Susahnya mengatasi anak-anak jaman internet begini. Cara belajar, cara bersikap, cara berfikir sudah mengalami inflasi dalam hal kecepatan dan aneka jenis “theme”-nya.  Ada teman saya bilang bahwa anak sekarang tidak usah disuruh belajar, biarkan saja apa maunya, namun dengan tetap memperhatikan arah yang mereka tempuh. Mungkin ada benarnya pendapat ini, buktinya adik saya yang saat ini duduk di bangku kelas 3 SMP, masih sering nangkring di 10 besar di kelasnya, padahal saya tahu persis, dia hanya akan kelihatan membaca buku jika ada pe-er atau akan menghadapi ulangan atau ujian, artinya dalam kondisi luang pasti akan dipakai untuk nge-game. Ampun dah. Sudah mulai berbusa ini mulut saya yang keseringan ngomelin dia. Kasihan memang, tapi saya tidak punya strategi atau ilmu mendidik tertentu, bisanya ya begitu tahu nilainya jelek, langsung saja saya murka.

Senada dengan saah satu dosen saya yang mengatakan bahwa jika seorang anak diajarkan Internet, beritahu sedikit saja, cara klik dan cara berkunjung ke suatu website dan bagaimana menggunakan searching engine. That’s all, maka kita akan terkagum-kagum melihat anak tersebut dalam jangka waktu pendek saja akan dapat belajar dengan kecepatan tinggi, melebihi ekspektasi kita. Tentu saja tidak semua anak akan seperti, namun semangatnya adalah bahwa anak sekarang memang beda dan harus diperlakukan secara berbeda dengan anak-anak genarasi sebelumnya, termasuk saya tentunya, terima nasib lahir jaman seventies.

Full of curiosity, pemberontak, selalau ingin beda, efisien (alias malas), penggemar berat visualisasi (alias malas membaca), agresif (namun rapuh), gampang berubah sikap (alias plin plan) adalah beberapa sifat dari adinda saya tersayang tersebut yang saya yakini sebagiannya juga “diderita” oleh teman-teman senasib dan seperjuangannya. Itu semua saya sadari sebagai “given” saja dari “sana”-nya, ditambah lagi dengan pengaruh “MTV” lengkap dengan berbagai aliran informasi populer di dalam box kecil namanya TV dan handphone yang penuh dengan ghibah, sex, gaya santai, everyday is music, dengen kecepatan perubahan theme yang sangat tinggi (iklan satu ke iklan lain, klip musik satu ke klip lain, cerita sinetron satu ke cerita yang lain, dari kisah tentang kepahlawanan nabi ke kisah tentang rock n roll). Well….capek deh, tapi saya harus memaksakan diri untuk tidak panik dengan itu semua, memaksakan diri untuk memberi fragmen-fragmen bayangan optimis pada masa depan adik saya itu. Dengan berpikir bergaya negasi, saya yakin pasti ada kesempatan di tengah-tengah kesempitan, gaya cerdas dan cepat luar biasa mereka harus saya imbangi dengan kecerdikan dan kedewasaan saya yang tidak seberapa ini. Toh dia masih menganggap saya sebagai kakaknya, dan terlepas dari soal apakah itu dilakukannya dengan ikhlas atau pura-pura ikhlas, toh anggaran beli buku, beli jepit rambut baru, beli voucher HP, dan embel-embel lainnya, masih tergantung pada kocek saya, yang kalau saya ngambek pasti akan berdampak menjadi kiamat finansial bagi dia. Nah loh, kamu harus sedikit-sedikit bisa mengikuti rule saya ya dik !

Jika melihat referensi dari para pakar remaja dan anak-anak saat ini seperti kak Seto, Neno Warisman, dan konco-konco lainnya, nampak bahwa kita harus memberi kasih sayang penuh plus ruang kebebasan pada mereka, tanpa melupakan aspek pendidikan yang jelas-jelas tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada sekolah dan para guru-guru mereka yang tidak bisa konsentrasi penuh pada pendidikan karena gaji yang tidak mencukupi itu. Kita harus aktif mendongengkan kepada mereka tentang humanisme, agama, sampai patriotisme ala Indonesia asli, di tengah-tengah aspek globalisasi yang semakin kuat saja menyeragamkan cara berpikir semua manusia di muka bumi. Bayangkan saja, saat ini setiap liburan tiba, di kota Bandung misalnya, orang bandung sudah nggak kebagian lagi jalur di jalan untuk bisa menikmati liburannya, sebagian besar mobil yang datang serba plat B, karena semua mempunyai selera yang sama, cara berpikir pop yang sama, yang saya yakini karena efek info globalisasi yang memberikan cara menikmati liburan yang sama, yaitu “kalau liburan, asyik banget untuk berburu kuliner dan clothing di bandung”. Padahal alternatif lain kan banyak, bisa nonton pertunjukan lenong, makan ketoprak rame-rame bersama keluarga, ke masjid mendengar ceramah dari habib, dlsb. Sayangnya lagi-lagi itu semua tergilas pesan global “itu semua tidak menarik dan ndeso”.

