Wah, hari ini saya dapat pencerahan dari tulisan menarik dari Pak Setyo Wibowo di koran Kompas hari ini yang berjudul “Cukupkan diri, jangan berlebihan”. Katanya Sokrates pernah bilang bahwa kita harus mengenali diri sendiri, dan jangan berlebih lebihan. Puncak kebijaksanaan adalah ketika manusia tahu jati dirinya adalah jiwanya, bukan hartanya”.

Juga dikatakan bahwa tidak ada resep yang mudah agar rasio klop ama jiwa, harus sering dilatih.Kalau nggak, ya seperti yang banyak kita lihat, ada pemimpin teriak-teriak agar menjadi sederhana, dia sendiri nggak nyadar kalau jauh dari apa yang diucapkannya sendiri. 

Saya setuju tuh, malah saya senank kalau presiden negara ini rumah pribadinya (bukan rumah dinas atau istana presiden) berukuran tipe 60 aja lah maksimal. Kasih contoh pada rakyat, ya nggak perlu ala Mahatma Gandhi lah, dan si Ibu presidennya juga nggak perlu ala Bunda Theresa yang super hebat itu. Tapi why nggak bisa seperti mereka? Harusnya bisa dong, wong udah nggak mikir apa-apa lagi. Semua sudah ditanggung negara, sakit akan diobati negara, mau berobat ke dukun manapun sedunia juga gratis, anak-anak juga pastinya sudah punya modal untuk hidup mandiri, apalagi coba?


Saya ingin presiden dan istri, juga wakilnya, terus pantau rakyat selama 24 jam (makanya jangan yang tua milihnya, yang muda dong), kreatif, dan terus memberi semangat pada rakyat. Masuk koran tiap hari, masuk ke blog atau milist di Internet tiap hari, kasih masukan apa saja buat rakyat dan jadikan rakyat Indonesia ini kembali untuk PEDE, seperti PEDE-nya rakyat waktu mendukung proklamasi dulu.


Dan satu hal, tekankan bahwa JIWA adalah nomor satu. Makanya sekolah penting, membaca penting, sastra penting, agama super penting, semua harus dinomorsatukan, jangan mau dikalahkan sama budaya konsumerisme, budaya buang-buang duit bin serakah membawa berkah, ah….parah kalau jadi panutan.


Tapi itu bukan berarti menteri ekonomi enak-enakan. Dia harus berusaha mengawasi 24 jam keadilan dalam berekonomi dan kesempatan rakyat berjuang dalam ekonominya. Beri kesempatan rakyat kecil makan dengan teratur, dan peringatkan kalau ada pengusaha yang mulai serakah, padahal sudah kaya. Kaum achievers (yang berprestasi) – meminjam sebutan dari tulisannya Pak Rheinald Kasali di salah satu tulisannya di Kompas hari ini juga) harus dapat kesempatan lebih. Biar Indonesia ini benar-benar berprestasi, yang pinter akan dihargai, yang bodoh apalagi membuat keonaran harus disingkirkan.


Sekolah buat orang pinter dan berkemauan keras, bukan buat orang kaya tapi bodoh nan pemalas. Camkan itu Indonesiaku !

Saya termasuk orang yang pesimis dengan kondisi manajemen pendidikan Indonesia pada umumnya, dari mulai TK sampai Universitas, sampai S-3 nya sekalipun. Kok nggak bisa menjadi motor penggerak yang sejati bagi bangsa ini ya? Korupsi semakin merajalela, masih banyak yang lugu pula, gimana nggak, kok bisa bisanya ada saja yang masih memilih artis debutan yang nol besar dalam bidang politik. Ha..ha..saya jadi kebayang kalau si artis nanti jadi pejabat, dikelilingi para pejabat banyak dinas yang membutuhkan petunjuk dan arahan. Bisa ngomong apa dia? Paling-paling statement-statement general saja, seperti “mari kita tingkatkan pendidikan bagi generasi penerus bangsa”. Bah ! Itu sih omongan yang hanya boleh diucapkan seorang presiden, kalau sudah di bawah presiden ya harus sudah berbau “juklak”, sudah mulai rinci dan tajam serta kasuistis sesuai dengan kondisi di daerah masing-masing.


Jangan-jangan orang Indonesia nggak cocok jadi orang sekolahan ya, seperti halnya orang Indonesia katanya nggak cocok bergerak di bidang manufaktur. Itu cocoknya buat orang Korea, Jepang, Cina. Kalau kita mungkin cocoknya ya pertanian, pelayaran alias kelautan, dan mungkin berbakat menjadi eksportir TKI terbesar di dunia, bahkan nanti-nanti siap-siap saja untuk menyiapkan bisnis eksportir TKI ke planet-planet yang nanti bakal jadi hunian baru manusia.

Makanya saya lebih cenderung suka jika 80% semua kegiatan pendidikan diarahkan ke sektor “praktek”, real bermanfaat dan dapat dilihat buktinya dalam waktu yang tidak lama. Karena orang-orang Indonesia katanya malas mikir, dan pengennya cepat dapat hasil, tidak mau lama-lama, seperti untuk investasi dalam pendidikan anak-anaknya. Jadi stengah hati melakukannya, dan itu pasti tidak akan menghasilkan apa-apa. 


Nah, itu artinya, bongkar saja semua SMU menjadi SMK. Ya kalau keberatan, biarkan namanya tetap SMU (apalah arti sebuah nama), tapi di dalamnya harus dirombak menjadi tempat pelatihan, bukan melulu pendidikan, yang saat ini selalu dimaknai sebagai melulu hafalan dan ingatan. Sudah saatnya Omar Bakri melihat bahwa sepedanya dijadikan sepeda listrik oleh anak-anak didiknya.


Saya jadi bersemangat untuk menyekolahkan adik saya tercinta ke SMK. Dan di Cimahi rasanya nggak banyak yang jurusannya sesuai dengan “selera” saya, yang berbau komputer. Dianya juga mau, seperti dulu sempat kami diskusikan bersama dalam suatu kesempatan ngobrol. Setelah saya surfing bentar, ternyata ada SMK Negeri 1 Cimahi, yang ada di jalan Leuwi Gajah. Saya jadi ingat Pak Uud, ustadz masjid kami di BPI, yang pernah cerita punya anak pernah sekolah di sana. Waktu itu sempat kami ngobrol saat beliau menjadi “mediator” keluarga kami dengan keluarga Mas Ari, calon adik iparku untuk bertunangan dengan adikku satu lagi.

Dari website-nya, disebutkan bahwa :

SMK Negeri 1 Cimahi merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Menengah Kejuruan di Jawa Barat yang menyelenggarakan Program Pendidikan Kejuruan 4 Tahun, dan merupakan salah satu SMK dari 8 (delapan) SMK Negeri di Indonesia yang memiliki program 4 (empat) Tahun, yang pembangunan fisiknya dimulai sejak tahun 1969, di atas tanah seluas 3,4 Ha, dan telah menerima siswa sejak tahun 1974 dengan nama STM Negeri Pembangunan Bandung, yang diresmikan pada tanggal 24 Maret 1977. Perkembangan SMK Negeri 1 Cimahi dari sejak berdiri sampai dengan tahun 1995/1996 bernama STM Pembangunan Bandung, sedangkan nama SMK Negeri 1 Cimahi. 


Terus soal bidang keahlian dan programnya, ada beberapa bidang di sana dan program disana, antara lain :

1. Bidang Keahlian Teknik Elektro terdiri dari

• Program Keahlian Teknik Transmisi
• Program Keahlian Elektronika Industri dan Komputer
2. Bidang Keahlian Listrik terdiri dari
• Program Keahlian Listrik Industri
3. Bidang Keahlian Teknik Pendinginan terdiri dari
• Program Keahlian Teknik Pendinginan dan Tata Udara
4. Bidang Keahlian Teknik Instrumentasi Industri terdiri dari
• Program Keahlian Kontrol Proses
• Program Keahlian Kontrol Mekanik
5. Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi
• Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak
• Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan
• Program Keahlian Teknik Produksi Program Pertelevisian

Nah, maybe saya usulkan ke adik saya untuk masuk program Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan atau di Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak. Mudah-mudahan dia mau tuh, soalnya kalau lihat tipikal orangnya, dia nggak terlalu suka teori-teori. Sukanya ya komputer itu, Cuma ya maennya game saja. Mudah-mudahan ini tidak berkepanjangan, smoga dia jadi “bosan” dan akhirnya berpaling ke permainan komputer lainnya seperti pemrograman dan instalasi jaringan. Yah, kecil kemungkinan dia suka, tapi siapa tahu.


Selain pertimbangan itu, saya cenderung lebih suka memilihkannya jurusan yang tidak terlalu jauh dari yang ditekuni saya, kakaknya. Ya, siapa tahu bisa bantu-bantu dia nanti dalam pelajarannya, atau setidaknya kalau ada masalah saya bisa lebih mudah memahaminya. Apa yang sudah saya capai, walaupun kecil, setidaknya bisa dia pakai untuk penopang kakinya agar lebih mudah dan lebih cepat memanjat pohon cita-citanya. Sayang sekali dulu kenapa tidak ada anak-anak Dad yang mau jadi tentara, padahal Dad sudah punya pintu untuk itu.Dad sendiri juga tidak mengarahkan kami ke sana sih, semua serba demokratis, asal harus S-1, katanya gitu.

Makanya saya nggak pernah merasa menyalahkan kalau ada artis yang menjadikan anaknya menjadi artis juga, “menjual” anak-anaknya ke produser atau pemandu bakat yang mereka kenal, lalu dalam waktu singkat…boom…sudah jadi artis deh. Bagi saya mereka tidak curang, tapi cerdik, karena ibu atau bapaknya sudah punya “tempat”, ya dipakai saja oleh si anak. Soal ada cibiran dari orang, ya anggap saja kafilah yang sedang menggonggong.

So, siap-siap tahun depan ya adikku. Wah, saya juga harus sudah mulai menyiapkan pintu lainnya nih, yaitu duitnya. Nah ! 

Tadinya agak-agak ada rasa “menghina” juga pada suatu institusi yang menjanjikan gelar S-1 tanpa skripsi, tiga tahun “dijamin” lulus pula. Ini saya lihat pada suatu harian surat kabar di Bandung (Tribun). 


Ada juga di sebelahnya Hartomo Mechanical Training Centre, yang menyediakan layanan pendidikan jadi montir sepeda motor, yang katanya memberi beasiswa bagi korban lumpur Lapindo, Tsunami Aceh, Tsunami Pangandaran, Gempa Jogja. Semuanya bekerjasama dengan Bank Ekspor Indonesia dan beberapa BUMN.


Satu lagi inspirasi saya hari ini, si iron woman Miss Chrissie Wellington yang jadi juara thriatlon dunia baru-baru ini di ajang dunia Ironman World Triathlon Championship, Hawaii. Ini cewek benar-benar hebat, lengkap dengan cerita “bersahabat dengan alam” di Nepal sana, yang membuat fisiknya terlatih oleh alam. Maka terbitlah cerita fantastis dalam perjuangannya berenang, mengayuh sepeda dan marathon, yang totalnya mencapai ratusan kilometer perjalanan menuju tangga juara.


Lantas, apa hubungan cerita Chrissie ini dengan pendidikan kita?

Ulet ! itulah kunci yang sudah seharusnya kembali kita renungkan dan praktekkan. Saya meyakini jika keuletan bisa mengalahkan segalanya, tentu atas ridlo Allah, yang pasti akan membantu hamba-hambanya yang ingin mengubah nasibnya, sesuai dengan salah satu ayat di Quran. Dan janji itu Insya Allah akan benar menjadi kenyataan, asalkan kita benar-benar sudah maksimal mengusahakannya. 


