Akhirnya pemerintah plus DPR terbukti menjadi raja-raja tega dengan mengesahkan UU BHP. UU ini mengerdilkan UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (SPI). UU BHP yang lex specialis itu menggantikan pasal-pasal dalam UU SPI tentang status badan perguruan tinggi.

Akibatnya gampang ditebak, karena yang sudah ada pun (dalam kasus ITB dan Unpad misalnya sebagai PT BHMN) terbukti menjadi “mesin uang”, sebuah kata yang seharusnya dijauhi oleh kaum langitan yang memiliki tugas suci membuat pintar calon-calon pemimpin bangsa ini.

Namun apa lacur, karena sudah kehabisan akal, akhirnya UU ini harus segera diluncurkan.
Strategi menaikkan biaya pendidikan secara bertahap pasti akan dilakukan, kalau tidak mau sekarat tentunya. Setidaknya kini universitas harus memutar otak agar bisa mendapat proyek dari Dikti, dari Pemda, kalau perlu sampai ke ketua RW sekalian, untuk diikutsertakan dalam proyek-proyek yang nantinya dapat menambal kebutuhan keuangan perguruan tinggi.
Satu hal lagi kenapa jadi orang kaya di Indonesia nikmatnya minta ampun. Kalau anda ditakdirkan menjadi anak orang kaya, beruntung sekali anda! Kuliah tinggal tunjuk mau kemana, mau ke perguruan tinggi yang jaman saya muda dulu “angker” karena susah sekali masuk ke sana, kini akan membukakan pintunya lebar-lebar buat anda. Tapi kan harus ikut tes juga? Ah, jangan naif dan pura-pura tidak tahu.

Mengapa pendidikan di negara ini semakin membuang-buang umur saja. Sudah kurikulumnya sering sok teoritis birokratis, serba tidak disiplin di sana-sini, tidak mengasah kreativitas dan kemandirian mahasiswa, moral dibiarkan menurun terus. Teringat ucapan ustadz tadi saat saya sholat Jumat, yang berkata bahwa kita jangan pernah berharap bahwa hari esok ahlak manusia akan membaik. Kalau interpretasi saya, mungkin sudah “digariskan” harus begitu, kalau tidak maka kiamat tidak akan datanng-datang dong. Soal cepat tidaknya itu tentu soal lain.

Menjelang akhir tahun, banyak orang yang akan “membuang umur”-nya dengan mudik, rekreasi ke pantai, hotel, kota-kota wisata, bersama keluarga, menghabiskan uang yang sudah capek-capek dicari selama setelah lebaran sampai di ujung Desember ini. Wow...Kemacetan dimana-mana, disamping karena jalanan rusak, hujan terus, banjir. Wow….mari membuang umur di dalam mobil, di tengah-tengah kemacetan yang menggetarkan jiwa, kemarin saja dikabarkan Jakarta – Cikampek macet puluhan kilometer. Ck..ck…hebatnya negara ini, dan anehnya ya banyak yang mau begitu. Tahun depan, bisa ditebak, ya begitu lagi.

Dari LAPAN terpetik berita bahwa pada tahun 2014 nanti Indonesia akan mengorbitkan satelit menggunakan roket buatan sendiri, yang disebut SLV (Satellite Launch Vehicle). Mungkin akan diluncurkan dari Pulau Morotai (dekat Ternate) atau di Pulau Nias. Dan itu akan membutuhkan dana puluhan milyar. Nah, proyek mercusuar seperti ini sudah cocok kah untuk Indonesia?

Saya jadi berfikir, liberalisasi ternyata tidak hanya berpengaruh terhadap birokrasi pendidikan, tapi juga mental para pemegang kebijakan termasuk di dalam perguruan tinggi itu sendiri, termasuk dalam lembaga-lembaga penelitian. Mengapa kita tidak fokuskan saja semua gerak perguruan tinggi ke arah yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh bangsa ini, walaupun mungkin perlu waktu yang tidak sebentar? Saya bermimpi jika perkembangan ilmu IT, telekomunikasi, ilmu hukum, ilmu ekonomi yang diajarkan dan dipelajari seluruh mahasiswa Indonesia ini diarahkan saja ke pembangunan pertanian dan kelautan, yang jelas-jelas menjadi keunggulan komparatif bangsa. Lucu jika ada orang Indonesia berangan-angan untuk membuat tim sepak bola yang bakal menjadi juara dunia. Tingginya saja sepundak orang-orang bule, mau gaya pakai kirim bola melambung di depan gawang lawan agar dapat di-heading oleh kepala asli Indonesia. Ha..ha..mendingan mempertahankan supremasi bulutangkis yang jelas-jelas lebih cocok sifatnya dengan pergelangan tangan orang-orang Asia.

