Hari ini saya dan keluarga Cimahi berkesempatan memenuhi undangan tetangga kami yang menikahkan anaknya. Well, as usual, perut “tak sengaja” dipenuhi dengan berbagai macam hidangan yang disediakan, tanpa belas kasihan sedikitpun terhadap yang punya acara. Entahlah, kenapa yang begini selalu saja dilakukan banyak orang, tak terkecuali dengan saya dan keluarga, he..he…
Namun di balik itu semua, ada pertanyaan besar dalam hati saya, acara itu mungkin saja bisa lebih “dikompres” lagi (baca : budget-nya), mungkin sampai 50% nya sudah cukup, dengan kemeriahan dan pemaknaan yang mungkin tidak harus ikut-ikutan turun sampai 50 % juga, ya turunnya sekitar 20% saja lah, bahkan kalau 10% nya dimasukkan ke kotak amal “in the name of” zakat atau sodaqoh atau sejenisnya, saya yakin maknanya akan meingkat lagi sampai melebihi 100%. Belum lagi nilai ibadah yang dijanjikan sang Penguasa Alam Raya ini untuk kepedulian semacam itu. Nah !
Ada banyak strategi, saya meyakininya seperti itu, misalnya dengan mengurangi budget untuk hiasan-hiasan atau asesoris alias bunga-bunga (mungkin kurangi saja sampai 50% - 60 % nya), tambahkan saja sedikit kreasi dari kita sendiri jika bisa atau jika ada. Minimal pakai saja meja dan kursi tamu kita yang mungkin cocok untuk dijadikan singgasana upacara pernikahan, tanpa harus menyewa dari sang penyelenggara. Saya fikir si penyelenggara tidak akan keberatan.
Untuk hari, mungkin bisa saja dibuat acaranya tidak harus hari Minggu, biar aja pakai alasan bahwa mencari gedungnya susah, nah….curang sedikit dengan niatan agar tidak mubazir, menurut saya bolehlah. Pasti ini akan mengurangi budget yang diperukan, lumayan signifikan sepertinya.
Tentang makanan, nah ini dia yang biasanya paling banyak membutuhkan budget. Aturan jumlah piring sama dengan dua setengah kali sampai tiga kali jumlah undangan mungkin saja sulit bisa diralat. But, ada teknik sederhana untuk menguranginya, yaitu…..kurangi saja undangannya, ha..ha..ha..toh tidak perlu semua orang yang kita kenal (apalagi yang tidak dikenal) diundang kan? Agamapun tidak mengharuskannya, hanya kewajiban untuk mengumumkan saja, itu sudah cukup. Undangan 500 orang, misalnya, mengapa tidak bisa dipangkas menjadi 300 orang saja? Tentu ini tergantung dari sikon masing-masing orang, namun setidaknya “semangat” untuk efisiensi ini jika disikapi dengan cool dan calm, saya yakin pasti akan diterima, walau mungkin dengan perasaan berat hati dengan berbagai kadar dan bobotnya.
Banyak orang ingin membuat suatu kejadian penting menjadi “milestone” dalam hidupnya, dibuat sesuatu sedemikian agar nantinya bisa menjadi kenangan manis tak terlupakan. Pertanyaannya, buat apa itu semua? Adakah hal itu menjadi suatu keharusan dari sang Pencipta untuk kita? Cobalah merenungkannya sekali lagi. Susah sih pastinya, termasuk saya juga jika saya mengalaminya. Apalagi jika hal itu tidak bisa ditentukan sendiri, harus melalui campur tangan mak, pake, mbah, kakek, uda, tetua, keluarga besar, wah…..penentuan harinya pun untuk perkawinan seorang mubaligh bisa-bisa disinkronkan dengan Primbon, gara-gara sang kakek menghendakinya, wahhh..ribet ribet. Mengapa dunia ribet semacam ini sering sulit sekali untuk disederhanakan ya? Walaupun dengan niat untuk “meluruskan hal-hal yang bengkok” sekalipun. Surga memang tidak murah, memang tidak murahhhhhhh…
Hmmm…diam-diam saya merasa beruntung, saya sudah menjalani salah satu milestone itu.

Comments (0)