Capek mikirin persaingan ketat ala selebriti politisi atau politisi yang selebriti, yang sebagiannya sudah mulai caper di layar TV dan berbagai media lainnya, mendingan kali ini kita bahas sedikit tentang kreativitasi sebagai kunci pembagunan bangsa.

Sudah baca belum tentang banyaknya perombakan di berbagai univesitas akibat kurangnya peminat ? Berita dari Fakultas Pertanian Universitas Hasanudin, misalnya, beberapa tahun terakhir sudah memasukkan pendidikan kewirausahaan, bahasa Inggris, dan ketrampilan komputer ke dalam kurikulumnya. S-1 pertanian Unpad juga melakukan hal serupa. ITB pun akan membuka S2 Pariwisata, dengan dalih untuk memaksimalkan potensi industri kreatif Indonesia.

Sementara pendidikan alternatif seperti homeschooling dan sekolah alam semakin diminati masyarakat karena sekolah biasa dirasa terlalu membatasi kreativitas dan potensi anak untuk berkembang dengan baik. Namun sebagian sekolah-sekolah konvensional tadi sudah mengubah dirinya menjadi sekolah dengan konsep modern, yang menjanjikan kehangatan dan suka cita dalam belajar. Mereka mengklaim diri mampu memompa dan mengasah berbagai kecerdasan, tidak melulu kecerdasan kognitif saja, yang dimiliki oleh anak manusia.

Saya hanya “sedikit” senang dengan adanya fenomena ini, karena dalam banyak hal ada beberapa catatan yang masih harus dipikirkan dalam-dalam baik oleh para provider pendidikan maupun oleh pemerintah sebagai “penguasa” bangsa ini. Jangan sampai beberapa perubahan itu justru menjauhkan anak didik dengan realita di lapangan. Ilmu eling marang sangkan paraning dumadi alias ingat akan tujuan manusia diciptakan, harus selalu bisa mewarnai setiap program kreatif ini. Manfaat riil apa yang dirasakan masyarakat juga harus dianalisa dan dimonitor dengan seksama. 397 Milyar dana pemerintah yang akan dibagikan kepada para peneliti melalui skema Hibah Kompetitif Peneliti pada tahun 2009 ini misalnya, walaupun tidak banyak, tetap harus dilihat efek nyatanya pada pembangunan masyarakat. Jika diperkirakan sulit bermanfaat, kenapa tidak menggunakan ribuan makalah penelitian di Internet untuk bisa dioptimalkan bagi bangsa ini ?

Menjadi penemu memang membanggakan, apalagi jika menjadi rujukan bagi peneliti dari negara lain. Namun jika hal itu tidak bisa memberikan manfaat bagi bangsa sendiri khususnya masyarakat kecil, lalu buat apa ?

Bangsa ini memang bukan bangsa yang gemar meneliti, bahkan dosen-dosen di perguruan tinggi yang tersebar seantero negeri tidak banyak yang menggemari kegiatan ini. Diantara yangs sedikit inilah saya berharap agar bisa fokus kepada hal-hal yang bermanfaat bagi banyak orang, bukan melulu hanya sekedar ingin meningkatkan point egoisme pribadi untuk diakui sebagai peneliti kelas dunia. Saya pikir banyak sekali hasil penelitian, bahkan oleh anak ingusan setingkat SMA, yang bisa lebih dioptimalkan.

Tidak usah malu lah untuk menggunakan hasil penelitian seseorang yang didapat dari hasil surfing di Internet, misalnya, untuk diadop dan diimplementasikan di negara ini. Bangsa ini memang butuh banyak creator, tapi lebih banyak lagi membutuhkan adaptor, yang mampu membuat suatu khayalan dari sang creator menjadi kenyataan yang benar-benar berguna. Lihat saja program-program pembangunan yang dalam domain wacana terdengar sangat canggih, bahkan kadang-kadang membuat dunia kagum, namun dalam pelaksanaannya ternyata membuat semua program tersebut hanya menjadi “macan kertas”.

Berbagai grup think thank juga banyak beredar di sekeliling para pengambil kebijakan. Tapi begitu konsep dibawa ke domain lapangan, ternyata sangat komplek, ditambah lagi dengan kesadaran masyarakat untuk ikut mendukung program tersebut. Berbagai studi dan penelitian dari berbagai perguruan tinggi juga ikut menjadi ompong. Ini Indonesia, negara dengan budaya masyarakat yang teramat unik di dunia. Sulit mencari mana hulu dan mana hilir, alias lingkaran setan sudah menjadi fakta yang sukar untuk ditelusuri pembenahannya.

Itu artinya, sudah waktunya (dan seharusnya dari dulu) semua think thank menjadi centre of “real” creativity, dimana kreativitas tidak berhenti di tahapan planning saja, tapi terus terkawal dalam lorong tak berbatas akhir. Sistem ini memerlukan penyadaran dan pendidikan yang sayangnya juga tidak boleh ada batas dan akhirnya. Dan sebenarnya, di sinilah bangsa besar ini menemukan kebingungannya.

Comments (0)