Saya tahu bahwa sekolah saat ini sudah hampir kehilangan daya mujarabnnya untuk bisa mengatasi berbagai persoalan. Nggak usah jauh-jauh, Bandung aja carut marut pembangunannya, padahal di situ ada beberapa universitas ternama. Ini pada kemana orang-orang pinternya? Atau sudah pada cuek semua? Atau pemda-nya yang sudah bebal nggak mau dengar teriakan para aktivis dan mahasiswa kampus?


Saya pribadi sih sebenarnya tidak terlalu peduli dengan gelar, tapi bagaimanapun manusia Indonesia harus dilatih menjadi orang pinter yang tahan banting lengkap dengan hati nurani yang terasah. Dan salah satu candradimukanya ya di kampus.

Maka aneh saja kalau ada kampus yang memudahkan mahasiswanya lulus, nggak pakai skripsi segala lah, Cuma tiga tahun saja lah (kenapa nggak sekalian dua setengah tahun sekalian, atau dua tahun saja kalau mau, kan itu Cuma masalah birokrasi saja).


Sudah cukup lah dengan kemudahan-kemudahan itu. Kita harus latih generasi muda dengan tantangan-tantangan, biar mereka berfikir keras untuk dirinya, melatih otot-otot otaknya, mengembangkan imajinasinya. Jangan lagi ditambahkan buaian-buaian hanya karena ingin kampus cepat dapat mendatangkan keuntungan karena calon mahasiswa tertarik dengan berbagai kemudahan itu. 
Coba kita lihat lebih jauh lagi. Saat ini kalau ada Pe-er sedikit lebih banyak saja, anak-anak sekolah sudah pada cengeng. Orang tua juga pada ngomel, dipikirnya si guru hanya cari masalah saja. Padahal kalau dikerjakan, paling-paling butuh dua jam, selesai. Bandingkan dengan berapa jam yang dibutuhkan si anak nonton TV atau maen playstation, misalnya.
Jadi guru saat ini memang serba salah. Saya pernah mengalaminya waktu mengajar di salah satu SMK terkemuka di Makassar. Baru saja dikasih beberapa PR, saya malah dicemberutin anak-anak. Mereka sudah mulai “marah” pada saya. Entahlah, generasi sekarang kok tambah lembek saja.

Lihat saja cara mendidik ortu modern saat ini. Semua yang berbau kotor dan keras, tidak diperbolehkan untuk dilakukan sang anak. Maka si anak jadi cengeng, norak, egois, maunya enak sendiri. Ah, itu bukan menjaga namanya, tapi justru menyiksa secara pelan-pelan. Sampai kapan ortu akan memanjakan anaknya? Bahkan nenek-nenek jaman sekarang saja sudah sulit ditemui yang nganggur, semua pada sibuk, seperti sibuknya mereka dulu waktu mengasuh anak-anaknya. Ngapain aja mereka ? Ya, sibuk ngurusin cucu-cucunya, padahal si ibu nganggur di rumah saja. 


Para generasi muda, latih otot otak dan otot mentalmu. Jangan lemot dan loyo untuk tetap konsisten belajar dan bekerja keras. Sudah waktunya hilangkan impian-impian hidup ala sinetron yang banyak bohongnya itu. Sudah waktunya sinetron atau acara sejenis yang meninabobokkan pemirsa diharamkan dari layar TV, buat apa ada Lembaga Sensor coba? Jangan hanya berfikir sempit kalau yang harus disensor Cuma yang ada sex-nya doang. Kalau itu sih, saya juga bisa kok. Gampang banget.

Dari koran yg kubaca hari ini, ada berita menyedihkan dari Kampung Babakan, kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, dimana ada lima pekerja pembangun tebing tertimbun tanah sampai meninggal dunia. Ironisnya, persis di sebelahnya ada bahasan sedikit tentang perkelahian anak-anak UKI vs YAI yang sudah jadi tradisi.


Kedua kejadian itu sama-sama menunjukkan pertarungan terhadap dunia yang keras. Namun sangat berbeda sekali kutubnya, yang di Dramaga adalah pertarungan suci nan Insya Allah diridhoi Allah, karena keluarga mereka menunggu di rumah, di kampungnya di Majalengka, menunggu bapak atau saudara atau anaknya datang membawa uang untuk keperluan sehari-hari dan mungkin untuk sekolah anak-anaknya. Sedangkan satunya adalah pertarungan kekanak-kanakan bin kampungan bin ndeso yang nggak ada pantas-pantasnya dilakukan sang generasi muda, anak sekolahan. Bahkan dari razia polisi kabarnya ada asesories senjata tajam, minuman keras, dan obat terlarang yang kesemuanya mewarnai kehidupan sang generasi penerus bangsa itu. Ada alibi bahwa semua tidak lepas dari kecemburuan sosial karena salah satu kampusnya lebih megah dari yang lain. Menurut saya tetap saja itu tidak menjelaskan alur logika, apalagi ini mahasiswa, siswa yang harusnya sudah “maha”, termasuk sopan santunnya tentu. Kelakukan cetek begitu sih nggak ada bedanya dengan anak-anak tetangga di kampung saya yang berkelahi gara-gara persoalan kalah maen kelereng atau kalah maen bola.


Saya tahu kalau mereka mereka itu oknum saja, tidak mewakili semua mahasiswa YAI dan UKI tentunya. Tindakan tegas harus diambil. Minimal pecat mereka dari pangkat mahasiswanya, dan harus dipenjara juga. Jangan dilepaskan begitu saja. Keenakan mereka nanti. Tapi ya polisi harus diingatkan jangan sampai gara-gara Mama dan Papanya datang ke polisi terus anak-anaknya yang super nakal itu dilepas. Wah, ini bisa menimbulkan kecurigaan pada polisi, jangan-jangan main mata deh.


Akhirnya Rektor kedua kampus itu “bersumpah” akan mencari solusinya. Ha..ha…ha..itu sumpah udah berapa kali diucapkan, dari tahun kapan tuh, karena kejadian ini sudah berkali-kali. Malah sudah empat kali dalam dua tahun terakhir, dan kata Kompas itu belum ada hasilnya sama sekali. Ya, nggak salah juga sih, si rektor emang harus ngomong begitu, demi menyelematkan muka, dan menyelamatkan bisnis pendidikan yang dibebankan padanya sebagai bosnya kampus. Kasiyan deh.

Saya jadi mikir nih, kok banyak sekali mahasiswa yang doyan perang ya. Pengalaman setahun saya di Makassar dulu juga begitu, anak-anak di sana doyan sekali demo dan membuat irama kekerasan, atas nama militan dan membela idealisme. Antar fakultas di universitas yang sama saja sering terjadi perkelahian. Ya sekali lagi memang tidak semuanya sih, tapi tetap saja masyarakat geleng-geleng kepala. Ayo, mari kita hancurkan sama-sama negeri ini. Kata salah satu lagunya Mas Dani Ahmad dulu tuh (lupa judulnya) “yang muda mabuk yang tua korup”. Lengkap sudah.


Jangan-jangan ini bukan hanya menunjukkan kegagalan di universitasnya, tapi juga dari tingkat dasarnya ada (SD dan SMP) sudah nggak menghasilkan lulusan dengan kualitas dan etika yang layak.


Tadinya saya ingin menganalisa, dan ingin coba mencari solusi lebih jauh. Tapi tiba-tiba saya jadi malas, apagi tersadar bahwa ini Indonesia, dan yang saya bicarakan dari tadi adalah manusia. “Manusia Indonesia” tepatnya. Nah, kalau bicara tentang yang namanya Manusia Indonesia nih, capek deh….sampai berbusa nih mulut nggak bakal menemukan solusi, kecuali ada revolusi besar-besaran di segala bidang di Indonesia ini. Dan itu cukup impossible.

Ada petikan promo UNSW (Universitas New South Wales) yang lumayan “mengganggu” saya, berbunyi “pendidikan global + jejaring global = peluang global”. Apa iya itu masih benar dalam kondisi carut marut ekonomi dan sosial dunia saat ini? Apakah pernyataan itu tidak ditakar ketidakpastiannya? Dan berikutnya apakah calon mahasiswa dan ortunya sekalian memiliki kemampuan dalam mengkritisi pernyataan-pernyataan “boom” semacam itu?

Saya coba berhati-hati terhadap gelagat pamer diri yang saat ini sudah jamak diadop oleh pihak universitas sekalipun, yang sebenarnya harus benar-benar steril terhadap urusan “keduniawian”. Tapi kalau ditinjau dari soal sah tidaknya ya tentu sah saja, apalagi yang membuat slogan itu toh bukan UNSW nya sendiri, bisa jadi kerjaannya para merketernya di Jakarta.

Agak curiosity ke universitas yang satu ini, saya coba surfing sebentar di homepage-nya. Ada statement di dalamnya bahwa :

“UNSW, a member of the Go8, is one of Australia's leading research intensive universities. While we conduct research across a wide range of disciplines, we are investing considerable resources in particular areas where we feel we can make a difference. This involves building on existing strengths, in fields where we are already a world leader, as well as identifying emerging problems and opportunities, and moving to meet the challenge. In the latest issue of Research@UNSW, we outline developments in climate change and sustainability, smart technology, creative media, social policy and life saving medical research”.

Hm, gagahnya mereka, pede-nya mereka. Seolah-olah hampir segala bidang yang “laku” saat ini sudah berada dalam jangkauan riset mereka. Kapan saya bisa saksikan “kesombongan” ini di website universitas-universitas di negeri kita ya?
Tiba-tiba saya ingat pada Rachael Ray, si cantik jago masak yang meroket di Amrik dengan talk show-nya, bahkan sudah mampu menyaingi Oprah. Dia mampu meramu berbagai masakan dari bahan-bahan yang ada, tidak perlu yang ruwet-ruwet, rumit-rumit, aneh-aneh, yang kalau di supermarket ada ya sudah langsung saja pakai, tidak harus masak dengan bumbu yang harus dibuat sendiri dari nol besar. Dan hasil masakannya banyak yang berpendapat tidak kalah dengan hasil racikan resto-resto supermewah di sana. Ya ini katanya, dan mungkin juga itu semua resep bukan hasil riset dia sendiri, tentu sudah ada team-nya yang membantu.

Namun bukan soal masakan itu yang saya mau ambil di sini. Saya hanya mau padukan keinginan kuat untuk riset dari universitas UNSW dengan bahan-bahan “seadanya dan disekitar lingkungan kita” dari Racahel Ray. Formula ini mungkin perlu ditambah dengan bumbu-bumbu lain seperti pola menghargai karya sendiri ala Mahatma Gandi dengan swadesi-nya, yang membuat rakyat India hanya akan membeli hasil produk tenunan sendiri walaupun kalah jauh kualitasnya dengan produk luar negaranya. Artinya, saya ingin kita semua belaja menghargai hasil karya sendiri.


Jika anda bisa menghasilkan karya, sekecil apapun itu, berbanggalah. Jangan membandingkannya dengan produk luar yang serupa yang mungkin jauh lebih baik kualitasnya. Ya menoleh ke produk lain bolehlah, namun hanya untuk memberi pelajaran tambahan untuk memperbaiki hasil produk kita lebih baik lagi. Saya baru saja semingguan lalu membaca PT Inka akan membuat mobil hemat energi buatan bangsa sendiri. Ini sih tidak aneh sebenarnya, karena sudah ada isu serupa bahkan sejak jaman Soeharto. Namun marilah kita menyikapinya dengan lebih wise lagi, hentikan kebiasaan yang tidak jelas juntrungannya, yang hanya selalu produk luar minded. Saya sih bukan bermaksud untuk anti terhadap produk luar, tapi hanya berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak hanyut dalam gelombang paradigma yang makin menganak-emaskan produk luar, yang akhirnya akan membuat bangsa ini bangkrut, PHK masal, orang pada malas menjadi produsen, mendingan jadi pedagang saja, tidak usah memikirkan nasib buruh, yang penting dapat untung.

