
Susahnya mengatasi anak-anak jaman internet begini. Cara belajar, cara bersikap, cara berfikir sudah mengalami inflasi dalam hal kecepatan dan aneka jenis “theme”-nya. Ada teman saya bilang bahwa anak sekarang tidak usah disuruh belajar, biarkan saja apa maunya, namun dengan tetap memperhatikan arah yang mereka tempuh. Mungkin ada benarnya pendapat ini, buktinya adik saya yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP, masih sering nangkring di 10 besar di kelasnya, padahal saya tahu persis, dia hanya akan kelihatan membaca buku jika ada pe-er atau akan menghadapi ulangan atau ujian, artinya dalam kondisi luang pasti akan dipakai untuk nge-game. Ampun dah. Sudah mulai berbusa ini mulut saya yang keseringan ngomelin dia. Kasihan memang, tapi saya tidak punya strategi atau ilmu mendidik tertentu, bisanya ya begitu tahu nilainya jelek, langsung saja saya murka.
Senada dengan saah satu dosen saya yang mengatakan bahwa jika seorang anak diajarkan Internet, beritahu sedikit saja, cara klik dan cara berkunjung ke suatu website dan bagaimana menggunakan searching engine. That’s all, maka kita akan terkagum-kagum melihat anak tersebut dalam jangka waktu pendek saja akan dapat belajar dengan kecepatan tinggi, melebihi ekspektasi kita. Tentu saja tidak semua anak akan seperti, namun semangatnya adalah bahwa anak sekarang memang beda dan harus diperlakukan secara berbeda dengan anak-anak genarasi sebelumnya, termasuk saya tentunya, terima nasib lahir jaman seventies.
Full of curiosity, pemberontak, selalau ingin beda, efisien (alias malas), penggemar berat visualisasi (alias malas membaca), agresif (namun rapuh), gampang berubah sikap (alias plin plan) adalah beberapa sifat dari adinda saya tersayang tersebut yang saya yakini sebagiannya juga “diderita” oleh teman-teman senasib dan seperjuangannya. Itu semua saya sadari sebagai “given” saja dari “sana”-nya, ditambah lagi dengan pengaruh “MTV” lengkap dengan berbagai aliran informasi populer di dalam box kecil namanya TV dan handphone yang penuh dengan ghibah, sex, gaya santai, everyday is music, dengen kecepatan perubahan theme yang sangat tinggi (iklan satu ke iklan lain, klip musik satu ke klip lain, cerita sinetron satu ke cerita yang lain, dari kisah tentang kepahlawanan nabi ke kisah tentang rock n roll). Well….capek deh, tapi saya harus memaksakan diri untuk tidak panik dengan itu semua, memaksakan diri untuk memberi fragmen-fragmen bayangan optimis pada masa depan adik saya itu. Dengan berpikir bergaya negasi, saya yakin pasti ada kesempatan di tengah-tengah kesempitan, gaya cerdas dan cepat luar biasa mereka harus saya imbangi dengan kecerdikan dan kedewasaan saya yang tidak seberapa ini. Toh dia masih menganggap saya sebagai kakaknya, dan terlepas dari soal apakah itu dilakukannya dengan ikhlas atau pura-pura ikhlas, toh anggaran beli buku, beli jepit rambut baru, beli voucher HP, dan embel-embel lainnya, masih tergantung pada kocek saya, yang kalau saya ngambek pasti akan berdampak menjadi kiamat finansial bagi dia. Nah loh, kamu harus sedikit-sedikit bisa mengikuti rule saya ya dik !
Jika melihat referensi dari para pakar remaja dan anak-anak saat ini seperti kak Seto, Neno Warisman, dan konco-konco lainnya, nampak bahwa kita harus memberi kasih sayang penuh plus ruang kebebasan pada mereka, tanpa melupakan aspek pendidikan yang jelas-jelas tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah dan para guru-guru mereka yang tidak bisa konsentrasi penuh pada pendidikan karena gaji yang tidak mencukupi itu. Kita harus aktif mendongengkan kepada mereka tentang humanisme, agama, sampai patriotisme ala Indonesia asli, di tengah-tengah aspek globalisasi yang semakin kuat saja menyeragamkan cara berpikir semua manusia di muka bumi. Bayangkan saja, saat ini setiap liburan tiba, di kota Bandung misalnya, orang bandung sudah nggak kebagian lagi jalur di jalan untuk bisa menikmati liburannya, sebagian besar mobil yang datang serba plat B, karena semua mempunyai selera yang sama, cara berpikir pop yang sama, yang saya yakini karena efek info globalisasi yang memberikan cara menikmati liburan yang sama, yaitu “kalau liburan, asyik banget untuk berburu kuliner dan clothing di bandung”. Padahal alternatif lain kan banyak, bisa nonton pertunjukan lenong, makan ketoprak rame-rame bersama keluarga, ke masjid mendengar ceramah dari habib, dlsb. Sayangnya lagi-lagi itu semua tergilas pesan global “itu semua tidak menarik dan ndeso”.