Menerawang masa-masa sekolah dulu, saya jadi agak menyesal, mengapa saya tidak masuk saja ke STM mobil, misalnya, kan lumayan sekarang bisa memperbaiki mobil ayah saya. Saya menyesal tidak belajar menjahit, supaya sekarang saya bisa menambal celana anak saya yang robek karena ulahnya yang super-aktif. Pendek kata, saya ingin memiliki ilmu yang bisa saya gunakan secara riil saat ini.

Namun apakah itu artinya ilmu murni tidak perlu ? Saya malah lebih condong berprinsip bahwa dari praktek justru akan banyak kesempatan untuk muncul teori baru. Dan itu sangat susah didapatkan jika hanya duduk di belakang meja, mengutak-atik teori belaka. Tentu saja hal ini masih lebih baik daripada tidak mengerjakan apa-apa. Namun lihatlah bahwa banyak proses pendidikan kita di Indonesia hanya sekedar “membuang umur” saja. Fokusnya entah pada lari kemana, yang punya pabrik juga bingung ketika menerima kehadiran pass graduate yang belum bisa apa-apa. Tentu saja, ilmu murni harus tetap diakomodasi juga, setidaknya seperti kecenderungan di negara-negara luar, dimana seseorang yang ingin jadi ilmuwan yang full dengan yang pure sciense masih mendapatkan tempat.

Tetapi masalahnya tidak hanya sekedar pembagian sederhana seperti itu. Kita lihat saja SMK yang ada di Indonesia, apakah sudah benar on the track. Pengalaman saya mengajar salah satu SMK, yang lumayan punya nama di suatu kota besar di timur Indonesia, ternyata masih terlalu sedikit yang diajarkan dari yang seharusnya, praktek masih kurang, biasa lah…selalu terbentur pada anggaran yang terbatas, sehingga fasilitas kurang.

Makanya saya senang sekalli mendengar Zirex membuat workshop di beberapa SMK jurusan IT, belajar sekaligus hasilnya digunakan oleh Zirex. Ini yang perlu dicontoh, harusnya ada undang-undang yang mengikat semua perusahaan di Indonesia, tanpa terkecuali, untuk membuat workshop semacam itu. Perusahaan apa saja lah. Libatkan semua perguruan tinggi, SMU, SMK di masing-masing daerah untuk dapat berperan serta. Soal hitung-hitungan nilai ekonomisnya, ya pintar-pintarnya perusahaan itu lah bagaimana mengaturnya.

Pola seperti ini apakah bisa diharapkan dari sebuah sistem yang liberal? Oh tentu tidak. UU BHP ini akan mempunyai efek besar, bukan hanya soal status perguruan tinggi, bukan hanya soal ongkos pendidikan yang lebih besar yang harus ditanggung para orang tua yang sebagiannya mungkin terlilit ancaman PHK akibat krisis multi dimensi dan global, tapi efeknya nanti adalah kedalam persoalan sistem yang keseluruhannya pun akan menjadi liberal. Kalau modal asing sudah sangat leluasa berkeliaran di negara ini dalam pendidikan, maka satu per satu perguruan tinggi akan gulung tikar.

Tapi tidak sedikit yang mungkin memandang ini adalah kesempatan untuk dapat lebih go internasional lagi. Betul, itu kalau kita memandangnya dari sisi manajemen. Tetapi tetap saja manfaatnya jauh lebih sedikit dari mudharatnya.

Karenanya saya pribadi cenderung mengarahkan anak-anak muda untuk dapat lebih kreatif menggali banyak pelajaran dari Internet saja. Pisau tajam bermata dua ini perlu diajarkan cara optimalisasinya dalam kehidupan. Dan itulah yang harus diajarkan oleh institusi pendidikan. Dan ini juga berarti ada faktor efisiensi yang bisa diberdayakan. Jika dalam satu semester misalnya, dalam satu pelajaran seorang mahasiswa harus masuk kuliah 20 kali, saya fikir cukup 10 kali saja, yang 10 lagi bertemu via Internet. Beri tugas-tugas, dengan bahan-bahan yang sepenuhnya bisa diambil dari Internet, profesor google dan yahoo siap membantu kok. Nah dari yang 10 pertama tadi, sebagiannya adalah praktek, itupun yang benar-benar dibutuhkan industri saat ini. Saya masih tertawa geli ketika mendapati pelajaran token ring dibahas lebih dari sebulan oleh mahasiswa-mahasiswa IT. Betul memang itu adalah pelajaran dasar, tetapi kenapa tidak cukup setengah jam saja? Saya curiga, jangan-jangan dosennya yang malas mengembangkan diri.

Kalau tidak ada upaya-upaya terobosan demi terobosan yang dilakukan, bukan hanya buang-buang waktu yang terjadi, tapi juga buang-buang umur. Kita semua bekerja keras, tetapi hasil minim. Bukankan saat ini sudah jamannya kita harus bekerja lebih cerdas? Innovalue, mari semuanya quality minded. Dan itu tidak akan didapatkan dari sebuah sistem yang liberal. Aneh, suatu negara zonder pendidikan terpimpin !

Comments (0)