Sedih juga kalau melihat fakta bahwa sampai detik ini kita masih tidak mampu menambang minyak dengan alat sendiri, tidak mampu membuat infrastruktur telekomunikasi dengan hasil karya sendiri, tidak mampu membuat benang walau terkenal sebagai salah satu negara produsen clothing. Hmm, begini lah kalau range pikiran hanya sampai situ-situ saja, berhenti di urusan perut. Masih lumayan kalau yang seperti itu adalah para tukang becak, atau petani miskin di pedesaan. Karakter yng seperti itu ternyata juga sangat ramai “diminati” banyak orang pintar di negeri tercinta ini, termasuk di kalangan universitas.

Kembali ke peluang global, apakah iya pendidikan global menjadi kuncinya? Kalau pada awal tadi dalam sudut pandang nasionalisme saya agak membencinya, tapi pemikiran gila saya malah setuju saja untuk dicoba jika memang gaya pendidikan “lokal” saat ini tidak bisa memberi solusi yang diinginkan. Bayangkan jika para rektor seluruh universitas di Indonesia diganti dengan manajer-manajer ulung yang kita import dari Singapura, India, Amerika, Hongkong, China. Kita bayar mahal mereka untuk menghargai profesionalitasnya, seperti Chelsea mambayar mahal “the special one” untuk menggolkan keinginan mereka merajai lapangan bola di daratan Inggris. Solusi aneh ? Wah, nggak juga. Malah saya usulkan saja sekalian kita import orang untuk jabatan-jabatan anggota DPR sampai menteri, tapi jangan presidennya lah. Why not? Mungkin suatu saat pun khayalan ini akan jadi kenyataan loh.

Nah saat itulah slogan jejaring global = peluang global, saya yakini, akan bisa direalisasikan. Kan sudah jadi warisan nenek moyang kalau bangsa ini selalu nurut kalau diperintah wong Londo ? Jadi siapa tahu dengan begitu, rakyat Indonesia akan lebih mudah diatur, gampang termotivasi untuk kerja, kerja dan kerja sekalian gak banyak omong, karena tidak mengerti bagaimana speaking in English kepada para meneer barunya. Dan kalau ada pegawai yang bandel atau kinerjanya kurang baik, si meneer akan lebih “sampai hati” memecatnya. Lihatlah Ibu Sri Mulyani, yang baru-baru saja merombak jajaran di eselon 2 di departemennya yang berkinerja buruk, dimana dulunya si pejabat-pejabat brengsek ini tetap survive karena dilindungi terus oleh eselon 1 di atasnya, atas dasar kasihan misalnya. Menyedihkan memang !
“Microsoft rupanya tak hanya tercatat sebagai produsen software terbesar di dunia. Perusahaan milik miliuner Bill Gates ini juga didapuk sebagai perusahaan yang paling banyak menggelontorkan pundi-pundi uangnya untuk research & development (R&D). Menurut data yang dikeluarkan Industrial R&D Investment Scoreboard Uni Eropa, Microsoft tercatat sudah menginvestasikan US$ 7,65 miliar untuk kebutuhan R&D pada 2008 ini. Angka itu sekaligus melonjakkan Microsoft di posisi teratas daftar tersebut setelah pada tahun lalu menduduki posisi keempat. Di bawah Microsoft ada dua perusahaan asal Amerika lainnya yakni General Motors dan Pfizer untuk mengisi posisi kedua dan ketiga. Perusahaan TI dan Telekomunikasi rupanya banyak juga yang dinilai royal dalam hal riset. Sebut saja Nokia, Samsung Electronics, Intel, IBM, Alcatel-Lucent, Siemens, Sony, Cisco Systems, Motorola serta Ericsson masuk dalam daftar ini”.

Begitu bunyi salah satu berita dari “www.detik.com” yang baru saja saya baca menjelang tidurku malam sabtu yang cukup membahagiakan kali ini, karena banyaknya ilmu baru yang saya dapatkan dalam ruang kelas kuliah dari pagi sampai sore tadi.
Kagum dan cek..ck..ck..

Mungkin itu ungkapan yang tepat ditujukan kepada perusahaan-perusahaan itu. Sepintas terpikir mereka bisa karena mungkin didukung oleh kemampuan finansialnya yang tinggi. Sepintas lalu juga terbayang berbagai macam sarana prasarana pendukung untuk melakukan inovasi-inovasi hari demi hari dalam pekerjaan para engineer mereka. Sepintas lalu terbayang kemudahan yang diberikan oleh suasana koordinasi nan indah terintegrasi yang sudah berhasil diciptakan landasannya oleh para nenek moyang negara-negara mereka yang dengan landasan ini maka pesawat inovasi terbaru siap diluncurkan dengan kecepatan tinggi dan siap menyasar pangsa pasar sesuai kehendaknya ke seluruh dunia, yang sebagiannya akan singgah ke bangsa yang super konsumtif (padahal kere) yang tak lain adalah Indonesia.

Pertanyaan besar yang selalu saja cenderung dijawab dengan guyonan yaitu kenapa bangsa kita tidak bisa seperti mereka? Padahal sudah susah menghitungnya orang-orang pintar yang S2 bahkan S3, yang anehnya sebagiannya benar-benar jagoan di kampusnya yang sebagiannya malah di luar negeri, tapi begitu masuk kandangnya lagi alias balik ke Indonesia, jadi macan ompong lagi. Faktor dana riset lah, kekurangan waktu riset lah, kurangnya peenghargaan pada hak intelektual lah, kurang terintegrasinya pemerintah-universitas-swasta lah, de-el-el alasan, yang saya sendiri sudah mendengarnya mungkin ratusan kali. Sudah bosan.

Tapi apakah tidak ada solusi lagi selain alasan-alasan itu tadi yang benar-benar membuat kita semua mati kutu beku dalam kulkas keterbelakangan? Bagaimana caranya negara ini agar bisa menjadikan orang-orang pintarnya semua tiba-tiba menjadi “kerasukan” atau “gila” dalam riset dengan segala keterbatasan dana, waktu, dan lain-lain yang menjadi latar belakangnya?

Semangat! Dan ridlo Allah! Saya meyakini inilah kuncinya. Kita sudah tidak kehilangan, bahkan mati, dalam hal semangat ini. Sudah tidak ada motivasi lagi untuk membangkitkan kemampuan bangsa dalam bidang pelayaran, pertanian, kemampuan persatuan dalam kemajemukan, kemampuan memelihara toleransi, dan lain-lain bidang. Sudah waktunya Presiden dan para pembantunya dan pejabat pemda tertinggi sampai ke tingkat RT, para tokoh dan ilmuwan, terutama para pengajar di kampus, bergandeng tangan serta sama-sama secara serempak melakukan revolusi mental dalam semangat riset. Go to riset !

Apa yang harus diriset? Ini perlu fokus juga, agar bisa menjadi pembeda, istilah marketingnya adalah positioning dan differentiation. Tapi ya jangan terlalu berleha-leha juga dalam pembahasan strategi-strategi semacam ini, nanti kehabisan waktu hanya untuk memikirkan rencana, yang akhirnya rencana untuk membuat rencana berikutnya. Pokoknya riset yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat dan negara, nah itu yang harus diutamakan. Tapi biarkan juga jika ada seglintir ilmuwan yang ingin menliti tentang relativitas ala Einstein, misalnya!

Saat ini dibutuhkan evidence, dan diantara kita yang memiliki kapasitas riset ya harus melakukannya, walaupun itu hanya dalam suatu bentuk tulisan berupa analisa yang kemudian diupload ke Internet, misalnya. Saya kok nggak yakin kalau banyak yang bilang bahwa sebagian besar kita tidak bisa menulis. Jangan-jangan bukan tidak bisa, tetapi “sengaja” tidak bisa, dengan berbagai alasannya, dari yang alami (malas) sampai yang canggih (dibuat-buat).

Sepintas saya terlihat optimistic, tapi saya tegaskan bahwa saya tidak sedang ceramah secara berkobar-kobar menyemangati para pembaca (dan saya juga di dalamnya). Tidak sama sekali. Keyakinan saya pada potensi daya riset Indonesia berdasarkan pada pengamatan langsung pada banyak para orang pintar Indonesia yang pernah saya jumpai sehari-hari sampai pada yang hanya saya amati dari kejauhan via koran, majalah dan tentu saja Internet. Banyak dari mereka kelihatan mampu kok (dengan otak risetnya sangat potensial), tapi kok tidak pernah atau jarang melakukan riset ya? Pasti jawabannya nggak jauh dari alasan klasik yg sudah saya uraikan pada paragraf-paragraf awal.

Sudahlah, jangan terlalu banyak berteori tentang harus bagaimana riset. Jendral Sudirman melakukan perjuangannya dengan gerilya, suatu taktik yang sangat Indonesia banget. Rasanya “riset gerilya” mungkin bisa saya sodorkan menjadi judul besar kebangkitan riset Indonesia. Apapun yang anda punya, apapun yang tidak anda punya, asal anda punya potensi riset, lakukan riset, sporadis perorangan sekalipun, bermodalkan buku dan pensil saja (untuk menghasilkan rumus matematika yang baru, analisa fisika yang baru, strategi marketing baru) sekalipun, atau bermodalkan seember air dan sebuah tanaman bunga sekalipun (untuk menghasilkan cara bercocok tanam yang lebih modern).

Kalau gagal? Hm, saya baru siang tadi mendapat pencerahan dari salah satu dosen S2 saya, mengatakan bahwa Apple saja sudah pernah puluhan kali gagal dalam produknya yang jumlahnya ratusan. Tapi mereka tidak pernah kenal lelah.
Rasanya riset sudah jadi darah daging mereka. Kegagalan justru menjadi air dan makanan pembentuknya. Pahami saja ini untuk dijadikan pelajaran bagi kita, dan gampang saja kok, kita tinggal tiru semangat itu, tidak usah berkontemplasi untuk sampai mendapatkan contoh itu kan?

Don’t talk if you don’t wanna do it!
Miris juga melihat berita koran kompas kemarin (16 Oktober 2008). Kang Dada sang walikota Bandung meminta para camat kerja bakti bersih-bersih lingkungan. Ditambahkannya pula bahwa harusnya urusan beginian sudah dikerjakan tanpa menunggu perintahnya.

Tul banget tuh Kang, ini dia yang menjadi kegemasan saya pada aparat-aparat pemerintahan, dan banyak lagi para pemimpin organisasi lainnya. Punya hak dan kewajiban, sudah tahu job desc, sudah paham apa yang harus dilakukan, tapi aneh bin ajaib, nggak ada yang bergerak, malah banyak juga yang NATO (not action talk only) alias omdo.

Apa sih yang sudah dan akan dikerjakan para Kades, camat, bupati, walkot, gubernur sampai menteri bahkan Presiden ? Itu baru pentolannya, apalagi bawahan-bawahannya, bagaimana tuh. Tapi terkadang kalau disuruh membuat list tentang apa saja yang sudah dilakukan plus prestasi apa saja yang berhasil didapat, kemudian ditambahkan dengan manfaat apa saja yang sudah dihasilkan dari apa yang sudah dilakukan tadi, pasti list-nya bisa panjang lebar. Laporan tebal-tebal setiap tahunnya, untuk disampaikan kepada atasan atau manajemen diatasnya. Penuh dengan gambar, grafik kemajuan, analisa keberhasilan, foto-foto senyuman keberhasilan (yang kadang terlihat terlalu dibuat-buat). Dan anehnya lagi itu semua sudah menjadi pekerjaan “biasa”, yang dilakukan secara berjamaah, tanpa sentuhan perbaikan dari tahun ke tahunnya, dan tanpa sentuhan keberanian untuk berkata jujur tentang kelemahan diri.