Oya, saya kok tidak terlalu setuju dengan cara kak Seto dan Neno mengajar ya, terlalu penuh dengan kasih sayang dan membutuhkan banyak pengetahuan dan teori tentang ilmu mendidik anak. Apa iya itu cocok untuk keluarga yang masuk dalam golongan menengah ke bawah? Sikonnya sulit untuk bisa menerapkan semua ajaran-ajaran mereka. Tidak salah sih, Cuma perlu juklak dan penyesuaian di sana-sini, dan itu butuh ilmu dan analisa lagi, yang tidak mudah dilakukan para orang tua yang masuk golongan “awam”. Saya dulu produk “kejam” (untuk ukuran saat ini) dari Bapak saya. Nggak ngaji sehari saja, sudah kena jewer dan kadang-kadang kena belaian kopel (ikat pinggang tentara) dari bapak saya yang memang tentara tulen. Tapi saya tidak mengalami gangguan jiwa kok, malah banyak hikmah yang saya petik dan rasakan sampai saat ini. Tentu tidak fair membandingkan kondisi saya dulu dengan kondisi adik saya saat ini, sangat-sangat tidak fair. Tapi semangat untuk mengajarkan sedikit kekerasan saya fikir perlu juga diketahui dan dirasakan anak dan remaja saat ini, biar tidak cengeng, masa Cuma melihat guru menggebrak meja saat marah saja, adik saya ikutan menangis dan besoknya tidak berani masuk sekolah lagi. Adakah guru-guru menyadari hal ini ya? Mungkin sebagiannya tahu namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Kalau boleh menambahkan sedikit referensi, ada buku berjudul “If High School is a Game” karya Cherie Carter yang menggambarkan bahwa masa remaja adalah terowongan menuju masa depan. Situasi dalam terowongan itu bisa bermacam-macam, tergantung destiny orang per orang. Tapi ya namanya juga terowongan, biasanya digambarkan sebagai suatu silinder yang didalamnya gelap. Wah, bagus juga penggambarannya, itu artinya saya harus bisa menuntun adinda saya tercinta untuk bisa melewatinya dengan baik. Masalahnya sayapun tidak terlalu tahu terowongan macam apa yang akan dilalui adik saya dalam hidupnya. Saya harus menyediakan rambu-rambu, peluit peringatan, sesekali lampu penerangan, bahkan jika mungkin kereta khusus yang mengantarkannya sampai di ujung terowongan itu. Tapi tentu saja semua juga memerlukan usaha, keberuntungan dan ridlo Allah.
Oya, ada tulisan menarik loh tentang keberuntungan, yang disebut-sebut tidak sama dengan kebetulan, karya meneer John Krumboltz. Alangkah seringnya kita mendapatkan suatu prestasi atau rejeki karena faktor kebetulan, bukan merupakan hasil dari suatu perencanaan. Saya dulu sekolah S-1 gratisan (dan sekarang S-2 nya juga sama), itu karena faktor keberuntungan kok, ya dominannya adalah suatu kebetulan saja. Statement ini bukan berarti saya sok rendah hati apalagi rendah diri, tapi benar-benar saya tekankan di kepala dan hati sanubari saya, bahwa memang begitu kenyataannya, ada sih faktor ikhtiar, tapi sengaja tidak saya angkat ke permukaan, biar saja, biar menjadi orang yang pandai bersyukur, mudah-mudahan begitu. Amin.
So, what can I do?
