Kampus saya pernah kedatangan seorang pakar matematika dari Curtin University Australia. Namanya Prof Bill Atweh, PhD. Kedatangannya adalah dalam forum matematika yang dihadiri dosen matematika se-Bandung.
Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Pak Bill ini. Dia bilang bahwa tugas pendidikan tidak hanya mempersiapkan SDM untuk bekerja, melainkan juga mempersiapkan seseorang untuk menjadi warga negara yang aktif dan memiliki rasa tanggung jawab.
Well, menarik juga statement kritis ini. Namun rasanya terlalu muluk, walau bukan tidak mungkin, untuk bisa membuat target seperti itu dalam pengajaran di kampus. Untuk mempersiapkan SDM yang siap kerja dan siap pakai saja, sulitnya minta ampun. Pak Bill barangkali lupa kalau ini Indonesia, negeri yang super aneh dengan segala kekurangannya, susah banget mau maju. Bukan karena kurangnya orang pinter di sana, tapi karena sebagian orang pinternya yang aktif membangun negera kalah lantang dengan sebagiannya lagi yang pinter tapi aktif merusak negara. Dan anehnya orang-orang yang masuk dalam golongan kedua itu nggak merasa kalau dia sedang merusak. Aksi demo mahasiswa yang kebablasan bisa saja diartikan oleh mahasiswa tersebut sebagai ungkapan tanggung jawabnya pada negara, padahal jelas-jelas membuat panik warga setempat, membuat macet jalan, bahkan kerusakan bangunan. Tapi ya mau bagaimana, jika protes ditayangkan dengan “soft”, misalnya lewat media, terkesan tidak digubris sama sekali oleh lembaga atau sistem yang diprotes.
Tapi bisa saja kalau keinginan menjadikan mahasiswa menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab ini mulai diakomodasikan dalam bentuk tambahan wawasan bagaimana untuk menjadi seperti itu. Kampus bisa memberikan tips bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan sehari-har. Aturan fair dalam proses belajar mengajar sehari-hari, yang memberikan kesempatan sama kepada mahasiswa untuk saling berkompetisi sehat namun penuh daya inspiratif kreatif, juga tidak henti-hentinya memberi dorongan kepada mahasiswa untuk selalu bisa mandiri, jujur dan sifat-sifat baik lainnya. Soal bagaimana hasilnya, tentu ini nantinya dikembalikan sebagai masukan dari sistem yang dibuat, untuk bisa di-engineering menjadi mesin perubahan yang lebih baik lagi. Begitu seterusnya. Memang tidak akan gampang, bahkan akan banyak duri tajam menghambat proses pembentukan karakter tersebut, tidak ada rumus singkat (walau sudah puluhan kali benchmarking ke luar negeri sekalipun). Indonesia gitu loh!
Dengar-dengar nih, kampus tercinta saya akan ada penambahan kurikulum untuk tahun 2009, yaitu peningkatan sertifikasi internasional, pengembangan softskill, hingga pengembangan kultur bahasa Inggris. Pantas saja untuk yang terakhir ini, kampus sering kedatangan bule cantik dari RELO (Regional English Language Office) yang menjadi dosen tamu untuk conversation class. Sedangkan softskill yang dimaksud, ya gak jauh-jauh dari keinginan menjadikan mahasiswa profesional, inovator dan entrepeneur (makanya ada beberapa kegiatan bazar yang dari, oleh dan untuk mahasiswa agar mulai mengasah ketajaman “otak dagang”-nya).
Kalau soal sertifikasi internasional, ini adalah program untuk menciptakan kesamaan kualitas antar negara. Ada sertifikasi internasional di bidang telekomunikasi, informatika, programming, dll. Sertifikasi TOEFL, Cisco, SAP, dll, adalah sebagian saja dari program penyetaraan itu. Tapi bagaimana dukungan Dikti dan negara ini untuk membantu mahasiswa mendapatkan sertifikat itu masih menjadi pertanyaan besar di kepala saya. Wong saat ini saja pemerintah sudah “angkat tangan”, semua universitas akan dijadikan “perusahaan”. He..he..sejak kapan ada perusahaan tidak menargetkan duit ? Aneh, negara yang sudah 62 tahun merdeka ini zonder kebijakan yang memihak warganya. Saya teringat ada tulisan di suatu harian sekian tahun lalu, yang mengatakan bahwa menjadi orang kaya paling enak ya di Indonesia. Pajak bisa “diatur”, dan hampir semua segi kehidupan takluk pada duit. Bahkan seolah - olah kalau mau beli surga, ya di Indonesialah tempatnya.