Saya mengimpikan ada laporan tahunan yang ada bagian khusus tentang ketidakberhasilan program-program yang dilakukan. Misalnya dalam hal kegagalan penanggulang banjir, ya ceritakan saja fakta-faktanya. Plus semua sebab dan kalau perlu tunjuk siapa saja yang dianggap bertanggung jawab juga terhadap itu semua, dan siapa saja yang harusnya diharapkan berperan aktif untuk mencarikan solusinya. Kemudian masukkan laporan itu ke koran, website, kirim juga ke semua perguruan tinggi yang ada di wilayahnya untuk dimintai komentar dan analisanya, biar sekalian menjadi bahan pelajaran bagi para mahasiswa.

Kalau urusan banjir ya berikan saja terutama para mahasiswa yang punya mata kuliah utama tentang lingkungan, juga pada mahasiswa planologi, arsitektur, bahkan ilmu-ilmu kesehatan (termasuk kedokteran). Semua disuruh memberi masukan dan apa yang bisa dikerjakan universitas untuk hal itu. Buat juga usulan plan action nya.
Bangsa yang harusnya bisa benar-benar besar ini (baca : I-n-d-o-n-e-s-i-a), sudah terkenal kalau soal pembangunan memang jagonya, tapi kalau sudah urusan memelihara alias konsistensi, wah….letoy dah. Mungkin termasuk saya juga. Kalau lagi menghadapi hal-hal baru, sering semangat 45, tapi itu sangat sering tidak bertahan lama, untuk kemudian layu sebelum berkembang. Apakah ini sudah “given” dari sononya ya? Jangan-jangan penjajah dulu (Belanda kali nih, sebagai bangsa yang terlama menjajah kita) sudah mencuci bukan saja otak, tapi juga mental manusia Indonesia dan itu diwariskan secara turun temurun ke anak cucu sampai cicit dan seterusnya nanti. Ya mudah-mudahan akan ada revolusi mental suatu saat nanti. Wah, jangan-jangan harus menunggu sang Imam Mahdi dulu nih baru bisa begitu, wah agak percuma juga, karena itu berarti sudah dekat kiamat.

Konsistensi memang menjadi barang yang sangat mahal di mana-mana. Saya saja sering angin-anginan untuk urusan sholat, kalau lagi kenceng iman maka kenceng juga ketepatan waktu sholat berikut ngajinya. Tapi ya sekali lagi, itu tidak bertahan lama, untuk selanjutnya “biasa” lagi, loyo lagi, butuh di-charge lagi. Konsistensi, dimana kau berada?

Usulan untuk melakukan reposisi pasar produk-produk hasil buatan anak negeri ini ke negara –negara para syeikh (Arab dan konco-konconya), waktu krismon menghajar tanpa ampun fondasi ekeonomi, ternyata hanya panas-panas tahi ayam doang, untuk selanjutnya ya ke Amrik lagi ke Amrik lagi…Sekarang saat krismon ala Lehman Brothers sudah mulai meresahkan kita, baru deh banyak para pakar dan orang-orang pemerintahan mulai sok kreatif dan sok inovatif melahirkan ide untuk reposisi pasar semacam itu, padahal bagi saya itu sudah bassssiii, cerita lammaaaa. Lihat saja nanti, kalau ekonomi sudah kalem lagi, back to nature deh, Amrik deui Amrik deui.

Lain lagi ceritanya gorong-gorongnya Jakarta dan Bandung misalnya, yang pada bulan-bulan terakhir ini sudah mulai diutak-atik keberadaannya, karena sebentar lagi akan musim banjir (sebagai pengganti istilah musim hujan). Banyak yang mampat di banyak ruasnya. Dan coba saja lihat nanti kalau musim hujan sudah lewat, ya dibiarin lagi tidak terurus, dan menjadi bak sampah terpanjang didunia dan menjadi surga bagi para cecurut dan tikus.

Jadi kembali ke urusan para pentolan-pentolan organisasi yang tidak “tahu diri” tadi. Ayolah kita semua belajar berperang melawan mental negatif yang seakan-akan sudah menjadi kutukan bagi bangsa ini. Jangan jadi kiamat dulu baru sadar. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan, dan pasti itu ada dan pasti banyak, kalau mau, ingat..kalau mau, dan mestinya harus mau dong, kan demi rakyat atau anggota organisasi yang anda pimpin. Kalau tidak, ya lihat saja nanti, mabuk masal ala Indramayu akan terulang lagi, entah di kota mana atau dikampung mana, dengan berbagai variasinya. Tawuran antar kampung, antar pelajar, antar mahasiswa, akan menjadi budaya abadi. Orang-orang merokok di dalam bus atau kereta yang penuh dijejali penumpang, akan menjadi pemandangan yang makin biasa saja, walaupun peraturannya sudah ada, bahkan nanti akan muncul RUU Dampak Tembakau (Prolegnas 2009).

Hi hi hi…jangan jangan saya sedang menelanjangi diri sendiri, dan kemudian mentertawakannya.

Konsistensi ? Tahu diri ?
Hua..hua..hua..ha..
Iseng-iseng saya pada saat surfing suatu hari lalu membawa saya secara tidak sengaja masuk ke website-nya UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, yang sering dipelesetkan jadi Universitas Pokoknya Ikip, he..he…).
Ada satu hal yang menarik nalar saya untuk “membahasnya” di otak saya sendiri, yaitu adanya kegiatan kampus yang dikelompokkan dengan istilah bidang cakupan “penalaran dan keilmuan”. Sangat menarik dan mengundang kerinduan saya akan pembahasan filosofi ilmu itu sendiri, karena dongengan yang menyangkut ini biasanya membuat saya seolah melakukan “refresh” terhadap motivasi menuntut ilmu dan sekalian mengasah lebih dalam lagi kegiatan dan “kemauan” untuk menulis.
Dikatakan pada website-nya bahwa :
“Cakupan bidang penalaran dan keilmuan di Universitas Pendidikan Indonesia terwujudkan dalam bentuk kegiatan Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM), Program kreativitas Mahasiswa (PKM), Seleksi mahasiswa berprestasi, seminar dan Lokakarya, Lomba Cerdas Cermat, Pembekalan dan Pengkajian Islam, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), berbagai perlombaan, Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), temu sivitas akademika, Studi Pembina Islam Intensif, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), dll”.

Hebat nian UPI ini, seabreg kegiatan, jadi penasaran ingin kuliah di sana, tapi ambil S-1 nya saja, dan kalau bisa umur bisa ditarik mundur. He..he..apalagi tempat kuliahnya tidak jauh dari tempat saya tinggal dulu bersama ayah ibu di gegerkalong. Dekat pesantrennya Aa Gym pula.

Tapi sayangnya saya tidak punya informasi seefektif apa kegiatan-kegiatan ini benar-benar dilakukan, dan bagaimana efeknya terhadap mahasiswa-mahasiswanya. Seingat saya, saya tidak punya teman yang kuliah di sana.
Tentang pengembangan diri, ada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pengembangan organisasi sekalus kaderisasi, meliputi (saya ambil lagi dari websitenya) :
 Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang diselenggarakan oleh ormawa tingkat jurusan/ program,
 Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang diselenggarakan oleh ormawa tingkat fakultas (SMF, BEM, DPMF),
 Latihan kepemimpinan mahasiswa (LKM) diselenggarakan oleh ormawa tingkat universitas (BEM UPI)
 Musyawarah Mahasiswa (Mumas). Kegiatan musyawarah Mahasiswa (MUMAS) dilakukan oleh semua ormawa dengan sebutan yang berbeda-beda di antaranya Musyawarah Besar (Mubes), Musyawarah Mahasiswa (Mumas), Musyawarah Anggota (Musang), Musyawarah Adat (Mudat), Musyawarah Teater (Muter), Pemilihan Umum Raya (Pemilu Raya).

Lengkap kan ? Mudah-mudahan tidak terjebak hanya ke urusan demo di jalanan saja, apalagi untuk BEM, yang di sebagian besar universitas yang ada di Indonesia dijadikan sebagai wadah pembelajaran dan pematangan dalam urusan politik, yang buntut-buntutnya demonstrasi. Tidak salah sih, bahkan dalam sebagian masalah memang harus “dilawan” dengan gerakan demo ini, misalnya jika pemerintah sudah semakin “bolot” terhadap esensi kebenaran dan keadilan.

Satu hal yang menjadi perenungan saya juga, bagaimana kalau LKTM, LKIM, PKM, Seleksi mahasiswa berprestasi, seminar dan Lokakarya, Lomba Cerdas Cermat, Pembekalan dan Pengkajian Islam sampai ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) itu dijadikan mesin-mesin produksi karya ilmiah berstandar nasional dan internasional ? Suruh semua mahasiswa mencoba membuat inovasi sesuai dengan bidang atau jurusannya masing-masing, untuk kemudian yang benar-benar memenuhi suatu syarat tertentu difasilitasi oleh universitas untuk masuk ke dalam karya ilmiah setingkat internasional.

Masa sih tidak ada profesor atau doktor atau dosen secara umumlah, yang memiliki pengalaman dan networking untuk memfasilitasi itu semua? Sudah waktunya juga dalam pejaran-pejaran harian yang diberikan tidak melulu teori-teori lama, tapi langsung saja mencari dan mendalami teori apa yang saat ini sedang hangat didiskusikan dunia, untuk kemudian dicoba untuk dikembangkan oleh para mahasiswa. Jadi memulainya alias “garis start”-nya tidak lagi dari posisi nol, yang masih menjadi default saat ini, tapi mungkin sudah di sekitar 30 –an (skala 0 sampai 100).

Jangan lupa bahwa tugas dosen dan guru besar adalah bagaimana anak didik dapat “melahap” semua sajian ilmu yang diberikan dengan mudah, sederhana, cepat, inspiratif tanpa melupakan alat pendukung terkini. Jangan dipersulit kalau bisa dipermudah, dan murid harusnya dibantu agar bisa lebih pintar dari gurunya.Wah, saya kok jadi sok lebih pintar ya dibandingkan dengan para guru. Tapi yakinlah, saya punya data akurat (karena saksi matanya adalah saya sendiri) bahwa tidak sedikit guru atau dosen yang gaya-nya masih saja terlihat "mempersulit", entah sadar atau tidak.

Sore ini saya dan istri, lagi-lagi, menonton tawuran antar mahasiswa YAI dengan UI di Salemba, yang salah satu korbannya adalah sebuah avanza yang hancur, dilempari batu-batu sebesar buah kelapa, kaca pecah berantakan, luamayan ringsek juga. Kasiyan si pemilik, ngomelin kedua lembaga universitas yang tidak mampu “menggembala” anak-anak didiknya jadi manusia bener. Omelan selanjutnya tertuju kepada pihak kepolisian yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat itu mobil yang tak berdosa sedikitpun dihancurkan, padahal sudah dengan setia menunggu tuannya kontrol kesehatan di rumkit Cipto.

Well, inilah wajah negeri yang makin bopeng saja disana-sini, bukan melulu komedo atau jerawat, tapi sudah super cacat dan sangat muskil untuk bisa diperbaiki lagi, kecuali mungkin para malaikat turun langsung menjadi anggota DPR, menjadi pejabat-pejabat penting. Astaghfirullah. Tapi apa hendak dikata, sudah demikian adanya. Saya sendiri kadang merenung masih terasa asyik jadi generasi yang lahir di tujuh puluhan, saat waktu remaja dulu masih terbuka (walaupun tidak lebar) lapangan pekerjaan. Saya generasi yang mungkin dalam tigapuluh tahunan lagi (Insya Allah jika mengikuti “aturan umur Nabi”) mungkin sudah menghadap padaNya. Saat itu bagaimana jadinya bangsa saya ini ya? Alamnya semakin hancur, semakin panas, makin banyak bencana di sana-sini, makin korup, adu jotos dimana-mana, hama tanamana produksi semakin tidak terkendali, manusia semakin egois, kriminalitas semakin naik daun. Aduh, baru ingat nih, saya masih punya adik yang masih kelas tiga SMP. Semoga Allah melindungimu adindaku.

