Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis….begitu saya baca dari salah satu buku tentang menulis, dimana si penulis buku ini mengambil kalimat tersebut dari seorang pengarang (kebetulan saya tidak memperhatikan namanya). Makna bebasnya adalah bahwa menulis ya menulis saja, titik. Ketika kita berfikir untuk menulis, itu belum bisa dikatakan menulis. Ketika sudah ada konsep besar di kepala untuk ditulis, jelas itu juga belum bisa dikatakan tulisan, sebelum ditulis.
Bahkan dalam situs Lingkar Pena, saya dapatkan riwayat seorang pengarang besar (yang lagi lagi saya nggak memperhatikan namanya), selalu mengawali kehidupan sehari-harinya dengan menulis, tidak memulainya dengan berfikir. Artinya ya menulis sudah menjadi nafas kesehariannya, bukan berfikir, walaupun menulis membutuhkan keaktifan otak. Tapi coba saja sendiri, ada keanehan ketika jemari ini bermain-main di atas keyboard, seolah dia sedang menggerakkan feeling daya penulisan kita, yang terkadang mengalir begitu saja, tanpa kita benar-benar menyengaja untuk melakukannya.
Ada banyak kisah, ratusan bahkan mungkin ribuan yang sebagian besarnya berujung pada kesimpulan bahwa menulis adalah kegiatan yang bermanfaat. Ada orang sakit parah ternyata sembuh ketika menggunakan resep menulis sebagai terapi penyembuhannya. Mungkin dengan menulis, maka kerja otaknya menjadi teratur, tidak berfikiran yang negatif karena waktu habis untuk menggerakkan jari-jarinya untuk menulis. Apalagi jika tema tulisannya adalah tema yanng menggugah hati, motivasi dan semangatnya untuk sembuh atau membuat hidup lebih baik lagi.
Kabar baiknya adalah bahwa banyak orang-orang yang baik hati memberikan pengajaran dan inspirasi dalam menulis, bahkan gratis. Forum Lingkar Pena, sekolahmenulis-online, penulislepas, adalah beberapa diantaranya. Ada beberapa cerita keberhasilan dari beberapa orang yang tergabung di dalam perkumpulan di dalam website tersebut yang akhirnya kini sudah menjalani profesinya sebagai penulis dengan baik dan mampu memberikan nafkah yanng lumayan bagi keluarga. Terbukti bahwa kegiatan menulis bisa menghasilkan uang yang terkadang malah sangat besar. JK Rowling tentu salah satu contohnya.
Lalu siapa yang harus menulis? Saya kira, semua orang seyogyanya menulis. Bahkan kegiatan menulis harus dikembangkan juga di kalangan kaum teknis, insinyur, para praktisi telekomunikasi, dan lain-lain. Ada banyak pemahaman dan ide di kepala mereka yang memerlukan sarana untuk dikeluarkan, di-share dengan manusia lain di luar mereka agar dapat memberi daya manfaat lebih luas dan lebih besar lagi.
Perhatikan saja baik-baik pada kemampuan menulis para ilmuwan-ilmuwan yang kerjanya meneliti, biasanya cukup rendah. Bukan karena tidak memiliki isi (malah mungkin sebagian sudah full dengan wawasan, pengetahuan dan wawasan) tetapi tidak memiliki keinginan kuat untu men-share-kannya kepada masyarakat luas). Bagaimana orang lain dan orang luar negeri akan menghargai kemampuan sang ilmuwan jika sang ilmuwan ini tidak mampu menuliskan dengan baik apa yang ada di otak mereka. Masih tidak percaya pada fenomena ini? Saya lupa nama indeks yang memberi gambaran bahwa setiap sekian juta penduduk suatu bangsa, ada sejumlah X paper ilmiah dalam setahunnya. Indeks ini dipakai untuk melihat bagaimana kehebatan aktivitas ilmiah di suatu negara. Dan dapat ditebaklah, Indonesia masuk papan bawah, jauh dibandingkan negara-negara Asia lain yang sudah maju pesat, seperti India, Jepang, bahkan Malaysia sekalipun. Rupanya para dosen kita sudah terlalu sibuk, sehingga urusan menulis sudah tidak ada alokasi waktunya.
Padahal kalau dipikir-pikir, benar juga seperti yang dikatakan Betti Alisjahbana bahwa menulis itu bagian dari pekerjaan, karena bukankan selama kita bekerja kita juga menulis? Betti bilang bahwa dia belajar menulis sambil menulis (kunjungi situsnya di qbheadlines.com berikut blogspot dan facebooknya).
Seperti halnya bangsa ini yang pada tahun ini banyak ditinggalkan tokoh-tokoh pentingnya. Ada sebagian diantara mereka yang belum sempat menuangkan wawasan (bahkan rahasia negara) ke dalam tulisan yang bisa disebar di seantero dunia via Internet. Almarhum Pak Sjahrir, Pak Adam Malik, termasuk juga almarhum Pak Harto, semua masih memiliki informasi yang sebenarnya masih dapat di-share untuk generasi terkini, untuk dapat mengambil pelajaran dari sejarah. Tentu saja mereka tidak hanya memiliki sejarah saja, tetapi pasti ada resep alternatif yang bisa dipakai saat ini.

Comments (0)