Judul ini saya ambil dari ending paragraf tulisan Melacak Muasal Pikiran Kita karya Mas Donny Gahral Ardian, di harian Kompas, yang becerita tentang buku The Story Philosophy-nya Bryan Magee.

Ada beberapa hal menarik di sana, menurut saya, salah satunya adalah cerita tentang pencarian ilmu sang filsuf besar Sokrates, yang sempat heran terhadap jawaban para filsuf pendahulunya. Semangat inilah yang harusnya, menurut saya, selalu mengalir deras di sekujur badan dan rohani kita, dan ini mutlak bagi para calon rakyat yang “pamer gigi dan bibir” di sepanjang jalan, yang memaksa rakyat dengan ikhlas menerima dengan paksarela pemandangan yang tidak enak di mata itu. Gambar Dewi Sandra atau Luna Maya yang sedang berhandphone ria saja kini lama-lama membosankan, bagaimana lagi dengan ratusan foto “maksa” ini ?

Tapi rakyat Indonesia, seperti biasa, sebagai bangsa yang didiagnosa memiliki sifat dasar “lupa masal dan serba boleh” sudah tidak heran lagi dengan itu semua, sebagaimana jamak orang yang ditilang polisi langsung minta “sidang di tempat”. Cepat, efektif, walau jelas tidak efisien, dan meninggalkan dosa (saya termasuk salah satu pelakunya).

Tolonglah mulai saat ini kita galakkan budaya heran. Heranlah pada anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk nonton TV setiap harinya, heranlah pada banyak upacara buang sial yang dibungkus dalam kemasan budaya padahal bisa jadi mengandung unsur sirik, heranlah pada pendidikan yang gak pernah nge-link apalagi nge-match dengan industri dalam negeri, heranlah pada perdagangan narkotika yang dikomandoi puluhan narapidana yang sedang menjalani hukumannya di penjara, heranlah pada pejabat-pejabat lama yang masih saja ngotot mencalonkan diri sebagai wakil rakyat padahal track-nya nggak pernah benar, dan ratusan keheranan lainnya.

Iklim semakin kacau, kondisi ekonomi semakin menampakkan sifat chaos-nya, prediksi “kiamat” sudah beredar luas dimana-mana, tapi sebagian besar dari kita masih saja sibuk sendiri, melupakan keharusan untuk berkhalwat alias merenungkan jawaban pertanyaan dasar dan besar yaitu untuk apa kita hidup. Mundurlah selangkah saja, satu jam saja, untuk berkomunikasi dengan Sang Penguasa Alam mengenai itu semua.

Simak baik-baik berbagai aturan perundangan di negeri ini. Ada pendapat yang jelas tidak seratus persen benar, mengatakan bahwa undang-undang di Indonesia justru banyak membuat rakyat makin miskin. Orang awam saja bisa terheran-heran, saat banyak aset terjual ke orang asing, dan kita semua bangga dengan sebutan bahwa iklim investasi di Indonesia sangat menarik bagi dunia. Gak usah yang besar-besarlah contohnya, 25 tahun lalu datang orang-orang Vietnam balajar budidaya ikan patin dengan keramba jaring apung di waduk Jatiluhur, dan saat ini hasil importnya mengancam usaha produksi Indonesia sendiri, karena kelebihan dalam harga dan kualitas.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono pada Festival Ekonomi Syariah (FES) baru lalu menyatakan, perbankan syariah bisa menjadi harapan bangsa Indonesia saat menghadapi krisis ekonomi. Ditambahkannya lagi bahwa perbankan syariah layak menjadi teladan, karena tidak bermain dalam hal-hal yang spekulatif dan berisiko tinggi.

Menurut hemat saya, sebenarnya dari dulu sudah terbukti bahwa metode perbankan cara ini lebih superior dibandingkan sistem adopsi dari ekonomi liberal, tapi entah kenapa perkembangannya tidak sesuai dengan harapan banyak pihak. Baru kalau sudah kena krisis seperti ini, semua menoleh lagi. Nanti jika ekonomi sudah membaik kembali, ramai-ramai “back to nature” lagi. Heran, heran, heran.