Itu memang pandangan skeptis saya, yang memang sering-sering meremehkan usaha-usaha dari segelintir orang yang masih berprilaku bener di negara kita ini. Tapi ya sudah menjadi sifat sih, dulunya sih nggak, tapi karena sudah keseringan dikecewakan oleh tayangan-tayangan di televisi, koran dan Internet, akhirnya menjadi “habit”, susah untuk diubah. Saya memandang Indonesia adalah kapal yang akan segera karam, dan saya berani bertaruh bahwa itu “pasti”, cepat atau lambat, tinggal bagaimana kita sekarang banyak-banyak berdoa agar bisa masuk surga. Se-simple itu kok. Meminjam Mas Ebit G Ade, Tuhan tampaknya sudah benar-benar bosan ama perilaku manusia, dan manusia itu gak jauh-jauh, kita !

Adakah upaya memperlambat karamnya sang kapal raksasa itu? Mungkin bisa, walaupun ingat loh ya, ini hanya memperlambat saja, tidak mencegah. Saat ini kita membutuhkan orang sepopulerdan setenang SBY, secepat berpikir ala JK, namun sekuat Gusdur atau Suharto. Bukan berarti saya penyuka figur-figur ini, saya sih biasa-biasa saja, toh setiap dari mereka punya kelebihan dan kekuranganny masing-masing, nggak usah repot-repot mengagung-agungkan mereka jika anda fans berat, tapi juga hemat energi anda untu ngomelin mereka jika anda gak suka dengan mereka-mereka ini, jangan mau capek deh pokoknya, nggak mengubah apapun juga kok, malah bisa-bisa kalau salah cara mengungkapkannya dan timingnya tidak tepat, malah bisa jatuh ke dosa.

Lalu siapa yang memiliki sifat itu semua? Gak ada ! Asli gak ada ! Tidak juga Amin Rais yang dulu saya favoritkan atau Sinuwun Sultan atau Dien Samsudin. Lalu ? Ya jangan menciptakan orang, ciptakan sistem yang memiliki sifat-sifat itu. Yang sering dilupakan orang adalah bahwa yang namanya presiden sebenarnya kalau menurut UUD bukan orang, tapi lembaga, disana berdiri banyak orang selain wakilnya sendiri, para staf ahli, jubir, sekretaris, dengan ratusan orang-orang yang sakti dalam bidangnya masing-masing,  yang sewaktu waktu bisa dimintai pendapat atau petuah, misalnya Forum Rektor, kumpulannya para direktur perusahaan besar, tokoh-tokoh lembaga strategis (LAPAN, LIPI, PAL, dll). Nah lo, kurang apa lagi. Makanya salah besar kalau SBY berfikir dirinya adalah “tok til” presiden, karena dirinya sebenarnya bagian dari suatu sietem. Karenanya sang presiden ini harus bisa menjadi perekat sekaligus communicator yang super-super ulung (mungkin harus pakar dalam NLP misalnya) untuk bisa menciptakan sinergi, sebuah kata yang teramat sering diucapkan secera formal dalam berbagai forum, agak bullshit dan sudah terbukti sulitnya setengah edan untuk bisa diwujudkan dalam kehidupan berorganisasi, bernegara dan berbangsa, termasuk ber-RT ria dalam lingkungan kita sehari-hari. Sepertinya konsep-konsep manajemen dari negara barat saya rasa tidak cocok dengan budaya Indonesia yang serba pingin cepat alias instant, konsumtif, berfikir pendek-pendek saja. Harusnya Hermawan Kertajaya atau Rheinald Khasali bisa menciptakan manajemen gaya asli Indonesia tersebut, bagaimana sifat suka tawuran bisa menjadi penggerak signifikan ekonomi Indonesia modern, bagaimana sifat suka korup bisa menjadi soko guru perekonomian nasional, bagaimana sifat latah yang semakin memasyarakat bisa menjadi motor inovasi Indonesia di mata dunia Internasional. Ooooo….saya jadi berfikir, pantas saja dulu penjajah Belanda ampun-ampunan mempertahankan kedudukannya di Indonesia, bagaiaman bisa bertahan menghadapi ribuan orang yang “latah, nggak ada takutnya kalau keroyokan, nekad, keras kepala”. Lihat saja perang Surabaya, jaman kemerdekaan dulu, Belanda lari tunggang langgang. Gimana nggak, wong yang dilawan moyangnya bonek !

Kembali ke diri saya sendiri, malam ini saat saya menekan-nekan keyboard laptop hasil korupsi saya ini, saya sebenarnya sedang sedih, karena saya tidak berdaya menolong bahkan hanya sekedar menengok saja Mbah saya yang sedang sakit nun jauh di Banjar sana. Saya juga tidak berdaya ketika memikirkan jangan-jangan Mom saya ingin terbang ke sana. Wah, saya nggak punya cukup duit. Apalagi sudah dua minggu ini dalam kepala saya masih berterbangan memori menyedihkan Mbahlek saya (adik kakek saya) yang di Jogja dalam kondisi sakit, sudah tua, dengan rumah yang sudah terluluh-lantakkan gempa Jogja beberapa tahun silam, makan hanya nasi dan tempe saja. Menangis hati saya, tapi saya tidak berdaya. Ah, andai saya Warren Buffet !

Mengapa orang yang harusnya berdaya di negeri ini menjadi kerdil, tidak berdaya apa-apa. Hakim dengan palu ketegasannya, polisi dengan pistolnya, Menteri dengan kekuasaannya, anggota DPR dengan cek kosong yang diberikan rakyat padanya. Ah….semua menjadi tidak berdaya, apa iya hanya bergairah saat ada proyek yang ada duitnya saja?

Termasuk saya yang tidak berdaya apa-apa untuk membantu lebih kepada keluarga besar saya. Saya hanya mampu membantu sedikit-sedikit Mom, Dad, dan adik terkecil saya. Tidak pula bisa diharapkan untuk mertua saya atau paman-bibi saya, apalagi yang hubungannya lebih jauh lagi. Hanya kepada Allah saja saya serahkan segala urusan ini, karena dengan Kun Fayakun-Nya segala sesuatu serba mungkin terjadi. Allah adalah Tuhan saya yang Maha Perkasa di seluruh jagad alam raya ini, bagaimana tidak, wong jagad ini ciptaan-Nya juga, sekedar mahluk-Nya.

Allah Tuhanku yang Maha Besar, berilah pertolonganmu untuk semua ketidakberdayaanku ini. Aku bergantung pada kekuatan-Mu yang tiada tara itu. Berilah aku dan keluargaku rejeki yang meimpah ruah, namun tetap dalam alur keselamatan yang Engkau kehendaki. Hanya kepada Engkau aku bergantung.

Akhirnya ampuni hamba dengan segala kealpaan yang hamba perbuat selama ini, karena kuyakini bahwa Engkau adalah Al-Gofur, sang Maha Pengampun. Amin.


Dalam http://www.kampusbook.com, ada review sedikit tentang buku dengan judul “Spiritual Thinking”. Dikatakan dalam situs tersebut bahwa :

“Manusia mudah terkelabui fenomena dunia yang fana dan sementara. Berlomba mengejar harta, jabatan, dan hal-hal duniawi lainnya. Ironisnya, mereka tidak pernah puas dengan apa yang dicapainya. Mereka dikendalikan oleh ego dan nafsunya yang bisa membuat sengsara. Sikap tersebut muncul dari pola pikir yang salah, sehingga kemudian berubah menjadi kebiasaan yang buruk. Selain memberikan alternatif nilai yang kokoh dan menenangkan, buku ini juga menawarkan terapi, latihan, dan solusi yang mudah dicoba dan dipraktikkan. Menggabungkan unsur iman dan spiritual yang berpijak pada ajaran Islam yang komprehensif serta dilengkapi dengan metode Neuro Linguistic Programming (NLP), zen, reiki, yoga, dan lain-lain. Buku ini mengajak para pembaca untuk menapaki kehidupan yang damai, bahagia, sejahtera, dan penuh makna. Simak dan miliki buku ini oleh siapa saja yang ingin mengubah pola pikirnya menjadi lebih baik dan bijaksana”.

Hmm, NLP lagi NLP lagi….saya kok jadi makin penasaran dengan barang satu ini, karena banyak juga buku-buku pengembangan pribadi yang based on NLP ini. Walaupun saya yakin ini bukan rumus akhir yang didapat oleh manusia untuk mengetahui jati diri sebenarnya, justru karena dekade ini kalau boleh saya sok tahu, adalah permulaan manusia mennyadari bahwa dirinya ternyata masih sangat-sangat kecil dibandingkan dengan sang Pencipta, wong memahami diri sendiri saja belum selesai (dan mungkin tidak akan pernah selesai sampai akhir jaman).

Namun pencarian pola atau rumus manusia itu akan terus berlangsung, sebagaimana manusia-manusia pelakunya yang terus resah atas ketidakmampuan mereka menghadapi dunia yang semakin tidak karuan ini dengan hanya berbekal otak mereka. Mereka memerlukan “pintu-pintu” lain untuk bisa mengeksplor segala potensi yang dimiliki manusia. Maka bisa kita lihat sudah mulai banyak metode-metode penyembuhan menggunakan halusinasi, membuat pelanggan puas dalam pelayananan yg diberikan dengan menggunakan pendekatan psikologi, menghentikan kebiasaan merokok memanfaatkan potensi alam bawah sadar, dan masih akan banyak lagi kegiatan-kegiatan sejenis itu. Sayangnya ada saja yang memanfaatkannya untu kejahatan. Tapi itu memang suatu keniscayaan, bagai uang yang selalu memiliki dua sisi permukaan.

Mengambil keterangan dari Wikipedia versi Indonesia (http://id.wikipedia.org/) dikatakan bahwa :

“Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal. Secara semantik, Neuro dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dilakukan individu dalam menginterpretasikan informasi yang didapat melalui panca indra dan berbagai mekanisme pemprosesan selanjutnya di pikiran. Linguistic ditujukan untuk menjelaskan pengaruh bahasa yang digunakan pada diri maupun pada individu lain yang kemudian membentuk pengalaman individu akan lingkungan. Programming dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dapat dilakukan untuk melatih diri seorang individu (dan individu lain) dalam berpikir, bertindak dan berbicara dengan cara baru yang lebih positif. Walaupun pikiran individu telah memiliki program "alaminya", yang didapat baik melalui pewarisan secara genetis maupun melalui berbagai pengalaman, individu tetap dapat melakukan peprograman ulang sehingga dapat bertindak lebih efektif”.

