Menarik dan mencerahkan! Itu komentar saya saat mereview sepintas bukukarangan  Jeffrey Lang, seorang guru besar Matematika di Universitas Kansas, Lawrence, Amerika Serikat, berjudul “Aku Beriman, maka Aku Bertanya”. Di salah satu rangkumannya dikatakan bahwa jika ditanya mengapa Prof. Jeffrey Lang masuk Islam dua dasawarsa silam, jawabannya singkat saja : Al Quran. Bacalah Al Quran dengan terus bertanya, niscaya segala tanya akan terjawab. Itulah pengalaman tak terlupakan dari Prof. Lang, sebuah dialog ruhani yang menantang sekaligus menyejukkan. Berbagai gugatan dan kegelisahan akalnya terjawab secara meyakinkan dalam Al Quran.

Namun ada kegelisahan sedikit terkait semangat belajar dan terus menganalisa tentang Islam yang dikobarkan oleh sang guru besar ini, yaitu apakah metode itu benar-benar benar dalam segala situasi, segala umat, segala umur, dan segala golongan?

Saya pernah dengar cerita dari kasetnya Emha Ainun Najib, bahwa ada suatu surau di sutau desa yang ramai sekali tiap maghrib sampai isa dengan suara pengajian bapak, ibu, pemuda dan anak-anak. Tiba-tiba pada suatu hari mereka mendapat pencerahan dari seorang ustadz muda, yang baru lulus dari suatu pontren. Sang ustadz ini memberikan wejangan agar jangan hanya membaca Quran saja seperti yang sudah-sudah, namun juga perlu menelaah arti dan maknanya. Kalau hanya membaca begitu saja, itu tidak akan terlalu berarti, walaupun jelas dapat pahala juga. Nah, tebak apa yang terjadi beberapa bulan kemudian? Surau itu menjadi sepi, karena sang pelanggan tetapnya merasa kesulitan untuk mempraktekkan apa yang menjadi wejangan sang ustadz baru mereka. Wong deso, gak sekolah, kok “dipaksa” menjadi santri ala pontren?

Nah, itu artinya, menurut saya, kita harus sedikit berhati-hati dengan Mas Jeffrey Lang ini. Bukan berarti saya menyalahkan, tidak sama sekali, namun dari kitanya perlu juga menyiapkan “rem” khusus, menyesuaikan dengan kemampuan dan sikon yang ada, jangan asal meneliti dan mempertanyakan, karena sebagian dari Islam saya yakini adalah perintah yang tidak perlu dipertanyakan, hanya perlu diikuti dengan keikhlasan. Babi haram, why? Ya sudah, tidak perlu tanya terlalu jauh. Artinya, boleh nanya, tapi ya harus dibatasi sampai sejauh mana, biar nggak masuk ke lubang kebingungan. Wong masih banyak yang harus dilakukan kok, ya mengapa terlalu memforsir waktu hari demi hari hanya untuk bertanya. Masih banyak tetangga kita yang perlu dibantu, masih banyak anak-anak Islam yang perlu disekolahkan, perlu dididik. Masih banyak pemuda sekitar kita yang harus diberi suapan keimanan. Ya boleh-boleh saja nanya-nanya, tapi dari tujuh hari dalam seminggu, cukup dua hari saja, lainnya dipakai untuk berkarya. 

Comments (1)

On 2 Januari 2009 pukul 06.07 , dizzymuggle mengatakan...

hihih ... gitu ya ?? baru mau baca bukunya sih.