Saya akan terus istiqomah, ngomelin adik saya, berceramah tentang nilai-nilai positif tentang kehidupan, tentu dengan berbagai kesempatan yang saya perkirakan momen-nya tepat seperti saat dia terbukti berbuat salah dan terbukti merugikan, dengan cara dan teknik yang Insya Allah bervariasi, tanpa kenal lelah (mudah-mudahan). Soal efektif tidaknya, saya berserah diri pada Allah saja, semoga adinda saya itu bisa menjadi manusia yang “lurus” dan sukses dunia akhirat. Kadang saya sedih juga kalau berandai-andai dia tidak akan berhasil dalam hidupnya, walaupun ukuran keberhasilan itu sampai saat ini di dalam otak saya melulu cenderung ke soal materi belaka (mungkin alim tapi miskin adalah kondisi yang sangat berat saya kategorikan sebagai sukses).
Saya menyadari bahwa saya punya kepala yang berbeda dengan adik-adik saya. Punya hasrat, sifat dan variabel-variabel kehidupan yang berbeda-beda, berputar terus mengitari kepala saya dan mempengaruhi jalan hidup saya. Biarlah adik saya hidup dengan kepalanya sendiri-sendiri. Andai ada yang bagus dari saya ya biarlah itu menjadi masukan bagi mereka, untuk bisa diratifikasi menjadi salah satu variabel tersebut. Tapi yang jelek-jelek dari saya, biarlah menjadi masukan untu membuat variabel baru yang lebih baik, baik menggunakan proses improvement pelan-pelan maupun melalui proses engineering yang revolusioner, menjadi variabel yang benar-benar baru.
Menarik dan mencerahkan! Itu komentar saya saat mereview sepintas bukukarangan Jeffrey Lang, seorang guru besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, berjudul “Aku Beriman, maka Aku Bertanya”. Di salah satu rangkumannya dikatakan bahwa jika ditanya mengapa Prof. Jeffrey Lang masuk Islam dua dasawarsa silam, jawabannya singkat saja : Al Quran. Bacalah Al Quran dengan terus bertanya, niscaya segala tanya akan terjawab. Itulah pengalaman tak terlupakan dari Prof. Lang, sebuah dialog ruhani yang menantang sekaligus menyejukkan. Berbagai gugatan dan kegelisahan akalnya terjawab secara meyakinkan dalam Al Quran.
Namun ada kegelisahan sedikit terkait semangat belajar dan terus menganalisa tentang Islam yang dikobarkan oleh sang guru besar ini, yaitu apakah metode itu benar-benar benar dalam segala situasi, segala umat, segala umur, dan segala golongan?
Saya pernah dengar cerita dari kasetnya Emha Ainun Najib, bahwa ada suatu surau di sutau desa yang ramai sekali tiap maghrib sampai isa dengan suara pengajian bapak, ibu, pemuda dan anak-anak. Tiba-tiba pada suatu hari mereka mendapat pencerahan dari seorang ustadz muda, yang baru lulus dari suatu pontren. Sang ustadz ini memberikan wejangan agar jangan hanya membaca Quran saja seperti yang sudah-sudah, namun juga perlu menelaah arti dan maknanya. Kalau hanya membaca begitu saja, itu tidak akan terlalu berarti, walaupun jelas dapat pahala juga. Nah, tebak apa yang terjadi beberapa bulan kemudian? Surau itu menjadi sepi, karena sang pelanggan tetapnya merasa kesulitan untuk mempraktekkan apa yang menjadi wejangan sang ustadz baru mereka. Wong deso, gak sekolah, kok “dipaksa” menjadi santri ala pontren?
Nah, itu artinya, menurut saya, kita harus sedikit berhati-hati dengan Mas Jeffrey Lang ini. Bukan berarti saya menyalahkan, tidak sama sekali, namun dari kitanya perlu juga menyiapkan “rem” khusus, menyesuaikan dengan kemampuan dan sikon yang ada, jangan asal meneliti dan mempertanyakan, karena sebagian dari Islam saya yakini adalah perintah yang tidak perlu dipertanyakan, hanya perlu diikuti dengan keikhlasan. Babi haram, why? Ya sudah, tidak perlu tanya terlalu jauh. Artinya, boleh nanya, tapi ya harus dibatasi sampai sejauh mana, biar nggak masuk ke lubang kebingungan. Wong masih banyak yang harus dilakukan kok, ya mengapa terlalu memforsir waktu hari demi hari hanya untuk bertanya. Masih banyak tetangga kita yang perlu dibantu, masih banyak anak-anak Islam yang perlu disekolahkan, perlu dididik. Masih banyak pemuda sekitar kita yang harus diberi suapan keimanan. Ya boleh-boleh saja nanya-nanya, tapi dari tujuh hari dalam seminggu, cukup dua hari saja, lainnya dipakai untuk berkarya.