Pak Bill juga menyoroti tentang peran Matematika dalam kehidupan. “Matematika membutuhkan pemikiran kritis, bukan teoritis. Jika dosen mampu membuat matematika menjadi pelajaran yang lebih menarik, maka pemikiran mahasiswa akan mudah tergali”.
Well, saya jadi ingat petuah dari seorang tentor di tahun 2002-an dulu, yang sampai kini maish menjabat jadi Sekjen PKS. Beliau bilang bahwa banyak orang pintar yang berhenti berkarya, dengan berbagai sebabnya. Padahal masih sangat berpotensi untuk menghasilkan ratusan lagi karya yang bisa bermanfaat untuk kemaslahatan bangsa dan masyarakat serta agama, minimal untuk ilmu itu sendiri.
Jangan salah, saat ini kalau mau jujur nih tidak sedikit dosen yang malas dalam berkarya. Omong kosong kalau potensinya tidak memungkinkan hal itu. Bahkan yang dulunya energik dan terus mengalirkan ide dan sumbangan keilmuannya, kini layu tak berkembang. Tentu ada banyak alibi untuk hal ini. Contoh saja, dosen yang dulunya sangat kreatif, lalu dijadikan manager dalam suatu program, maka “matilah” dia karena kesibukan rapat, penggunaan anggaran, koordinasi dan lain-lain, membuat dia tidak bisa lagi bebas ekpresif seperti dulu. Aneh, juara bulutangkis diberi hadiah pakaian renang untuk kemudian dipaksa menjadi perenang.
Lihat juga yang terjadi di tempat kerja lainnya. Seorang karyawan yang jago iptek berhasil mengembangkan inovasi tekniknya, menjadi juara dalam suatu kompetisi intern perusahaan, lalu tidak lama kemudian tebak apa yang terjadi. Serta merta dia menjadi manajer. Hebat sih, tapi karena dia “pure” peneliti, di meja rapat kerap diam saja, seolah kehilangan kepintarannya. Simple sih, karena itu bukan dunianya. Sekali lagi, juara tinju kini disuruh jadi atlit polo air. Rugilah dia, rugi pulalah perusahaannya.
Kembali ke konsep mister Bill tadi. Pemikiran kritis memang sangat dibutuhkan di negara ini. Percuma saja kalau teori jago, tapi begitu sudah menjadi karyawan, bingung mau ngapain. Ada persoalan yang membutuhkan pendekatan matematika misalnya, bingung mau diapain, mau pakai rumus apa, pakai rumus kalkulus yang mana. Well, ini sudah menjadi penyakit dimana-mana, termasuk yang dialami saya juga tentunya. Tapi inilah menariknya, tantangannya, yang harus dipecahkan dan dibiasakan untuk sudah dialami jauh-jauh hari sebelum si mahasiswa lulus. Biasakan untuk memberi tugas untuk bisa menyambungkan permasalahan dunia nyata dengan teori yang ada. Sayangnya dunia kerja kita tidak nyambung dengan perguruan tinggi. Effort nya terlalu besar. Nggak tahu akan sampai kapan begini terus. Maybe hanya mengandalkan kemauan dosen-dosen secara sporadis saja, alias mengandalkan “yang mau capek” saja untuk menggali lebih dalam konsep-konsep seperti ini.
“Tapi jangan lupa untuk selalu menggali student interest”, begitu kira-kira terjemahan bebasnya statement pak Bill lagi. Bahwa yang terjadi saat ini, sudah sedemikian kompleks, ruwet dan gak ketahun ujung pangkalnya dimana. Terlalu sulit kalau dosen saja yang aktif, mahasiswanya harus jauh lebih aktif, lebih banyak nanya, lebih sering berpendapat, lebih aktif belajar sendiri, lebih sering latihan mendalami kehidupan sebenarnya, dan lain-lain kegiatan terkait. Dukungan IT saat ini memberi kesempatan besar untuk itu. Teringat dulu saya jaman masih S1 di tahun 90-an, tidak mudah untuk mencari bahan suatu pelajaran, harus pakai duit, minimal ongkos jalan ke perpustakaan, itupun kalau ada. Mau pinjam ke teman yang lebih beruntung, kadang nggak enak hati kalau terus terusan begitu. Sekarang? Wah, dengan bantuan profesor google, rasanya sangat mudah mencari bahan, bahkan mungkin mudah untuk mendownload lebih banyak bahan daripada yang dosen punya. Tapi catatan pentingnya, apakah yanng didownload itu akan sempat dianalisa? Belum setengah jam menganalisa atau membaca, sudah beralihlah konsentrasi ke Youtube, atau minimal ke detik.com, misalnya. Tahu sendirilah, internet banyak setannya juga.