Seru juga kalau menelusuri lebih jauh informasi selanjutnya pada halaman tersebut. Ada hal menarik yang sebenarnya tidak baru sih, tetapi bagus menjadi triger untuk berfikir lebih kritis, misalnya dalam hal reframming (membuat sudut pandang baru), dikatakan bahwa jika orang berkata “everyone hates me”, critical question-nya adalah who actually hates you? Sering juga sih saya men-declare “hidup saya bobrok” jika sedang ada masalah yang sebenarnya tidak terlalu serius sekalipun. Harusnya dengan reframming saya bisa tanyakan lagi pada diri saya “dalam hal apa? Wong kamu sudah berhasil mendapat kerjaan mapan kok. Wong kamu punya gaji hampir tiga kali lipat gaji adik-adikmu kok. Wong kamu sudah berhasil memper-istri cewek yang supersabar kok. Lah, kok tega-teganya masih menyimpulkan bahwa hidupmu bobrok? Jangan-jangan bukan hidupmu, tapi pikiranmu yang sudah bobrok. Wahh…

Ada satu lagi dalam NLP ini yang keren untuk diangkat sebagai bahan kontemplasi saya, yaitu Metaprograms. Masih dari halaman yang sama dari Wiki, saya kutipkan :

“Metaprograms merupakan program yang telah ada (built-in) yang mempengaruhi setiap tindakan individu. Sedikitnya saat ini telah dapat diidentifikasi sebanyak 64 metaprogram dan tentunya masih banyak lagi yang belum teridentifikasi. Contohnya berpikir dahulu atau bertindak dahulu? Menilai pencapaian menggunakan standar diri atau berdasarkan pujian atau hinaan orang lain? Menginginkan semua hal untuk sama atau mudah terstimulasi oleh berbagai hal baru dan berbeda? Apa pun cara alami individu dalam melakukan pekerjaan, selalu ada individu lain yang melakukan dengan cara berbeda. Mungkin seorang individu menganggap caranya adalah cara yang benar dan tidak menyadari sebenarnya ia hanya melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Dari berbagai metaprogram yang ada, sekitar 30-40% dari populasi memiliki preferensi berada di salah satu kutub, sementara sekitar 20-30% berada di antaranya. Namun bagaimana pun juga, mayoritas individu perlu melihat gambar besarnya terlebih dahulu sebelum mereka memahami detailnya, dan sebagian besar individu sangat nyaman dengan persamaan (sedikit perbedaan) dibandingkan perbedaan yang menyolok – dan salah satu penyebab mengapa perubahan di suatu organisasi cenderung lambat”.

 

Nah, pantas saja manusia Indonesia cenderung latah, pantas saja manusia Indonesia cenderung susah berubah, ke arah yang lebih baik sekalipun. Ada cerita kalau orang Indonesia ada di negeri lain, dia akan tergerak mengikuti aturan di sana, dan benar-benar menjadi orang yang berbeda, menjaga kebersihan, displin dalam antrian. Tapi ketika pulang ke Indonesia lagi, tiba-tiba “kemampuan” itu hilang, jadi jorok lagi, jadi egois lagi. NLP harusnya bisa menjawab fenomena ini. Dedi Cobuzye harusnya dihadirkan tiap rapat DPR dimulai untuk membahas sesuatu, agar semua anggotanya bersemangat 45, kritis dan mau mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya, tidak ada kepentingan negatif tertentu. Semua dihipnotis aja dulu, baru kalau sudah terkondisi sesuai dengan sifat-sifat tadi, baru DPR diperkenankan memulai rapatnya. Gimana tuh idenya, masuk akal kan? Wong dulu jaman saya kecil saja, di perguruan karate saya, jika ada yang mau bertanding ke kejurda, si Simpay-nya (guru karate) memutarkan film Rambo dan film Tae Kondo-nya Eric Robert “Best of the Best”, biar anak didiknya menjadi beringas saat bertanding, membayangkan pukulannya setara pukulah Rambo dan tendangannya seyahud Phillip Rhee (see http://www.philliprhee.com). Hebat gak tuh, sudah kepikir ke sana.


Lebih jauh lagi, saya jadi sempat berpikir sejauh apa NLP ini bisa benar-benar membantu hidup dan sehatnya suatu perusahaan, dalam bidangnya masing-masing. Seperti halnya pada perusahaan saya yang bergerak dalam bidang telelkomunikasi, misalnya, apakah saat ini sudah diperlukan ilmu-ilmu “bawah sadar” itu untuk memperlancar dan mengembangkan bisnisnya? Saya kekurangan data untuk ini, tetapi secara prinsip sih sudah sejak puluhan tahun silam kami menggunakan prinsip maksimalisasi pelayanan agar pelanggan benar-benar bisa dipuaskan. Harus begini caranya menghadapi pelanggan yang marah-marah, harus begitu menghadapi pelanggan yang ngemplang gak mau bayar atas layanan yang sudah dinikmatinya, dan seterusnya. Standar ini saya fikir akan terus diterapkan, walaupun sudah dipermak di sana-sini menyesuaikan dengan jaman, dimana saat ini sudah gak gampang lagi memuaskan pelanggan, utamanya yang sudah kritis apalagi pelit.

Timbul pertanyaan, apakah teknologi mampu menjawab kebutuhan ini ya? Siapa tahu begitu pelanggan marah masuk ke ruang pelayanan, begitu dia mencium bau wewangian tertentu, dia akan lupa dengan marahnya. Siapa tahu ada pelanggan yang akhirnya menjadi fanatik abis terhadap produk telekomunikasi kami saat dia mendengar suatu alunan musik yang menghiasi meja layanan kami. Bisa ditebak, bahwa wewangian dan musik itu adalah hasil dari pemanfaaatan NLP. Mungkinkah itu terjadi ? Wah, kenapa tidak, wong saya sudah membuktikannya walau dalam skala kecil kok, begitu selesai kuliah, pulang ke rumah, lalu mendengarkan musik-musik Kitaro, hmmm……sejuknya. Padahal itu tidak menggunakan campur tangan teknologi NLP loh.

Makanya aspek penampilan (walaupun tidak perlu juga harus mengikuti kursusnya John Robert Power) perlu ditekankan untuk diterapkan pada aplikasi-aplikasi customer service. Udah lecek bajunya, masam mukanya, wah…customer service yang begini perlu “dikalibrasi” lagi. Dan itu sebabnya, kenapa grup Ungu, Nidji dan konco-konconya dijadikan maskot suatu service, ya untuk imaging tentunya, memanfaatkan sifat latah dan sok ngartis sebagian masyarakat Indonesia khususnya kawula muda.

Pada saatnya nanti dengan NLP seseorang mungkin hanya perlu satu menit saja untuk menguasai suatu ilmu, seperti Trinity saat sang Neo memerlukan pertolongan untuk segera pergi dari kejaran sang Agent menggunakan helikopter dalam film Matrix. Cukup beberapa detik saja si Trinity minta diinstalkan ilmu mengendarai helikopter dari The Operator. He..he…

Dan pada saatnya nanti, saya meyakini bahwa agama akan makin terang menjadi jalan hidup, semakin terbukti kebenarannya. Ya kalau versi saya, maaf karena saya beragama Islam, Quran akan menjadi referensi tertinggi dunia ilmu pengetahuan sedunia, salah satunya karena teknologi NLP mampu mengeksplorasi semaksimal mungkin jawaban-jawaban pertanyaan mengapa Nabi Muhammad sangat jarang sakit, mengapa beliau bisa melihat ruang dibalik hijab (ramalan, mahluk gaib, berita-berita dari langit), memiliki EQ tertinggi di kolong langit, garang saat perang dan lembut saya menggendong anak-anaknya di rumah.

 


Susahnya mengatasi anak-anak jaman internet begini. Cara belajar, cara bersikap, cara berfikir sudah mengalami inflasi dalam hal kecepatan dan aneka jenis “theme”-nya.  Ada teman saya bilang bahwa anak sekarang tidak usah disuruh belajar, biarkan saja apa maunya, namun dengan tetap memperhatikan arah yang mereka tempuh. Mungkin ada benarnya pendapat ini, buktinya adik saya yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP, masih sering nangkring di 10 besar di kelasnya, padahal saya tahu persis, dia hanya akan kelihatan membaca buku jika ada pe-er atau akan menghadapi ulangan atau ujian, artinya dalam kondisi luang pasti akan dipakai untuk nge-game. Ampun dah. Sudah mulai berbusa ini mulut saya yang keseringan ngomelin dia. Kasihan memang, tapi saya tidak punya strategi atau ilmu mendidik tertentu, bisanya ya begitu tahu nilainya jelek, langsung saja saya murka.

Senada dengan saah satu dosen saya yang mengatakan bahwa jika seorang anak diajarkan Internet, beritahu sedikit saja, cara klik dan cara berkunjung ke suatu website dan bagaimana menggunakan searching engine. That’s all, maka kita akan terkagum-kagum melihat anak tersebut dalam jangka waktu pendek saja akan dapat belajar dengan kecepatan tinggi, melebihi ekspektasi kita. Tentu saja tidak semua anak akan seperti, namun semangatnya adalah bahwa anak sekarang memang beda dan harus diperlakukan secara berbeda dengan anak-anak genarasi sebelumnya, termasuk saya tentunya, terima nasib lahir jaman seventies.

Full of curiosity, pemberontak, selalau ingin beda, efisien (alias malas), penggemar berat visualisasi (alias malas membaca), agresif (namun rapuh), gampang berubah sikap (alias plin plan) adalah beberapa sifat dari adinda saya tersayang tersebut yang saya yakini sebagiannya juga “diderita” oleh teman-teman senasib dan seperjuangannya. Itu semua saya sadari sebagai “given” saja dari “sana”-nya, ditambah lagi dengan pengaruh “MTV” lengkap dengan berbagai aliran informasi populer di dalam box kecil namanya TV dan handphone yang penuh dengan ghibah, sex, gaya santai, everyday is music, dengen kecepatan perubahan theme yang sangat tinggi (iklan satu ke iklan lain, klip musik satu ke klip lain, cerita sinetron satu ke cerita yang lain, dari kisah tentang kepahlawanan nabi ke kisah tentang rock n roll). Well….capek deh, tapi saya harus memaksakan diri untuk tidak panik dengan itu semua, memaksakan diri untuk memberi fragmen-fragmen bayangan optimis pada masa depan adik saya itu. Dengan berpikir bergaya negasi, saya yakin pasti ada kesempatan di tengah-tengah kesempitan, gaya cerdas dan cepat luar biasa mereka harus saya imbangi dengan kecerdikan dan kedewasaan saya yang tidak seberapa ini. Toh dia masih menganggap saya sebagai kakaknya, dan terlepas dari soal apakah itu dilakukannya dengan ikhlas atau pura-pura ikhlas, toh anggaran beli buku, beli jepit rambut baru, beli voucher HP, dan embel-embel lainnya, masih tergantung pada kocek saya, yang kalau saya ngambek pasti akan berdampak menjadi kiamat finansial bagi dia. Nah loh, kamu harus sedikit-sedikit bisa mengikuti rule saya ya dik !

Jika melihat referensi dari para pakar remaja dan anak-anak saat ini seperti kak Seto, Neno Warisman, dan konco-konco lainnya, nampak bahwa kita harus memberi kasih sayang penuh plus ruang kebebasan pada mereka, tanpa melupakan aspek pendidikan yang jelas-jelas tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah dan para guru-guru mereka yang tidak bisa konsentrasi penuh pada pendidikan karena gaji yang tidak mencukupi itu. Kita harus aktif mendongengkan kepada mereka tentang humanisme, agama, sampai patriotisme ala Indonesia asli, di tengah-tengah aspek globalisasi yang semakin kuat saja menyeragamkan cara berpikir semua manusia di muka bumi. Bayangkan saja, saat ini setiap liburan tiba, di kota Bandung misalnya, orang bandung sudah nggak kebagian lagi jalur di jalan untuk bisa menikmati liburannya, sebagian besar mobil yang datang serba plat B, karena semua mempunyai selera yang sama, cara berpikir pop yang sama, yang saya yakini karena efek info globalisasi yang memberikan cara menikmati liburan yang sama, yaitu “kalau liburan, asyik banget untuk berburu kuliner dan clothing di bandung”. Padahal alternatif lain kan banyak, bisa nonton pertunjukan lenong, makan ketoprak rame-rame bersama keluarga, ke masjid mendengar ceramah dari habib, dlsb. Sayangnya lagi-lagi itu semua tergilas pesan global “itu semua tidak menarik dan ndeso”.

