Hari ini, tanpa saya rencanakan sebelumnya, saya berkesempatan mengunjungi salah satu tempat wisata favorit saya yaitu toko buku. Alhamdulillah, saya masih diberi kesempatan untuk menjadi pelanggan setianya, walaupun tidak selalu membeli namun ada saja waktu luang yang dapat saya gunakan untuk menengok perkembangan terbaru dari sang jendela dunia tersebut.

Dari beberapa buku yang sempat saya review secara sekilas, buku-buku motivasi masih menjadi jualan utama dan saya rasa stock nya semakin banyak saja dari bulan ke bulan, bersaing dengan berbagai majalah dan buku-buku kommputer. Dengar-dengar sih buku-buku yang merupakan bagian dari pegembangan pribadi inilah yang masih jadi buruan utama para penggemar atau kolektor buku. Mungkin para pembacanya merasakan manfaatnya secara langsung, tanpa harus banyak berfikir yang susah-susah. Atau mungkin memang ada hubungannya dengan fakta bahwa makin banyak saja orang stress saat ini? Ada informasi bahwa ada saja orang stress namun tidak merasa stress. Wah…saya tergolong orang yang stress atau tidak ya? Nggak yakin juga nih.

BTW, ada satu buku yang saya lupa judul dan pengarangnya terkait pengembangan pribadi ini yang saya ingin garis bawahi dalam tulisan kali ini. Kalau tidak salah si pengarang meminta pembaca agar bisa mencari kebahagiaan dengan cara memaknai sesutau dalam level substantifnya. Jangan sekedar bahagia karena bisa membeli mobil mewah atau rumah segede gunung. Dengan kata lain carilah kebahagiaan yang hakiki. Hmmm..saya setuju sekali lah dengan ajakan ini, walaupun untuk level orang Indonesia saya fikir cukup impossible untuk menjadi warna yang dominan dijumpai dalam praktek berbangsa, bermasyarakat dan bernegara. Harusnya Presiden dapat memerintahkan seluruh rakyatnya untuk memberi makna yang baru untuk satu kata yang paling diburu di dunia ini yaitu “kebahagiaan” itu. Diikuti oleh para anggota kabinet, DPR dan seterusnya sampai ke tingkat RT, independen terhadap agama, suku, ras, tingkat pendidikan. Tapi pertanyaan besarnya adalah jika pendapatan di bawah 10 ribu sehari, apakah masih ada tersisa energi untuk melakukan perenungan semacam itu? Saya termasuk orang yang tidak terlalu terkesan dengan sebagian besar para muballigh, apalagi yang “ngartis”, karena berkali-kali mereka mengajak para jamaahnya untuk mereview tujuan hidupnya, berkali-berkali itu pula mereka lupa bahwa mereka bisa melakukannya karena mereka sebagian besarnya sudah kaya, yang berbanding lurus dengan waktu luang yang cukup banyak, rumah yang asri, keluarga yang full of senyum karena semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan relatif mudah. Dalam situasi ini, kebahagiaan sudah menjadi keniscayaan, wajar saja kalau mereka “gampang” bahagia.

Buku-buku lain yang mendominasi toko buku tersebut adalah yang terkait dengan kesehatan, (Intisari benar-benar membanjiri pasar dengan berbagai bukunya). Ada juga buku-buku yang menceritakan tentang Bandung Tempo Doeloe. Bagus lah, sejarah harus mendapat tempat tersendiri dalam bacaan-bacaan tersebut agar kita bisa belajar dari kelebihan dan kekurangan dari sejarah, sesuai titah Bung Karno "jangan lupakan sejarah" (wah, sok ngutip nih). Ada yang nenarik yaitu foto-foto jaman baheula tentang Bandung, misalnya alun-alun jaman belanda, sekitar Braga, dengan segala deskripsi kegiatan-kegiatan di dalamnya. Seru juga, mengingat saat ini Bandung sudah men-Jakarta, saya ramalkan bahwa dalam sepuluh tahun lagi atau kurang tidak akan beda jauh dengan Jakarta saat ini.

Buku lainnya yang menarik adalah buku-buku tips kesehatan. Sebenarnya bukan barang baru sih, sudah banyak dan sering saya lihat. Namun yang unik adalah keluaran mayo clinic, yang katanya adalah lembaga non-profit di Amerika sana, yang salah satu misinya saya tebak adalah menyebarkan cara sehat untuk all people in the world dengan cara yang murah meriah. Wah, meneer Amerika itu kok pada baek-baek ya, kontras dengan dokter-dokter yang pernah saya kunjungi yang hampir 8 diantara 10 diantaranya sangat sulit diminta nasehat atau tips atau informasi yang terkait dengan penyakit yang saya derita waktu itu. Apa harus dikasih lebih banyak duit dulu baru komen nya keluar. Heran, padahal seandainya itu dilakukan oleh all dokter, saya yakin sebagian besar akan dimudahkan masuk surga. Sekalian mengobati, sekalian memberi ilmu, dan itu akan mengalir terus pahalanya sampai sang dokter mati kok. Begitu kan?



Comments (0)