Oya, saya kok tidak terlalu setuju dengan cara kak Seto dan Neno mengajar ya, terlalu penuh dengan kasih sayang dan membutuhkan banyak pengetahuan dan teori tentang ilmu mendidik anak. Apa iya itu cocok untuk keluarga yang masuk dalam golongan menengah ke bawah? Sikonnya sulit untuk bisa menerapkan semua ajaran-ajaran mereka. Tidak salah sih, Cuma perlu juklak dan penyesuaian di sana-sini, dan itu butuh ilmu dan analisa lagi, yang tidak mudah dilakukan para orang tua yang masuk golongan “awam”. Saya dulu produk “kejam” (untuk ukuran saat ini) dari Bapak saya. Nggak ngaji sehari saja, sudah kena jewer dan kadang-kadang kena belaian kopel (ikat pinggang tentara) dari bapak saya yang memang tentara tulen. Tapi saya tidak mengalami gangguan jiwa kok, malah banyak hikmah yang saya petik dan rasakan sampai saat ini. Tentu tidak fair membandingkan kondisi saya dulu dengan kondisi adik saya saat ini, sangat-sangat tidak fair. Tapi semangat untuk mengajarkan sedikit kekerasan saya fikir perlu juga diketahui dan dirasakan anak dan remaja saat ini, biar tidak cengeng, masa Cuma melihat guru menggebrak meja saat marah saja, adik saya ikutan menangis dan besoknya tidak berani masuk sekolah lagi. Adakah guru-guru menyadari hal ini ya? Mungkin sebagiannya tahu namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Kalau boleh menambahkan sedikit referensi, ada buku berjudul “If High School is a Game” karya Cherie Carter yang menggambarkan bahwa masa remaja adalah terowongan menuju masa depan. Situasi dalam terowongan itu bisa bermacam-macam, tergantung destiny orang per orang. Tapi ya namanya juga terowongan, biasanya digambarkan sebagai suatu silinder yang didalamnya gelap. Wah, bagus juga penggambarannya, itu artinya saya harus bisa menuntun adinda saya tercinta untuk bisa melewatinya dengan baik. Masalahnya sayapun tidak terlalu tahu terowongan macam apa yang akan dilalui adik saya dalam hidupnya. Saya harus menyediakan rambu-rambu, peluit peringatan, sesekali lampu penerangan, bahkan jika mungkin kereta khusus yang mengantarkannya sampai di ujung terowongan itu. Tapi tentu saja semua juga memerlukan usaha, keberuntungan dan ridlo Allah.

Oya, ada tulisan menarik loh tentang keberuntungan, yang disebut-sebut tidak sama dengan kebetulan, karya meneer John Krumboltz. Alangkah seringnya kita mendapatkan suatu prestasi atau rejeki karena faktor kebetulan, bukan merupakan hasil dari suatu perencanaan. Saya dulu sekolah S-1 gratisan (dan sekarang S-2 nya juga sama), itu karena faktor keberuntungan kok, ya dominannya adalah suatu kebetulan saja. Statement ini bukan berarti saya sok rendah hati apalagi rendah diri, tapi benar-benar saya tekankan di kepala dan hati sanubari saya, bahwa memang begitu kenyataannya, ada sih faktor ikhtiar, tapi sengaja tidak saya angkat ke permukaan, biar saja, biar menjadi orang yang pandai bersyukur, mudah-mudahan begitu. Amin.

So, what can I do?

Saya akan terus istiqomah, ngomelin adik saya, berceramah tentang nilai-nilai positif tentang kehidupan, tentu dengan berbagai kesempatan yang saya perkirakan momen-nya tepat seperti saat dia terbukti berbuat salah dan terbukti merugikan, dengan cara dan teknik yang Insya Allah bervariasi, tanpa kenal lelah (mudah-mudahan). Soal efektif tidaknya, saya berserah diri pada Allah saja, semoga adinda saya itu bisa menjadi manusia yang “lurus” dan sukses dunia akhirat. Kadang saya sedih juga kalau berandai-andai dia tidak akan berhasil dalam hidupnya, walaupun ukuran keberhasilan itu sampai saat ini di dalam otak saya melulu cenderung ke soal materi belaka (mungkin alim tapi miskin adalah kondisi yang sangat berat saya kategorikan sebagai sukses).

Saya menyadari bahwa saya punya kepala yang berbeda dengan adik-adik saya. Punya hasrat, sifat dan variabel-variabel kehidupan yang berbeda-beda, berputar terus mengitari kepala saya dan mempengaruhi jalan hidup saya. Biarlah adik saya hidup dengan kepalanya sendiri-sendiri. Andai ada yang bagus dari saya ya biarlah itu menjadi masukan bagi mereka, untuk bisa diratifikasi menjadi salah satu variabel tersebut. Tapi yang jelek-jelek dari saya, biarlah menjadi masukan untu membuat variabel baru yang lebih baik, baik menggunakan proses improvement pelan-pelan maupun melalui proses engineering yang revolusioner, menjadi variabel yang benar-benar baru.

Comments (0)