Remedy adalah suatu software aplikasi Business Service Management (BSM), yang memungkinkan user untuk me-manage infrastuktur IT dalam perspektif bisnis. Software ini adalah buatan BMC Software, bersifat client server, dan biasa dikenal juga dengan nama AR System (Action Request System) atau ARS.

Awalnya Remedy diciptakan oleh Remedy Corp yang berdiri tahun 1990 oleh Larry Garlick. Setelah mengalami pergantian kepemilikan dan kasus kebangkrutan, akhirnya Remedy dibeli oleh BMC Software Company, dan menjadi salah satu unitnya. Saat ini BMC berkantor pusat di Houston, Texas, USA dengan 6000 karyawan di seluruh dunia.

Produk-produk BMC sebenarnya tidak hanya Remedy. Produk-produknya dapat dikategorikan antara lain berupa software untuk IT Service Management, Service Impact Management, manajemen aplikasi, manajemen operasi IT, database dan manajemen infrastruktur.

Sedangkan Remedy sendiri masuk dalam kategori sebagai IT Service Management, dimana dalam kategori ini selain Remedy ARS, ada Remedy Help Desk, Service Desk Express (awalnya disebut Magic), BMC Event Manager dan Enterprise Performance Assurance. Dengan produk-produk ini maka layanan IT dapat di delivery-kan dalam aneka fungsi bisnis.

Remedy menggunakan database pihak ketiga seperti Sybase, MS SQL Server dan Oracle sebagai sarana penyimpanan data dan metatable (source code yang memerintahkan aplikasi untuk mendukung interaksi antara user dengan data). Selain itu Remedy juga memiliki API yang bersifat terbuka, yang memberi kebebasan user untuk membuat tool sendiri melalui script tertentu yang dapat berkomunikasi langsung dengan Remedy.

Beberapa aplikasi yang ada dalam framework Remedy adalah sbb :

  • BMC Remedy Help Desk
  • BMC Remedy Service Desk: Incident Management
  • BMC Remedy Service Desk: Problem Management
  • BMC Remedy Change Management
  • BMC Remedy Customer Support
  • BMC Service Level Management
  • BMC Remedy Asset Management
  • Knowledge Base
  • ExpertDesk

Jadi Remedy ini memiliki banyak aplikasi dengan keistimewaan dan fungsinya masing-masing, karena Business Management memiliki scope yang sangat luas.

clip_image002

Lihat gambar struktur fungsi TMN di atas. Tampak bahwa dalam tinjauan layer logika, Business dan Service Management berada di atas manajemen jaringan dan elemennya. Namun demikian setiap lapisan menajemen selalu memiliki fungsi OSI berupa manajemen fault, konfigurasi, accounting, kinerja dan keamanan. Jadi dalam Remedy, fungsi-fungsi ini sudah ada di dalamnya.

Sebagai contoh produk, mari kita simak BMC Remedy Asset Configuration Management (ACM). Dengan aplikasi ini maka lisensi software dapat dimanage dengan baik, mendukung manajemen kontrak secara proaktif, dapat memberi informasi cost aset dengan lebih visible, mengintegrasikan layanan ITIL dalam mendukung workflow.

clip_image004

Dengan mengimplementasikan ACM, maka cost untuk lisensi software dapat diturunkan, menghindari pengadaan hardware dan software secara berlebihan atau justru sebaliknya, kekurangan. Selain itu dapat mengurangi cost untuk leasing dan penalti. ACM menjanjikan memberikan kemudahan dalam proses manajemen perubahan konfigurasi dan penanggulangan masalah. Dan akhirnya dapat mengurangi operational down time dan meningkatkan kualitas layanan.

Contoh produk lain BMC Service Desk Express Suite (SDES) yang merupakan tool berbasis web untuk melakukan tracking layanan secara otomatis. Produk ini menawarkan fleksibilitas dalam arsitektur dan dapat mengurangi biaya operasional, sekaligus memberikan laporan data secara grafis kepada user sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan bisnis.

clip_image006

Jadi BMC memberikan solusi komprehensif dalam bisnis IT baik dalam perencanaan, dukungan layanan, assurance layanan, automasi layanan dam optimasi layanan. BMC mengklaim diri 82 persen dari peruhaaan yang masuk dalam daftar Fortune 500 dengan lebih dari 15 ribu perusahaan telah mempercayakan BMC untuk mengontrol kompleksitas IT, meningkatkan kualitas layanan, dan mampu memenuhi kebutuhan bisnis.

