Dusun Sewugalur, Desa Karangsewu, Kulon Progo, dilaporkan 23 benda cagar budayanya terabaikan. Rakyat di sana tidak peduli. Ada rumah, makam, bekas fondasi cerobong asapa pabrik, bekas tugu kincir angin, yang semuanya katanya adalah peninggalan bekas kompleks pabrik gula milik Belanda.


Ditanyakan ke Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Kulon Progo, jawabannya adalah kekurangan dana. Jawaban klise, yang jika diikuti dengan kata yang umum dipanuti yaitu “menyerah”, ya sudah, bubarlah dunia ini. Heran, kenapa tidak ada jawaban lain yang lebih kreatif, misalnya “masih perlu diolah dan dilestarikan lagi dengan cara baru dengan melibatkan generasi muda, bla-bla-bla”. Kenapa anak-anak sekolah tidak diajarkan sejarah tentang penjajahan Belanda dengan mengambil lokasi pengajaran di sana? Kenapa juga tidak memasukkannnya dalam website Pemda atau membuat blognya dalam blog gratisan ala Google punya atau lainnya lah.


Sejarah dapat dijual? Tentu ini agak provokatif, tapi kenapa tidak? Sekalian saja sejarah ini dijadikan sumber ilmu saja, diabadikan oleh skripsinya mahasiswa ilmu budaya apalagi yang mengambil kekhususan tentang sejarah. Jangan melulu tentang borobudur dan situ-situs konvensional lainnya. Yang seperti pabrik tua gitu bisa dijadikan “plasma nutfah sejarah” Indonesia.


Memang tidak gampang, semuanya memang tidak mudah. Tapi itu kan sudah jadi tugas bagi Dinas Sejarah di Pemda? Ya sudah, laksanakan tugas secara profesional deh. 

Comments (0)