Hari ini, tanpa saya rencanakan sebelumnya, saya berkesempatan mengunjungi salah satu tempat wisata favorit saya yaitu toko buku. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menjadi pelanggan setianya, walaupun tidak selalu membeli namun ada saja waktu luang yang dapat saya gunakan untuk menengok perkembangan terbaru dari sang jendela dunia tersebut.
Dari beberapa buku yang sempat saya review secara sekilas, buku-buku motivasi masih menjadi jualan utama dan saya rasa stock nya semakin banyak saja dari bulan ke bulan, bersaing dengan berbagai majalah dan buku-buku kommputer. Dengar-dengar sih buku-buku yang merupakan bagian dari pegembangan pribadi inilah yang masih jadi buruan utama para penggemar atau kolektor buku. Mungkin para pembacanya merasakan manfaatnya secara langsung, tanpa harus banyak berfikir yang susah-susah. Atau mungkin memang ada hubungannya dengan fakta bahwa makin banyak saja orang stress saat ini? Ada informasi bahwa ada saja orang stress namun tidak merasa stress. Wah…saya tergolong orang yang stress atau tidak ya? Nggak yakin juga nih.
BTW, ada satu buku yang saya lupa judul dan pengarangnya terkait pengembangan pribadi ini yang saya ingin garis bawahi dalam tulisan kali ini. Kalau tidak salah si pengarang meminta pembaca agar bisa mencari kebahagiaan dengan cara memaknai sesutau dalam level substantifnya. Jangan sekedar bahagia karena bisa membeli mobil mewah atau rumah segede gunung. Dengan kata lain carilah kebahagiaan yang hakiki. Hmmm..saya setuju sekali lah dengan ajakan ini, walaupun untuk level orang Indonesia saya fikir cukup impossible untuk menjadi warna yang dominan dijumpai dalam praktek berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. Harusnya Presiden dapat memerintahkan seluruh rakyatnya untuk memberi makna yang baru untuk satu kata yang paling diburu di dunia ini yaitu “kebahagiaan” itu. Diikuti oleh para anggota kabinet, DPR dan seterusnya sampai ke tingkat RT, independen terhadap agama, suku, ras, tingkat pendidikan. Tapi pertanyaan besarnya adalah jika pendapatan di bawah 10 ribu sehari, apakah masih ada tersisa energi untuk melakukan perenungan semacam itu? Saya termasuk orang yang tidak terlalu terkesan dengan sebagian besar para muballigh, apalagi yang “ngartis”, karena berkali-kali mereka mengajak para jamaahnya untuk mereview tujuan hidupnya, berkali-berkali itu pula mereka lupa bahwa mereka bisa melakukannya karena mereka sebagian besarnya sudah kaya, yang berbanding lurus dengan waktu luang yang cukup banyak, rumah yang asri, keluarga yang full of senyum karena semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan relatif mudah. Dalam situasi ini, kebahagiaan sudah menjadi keniscayaan, wajar saja kalau mereka “gampang” bahagia.
Buku-buku lain yang mendominasi toko buku tersebut adalah yang terkait dengan kesehatan, (Intisari benar-benar membanjiri pasar dengan berbagai bukunya). Ada juga buku-buku yang menceritakan tentang Bandung Tempo Doeloe. Bagus lah, sejarah harus mendapat tempat tersendiri dalam bacaan-bacaan tersebut agar kita bisa belajar dari kelebihan dan kekurangan dari sejarah, sesuai titah Bung Karno "jangan lupakan sejarah" (wah, sok ngutip nih). Ada yang nenarik yaitu foto-foto jaman baheula tentang Bandung, misalnya alun-alun jaman belanda, sekitar Braga, dengan segala deskripsi kegiatan-kegiatan di dalamnya. Seru juga, mengingat saat ini Bandung sudah men-Jakarta, saya ramalkan bahwa dalam sepuluh tahun lagi atau kurang tidak akan beda jauh dengan Jakarta saat ini.