Dalam pengukuran kinerja suatu perangkat yang digunakan dalam memberikan layanan kepada kastamer, PT Telkom telah menggunakan beberapa tool, diantaranya Remedy dan Chroniker. Remedy digunakan sebagai tools untuk memudahkan pelenyelesaian complain dan request handling, dimana di dalamnya parameter-parameter seperti RTH, RTS, RTC, FLR, TCC, RFR, RRC, TCT. Sedangkan Chroniker adalah software untuk mengukur perangkat infrastrukutur (hardware dan software) dengan parameter-parameter seperti AoS (Availability of Service) dan RtS (Response Time of Services).

Jika terdeteksi kesalahan dalam suatu perangkat baik software (databasem ftp, http, dll) maupun hardware, maka sistem dapat disetting untuk mengirimkan notifikasi berupa email ataupun sms yang langsung dapat dikirimkan kepada teknisi terkait.

Maka Remedy dapat diintegrasikan dengan sistem layanan otomatisasi helpdesk yang juga dimiliki Telkom, yang disebut Call Handling. Panggilan dari seseoranng yang mengadukan masalahnya dapat diarahkan ke satu nomor panggil yang berlaku nasional. Dengan demikian penanganan masalah IT dapat dipercepat, karena akar masalahnya dapat diketahui dengan cepat. Kinerja Helpdesk juga dapat diukur karena ada parameter tolok ukur yang sudah disetting dalam database di dalam sistem Remedy, sehingga setiap kegiatan petugas Helpdesk dapat terekam kinerjanya.

Remedy dapat mengetahui gangguan bukan hanya pada hardware, tapi juga software-nya. Seperti halnya kemampuannya dalam monitoring ribuan komputer sekaligus, termasuk detail software di dalamnya.

Terbayang suatu jaringan lengkap dengan terminal-terminalnya dapat dengan mudah diawasi kinerjanya, dan dengan mudah dapat diketahui jenis gangguannya. Misalnya untuk telepon umum di Indonesia, dimana menurut Kepmenhub No. 20 tahun 2001 dan 21 tahun 2001 menyebutkan bahwa operator penyelenggara jaringan tetap diwajibkan untuk menyediakan layanan telepon umum minimal 3 persen dari total kapasitas jaringan terpasangnya. Padahal selain Telkom, ada operator lain yang memiliki kewajiban yang sama yaitu Indosat (StarOne), Mobile8 Telecom (Hepi), Bakrie Telecom (Esia dan Wifone), dan Batam Bintan Telecommunication. Semuanya memiliki lisensi telepon tetap.

Mungkin saja Remedy ini diinstall dalam jaringan yang melingkupi semua telepon umum dari semua operator tersebut. Pemerintah dapat mengakses datanya via browser sehingga dengan mudah mengetahui berapa kapasitas terpasang dan dimana saja. Kinerjanya pun dapat diketahui dengan mudah oleh operator. Tentu saja untuk sampai kepada kemampuan seperti ini dibutuhkan biaya dan effort yang tidak kecil. Tantangannya terletak pada networking level manajemen antar operator, kesulitan integrasi teknis akibat beraneka ragamnya jenis telepon umum, seperti Telkom yang memiliki telepon umum coin (TUC), telepon umum kartu (TUK), telepon umum flexi, dan telepon umum kartu chip yang tersebar di sejumlah kantor Divisi Regional (Divre).

Business Software Management saat ini menggunakan referensi ITIL (Information Technology Infrastructure Library), yang menuntun bagaimana SDM, proses, dan teknologi digunakan untuk efisiensi dan efetivitas proses bisnis, termasuk dalam penentuan kualitas layanan yang sesuai dengan keinginan perusahaan, kastamer. Ada detail tentang peta peran masing-masing karyawan yang terlibat, juga bagaimana hubungan antar proses dari start sampai end.

clip_image002[1]

Gambar. IT Service Management, diambil dari “Getting ITIL Done with IT Process Automation”, OPALIS User Guide

Terkait dengan business software management ini, skema manajemen lainnya seperti revenue assurance (RA), pengaturan guarantee dan warranty (baik antara kastamer dengan perusahaan, maupun antara perusahaan dengan vendor) akan dapat didefinisikan dengan baik.