Betapa senangnya saya melihat ada beberapa mahasiswa yang berhasil menelurkan penelitiannya yang sangat berkelas, setidaknya menurut ukuran saya, menjadi Tugas Akhir terbaik. Ada karya “Aplikasi Mobile Remote Control Bluetooth untuk Winamp” (by Kuncara Widada), “Designing Business Game Application with Structured Analysis and Design Methodebased on Telecommunication Business System Model which Develop Using Artificial Neural Network” (by Ruli Gazali) dan “Peak to average Power Reduction Technique Analysis in OFDM using Active Constellation Extension for Wimax System (byAgus Suhendar) dan ada juga “Analisis dan Implementasi Aplikasi Video Conference berbasis Web di atas arsitektur IPTV” (by Andy Prabowo).
Hebat-hebat judulnya. Sayangnya saya nggak sempat banyak tahu materinya. But, saya appreciate sekali dengan mereka semua. Semoga menjadi terbaik pula kelak jika mereka sudah terjun di dunia kerja, tidak berhenti sampai disitu saja.
Satu lagi, betapa senangnya saya melihat event seperti Gemastik pada bulan Oktober lalu di kampus saya. Ada banyak contest yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa hebat dari ITS, Unbra, Ubinus, Budi Luhur, ITB, UGM, Unsu, dan tentu saja tuan rumah IT Telkom. Ada contest Data Mining, Smartware, Network Security, Bisnis Game dan Paper. Nggak penting banget lah soal siapa juaranya, tetapi saya melihat dari sisi semangat untuk lebih memasyarakatkan hal ini di kalangan mahasiswa lainnya, jangan yang itu-itu lagi nanti juaranya, atau tokohnya. Dari seratus orang mahasiswa, yakinkah kita minimal ada 10 yang memiliki semangat keilmuan ?
Ada beberapa hal menarik yang disampaikan Pak Bill ini. Dia bilang bahwa tugas pendidikan tidak hanya mempersiapkan SDM untuk bekerja, melainkan juga mempersiapkan seseorang untuk menjadi warga negara yang aktif dan memiliki rasa tanggung jawab.
Well, menarik juga statement kritis ini. Namun rasanya terlalu muluk, walau bukan tidak mungkin, untuk bisa membuat target seperti itu dalam pengajaran di kampus. Untuk mempersiapkan SDM yang siap kerja dan siap pakai saja, sulitnya minta ampun. Pak Bill barangkali lupa kalau ini Indonesia, negeri yang super aneh dengan segala kekurangannya, susah banget mau maju. Bukan karena kurangnya orang pinter di sana, tapi karena sebagian orang pinternya yang aktif membangun negera kalah lantang dengan sebagiannya lagi yang pinter tapi aktif merusak negara. Dan anehnya orang-orang yang masuk dalam golongan kedua itu nggak merasa kalau dia sedang merusak. Aksi demo mahasiswa yang kebablasan bisa saja diartikan oleh mahasiswa tersebut sebagai ungkapan tanggung jawabnya pada negara, padahal jelas-jelas membuat panik warga setempat, membuat macet jalan, bahkan kerusakan bangunan. Tapi ya mau bagaimana, jika protes ditayangkan dengan “soft”, misalnya lewat media, terkesan tidak digubris sama sekali oleh lembaga atau sistem yang diprotes.
Tapi bisa saja kalau keinginan menjadikan mahasiswa menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab ini mulai diakomodasikan dalam bentuk tambahan wawasan bagaimana untuk menjadi seperti itu. Kampus bisa memberikan tips bagaimana mewujudkannya dalam kehidupan sehari-har. Aturan fair dalam proses belajar mengajar sehari-hari, yang memberikan kesempatan sama kepada mahasiswa untuk saling berkompetisi sehat namun penuh daya inspiratif kreatif, juga tidak henti-hentinya memberi dorongan kepada mahasiswa untuk selalu bisa mandiri, jujur dan sifat-sifat baik lainnya. Soal bagaimana hasilnya, tentu ini nantinya dikembalikan sebagai masukan dari sistem yang dibuat, untuk bisa di-engineering menjadi mesin perubahan yang lebih baik lagi. Begitu seterusnya. Memang tidak akan gampang, bahkan akan banyak duri tajam menghambat proses pembentukan karakter tersebut, tidak ada rumus singkat (walau sudah puluhan kali benchmarking ke luar negeri sekalipun). Indonesia gitu loh!