Buku lainnya yang menarik adalah buku-buku tips kesehatan. Sebenarnya bukan barang baru sih, sudah banyak dan sering saya lihat. Namun yang unik adalah keluaran mayo clinic, yang katanya adalah lembaga non-profit di Amerika sana, yang salah satu misinya saya tebak adalah menyebarkan cara sehat untuk all people in the world dengan cara yang murah meriah. Wah, meneer Amerika itu kok pada baek-baek ya, kontras dengan dokter-dokter yang pernah saya kunjungi yang hampir 8 diantara 10 diantaranya sangat sulit diminta nasehat atau tips atau informasi yang terkait dengan penyakit yang saya derita waktu itu. Apa harus dikasih lebih banyak duit dulu baru komen nya keluar. Heran, padahal seandainya itu dilakukan oleh all dokter, saya yakin sebagian besar akan dimudahkan masuk surga. Sekalian mengobati, sekalian memberi ilmu, dan itu akan mengalir terus pahalanya sampai sang dokter mati kok. Begitu kan?
Hari ini saya dan keluarga Cimahi berkesempatan memenuhi undangan tetangga kami yang menikahkan anaknya. Well, as usual, perut “tak sengaja” dipenuhi dengan berbagai macam hidangan yang disediakan, tanpa belas kasihan sedikitpun terhadap yang punya acara. Entahlah, kenapa yang begini selalu saja dilakukan banyak orang, tak terkecuali dengan saya dan keluarga, he..he…
Namun di balik itu semua, ada pertanyaan besar dalam hati saya, acara itu mungkin saja bisa lebih “dikompres” lagi (baca : budget-nya), mungkin sampai 50% nya sudah cukup, dengan kemeriahan dan pemaknaan yang mungkin tidak harus ikut-ikutan turun sampai 50 % juga, ya turunnya sekitar 20% saja lah, bahkan kalau 10% nya dimasukkan ke kotak amal “in the name of” zakat atau sodaqoh atau sejenisnya, saya yakin maknanya akan meingkat lagi sampai melebihi 100%. Belum lagi nilai ibadah yang dijanjikan sang Penguasa Alam Raya ini untuk kepedulian semacam itu. Nah !
Ada banyak strategi, saya meyakininya seperti itu, misalnya dengan mengurangi budget untuk hiasan-hiasan atau asesoris alias bunga-bunga (mungkin kurangi saja sampai 50% - 60 % nya), tambahkan saja sedikit kreasi dari kita sendiri jika bisa atau jika ada. Minimal pakai saja meja dan kursi tamu kita yang mungkin cocok untuk dijadikan singgasana upacara pernikahan, tanpa harus menyewa dari sang penyelenggara. Saya fikir si penyelenggara tidak akan keberatan.
Untuk hari, mungkin bisa saja dibuat acaranya tidak harus hari Minggu, biar aja pakai alasan bahwa mencari gedungnya susah, nah….curang sedikit dengan niatan agar tidak mubazir, menurut saya bolehlah. Pasti ini akan mengurangi budget yang diperukan, lumayan signifikan sepertinya.
Tentang makanan, nah ini dia yang biasanya paling banyak membutuhkan budget. Aturan jumlah piring sama dengan dua setengah kali sampai tiga kali jumlah undangan mungkin saja sulit bisa diralat. But, ada teknik sederhana untuk menguranginya, yaitu…..kurangi saja undangannya, ha..ha..ha..toh tidak perlu semua orang yang kita kenal (apalagi yang tidak dikenal) diundang kan? Agamapun tidak mengharuskannya, hanya kewajiban untuk mengumumkan saja, itu sudah cukup. Undangan 500 orang, misalnya, mengapa tidak bisa dipangkas menjadi 300 orang saja? Tentu ini tergantung dari sikon masing-masing orang, namun setidaknya “semangat” untuk efisiensi ini jika disikapi dengan cool dan calm, saya yakin pasti akan diterima, walau mungkin dengan perasaan berat hati dengan berbagai kadar dan bobotnya.