E-Procurement yang diadakan Pemda Jabar yang awalnya bertujuan mulia yaitu membuat proses pengadaan menjadi lebih transparan, efisien dan efektif, ternyata malah menuai kritik tajam dari para pengusaha jasa konstruksi. Mereka merasa bahwa E-Proc ini justru menimbulkan ketidakpastian, dibuktikan dalam proses lelangnya, untuk urusan upload (sebagai syarat pendafataran lelang) saja membutuhkan waktu seharian.

Mungkin server tidak memenuhi spesifikasi, atau jaringannya tidak didisain dengan baik, atau mungkin software aplikasinya tidak pas dengan requirement. Ini memberikan pelajaran berarti bahwa segala sesuatu harus dilakukan oleh ahlinya. Dan satu hal lagi, jangan segan untuk masuk ke wilayah detail, proyek dibedah sedetail mungkin dengan perencanaan yang sekomprehensif mungkin tanpa meninggalkan syarat kepraktisannya. Seperti juga terjadi pada industri kreatif yang ditengarai banyak bermasalah dalam hal pembuatan rencana cash-flow dan business plan. Ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dalam produknya saja, karena Bank akan sulit mengucurkan dananya pada industri yang tidak jelas skema bisnisnya.

Saya tidak tahu apakah berpikir bangsa kita rata-rata memiliki kesulitan berpikir komprehensif alias sistem. Karena untuk bidanga spesialisasi yang rumit-rumit, banyak cerita terdengar betapa mumpuninya anak-anak bangsa, dari mulai menjadi jago dalam Olimpiade Fisika, Matematika, ataupun lomba-lomba sejenis lainnya. Baru saja terdengar lagi kabar kemenangan tim dari STEI ITB yang mengalahkan 29 tim dari berbagai universitas dunia dalam LSI Design Contest di Onikawa Jepang. Lomba ini merupakan kompetisi tahunan dalam perancangan chip. Terbayang betapa rumitnya bidang ini dan lebih dari itu betapa cerdasnya para mahasiswa kita itu.

Menurut saya harusnya pemerintah didominasi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir sistem. Otak cerdas tidak berarti otomatis membawa kemakmuran, karena belum tentu apa yang dipelajari benar-benar bermanfaat buat bangsa. Sederhana saja, cobalah analisa seseorang yang bekerja di bidang yang sama dengan bidang yang dipelajarinya di bangku kuliah, tanyakan berapa persen dari pelajarannya dulu terpakai dalam bekerja. Dan tanyakan hal yang sama pada puluhan rekan lainnya, dan dengan analisa statistik sederhana bisa kita buat berapa persen hasil belajar dapat bermanfaat dalam bekerja. Belum lagi dalam kasus dimana jurusan sekolah atau kuliah dulu yang berbeda, bahkan 180 derajat, dengan bidang pekerjaan yang ditekuni saat ini.

Jangan-jangan pelajaran Fisika yang diajarkan pada anak-anak kita hanya sedikit manfaatnya bagi bangsa. Begitu juga pelajaran lainnya. Karenanya saya mengajak kita semua merenungkan bersama untuk membuat disain baru pendidikan di Indonesia. Requirement saat ini apa, lalu start dari sini disainlah apa saja peta keahlian yang dibutuhkan sesuai dengan jurusan-jurusan yang ada di sekolah dan perguruan tinggi. Dari titik ini definisikan apa saja yang harus dipelajari, dan bagian yang tersulitnya adalah manajemen content-nya. Misalnya dalam jurusan pertanian, berbagai industri agro dan departemen pertanian harus duduk bersama mengajarkan kepada apa yang kini menjadi masalah dan tantangan bangsa, dan itulah yang harus dipelajari sampai mendapatkan solusi. Maka ketika lulus, anak-anak ini bisa langsung “in line” dengan industri pertanian tersebut. Link and match yang dulu didengung-dengungkan saat ini kok terlihat padam.

