer di satu kota melakukan surfing Internet bersamaan. Bahkan dari awal penawaran ini juga bisa dilihat keseriusan dari pelayanannya dalam membantu para kastamernya yang diyakini akan banyak melakukan adjustment terhadap kebutuhannya disesuaikan dengan paket-paket yang ditawarkan. Sebagai tambahan lagi, visi kolaborasi yang saling menguntungkan dengan para content provider, terutama lokal, akan diuji dalam beberapa bulan ke depan, apakah dapat menciptakan sinergi yang positif.

Kita beralih pembicaraan ke soal pertanian. Dari dulu kita sama-sama tahu bahayanya pestisida, tapi yang terjadi petani masih saja dibiarkan menggunakannya, padahal ada beberapa alternatif lain, seperti pestisida nabati, yang berasal dari daun nimba, bawang putih, dan serai wangi, lalu setelah ditumbuk dan diendapkan semalam bahan lalu dicampurkan dengan air untuk kemudian disemprot ke hama yang dituju (misalnya ulat grayak).

Memang banyak knowledge tentang pertanian yang belum dikembangkan. Struktur pasar hasil pertanian saja belum banyak yang menelitinya, padahal ini akan dapat membantu mengetahui letak permasalahan sebenarnya mengapa petani belum bisa makmur juga, walaupun harga gabah tinggi sekalipun. Baru-baru saja ada kabar seorang Profesor Universitas Winaya Mukti melakukan penelitiannya, yaitu Prof Yogi, yang salah satu kesimpulannya menyatakan bahwa dari produk gabah menjadi beras, kenaikan harga rata-rata hanya 30 %.

Praktek ijon masih saja sering terdengar menjadi belenggu yang tidak berkesudahan dialami para petani kita. Itu sudah berumur puluhan tahun, sejak kecil (80-an) sayapun sudah pernah mendengar ceritanya dari guru-guru saya tentang betapa jahatnya praktek itu. Ternyata baru-baru saja, itupun yang pasti belum maksimal, terdengar kabar adanya usaha-usaha mengurangi dengan serius praktek ijon itu, misalnya penggalakan transaksi lelang agro.

Comments (0)