Juga dikatakan bahwa tidak ada resep yang mudah agar rasio klop ama jiwa, harus sering dilatih.Kalau nggak, ya seperti yang banyak kita lihat, ada pemimpin teriak-teriak agar menjadi sederhana, dia sendiri nggak nyadar kalau jauh dari apa yang diucapkannya sendiri.
Saya setuju tuh, malah saya senank kalau presiden negara ini rumah pribadinya (bukan rumah dinas atau istana presiden) berukuran tipe 60 aja lah maksimal. Kasih contoh pada rakyat, ya nggak perlu ala Mahatma Gandhi lah, dan si Ibu presidennya juga nggak perlu ala Bunda Theresa yang super hebat itu. Tapi why nggak bisa seperti mereka? Harusnya bisa dong, wong udah nggak mikir apa-apa lagi. Semua sudah ditanggung negara, sakit akan diobati negara, mau berobat ke dukun manapun sedunia juga gratis, anak-anak juga pastinya sudah punya modal untuk hidup mandiri, apalagi coba?
Saya ingin presiden dan istri, juga wakilnya, terus pantau rakyat selama 24 jam (makanya jangan yang tua milihnya, yang muda dong), kreatif, dan terus memberi semangat pada rakyat. Masuk koran tiap hari, masuk ke blog atau milist di Internet tiap hari, kasih masukan apa saja buat rakyat dan jadikan rakyat Indonesia ini kembali untuk PEDE, seperti PEDE-nya rakyat waktu mendukung proklamasi dulu.
Dan satu hal, tekankan bahwa JIWA adalah nomor satu. Makanya sekolah penting, membaca penting, sastra penting, agama super penting, semua harus dinomorsatukan, jangan mau dikalahkan sama budaya konsumerisme, budaya buang-buang duit bin serakah membawa berkah, ah….parah kalau jadi panutan.
Tapi itu bukan berarti menteri ekonomi enak-enakan. Dia harus berusaha mengawasi 24 jam keadilan dalam berekonomi dan kesempatan rakyat berjuang dalam ekonominya. Beri kesempatan rakyat kecil makan dengan teratur, dan peringatkan kalau ada pengusaha yang mulai serakah, padahal sudah kaya. Kaum achievers (yang berprestasi) – meminjam sebutan dari tulisannya Pak Rheinald Kasali di salah satu tulisannya di Kompas hari ini juga) harus dapat kesempatan lebih. Biar Indonesia ini benar-benar berprestasi, yang pinter akan dihargai, yang bodoh apalagi membuat keonaran harus disingkirkan.

Comments (0)