Jangan lupa juga untuk mengajarkan arti norma dan nilai-nilai luhur bangsa dan alam raya. Percuma otak brilian tapi kelakukan menunjukkan kebodohan dalam ahlak. Merujuk tulisan pak Usep Romli HM di dalam Renungan Jumat di Pikiran Rakyat tentang “Kiamat akan tiba”, dikatakannya bahwa menjelang kiamat, seperti saat ini, orang-orang berlomba-lomba mencari ilmu. Namun ilmu yang didapatkan tidak ada manfaatnya apa-apa, jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiripun tidak ada manfaatnya. Kemanfaatan ilmu hilang akibat manusia tidak lagi memperhatikan aturan Allah.

image

Berpikir komprehensif sama sekali tidak sama dengan berpikir “kulit luarnya” saja. Detail proses, detail program, detail masalah, adalah hal yang mestinya sudah menjadi keharusan untuk dikuasai jika ingin disebut telah mampu berpikir sistem. Semoga para pemimpin kita dari Presiden sampai Lurah, dapat menjadi pembelajar sejati untuk “ilmu” ini, agar dapat melihat segala sesuatunya lebih wise dan lebih bisa memberikan manfaat riil pada masyarakatnya.

Bersyukurlah anda jika anda suka membaca, atau menulis, atau keduanya. Bersyukurlah jika anda doyan belajar. Karena ternyata kegiatan-kegiatan yang harusnya “biasa” ini, sampai saat ini menjadi kegiatan yang “istimewa” terutama di kalangan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Tentu saya tidak mengatakan bahwa kegiatan ini tidak diperlukan dalam keseharian seorang karyawan, pengusaha, bahkan seorang yang tidak bekerja sekalipun wajib hukumnya membaca atau belajar.

Suatu hari tanpa disengaja saya melihat poster Seminar Pumping Sudent, yang setelah saya telusuri sumbernya di Internet, sebenarnya memiliki tujuan mulia untuk memompa semangat pelajar untuk lebih bisa sukses dalam kegiatan belajarnya, bagaimana sukses dalam ujian nasional misalnya.

Dimotori oleh seorang motivator bernama Amir Tengku Ramly, dengan lembaganya yaitu Pumping Learning Centre yang berkantor di Gedung PPIB Bogor (dekat masjid raya), lembaga ini tampaknya serius untuk dapat memotivasi para stakeholder pendidikan, tidak hanya siswa, tapi juga guru, mahasiswa, dan pemuda.

Kusus untuk guru, misalnya, ada program yang disebut pumping teacher, menjadi guru epos. Program ini ditujukan memperbaiki hubungan antara siswa dan guru berdasarkan energi positif dan kuadran guru kaya. Guru sebaiknya suka belajar, menulis, menikmati karya seni, mengamati tanda-tanda alam, membangun dan memelihara relasi dengan sebaik-baiknya. Kalau saya tambahkan dari petunjuknya mas Al Falaq Arsendatama, biasakan berpikir beda dan tidak menyerah dalam mempelajari hal-hal baru meskipun terasa sangat rumit.

Ada tulisan yang menurut saya cukup revolusioner untuk dilaksanakan di kelas, yaitu tulisan mas Aris Wahyu Prasetyo tentang “Desain Anak: Inovatifnya Pembelajaran” di http://public.kompasiana.com yang intinya memberi ide segar untuk memanfaatkan iklan, misalnya, untuk dijadikan sarana pembelajaran. Saya sependapat dengan mas Wahyu, bahkan pernah saya bayangkan ada pelajaran “analisa media” di dalam kelas, yang membahas tentang isu apa saja yang ada di koran atau majalah (termasuk berita musik, film, sinetron, bahkan gosip) dan bagaimana para murid memanfaatkan semua informasi tersebut menjadi sesuatu yang berguna.

image

Secara umum nampaknya pelatihan ini tidak beda jauh dengan pelatihan ESQ. Ada istilah-istilah “fresh” yang diciptakan dan diberi pemaknaan menggunakan ilmu manajemen modern kususnya ilmu pengembangan diri. Memang kalau kita lihat di toko buku, misalnya, buku-buku pengembangan diri selalu saja menempati ranking teratas dalam penjualan. Mungkin orang haus akan nasehat dan inspirasi yang dapat membuatnya termotivasi untuk tujuan hidupnya masing-masing.

Contoh ada kalimat dalam suatu tulisan Orbit Sukses Manusia di http://senyum127.blogspot.com menyatakan bahwa : “Membangun orbit sukses dan hidup lebih bermakna adalah upaya memberdayakan tiga kekuatan sukses (principle power, competence power dan action power) sesuai corevalues ketauhidan (Ihsan), rukun Iman dan rukun Islam yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan focus pada orbit sukses diri pribadi”.

