Masa Lebaran 2008 ini memberikan banyak pengalaman batin bagi saya, terutama terkait dengan perjalanan saya ke Jogja bersama keluarga untuk menengok si mbah-mbah saya yang sudah lama tidak kami tengok, yang kebetulan berada di kampung yang jauh dari hiruk pikuk gemerlap kesombongan sebuah kota besar, si Jogja.
Menyebut nama Jogja memang gak jauh-jauh di kepala saya muncul banyak “film” tentang budaya, blankon, kraton, Vre den Berg, dan dagadu-nya. Ya sekitar itu-itu saja yang menjadi top of mind di otak saya, bukannya tidak gaul dengan lain-lain yang ditawarkan si Jogja, maksud saya bahwa untuk mengingat yang lain-lain membutuhkan usaha ekstra keras menggali apa-apa saja yang pernah saya lihat, dengar dan baca tentang si Jogja ini.
Tapi dari sekian banyak fragmen yang saya alami selama tiga hari kemarin di Jogja, timbul tanda tanya iseng, kok kayaknya nggak ada yang berubah (positifnya) dengan Jogja ini ya dengan apa yang saya lihat hampir lima tahun silam, saat terakhir saya berkunjung untuk menceramahi (dengan gaya sok tahu) orang-orang Balmon Frekuensi Ditjen Postel Jogja. Beberapa fakta diantaranya :
Pertama, Malioboro tambah sesak dan relatif masih “kotor” saja. Betul sih emang nggak ada sampah berserakan, tapi baunya itu loh, terasa di sana-sini. Wajar sih, karena makin banyak saja orang berdagang, musim liburan pula waktu itu, tetapi kok rasanya kurang tertata dengan baik. Masih dengan gaya kaki limanya, banyak sekali para pedagang disana, dan saya yakin nanti akan semakin banyak lagi, nggak tahu dimana lagi akan diletakkan dimana lagi itu barang dagangannya. Tapi mungkin gaya kaki lima ini disengaja oleh pemda (atau yang berwenang lainnya) agar tidak merusak ciri khas nya. Tentu aneh juga kali ya kalau lorong kaki lima sepanjang malioboro itu diganti dengan lorong gedung, ber-AC, mirip dengan lorong jembatan mangga dua di Jakarta. Ironis, mempertahankan tradisi, namun tanpa punya solusi untuk menerapkan manajemen yang lebih mumpuni dan uptodate. Saya kok jadi ingat dengan lorong-lorong pasar sekitar Pasar Baru di Bandung, gak jauh beda dengan malioboro.
Apa ya solusinya?
Atau begini saja lah, gimana kalau dibuat saja lorong-lorong canggih itu di bawah tanah? Jadi bertingkat gitu, yang bawah tanah dibuat mirip dengan lorong dagang ala jembatan pasar mangga dua, ber-AC, bersih dlsb, sedangkan yang diatasnya tetap dibuat seperti sekarang ini. Nah nanti para wisatawan tinggal pilih saja, mau yang tradisional sekalian mengenang masa-masa lalu ya jalannya di lorong atas tanah, yang nggak suka panas-panas ya langsung masuk ke tanah.
Terus itu perkantoran dijual aja untuk kepentingan wisata, jangan lagi ada di malioboro situ lah. Tukar guling aja dengan investor yang mau. Masa kantor gubernur di tengah-tengah orang jualan gitu, nggak funky kalau menurut saya.
Intinya, all bangunan di tata sedemikian dengan manajemen yang lebih canggih lah, lebih menjual, lebih bersih, lebih beradab, lebih santun pula (waduh, banyak para becakers and dagaduers plus para broker bakpia cuap-cuap terus sepanjang lorong menawarkan niat “tulus”nya membantu, bisa dimaklumi sih, tapi ya rada mengganggu juga, jadi mengurangi kesan santai di sana.
Di Borobudur saja, all wisatawan “dipaksa” untuk berpanas-panas ria dari pintu masuk sampai pintu keluar. Olalaaa…..kalau mau begitu sih boleh saja, asal taman sekitarnya dibuat seperti Kebon Raya Bogor, full pohon, full rerumputan. Ampun deh, pada kemana nih orang-orang kreatif pengelola salah satu keajaiban dunia milik kita tercinta.
Kedua, berbagai tempat wisata seputar Jogja kurang canggih untuk menanamkan image “anker, suci, aneh, misterius, tak ada duanya di dunia”. Adik-adik saya sudah sekali ke Borobudur, dan kali ini membutuhkan effort cukup besar untuk merayunya berkunjung ke sana lagi untuk menemani Mom saya yang ingin ke Borobudur lagi (padahal udah berkali-kali kesana). Mereka merasa Borobudur itu just bentuk yang aneh saja, batu ditumpuk-tumpuk ada patung Budha di dalamnya, titik! Padahal banyak hal misterius di sana, banyak cerita di sana. Saya saja ingin tahu banyak tentang cerita apa saja yang digambarkan pada relief-relief-nya, apakah bisa dijadikan bahan cerita kampanye politik untuk suatu parpol ya? Wah, nggak nyambung nih. Mau tanya ke siapa tentang hal ini? Websitenya nggak ada tuh yang menyediakan cerita di balik keajaiban Borobudur. Yang saya maksud dengan “website” ini sosialisasinya, ceritanya, yang bisa didiseminasikan via banyak jalur, dari mass media kertas sampai Internet tentunya, dan itu mudah diakses kapanpun dan dimanapun.
Ide yang sama saya ingin terapkan ke berbagai tempat wisata lainnya, termasuk kraton. Setiap detail benda pusaka dan gedung atau hal lainnya di kraton harusnya ada “website”-nya, maksudnya ya masukkan informasi selengkap-lengkapnya dengan dibubuhi uraian-uraian “misterius” namun jujur, tidak mengada-ngada, yang dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja yang ingin mengetahui tentang detail dan “keanehan” kraton.
Karena jujur saja nih, kalau begini-begini saja, mengandalkan “penampakan” saja, saya yakin pasti nanti akan dikalahkan dengan tempat wisata lain yang lebih bagus. Masih mending kalau itu masih di dalam Indonesia, kalau ke luar? Ya, kesempatan dapat devisa berpotensi besar untuk lenyap.

Comments (0)