Banyak orang ingin membuat suatu kejadian penting menjadi “milestone” dalam hidupnya, dibuat sesuatu sedemikian agar nantinya bisa menjadi kenangan manis tak terlupakan. Pertanyaannya, buat apa itu semua? Adakah hal itu menjadi suatu keharusan dari sang Pencipta untuk kita? Cobalah merenungkannya sekali lagi. Susah sih pastinya, termasuk saya juga jika saya mengalaminya. Apalagi jika hal itu tidak bisa ditentukan sendiri, harus melalui campur tangan mak, pake, mbah, kakek, uda, tetua, keluarga besar, wah…..penentuan harinya pun untuk perkawinan seorang mubaligh bisa-bisa disinkronkan dengan Primbon, gara-gara sang kakek menghendakinya, wahhh..ribet ribet. Mengapa dunia ribet semacam ini sering sulit sekali untuk disederhanakan ya? Walaupun dengan niat untuk “meluruskan hal-hal yang bengkok” sekalipun. Surga memang tidak murah, memang tidak murahhhhhhh…
Hmmm…diam-diam saya merasa beruntung, saya sudah menjalani salah satu milestone itu.
Masa Lebaran 2008 ini memberikan banyak pengalaman batin bagi saya, terutama terkait dengan perjalanan saya ke Jogja bersama keluarga untuk menengok si mbah-mbah saya yang sudah lama tidak kami tengok, yang kebetulan berada di kampung yang jauh dari hiruk pikuk gemerlap kesombongan sebuah kota besar, si Jogja.
Menyebut nama Jogja memang gak jauh-jauh di kepala saya muncul banyak “film” tentang budaya, blankon, kraton, Vre den Berg, dan dagadu-nya. Ya sekitar itu-itu saja yang menjadi top of mind di otak saya, bukannya tidak gaul dengan lain-lain yang ditawarkan si Jogja, maksud saya bahwa untuk mengingat yang lain-lain membutuhkan usaha ekstra keras menggali apa-apa saja yang pernah saya lihat, dengar dan baca tentang si Jogja ini.
Tapi dari sekian banyak fragmen yang saya alami selama tiga hari kemarin di Jogja, timbul tanda tanya iseng, kok kayaknya nggak ada yang berubah (positifnya) dengan Jogja ini ya dengan apa yang saya lihat hampir lima tahun silam, saat terakhir saya berkunjung untuk menceramahi (dengan gaya sok tahu) orang-orang Balmon Frekuensi Ditjen Postel Jogja. Beberapa fakta diantaranya :
Pertama, Malioboro tambah sesak dan relatif masih “kotor” saja. Betul sih emang nggak ada sampah berserakan, tapi baunya itu loh, terasa di sana-sini. Wajar sih, karena makin banyak saja orang berdagang, musim liburan pula waktu itu, tetapi kok rasanya kurang tertata dengan baik. Masih dengan gaya kaki limanya, banyak sekali para pedagang disana, dan saya yakin nanti akan semakin banyak lagi, nggak tahu dimana lagi akan diletakkan dimana lagi itu barang dagangannya. Tapi mungkin gaya kaki lima ini disengaja oleh pemda (atau yang berwenang lainnya) agar tidak merusak ciri khas nya. Tentu aneh juga kali ya kalau lorong kaki lima sepanjang malioboro itu diganti dengan lorong gedung, ber-AC, mirip dengan lorong jembatan mangga dua di Jakarta. Ironis, mempertahankan tradisi, namun tanpa punya solusi untuk menerapkan manajemen yang lebih mumpuni dan uptodate. Saya kok jadi ingat dengan lorong-lorong pasar sekitar Pasar Baru di Bandung, gak jauh beda dengan malioboro.
Apa ya solusinya?
Atau begini saja lah, gimana kalau dibuat saja lorong-lorong canggih itu di bawah tanah? Jadi bertingkat gitu, yang bawah tanah dibuat mirip dengan lorong dagang ala jembatan pasar mangga dua, ber-AC, bersih dlsb, sedangkan yang diatasnya tetap dibuat seperti sekarang ini. Nah nanti para wisatawan tinggal pilih saja, mau yang tradisional sekalian mengenang masa-masa lalu ya jalannya di lorong atas tanah, yang nggak suka panas-panas ya langsung masuk ke tanah.
Terus itu perkantoran dijual aja untuk kepentingan wisata, jangan lagi ada di malioboro situ lah. Tukar guling aja dengan investor yang mau. Masa kantor gubernur di tengah-tengah orang jualan gitu, nggak funky kalau menurut saya.
Intinya, all bangunan di tata sedemikian dengan manajemen yang lebih canggih lah, lebih menjual, lebih bersih, lebih beradab, lebih santun pula (waduh, banyak para becakers and dagaduers plus para broker bakpia cuap-cuap terus sepanjang lorong menawarkan niat “tulus”nya membantu, bisa dimaklumi sih, tapi ya rada mengganggu juga, jadi mengurangi kesan santai di sana.