Seorang siswa kelas IX, warga Babakan Ciparay Bandung ditemukan tewas gantung diri. Dan berita serupa juga sempat kita dengar beberapa waktu sebelumnya. Banyak yang bilang anak-anak jaman sekarang memiliki mental yang rapuh. Dan memang saya sangat sayangkan mengapa sekolah tidak mengajarkan “bagaimana cara berpikir”, sekolah hanya mengajarkan “apa yang harus dipikir”. Menjadi tugas gurulah untuk juga membantu pembangunan mental anak-anak didiknya.

Contoh, Imam Syafi’i pernah menasehatkan kita melalui kisahnya masa menjadi pelajar, tentang keadaan hafalannya yang jelek. Lalu oleh Imam Waqi’, gurunya, diberikan nasehat “Ketauhilah, sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat”. Dan mungkin ada deretan resep mujarab lainnya yang dapat diberikan pada siswa, mahasiswa, pemuda atau siapapun yang berstatus sebagai penuntut ilmu.

Kabar dari Wellington, seorang mahasiswa 18 tahun bernama Owen Thor Walker akhirnya direkrut oleh Telstra Selandia Baru, setelah sebelumnya berhasil membobol jutaan komputer dengan kerugian potensial mencapai 20 juta US$. Jika sistem hukum berpikir sempit, anak muda ini akan langsung dijebloskan ke penjara, namun sistem pendidikan modern yang lebih menghargai potensi manusia lah yang lebih dipentingkan. Akhirnya Owen bebas dan mendapatkan pekerjaan sebagai ladang kreativitasnya.

Kembali ke tema Pumping, bahkan untuk tersenyum pun diajarkan oleh mas Amir Tengku. Dinamakannya senyum 127, yang maksudnya adalah senyum yang memiliki akar kuat, bersumber dari 1 hati nurani, lebar 2 cm ke kanan dan ke kiri, dengan durasi 7 detik saja. Senyum gaya ini diklaim mampu menghasilkan energi positif yang akan mengalahkan energi negatif di sekitarnya.

Senyum ini pulalah yang diharapkan dapat dipraktekkan para guru ketika mengajar di sekolah. Entahlah kenapa saya tidak terlalu setuju jika guru terlalu ramah dengan para muridnya, karena murid ada saja yang semakin parah kelakuannya karena melihat gurunya sangat baik, yang biasanya dimaknai sebagai guru yang sangat toleran dalam segala hal.

Guru juga harus diharuskan untuk tidak saja memperhatikan anak didiknya yang belajar, tapi dia sendiri juga harus mengembangkan dirinya dengan cara belajar pula. Ilmu ini harus diamalkan. Jika niat ini tidak ada, akan diharamkan baginya keberkahan ilmu, kemuliaan dan pahalanya. Nabi bersabda bahwa “Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar” (HR. Thabrani. Muhaddits abad ini, Muhammad Nashiruddin Albani) .

Mungkin perlu ada pengembangan ilmu pumping motivasi semacam ini untuk pegawai negeri khususnya aparat Pemda, agar dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik lagi. Ada isu di suatu daerah mengalami kekuranga pegawai, di sisi lain ada daerah yang justru ditengarai kelebihan pegawai. Pemda Kuningan, misalnya, diidentifikasi kelebihan 4 ribu pegawai, yang akibatnya 80% APBD habis hanya untuk gaji dan belanja pegawai.

Terlepas dari kebenaran data di atas, yang saya cuplik dari suatu kolom di suatu harian di Bandung, kelebihan jumlah pegawai ini harus disikapi sebagai kesempatan untuk lebih baik lagi dalam menerjemahkan dan menjalankan semua kebijakan daerah sampai ke desa-desa terpencil di Kuningan. Bagaimana caranya ? Nah, ini membutuhkan kreativitas dan kemauan dari para aparat tersebut. Saya cenderung menginginkan para aparat Pemda bersikap sebagai “guru” bagi masyarakat, sehingga dalam peta peran dan sikapnya baik dalam implementasi proyek apapun terkait pembangunan di daerah, mereka mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, memberi teladan dan mengajak masyarakat untuk menjadi pembelajar sejati yang peduli dengan obyek pembangunan.