Dengar-dengar nih, kampus tercinta saya akan ada penambahan kurikulum untuk tahun 2009, yaitu peningkatan sertifikasi internasional, pengembangan softskill, hingga pengembangan kultur bahasa Inggris. Pantas saja untuk yang terakhir ini, kampus sering kedatangan bule cantik dari RELO (Regional English Language Office) yang menjadi dosen tamu untuk conversation class. Sedangkan softskill yang dimaksud, ya gak jauh-jauh dari keinginan menjadikan mahasiswa profesional, inovator dan entrepeneur (makanya ada beberapa kegiatan bazar yang dari, oleh dan untuk mahasiswa agar mulai mengasah ketajaman “otak dagang”-nya).
Kalau soal sertifikasi internasional, ini adalah program untuk menciptakan kesamaan kualitas antar negara. Ada sertifikasi internasional di bidang telekomunikasi, informatika, programming, dll. Sertifikasi TOEFL, Cisco, SAP, dll, adalah sebagian saja dari program penyetaraan itu. Tapi bagaimana dukungan Dikti dan negara ini untuk membantu mahasiswa mendapatkan sertifikat itu masih menjadi pertanyaan besar di kepala saya. Wong saat ini saja pemerintah sudah “angkat tangan”, semua universitas akan dijadikan “perusahaan”. He..he..sejak kapan ada perusahaan tidak menargetkan duit ? Aneh, negara yang sudah 62 tahun merdeka ini zonder kebijakan yang memihak warganya. Saya teringat ada tulisan di suatu harian sekian tahun lalu, yang mengatakan bahwa menjadi orang kaya paling enak ya di Indonesia. Pajak bisa “diatur”, dan hampir semua segi kehidupan takluk pada duit. Bahkan seolah - olah kalau mau beli surga, ya di Indonesialah tempatnya.
Pak Bill juga menyoroti tentang peran Matematika dalam kehidupan. “Matematika membutuhkan pemikiran kritis, bukan teoritis. Jika dosen mampu membuat matematika menjadi pelajaran yang lebih menarik, maka pemikiran mahasiswa akan mudah tergali”.
Well, saya jadi ingat petuah dari seorang tentor di tahun 2002-an dulu, yang sampai kini maish menjabat jadi Sekjen PKS. Beliau bilang bahwa banyak orang pintar yang berhenti berkarya, dengan berbagai sebabnya. Padahal masih sangat berpotensi untuk menghasilkan ratusan lagi karya yang bisa bermanfaat untuk kemaslahatan bangsa dan masyarakat serta agama, minimal untuk ilmu itu sendiri.
Jangan salah, saat ini kalau mau jujur nih tidak sedikit dosen yang malas dalam berkarya. Omong kosong kalau potensinya tidak memungkinkan hal itu. Bahkan yang dulunya energik dan terus mengalirkan ide dan sumbangan keilmuannya, kini layu tak berkembang. Tentu ada banyak alibi untuk hal ini. Contoh saja, dosen yang dulunya sangat kreatif, lalu dijadikan manager dalam suatu program, maka “matilah” dia karena kesibukan rapat, penggunaan anggaran, koordinasi dan lain-lain, membuat dia tidak bisa lagi bebas ekpresif seperti dulu. Aneh, juara bulutangkis diberi hadiah pakaian renang untuk kemudian dipaksa menjadi perenang.
Lihat juga yang terjadi di tempat kerja lainnya. Seorang karyawan yang jago iptek berhasil mengembangkan inovasi tekniknya, menjadi juara dalam suatu kompetisi intern perusahaan, lalu tidak lama kemudian tebak apa yang terjadi. Serta merta dia menjadi manajer. Hebat sih, tapi karena dia “pure” peneliti, di meja rapat kerap diam saja, seolah kehilangan kepintarannya. Simple sih, karena itu bukan dunianya. Sekali lagi, juara tinju kini disuruh jadi atlit polo air. Rugilah dia, rugi pulalah perusahaannya.