Oya, saya kok tidak terlalu setuju dengan cara kak Seto dan Neno mengajar ya, terlalu penuh dengan kasih sayang dan membutuhkan banyak pengetahuan dan teori tentang ilmu mendidik anak. Apa iya itu cocok untuk keluarga yang masuk dalam golongan menengah ke bawah? Sikonnya sulit untuk bisa menerapkan semua ajaran-ajaran mereka. Tidak salah sih, Cuma perlu juklak dan penyesuaian di sana-sini, dan itu butuh ilmu dan analisa lagi, yang tidak mudah dilakukan para orang tua yang masuk golongan “awam”. Saya dulu produk “kejam” (untuk ukuran saat ini) dari Bapak saya. Nggak ngaji sehari saja, sudah kena jewer dan kadang-kadang kena belaian kopel (ikat pinggang tentara) dari bapak saya yang memang tentara tulen. Tapi saya tidak mengalami gangguan jiwa kok, malah banyak hikmah yang saya petik dan rasakan sampai saat ini. Tentu tidak fair membandingkan kondisi saya dulu dengan kondisi adik saya saat ini, sangat-sangat tidak fair. Tapi semangat untuk mengajarkan sedikit kekerasan saya fikir perlu juga diketahui dan dirasakan anak dan remaja saat ini, biar tidak cengeng, masa Cuma melihat guru menggebrak meja saat marah saja, adik saya ikutan menangis dan besoknya tidak berani masuk sekolah lagi. Adakah guru-guru menyadari hal ini ya? Mungkin sebagiannya tahu namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau boleh menambahkan sedikit referensi, ada buku berjudul “If High School is a Game” karya Cherie Carter yang menggambarkan bahwa masa remaja adalah terowongan menuju masa depan. Situasi dalam terowongan itu bisa bermacam-macam, tergantung destiny orang per orang. Tapi ya namanya juga terowongan, biasanya digambarkan sebagai suatu silinder yang didalamnya gelap. Wah, bagus juga penggambarannya, itu artinya saya harus bisa menuntun adinda saya tercinta untuk bisa melewatinya dengan baik. Masalahnya sayapun tidak terlalu tahu terowongan macam apa yang akan dilalui adik saya dalam hidupnya. Saya harus menyediakan rambu-rambu, peluit peringatan, sesekali lampu penerangan, bahkan jika mungkin kereta khusus yang mengantarkannya sampai di ujung terowongan itu. Tapi tentu saja semua juga memerlukan usaha, keberuntungan dan ridlo Allah.

Oya, ada tulisan menarik loh tentang keberuntungan, yang disebut-sebut tidak sama dengan kebetulan, karya meneer John Krumboltz. Alangkah seringnya kita mendapatkan suatu prestasi atau rejeki karena faktor kebetulan, bukan merupakan hasil dari suatu perencanaan. Saya dulu sekolah S-1 gratisan (dan sekarang S-2 nya juga sama), itu karena faktor keberuntungan kok, ya dominannya adalah suatu kebetulan saja. Statement ini bukan berarti saya sok rendah hati apalagi rendah diri, tapi benar-benar saya tekankan di kepala dan hati sanubari saya, bahwa memang begitu kenyataannya, ada sih faktor ikhtiar, tapi sengaja tidak saya angkat ke permukaan, biar saja, biar menjadi orang yang pandai bersyukur, mudah-mudahan begitu. Amin.

So, what can I do?

Saya akan terus istiqomah, ngomelin adik saya, berceramah tentang nilai-nilai positif tentang kehidupan, tentu dengan berbagai kesempatan yang saya perkirakan momen-nya tepat seperti saat dia terbukti berbuat salah dan terbukti merugikan, dengan cara dan teknik yang Insya Allah bervariasi, tanpa kenal lelah (mudah-mudahan). Soal efektif tidaknya, saya berserah diri pada Allah saja, semoga adinda saya itu bisa menjadi manusia yang “lurus” dan sukses dunia akhirat. Kadang saya sedih juga kalau berandai-andai dia tidak akan berhasil dalam hidupnya, walaupun ukuran keberhasilan itu sampai saat ini di dalam otak saya melulu cenderung ke soal materi belaka (mungkin alim tapi miskin adalah kondisi yang sangat berat saya kategorikan sebagai sukses).

Saya menyadari bahwa saya punya kepala yang berbeda dengan adik-adik saya. Punya hasrat, sifat dan variabel-variabel kehidupan yang berbeda-beda, berputar terus mengitari kepala saya dan mempengaruhi jalan hidup saya. Biarlah adik saya hidup dengan kepalanya sendiri-sendiri. Andai ada yang bagus dari saya ya biarlah itu menjadi masukan bagi mereka, untuk bisa diratifikasi menjadi salah satu variabel tersebut. Tapi yang jelek-jelek dari saya, biarlah menjadi masukan untu membuat variabel baru yang lebih baik, baik menggunakan proses improvement pelan-pelan maupun melalui proses engineering yang revolusioner, menjadi variabel yang benar-benar baru.

Menarik dan mencerahkan! Itu komentar saya saat mereview sepintas bukukarangan  Jeffrey Lang, seorang guru besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, berjudul “Aku Beriman, maka Aku Bertanya”. Di salah satu rangkumannya dikatakan bahwa jika ditanya mengapa Prof. Jeffrey Lang masuk Islam dua dasawarsa silam, jawabannya singkat saja : Al Quran. Bacalah Al Quran dengan terus bertanya, niscaya segala tanya akan terjawab. Itulah pengalaman tak terlupakan dari Prof. Lang, sebuah dialog ruhani yang menantang sekaligus menyejukkan. Berbagai gugatan dan kegelisahan akalnya terjawab secara meyakinkan dalam Al Quran.

Namun ada kegelisahan sedikit terkait semangat belajar dan terus menganalisa tentang Islam yang dikobarkan oleh sang guru besar ini, yaitu apakah metode itu benar-benar benar dalam segala situasi, segala umat, segala umur, dan segala golongan?

Saya pernah dengar cerita dari kasetnya Emha Ainun Najib, bahwa ada suatu surau di sutau desa yang ramai sekali tiap maghrib sampai isa dengan suara pengajian bapak, ibu, pemuda dan anak-anak. Tiba-tiba pada suatu hari mereka mendapat pencerahan dari seorang ustadz muda, yang baru lulus dari suatu pontren. Sang ustadz ini memberikan wejangan agar jangan hanya membaca Quran saja seperti yang sudah-sudah, namun juga perlu menelaah arti dan maknanya. Kalau hanya membaca begitu saja, itu tidak akan terlalu berarti, walaupun jelas dapat pahala juga. Nah, tebak apa yang terjadi beberapa bulan kemudian? Surau itu menjadi sepi, karena sang pelanggan tetapnya merasa kesulitan untuk mempraktekkan apa yang menjadi wejangan sang ustadz baru mereka. Wong deso, gak sekolah, kok “dipaksa” menjadi santri ala pontren?

Nah, itu artinya, menurut saya, kita harus sedikit berhati-hati dengan Mas Jeffrey Lang ini. Bukan berarti saya menyalahkan, tidak sama sekali, namun dari kitanya perlu juga menyiapkan “rem” khusus, menyesuaikan dengan kemampuan dan sikon yang ada, jangan asal meneliti dan mempertanyakan, karena sebagian dari Islam saya yakini adalah perintah yang tidak perlu dipertanyakan, hanya perlu diikuti dengan keikhlasan. Babi haram, why? Ya sudah, tidak perlu tanya terlalu jauh. Artinya, boleh nanya, tapi ya harus dibatasi sampai sejauh mana, biar nggak masuk ke lubang kebingungan. Wong masih banyak yang harus dilakukan kok, ya mengapa terlalu memforsir waktu hari demi hari hanya untuk bertanya. Masih banyak tetangga kita yang perlu dibantu, masih banyak anak-anak Islam yang perlu disekolahkan, perlu dididik. Masih banyak pemuda sekitar kita yang harus diberi suapan keimanan. Ya boleh-boleh saja nanya-nanya, tapi dari tujuh hari dalam seminggu, cukup dua hari saja, lainnya dipakai untuk berkarya. 

Hari ini, tanpa saya rencanakan sebelumnya, saya berkesempatan mengunjungi salah satu tempat wisata favorit saya yaitu toko buku. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menjadi pelanggan setianya, walaupun tidak selalu membeli namun ada saja waktu luang yang dapat saya gunakan untuk menengok perkembangan terbaru dari sang jendela dunia tersebut.

Dari beberapa buku yang sempat saya review secara sekilas, buku-buku motivasi masih menjadi jualan utama dan saya rasa stock nya semakin banyak saja dari bulan ke bulan, bersaing dengan berbagai majalah dan buku-buku kommputer. Dengar-dengar sih buku-buku yang merupakan bagian dari pegembangan pribadi inilah yang masih jadi buruan utama para penggemar atau kolektor buku. Mungkin para pembacanya merasakan manfaatnya secara langsung, tanpa harus banyak berfikir yang susah-susah. Atau mungkin memang ada hubungannya dengan fakta bahwa makin banyak saja orang stress saat ini? Ada informasi bahwa ada saja orang stress namun tidak merasa stress. Wah…saya tergolong orang yang stress atau tidak ya? Nggak yakin juga nih.

BTW, ada satu buku yang saya lupa judul dan pengarangnya terkait pengembangan pribadi ini yang saya ingin garis bawahi dalam tulisan kali ini. Kalau tidak salah si pengarang meminta pembaca agar bisa mencari kebahagiaan dengan cara memaknai sesutau dalam level substantifnya. Jangan sekedar bahagia karena bisa membeli mobil mewah atau rumah segede gunung. Dengan kata lain carilah kebahagiaan yang hakiki. Hmmm..saya setuju sekali lah dengan ajakan ini, walaupun untuk level orang Indonesia saya fikir cukup impossible untuk menjadi warna yang dominan dijumpai dalam praktek berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. Harusnya Presiden dapat memerintahkan seluruh rakyatnya untuk memberi makna yang baru untuk satu kata yang paling diburu di dunia ini yaitu “kebahagiaan” itu. Diikuti oleh para anggota kabinet, DPR dan seterusnya sampai ke tingkat RT, independen terhadap agama, suku, ras, tingkat pendidikan. Tapi pertanyaan besarnya adalah jika pendapatan di bawah 10 ribu sehari, apakah masih ada tersisa energi untuk melakukan perenungan semacam itu? Saya termasuk orang yang tidak terlalu terkesan dengan sebagian besar para muballigh, apalagi yang “ngartis”, karena berkali-kali mereka mengajak para jamaahnya untuk mereview tujuan hidupnya, berkali-berkali itu pula mereka lupa bahwa mereka bisa melakukannya karena mereka sebagian besarnya sudah kaya, yang berbanding lurus dengan waktu luang yang cukup banyak, rumah yang asri, keluarga yang full of senyum karena semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan relatif mudah. Dalam situasi ini, kebahagiaan sudah menjadi keniscayaan, wajar saja kalau mereka “gampang” bahagia.