Pertanyaan saya, apa ada pejabat atau pegawai Pemda yang jago mengurusi musium yang ada di daerah kerjanya ? Contoh perpustakaan museum sejarah Jakarta, dimana dari sini sebenarnya banyak yang dapat dieksplore dan disosialisasikan kepada para anak didik terutama di Jakarta, agar mereka tidak hanya tahu tentang sebaran mall di ibukota negara, tapi juga tahu detail tentang sejarah kotanya.

Tentu saja sudah ada pelaksana teknis dari Pemda yang ditunjuk menanganinya, tapi maksud saya adalah bagaimana membuat sejarah menjadi sesuatu isu yang menarik baik dari sisi pendidikan maupun peluang dalam pariwisata. Kalimat “Jakarta akan kehilangan ruhnya ketika seluruh warisan nenek moyangnya hilang” mungkin tidak banyak dipahami orang yang tidak pernah merenungkan apa yang disebut kehidupan sejati dengan manusia utuh (jasmani dan rohani) yang menjadi subyek utama.

Mengikutsertakan dunia pendidikan dalam program pemerintah secara langsung juga merupakan salah satu cara untuk melejitkan lagi potensi anak didik. Seperti upaya Mahkamah Institusi megikutsertakan 34 Fakultas Hukum di seluruh Indonesia untuk membantu sidang sengketa hasil pemilu nanti. Saya kadang bertanya, mengapa tidak melakukan hal serupa untuk sidang korupsi yang dilakukan oleh para pejabat di daerah, sehingga penuntasan perkara dapat lebih cepat dan tidak menumpuk seperti sekarang ini yang akhirnya menyebabkan munculnya sistem tebang pilih dalam perkara korupsi.

Bob Sadino akhir-akhir ini lewat bukunya maupun lewat berbagai seminar, tampak sedang bersemangat untuk menularkan virus anti kuliah. Tidak dalam bahasa yang sebenarnya tentu, tapi sekedar mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan perkualiahan selama ini. Di kampus, katanya, mahasiswa ibarat pemulung, memunguti barang-barang yang kemudian memenuhi otak. Ironisnya, barang-barang itu hanya akan menjadi sampah di otak. Artinya makin banyak belajar, maka makin banyak sampah ada di otak.

Menurut saya, mungkin itu yang menyebabkan banyak para lulusan akhirnya tidak berani membuka usaha sendiri, selalu saja berpikiran kalau yang namanya kerja hanyalah pergi ke kantor jam 8 pulang jam 5 sore. Tiap hari disibukkan dengan kegiatan sebagai pelaksanaan perintah dari bos. Untuk point ini saya cukup setuju, karena saya menjadi bukti nyata, sampai menjelang usia 40 ini, saya masih saja tidak punya lanscape luas untuk bisa melihat peluang entrepreneurship dalam hidup saya. Jadi beginilah akhirnya, hanya mengandalkan gaji dari perusahaan saya tercinta. Dan jika ditanya akan adakah rencana untuk membuat second money generator, saya selalu mengatakan iya, dan sayangnya itu sudah saya ucapkan hampir sepuluh tahun lalu tanpa ada realisasi sama sekali.

image

Bob Sadino menambahkan untuk tidak menanyakan prospek ketika membuka usaha, karena prospek itu dilakukan, tidak perlu dibicarakan, alias jalankan saja bisnisnya, tidak perlu terlalu dibatasi oleh perencanaan, prospek apalagi kekawatirab berlebihan.

Pemerintah sebenarnya menurut saya sudah cukup tanggap dalam mendorong masyarakat untuk berwirausaha. Ini adalah konsekuensi logis dari ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakatnya. Sebenarnya dorongan berwirausaha itu bisa diartikan bahwa pemrintah sudah mulai mengibarkan bendera putih tanpa menyerah dalam program penyediaan lapangan kerja. Ironisnya, sampai saat ini pengangguran semakin bertambah saja, apalagi dengan krisis keuangan yang katanya belum mencapai efek puncaknya.