Di Borobudur saja, all wisatawan “dipaksa” untuk berpanas-panas ria dari pintu masuk sampai pintu keluar. Olalaaa…..kalau mau begitu sih boleh saja, asal taman sekitarnya dibuat seperti Kebon Raya Bogor, full pohon, full rerumputan. Ampun deh, pada kemana nih orang-orang kreatif pengelola salah satu keajaiban dunia milik kita tercinta.
Kedua, berbagai tempat wisata seputar Jogja kurang canggih untuk menanamkan image “anker, suci, aneh, misterius, tak ada duanya di dunia”. Adik-adik saya sudah sekali ke Borobudur, dan kali ini membutuhkan effort cukup besar untuk merayunya berkunjung ke sana lagi untuk menemani Mom saya yang ingin ke Borobudur lagi (padahal udah berkali-kali kesana). Mereka merasa Borobudur itu just bentuk yang aneh saja, batu ditumpuk-tumpuk ada patung Budha di dalamnya, titik! Padahal banyak hal misterius di sana, banyak cerita di sana. Saya saja ingin tahu banyak tentang cerita apa saja yang digambarkan pada relief-relief-nya, apakah bisa dijadikan bahan cerita kampanye politik untuk suatu parpol ya? Wah, nggak nyambung nih. Mau tanya ke siapa tentang hal ini? Websitenya nggak ada tuh yang menyediakan cerita di balik keajaiban Borobudur. Yang saya maksud dengan “website” ini sosialisasinya, ceritanya, yang bisa didiseminasikan via banyak jalur, dari mass media kertas sampai Internet tentunya, dan itu mudah diakses kapanpun dan dimanapun.
Ide yang sama saya ingin terapkan ke berbagai tempat wisata lainnya, termasuk kraton. Setiap detail benda pusaka dan gedung atau hal lainnya di kraton harusnya ada “website”-nya, maksudnya ya masukkan informasi selengkap-lengkapnya dengan dibubuhi uraian-uraian “misterius” namun jujur, tidak mengada-ngada, yang dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja yang ingin mengetahui tentang detail dan “keanehan” kraton.
Karena jujur saja nih, kalau begini-begini saja, mengandalkan “penampakan” saja, saya yakin pasti nanti akan dikalahkan dengan tempat wisata lain yang lebih bagus. Masih mending kalau itu masih di dalam Indonesia, kalau ke luar? Ya, kesempatan dapat devisa berpotensi besar untuk lenyap.
Wah, pagi yng mengejutkan bagiku ketika namaku diteriakkan oleh sosok muda yang kukenal baik sebelumnya. Wah, anak muridku dari seberang, si Mega, sudah sampai di Bandung. Kini kita sama, ujarku, menjadi pencari ilmu. Kami menjanjikan akan mengadakan “reuni” dengan anak-anakku yang lain. Agak agak terharu juga nih.
Thanks God pernah memberiku kesempatan berbagi dengan mereka, penerus dunia. Kebahagiaanku tidak tergantikan oleh apapun juga, apalagi jika nanti mereka telah sukses dengan cita-citanya masing-masing.
Aku ingin seperti bapak, bisa ambil S-2, katanya, he..he..he..lugunya kamu, anakku. Hebat apanya bapakmu ini?
Max Wertheimer dalam Hukum Kedekatan (law of proximity) menyatakan bahwa hal-hal yang saling berdekatan dalam waktu atau tempat cenderung dianggap sebagai suatu totalitas. Semoga totalitasmu nanti akan membawa ke pemahaman baru yang lebih baik daripada yang ada di benakku, anakku.
Annaku, Semoga pendidikan menjadikanmu manusia sejati. Aku percaya dengan omongan mr Jon Watson, seorang tokoh besar psikologi lainnya, sempat menyoroti tentang pendidikan, terutama daam perkembangan tingkahlaku. Dengan memberikan kondisioning tertentu dalam proses pendidikan, akan dapat membuat seorang anak punya sifat-sifat tertentu. “Berikan kepada saya sepuluh orang anak, maka saya akan jadikan ke sepuluh anak itu sesuai dengan kehendak saya”, katanya. Well, mr John, aku bertaruh pada pendapatmu untuk anak-anakku.