Kembali ke konsep mister Bill tadi. Pemikiran kritis memang sangat dibutuhkan di negara ini. Percuma saja kalau teori jago, tapi begitu sudah menjadi karyawan, bingung mau ngapain. Ada persoalan yang membutuhkan pendekatan matematika misalnya, bingung mau diapain, mau pakai rumus apa, pakai rumus kalkulus yang mana. Well, ini sudah menjadi penyakit dimana-mana, termasuk yang dialami saya juga tentunya. Tapi inilah menariknya, tantangannya, yang harus dipecahkan dan dibiasakan untuk sudah dialami jauh-jauh hari sebelum si mahasiswa lulus. Biasakan untuk memberi tugas untuk bisa menyambungkan permasalahan dunia nyata dengan teori yang ada. Sayangnya dunia kerja kita tidak nyambung dengan perguruan tinggi. Effort nya terlalu besar. Nggak tahu akan sampai kapan begini terus. Maybe hanya mengandalkan kemauan dosen-dosen secara sporadis saja, alias mengandalkan “yang mau capek” saja untuk menggali lebih dalam konsep-konsep seperti ini.
“Tapi jangan lupa untuk selalu menggali student interest”, begitu kira-kira terjemahan bebasnya statement pak Bill lagi. Bahwa yang terjadi saat ini, sudah sedemikian kompleks, ruwet dan gak ketahun ujung pangkalnya dimana. Terlalu sulit kalau dosen saja yang aktif, mahasiswanya harus jauh lebih aktif, lebih banyak nanya, lebih sering berpendapat, lebih aktif belajar sendiri, lebih sering latihan mendalami kehidupan sebenarnya, dan lain-lain kegiatan terkait. Dukungan IT saat ini memberi kesempatan besar untuk itu. Teringat dulu saya jaman masih S1 di tahun 90-an, tidak mudah untuk mencari bahan suatu pelajaran, harus pakai duit, minimal ongkos jalan ke perpustakaan, itupun kalau ada. Mau pinjam ke teman yang lebih beruntung, kadang nggak enak hati kalau terus terusan begitu. Sekarang? Wah, dengan bantuan profesor google, rasanya sangat mudah mencari bahan, bahkan mungkin mudah untuk mendownload lebih banyak bahan daripada yang dosen punya. Tapi catatan pentingnya, apakah yanng didownload itu akan sempat dianalisa? Belum setengah jam menganalisa atau membaca, sudah beralihlah konsentrasi ke Youtube, atau minimal ke detik.com, misalnya. Tahu sendirilah, internet banyak setannya juga.
Betapa senangnya saya melihat ada beberapa mahasiswa yang berhasil menelurkan penelitiannya yang sangat berkelas, setidaknya menurut ukuran saya, menjadi Tugas Akhir terbaik. Ada karya “Aplikasi Mobile Remote Control Bluetooth untuk Winamp” (by Kuncara Widada), “Designing Business Game Application with Structured Analysis and Design Methodebased on Telecommunication Business System Model which Develop Using Artificial Neural Network” (by Ruli Gazali) dan “Peak to average Power Reduction Technique Analysis in OFDM using Active Constellation Extension for Wimax System (byAgus Suhendar) dan ada juga “Analisis dan Implementasi Aplikasi Video Conference berbasis Web di atas arsitektur IPTV” (by Andy Prabowo).
Hebat-hebat judulnya. Sayangnya saya nggak sempat banyak tahu materinya. But, saya appreciate sekali dengan mereka semua. Semoga menjadi terbaik pula kelak jika mereka sudah terjun di dunia kerja, tidak berhenti sampai disitu saja.
Satu lagi, betapa senangnya saya melihat event seperti Gemastik pada bulan Oktober lalu di kampus saya. Ada banyak contest yang diikuti oleh mahasiswa-mahasiswa hebat dari ITS, Unbra, Ubinus, Budi Luhur, ITB, UGM, Unsu, dan tentu saja tuan rumah IT Telkom. Ada contest Data Mining, Smartware, Network Security, Bisnis Game dan Paper. Nggak penting banget lah soal siapa juaranya, tetapi saya melihat dari sisi semangat untuk lebih memasyarakatkan hal ini di kalangan mahasiswa lainnya, jangan yang itu-itu lagi nanti juaranya, atau tokohnya. Dari seratus orang mahasiswa, yakinkah kita minimal ada 10 yang memiliki semangat keilmuan ?
16.41 |
Category: |
0
komentar

Comments (0)