Namun demikian terkadang antar pejabat pemerintah sendiri masih saja belum satu suara untuk urusan ini. Lihat saja bagaimana rencana perubahan peruntukan Kemang, Jakarta Selatan, yang akan disulap menjadi wilayah komersial dengan konsep yang tidak merakyat. Konsep saat ini dimana kawasan usaha yang banyak berkonsep galeri akan diubah menjadi gedung-gedung yang menjulang tinggi. Buru-buru para usahawan di sana mewanti-wanti agar tidak ada biaya retribusi baru untuk konsep baru ala pemerintah kota itu. Di sisi lain, perubahan peruntukan itu jelas menyalahi Rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) 2010. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutan bola panas ini.

Dan asli ini paling tidak mendidik masyarakat, yaitu program BLT, yang banyak kalangan berpendapat sudah menggiring masyarakat ke tahap ketagihan. Andai saja ada seorang menteri atau penasehat presiden yang dapat membuat formula ajaib, dengan menyulap dana BLT ini untuk dijadikan “kail” untuk masyarakat agar dapat mandiri, tentu acara Gelar Produk Kerajinan Indonesia di JCC pada 18-22 Maret ini akan turut membantu menciptakan entrepeneur-entrepeneur baru.

Seorang entrepeneur sangat diperlukan dalam berbagai bidang pembangunan bangsa. Termasuk politik juga, dimana saat ini kita memerlukan banyak penyegaran untuk dapat membuka pintu-pintu kemungkinan baru percepatan pembangunan. Sempat saya dengar ada seorang pakar marketing politik dari UI, Firmanzah, yang berpendapat bahwa kampanye negatif itu penting, agar kampanye menjadi lebih dinamis. Kampanye jenis ini dilakukan dengan cara menelintir isu, namun tetap mengacu kepada fakta dan data yang ada, jadi berbeda sekali dengan black campaign.

Maksud saya, pendapat-pendapat bernas dan baru inilah yang perlu dikembangkan dalam suasana perpolitikan Indonesia. Tarik ulur antara kampanye SBY di Senayan lalu dengan Megawati adalah suatu pertarungan politik yang tidak perlu diributkan, karena bagaimanapun perbedaan itu adalah lumrah dan rakyat punya potensi untuk dapat menilai mana yang lebih baik, walaupun tetap saja membutuhkan keterlibatan sebagian masyarakat lain untuk dapat membantu menerjemahkannya ke dalam bahasa sebenarnya, karena kalimat yang keluar dari mulut seorang politisi biasanya memiliki sayap, yang makna dan tafsirannya bisa “terbang” kemana-mana.

Kembali ke persoalan ketidak-nyambungan antara kuliah dengan kemampuan untuk berwirausaha. Rasanya akan cukup baik kalau pendapat om Bob tadi dijawab tuntas oleh kalangan perguruan tinggi dengan cara memberi palajaran “life skill” kepada para mahasiswanya. Jika perlu bisa dibuka jurusan entrepenuership, yang hanya akan lulus jika sang mahasiswanya sudah membuktikan memiliki usaha sendiri dengan prestasi di atas suatu pagu tertentu, misalnya dalam hal tingkat kekayaan dari hasil usahanya, besaran market share yang berhasil diambilnya, image produk yang berhasil dibangun, dan lain-lain.

 

Bermula dari tulisan pada lembar promosi Institut Teknologi Harapan Bangsa tentang prospek inustri animasi, saya sempatkan surfing ke beberapa perusahaan animasi India yang sebenarnya ada di balik kehebatan Walt Disney, Imax, Warner Brothers dan Sony. Disebut-sebut bahwa India adalah pendekar animasi unggulan di kawasan Asia Pasifik selain Filipina, Taiwan dan Korea. Sayangnya nama Indonesia tidak ada di situ, entah kapan bangsa yang dikenal memiliki banyak orang pinter ini bisa sejajar dengan minimal Filipina lah.

Kalau anda ikutan surfing ke perusahaan seperti Maya Entertainment, Pentamedia Graphics dan Toonz Animation, maka akan anda temukan kehebatan mereka dalam animasi ini. Di wesbite mereka juga ditampilkan (demo) beberapa hasil karya mereka. Luar biasa.

Maya Entertainment Ltd (MEL) adalah studio tertua, dibangun tahun 1996, bergerak di bidang animasi, efek visual, produksi content dan edukasi animasi 3D. Studionya terletak di Mumbai dan Delhi, dengan 200 pekerja seni di sana.