Buku-buku lain yang mendominasi toko buku tersebut adalah yang terkait dengan kesehatan, (Intisari benar-benar membanjiri pasar dengan berbagai bukunya). Ada juga buku-buku yang menceritakan tentang Bandung Tempo Doeloe. Bagus lah, sejarah harus mendapat tempat tersendiri dalam bacaan-bacaan tersebut agar kita bisa belajar dari kelebihan dan kekurangan dari sejarah, sesuai titah Bung Karno "jangan lupakan sejarah" (wah, sok ngutip nih). Ada yang nenarik yaitu foto-foto jaman baheula tentang Bandung, misalnya alun-alun jaman belanda, sekitar Braga, dengan segala deskripsi kegiatan-kegiatan di dalamnya. Seru juga, mengingat saat ini Bandung sudah men-Jakarta, saya ramalkan bahwa dalam sepuluh tahun lagi atau kurang tidak akan beda jauh dengan Jakarta saat ini.

Buku lainnya yang menarik adalah buku-buku tips kesehatan. Sebenarnya bukan barang baru sih, sudah banyak dan sering saya lihat. Namun yang unik adalah keluaran mayo clinic, yang katanya adalah lembaga non-profit di Amerika sana, yang salah satu misinya saya tebak adalah menyebarkan cara sehat untuk all people in the world dengan cara yang murah meriah. Wah, meneer Amerika itu kok pada baek-baek ya, kontras dengan dokter-dokter yang pernah saya kunjungi yang hampir 8 diantara 10 diantaranya sangat sulit diminta nasehat atau tips atau informasi yang terkait dengan penyakit yang saya derita waktu itu. Apa harus dikasih lebih banyak duit dulu baru komen nya keluar. Heran, padahal seandainya itu dilakukan oleh all dokter, saya yakin sebagian besar akan dimudahkan masuk surga. Sekalian mengobati, sekalian memberi ilmu, dan itu akan mengalir terus pahalanya sampai sang dokter mati kok. Begitu kan?



Hari ini saya dan keluarga Cimahi berkesempatan memenuhi undangan tetangga kami yang menikahkan anaknya. Well, as usual, perut “tak sengaja” dipenuhi dengan berbagai macam hidangan yang disediakan, tanpa belas kasihan sedikitpun terhadap yang punya acara. Entahlah, kenapa yang begini selalu saja dilakukan banyak orang, tak terkecuali dengan saya dan keluarga, he..he…

Namun di balik itu semua, ada pertanyaan besar dalam hati saya, acara itu mungkin saja bisa lebih “dikompres” lagi (baca : budget-nya), mungkin sampai 50% nya sudah cukup, dengan kemeriahan dan pemaknaan yang mungkin tidak harus ikut-ikutan turun sampai 50 % juga, ya turunnya sekitar 20% saja lah, bahkan kalau 10% nya dimasukkan ke kotak amal “in the name of” zakat atau sodaqoh atau sejenisnya, saya yakin maknanya akan meingkat lagi sampai melebihi 100%. Belum lagi nilai ibadah yang dijanjikan sang Penguasa Alam Raya ini untuk kepedulian semacam itu. Nah !

Ada banyak strategi, saya meyakininya seperti itu, misalnya dengan mengurangi budget untuk hiasan-hiasan atau asesoris alias bunga-bunga (mungkin kurangi saja sampai 50% - 60 % nya), tambahkan saja sedikit kreasi dari kita sendiri jika bisa atau jika ada. Minimal pakai saja meja dan kursi tamu kita yang mungkin cocok untuk dijadikan singgasana upacara pernikahan, tanpa harus menyewa dari sang penyelenggara. Saya fikir si penyelenggara tidak akan keberatan.

Untuk hari, mungkin bisa saja dibuat acaranya tidak harus hari Minggu, biar aja pakai alasan bahwa mencari gedungnya susah, nah….curang sedikit dengan niatan agar tidak mubazir, menurut saya bolehlah. Pasti ini akan mengurangi budget yang diperukan, lumayan signifikan sepertinya.

Tentang makanan, nah ini dia yang biasanya paling banyak membutuhkan budget. Aturan jumlah piring sama dengan dua setengah kali sampai tiga kali jumlah undangan mungkin saja sulit bisa diralat. But, ada teknik sederhana untuk menguranginya, yaitu…..kurangi saja undangannya, ha..ha..ha..toh tidak perlu semua orang yang kita kenal (apalagi yang tidak dikenal) diundang kan? Agamapun tidak mengharuskannya, hanya kewajiban untuk mengumumkan saja, itu sudah cukup. Undangan 500 orang, misalnya, mengapa tidak bisa dipangkas menjadi 300 orang saja? Tentu ini tergantung dari sikon masing-masing orang, namun setidaknya “semangat” untuk efisiensi ini jika disikapi dengan cool dan calm, saya yakin pasti akan diterima, walau mungkin dengan perasaan berat hati dengan berbagai kadar dan bobotnya.

Banyak orang ingin membuat suatu kejadian penting menjadi “milestone” dalam hidupnya, dibuat sesuatu sedemikian agar nantinya bisa menjadi kenangan manis tak terlupakan. Pertanyaannya, buat apa itu semua? Adakah hal itu menjadi suatu keharusan dari sang Pencipta untuk kita? Cobalah merenungkannya sekali lagi. Susah sih pastinya, termasuk saya juga jika saya mengalaminya. Apalagi jika hal itu tidak bisa ditentukan sendiri, harus melalui campur tangan mak, pake, mbah, kakek, uda, tetua, keluarga besar, wah…..penentuan harinya pun untuk perkawinan seorang mubaligh bisa-bisa disinkronkan dengan Primbon, gara-gara sang kakek menghendakinya, wahhh..ribet ribet. Mengapa dunia ribet semacam ini sering sulit sekali untuk disederhanakan ya? Walaupun dengan niat untuk “meluruskan hal-hal yang bengkok” sekalipun. Surga memang tidak murah, memang tidak murahhhhhhh…

Hmmm…diam-diam saya merasa beruntung, saya sudah menjalani salah satu milestone itu.

Masa Lebaran 2008 ini memberikan banyak pengalaman batin bagi saya, terutama terkait dengan perjalanan saya ke Jogja bersama keluarga untuk menengok si mbah-mbah saya yang sudah lama tidak kami tengok, yang kebetulan berada di kampung yang jauh dari hiruk pikuk gemerlap kesombongan sebuah kota besar, si Jogja.

Menyebut nama Jogja memang gak jauh-jauh di kepala saya muncul banyak “film” tentang budaya, blankon, kraton, Vre den Berg, dan dagadu-nya. Ya sekitar itu-itu saja yang menjadi top of mind di otak saya, bukannya tidak gaul dengan lain-lain yang ditawarkan si Jogja, maksud saya bahwa untuk mengingat yang lain-lain membutuhkan usaha ekstra keras menggali apa-apa saja yang pernah saya lihat, dengar dan baca tentang si Jogja ini.

Tapi dari sekian banyak fragmen yang saya alami selama tiga hari kemarin di Jogja, timbul tanda tanya iseng, kok kayaknya nggak ada yang berubah (positifnya) dengan Jogja ini ya dengan apa yang saya lihat hampir lima tahun silam, saat terakhir saya berkunjung untuk menceramahi (dengan gaya sok tahu) orang-orang Balmon Frekuensi Ditjen Postel Jogja. Beberapa fakta diantaranya :

Pertama, Malioboro tambah sesak dan relatif masih “kotor” saja. Betul sih emang nggak ada sampah berserakan, tapi baunya itu loh, terasa di sana-sini. Wajar sih, karena makin banyak saja orang berdagang, musim liburan pula waktu itu, tetapi kok rasanya kurang tertata dengan baik. Masih dengan gaya kaki limanya, banyak sekali para pedagang disana, dan saya yakin nanti akan semakin banyak lagi, nggak tahu dimana lagi akan diletakkan dimana lagi itu barang dagangannya. Tapi mungkin gaya kaki lima ini disengaja oleh pemda (atau yang berwenang lainnya) agar tidak merusak ciri khas nya. Tentu aneh juga kali ya kalau lorong kaki lima sepanjang malioboro itu diganti dengan lorong gedung, ber-AC, mirip dengan lorong jembatan mangga dua di Jakarta. Ironis, mempertahankan tradisi, namun tanpa punya solusi untuk menerapkan manajemen yang lebih mumpuni dan uptodate. Saya kok jadi ingat dengan lorong-lorong pasar sekitar Pasar Baru di Bandung, gak jauh beda dengan malioboro.

Apa ya solusinya?

Atau begini saja lah, gimana kalau dibuat saja lorong-lorong canggih itu di bawah tanah? Jadi bertingkat gitu, yang bawah tanah dibuat mirip dengan lorong dagang ala jembatan pasar mangga dua, ber-AC, bersih dlsb, sedangkan yang diatasnya tetap dibuat seperti sekarang ini. Nah nanti para wisatawan tinggal pilih saja, mau yang tradisional sekalian mengenang masa-masa lalu ya jalannya di lorong  atas tanah, yang nggak suka panas-panas ya langsung masuk ke tanah.

Terus itu perkantoran dijual aja untuk kepentingan wisata, jangan lagi ada di malioboro situ lah. Tukar guling aja dengan investor yang mau. Masa kantor gubernur di tengah-tengah orang jualan gitu, nggak funky kalau menurut saya.

Intinya, all bangunan di tata sedemikian dengan manajemen yang lebih canggih lah, lebih menjual, lebih bersih, lebih beradab, lebih santun pula (waduh, banyak para becakers and dagaduers plus para broker bakpia cuap-cuap terus sepanjang lorong menawarkan niat “tulus”nya membantu, bisa dimaklumi sih, tapi ya rada mengganggu juga, jadi mengurangi kesan santai di sana.

Di Borobudur saja, all wisatawan “dipaksa” untuk berpanas-panas ria dari pintu masuk sampai pintu keluar. Olalaaa…..kalau mau begitu sih boleh saja, asal taman sekitarnya dibuat seperti Kebon Raya Bogor, full pohon, full rerumputan. Ampun deh, pada kemana nih orang-orang kreatif pengelola salah satu keajaiban dunia milik kita tercinta.

Kedua, berbagai tempat wisata seputar Jogja kurang canggih untuk menanamkan image “anker, suci, aneh, misterius, tak ada duanya di dunia”. Adik-adik saya sudah sekali ke Borobudur, dan kali ini membutuhkan effort cukup besar untuk merayunya berkunjung ke sana lagi untuk menemani Mom saya yang ingin ke Borobudur lagi (padahal udah berkali-kali kesana). Mereka merasa Borobudur itu just bentuk yang aneh saja, batu ditumpuk-tumpuk ada patung Budha di dalamnya, titik! Padahal banyak hal misterius di sana, banyak cerita di sana. Saya saja ingin tahu banyak tentang cerita apa saja yang digambarkan pada relief-relief-nya, apakah bisa dijadikan bahan cerita kampanye politik untuk suatu parpol ya? Wah, nggak nyambung nih. Mau tanya ke siapa tentang hal ini? Websitenya nggak ada tuh yang menyediakan cerita di balik keajaiban Borobudur. Yang saya maksud dengan “website” ini sosialisasinya, ceritanya, yang bisa didiseminasikan via banyak jalur, dari mass media kertas sampai Internet tentunya, dan itu mudah diakses kapanpun dan dimanapun.

Ide yang sama saya ingin terapkan ke berbagai tempat wisata lainnya, termasuk kraton. Setiap detail benda pusaka dan gedung atau hal lainnya di kraton harusnya ada “website”-nya, maksudnya ya masukkan informasi selengkap-lengkapnya dengan dibubuhi uraian-uraian “misterius” namun jujur, tidak mengada-ngada, yang dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja yang ingin mengetahui tentang detail dan “keanehan” kraton.

Karena jujur saja nih, kalau begini-begini saja, mengandalkan “penampakan” saja, saya yakin pasti nanti akan dikalahkan dengan tempat wisata lain yang lebih bagus. Masih mending kalau itu masih di dalam Indonesia, kalau ke luar? Ya, kesempatan dapat devisa berpotensi besar untuk lenyap.