Organisasi apa yang paling tahan terhadap perubahan lingkungan dewasa ini ? Organisasi apa yang mampu mempertahankan bisnisnya walaupun “diserang” oleh banyak kompetitor dengan berbagai jurus-jurusn baru penguasaan pasar ?
Ini adalah dua dari ratusan pertanyaan yang selalu saja menarik di kalangan pakar organisasi yang concern terhadap performansi organisasi, terutama yang bergerak dalam bidang bisnis. SDM selalu saja menjadi faktir kunci (dan paling esensial) dan selalu menjadi “kambing hitam” jika ada kegagalan dalam implementasi program-program organisasi, misalnya. Tentu saja jika kita berhenti sampai di sini, kita tidak akan pernah bisa lagi untuk menciptakan inovasi-inovasi baru dalam mencari akar permasalah suatu masalah.
Accenture dalam tulisan tentang Operational Excellence di http://www.accenture.com/Global/High_Performance_Business/Research_and_Insights/Operational-Excellence.htm menyebutkan bahwa ada tiga pendekatan fundamental yaitu continuous improvement, targeted intervention dan transformation program. Tulisan singkat ini memberi sudut pandang lain bagi saya, suatu imajinasi organisasi yang saya sebut bersifat “liat”, sebutlah begitu. Bagaimana suatu organisasi mampu mempertahankan improvement berkelanjutan sembari menjalankan suatu analisa terhadap target, menyesuaikan dengan lingkungan dan hasil-hasil dari improvement berkelanjutan, untuk kemudian melakukan program transformasi. Semua dilakukan secara paralel, karena kegiatan yang dilakukan secara serial seringkali basi karena tidak uptodate lagi.
Mudah diucapkan, gampang dituliskan, namun dalam pelaksanaannya, sudah menjadi rahasia umum, membutuhkan effort yang luar biasa besarnya. Namun saya memberi solusi bahwa para manager lapangan, yang menjadi penghubung antara manajamen papan atas dengan para karyawan pelaksana adalan kunci utama di sini. Tentu saja para manajemen atas ini harus juga rajin melakukan kegiatan “menjahit” semua program agar bisa saling melengkapi dan sinergi. Proses bisnis jelas harus ditaati, tapi berbagai akrobat manajemen harus dilakukan dan menjadi kebiasaan bagi para manager lapangan, tanpa melanggar norma organisasi. Disain organisasi tidak melulu pada urusan siapa menjabat apa, namun juga siapa harus melaksanakan apa dan siapa yang harusnya menggerakkan apa dan siapa.
Komunikasi adalah lem atau perekat dari semua urusan organisasi. Saya memandang tugas ini harus sudah lihai dijalankan semua karyawan, bukan hanya manajemen atas saja. Semua harus mampu ngobrol dan terbiasa berani mengungkapkan berbagai masalah dan penilaian pada kinerja unitnya sendiri dan unit lainnya yang terkait dengan rantai proses bisnisnya. Tentu saja iklim seperti ini tidak mudah dilakukan, namun sekali lagi manajemen harus berusaha keras mewujudkannya.
Saya setuju sekali ada pakar yang mengatakan bahwa mengelola perubahan adalah kompetensi inti yang harus dimilliki suatu organiasai yang notabene ada di para SDM nya (baca http://www.accenture.com/Global/Research_and_Insights/Outlook/By_Issue/Y2009/CreateAgileOrg.htm ). bagaimana suatu program dapat dieksekusi secepat mungkin (dengan tepat) dan perubahan dapat dikelola secantik mungkin.
Saya tertarik pada konsep OODA Loop (lihat gambar di bawah) dimana seorang pakar penambilan keputusan bernama Boyd menyatakan bahwa suatu organisasi yang sangat efektif bercirikan kemampuan rantai komando terdesentralisasi yang sangat tinggi dosertai kemampuan memiliki tujuan operasional dan tujuan strategis sembari melakukan pelatihan terhadap directive control-nya. Menarik ! Kontrol yang digunakan untuk mengarahkan tujuan (objective) organisasipun perlu dianalisa, dipertanyakan, dan “dilatih” atau dites sesuai dengan perkembangan yang terjadi, apakah diteruskan atau diubah.
Gambar OODA Loop (http://blackdiamondtransformation.com/2009/04/30/competitive-advantage-the-ooda-loop-in-agile-organizations/ )