Salah besar jika sistem syariah diniatkan mencari keuntungan sebesar-besarnya, seperti prinsip ekonomi yang sudah salah kaprah dihafalkan dari SD dulu yaitu dengan modal sekecil-kecilnya dengan keuntungan sebesar-besarnya. Sistem ini mendasarkan dirinya pada kebersamaan, yang mau cari untung dapat untung secara wajar, namun “alam sekitar” mutlak harus merasakan manfaatnya. Jika ada kerugian, ditanggung bersama secara proporsional dengan tanpa melupakan prinsip keadilan, walaupun definisi keadilan itu sendiri jelas kabur jika tidak segera dilink-kan dengan ranah filosofi hidup sebenarnya. Susahnya konsep sederhana seperti ini dibuat sulit, ruwet, kompleks, dan lucunya kadang dibumbui dengan sifat sosialis.

Ah, andaikan saja sedari dulu bangsa kita membina hubungan dagang yang seimbang antara ke Eropa dan USA di satu pihak, dengan ke negara-negara Asia terutama Timur Tengah. Mengapa dolar selalu saja diberikan tempat istimewa. Tentu tidak cukup dengan teriak-teriak agar para investor dan businessman Indonesia agar menengok ke Arab, tapi jelas harus didahului oleh komitmen nyata dari pemerintah, misalnya dengan banyak melakukan deal-deal bisnis G to G dengan negara-negara juragan minyak itu. Jangan heran, jika nanti kita akan saksikan lagi kejatuhan ekonomi akibat kiblat yang belum juga diputar ini.

Coba simak berita dari Jember, sebuah kota di Jawa Timur, yang saat ini banyak dibicarakan kalangan ekonom karena keberhasilan Bank Gakin, Bank Keluarga Orang Miskin, sebutan dari para nasabahnya sendiri, yang sebenarnya adalah Lembaga keuangan masyarakat mikro. Bank ini merupakan hasil adopsi dari Bank Grameen-nya Muhamad Yunus dari Bangladesh, yang karenanya menerima Nobel. Herannya, si penerima Nobel ini sudah pernah ke Indonesia, namun sampai saat ini implementasinya konsepnya hanya masih menjadi wacana alias macan kertas.

Salut sekali dengan bapak-bapak di Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Pemda setempat, tanpa menunggu terlalu lama instruksi dari para bos di Jakarta, berinisiatif menggalang tokoh-tokoh masyarakat untuk dijadikan para manajer di bank ini. Kemudian meminjamkan modal tanpa agunan, melakukan pelatihan manajemen keuangan sederhana namun efektif, dan kegiatan-kegiatan penunjang lainnya. Hasilnya ? Saat ini sudah ada hampir 40 Bank Gakin di puluhan dusun dan omzet mencapai 10 M (per Juli 2008).

Yang mirip dengan ini adalah rakyat di kabupaten Jembrana, yang karena kelihaian sang bupatinya berhasil mendapatkan layanan pendidikan dan kesehatan gratis. Khusus yang disebut terakhir, konsep premi kesehatan masyarakat yang sampai detik ini masih saja jadi wacana di sana-sini, sudah terimplementasi dengan baik, melalui kerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia dan Ikatan Bidan Indonesia. Saya pikir, layak kiranya konsep ini ditiru habis oleh semua kabupaten yang ada di Bali, dan akhirnya bisa diterapkan ke lain daerah, walaupun tentunya memerlukan perjuangan yang keras karena kondisi yang berbeda-beda.

“Heran” memang satu kata pendahuluan, untuk kemudian bekerja keras untuk mewujudkan impian menuju Indonesia yang baru (dan diperbarukan secara berkelanjutan). Ingat satu hal lagi, umumnya, dan ini rasanya sudah dimaklumi banyak orang, kita selalu saja lemah dalam menindaklanjuti suatu rencana yang kita buat sendiri. Jangan mengharap suatu Spontaneous Remission, alias kesembuhan tiba-tiba karena mukjizat dari Ilahi, yang tidak akan mengubah nasibnya umat-Nya kecuali umat mengupayakannya sendiri terlebih dulu.

Comments (0)