 

image

(http://www.mayaent.com/portfolio_animation.html)

 

image

(salah satu hasil karya MEL)

 

MEL sudah berpengalaman mendukung perusahaan-perusahaan yang mengeruk untung di bisnis entertainment seperti BBC, Rainbow, Mike Young, Electronic Arys, Sony, Activision, termasuk juga Google.

Uniknya MEL juga memiliki divisi yang bekerja di bidang pendidikan dan pelatihan untuk edukasi animasi 3D, namanya Maya Academy for Advanced Cinematics (MAAC). Akademi ini mungkin sekaligus dijadikan sumber para pekerja seninya, karena memang resource inilah yang paling penting diantara semua modal pada perusahaan animasi. Saat ini akademi ini sudah menjangkau 60 sekolah di 5 negara dengan lebih dari 10 ribu siswa. Dan bisa ditebak, MAAC memiliki linking erat (aliansi) dengan provider teknologi pendukung animasi seperti Autodesk, NVidia, Apple, HP. Untuk masalah sertifikasi keahlian, MAAC bekerjasama dengan Cambridge University , UK.

Pentamedia Graphics Ltd (PGL), dibangun pada Mei 1976, awalnya dikenal sebagai Pentafour Software And Exports (PSEL) yang bergerak di bidang perangkat elektronik seperti AC, UPS, pemanas air, stabilizer, dll. Pada tahun 2000 berubah nama menjadi Pentamedia Graphics Ltd dengan keahlian di bidang film, broadcasting, video, CD/DVD dan hiburan internet, dengan kemampuan di bidang multimedia. Memiliki kantor marketing di Hollywood, Cerritos, Singapore, Manila, Tokyo & London. Proyeknya antara lain The New Millennium TV (www.numtv.com) yang merupakan “Internet Live Broadcasting TV” pertama, yang sampai saat ini memiliki viewer sebanyak 200 ribu, tersebar di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Saat ini PSEL melakukan webcasting 17 kanal TV dari India. Dan masih ada beberapa proyek besar lain yang ditangani PGL.

image

http://www.penta-media.com

Toonz, yang dibangun tahun 1999, adalah salah satu provider animasi langganan untuk produser di USA dan Eropa, misalnya Marvel, Hallmark, Paramount, Disney, and Cartoon Network. Bahkan majalah “The Animation Magazine” memberinya predikat sebagai satu dari sepuluh studio multimedia paling top di dunia.

image

http://www.toonzanimationindia.com/toonz.htm

Satu nama lagi untuk urusan belajar animasi adalah Academi of Animation Arts and Technology (The AAAT). Akademi ini didirikan pada tahun 2003 yang mengambil spesialisasi di bidang animasi klasik. Siswa yang belajar di sana akan diajarkan story boarding, layout, disain, animasi, produksi, dan animasi computer-generated. Salah satu rumah produksinya ada di Kolkota.

image

http://www.animationacademyindia.com/index.htm

Sebenarnya masih ada beberapa studio lagi selain beberapa studio ternama di atas, dan dalam beberapa tahun ke depan dipastikan akan semakin banyak lagi, mengingat prospek industri ini yang “tidak ada matinya”, karena dibutuhkan di banyak industri baik pendidikan, games, film, berbagai media penerbitan, website, dan lain-lain.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri ?

Ada beberapa nama yang bisa anda telusuri di web, jumlahnya konon sudah lebih dari seratus studio, baik besar maupun kecil. Ada Perfext Studio yang bergerak di bidang desain arsitektur, desain WEB, maket model dan 3D visualisasi. Fate Esia Cipta, yang mengambil spesialisasi di animasi 3D dan simulasi, visual arsitektur, presentasi multimedia, dll. Ada Infinite Frameworks Studios, yang berposisi di Batam, dengan perangkat yang katanya sudah berkelas internasional, sekelas Dreamworks. Ada PT Citra Andra Media (CAM) yang memposisikan diri sebagai inkubator industri content, termasuk dalam hal pendidikan dan pelatihan buat para animator.

 

image

http://www.perfextstudio.com/

 

image

http://www.rekamatra.com/new/index.php

Beberapa hasil karya mereka bisa dilihat dari websitenya atau via Youtube. Rupanya video content provider ini dimanfaatkan juga sebagai sarana marketing para pendekar animasi Indonesia. Peluangnya cukup besar, karena memang industri animasi ini padat modal dan padat karya. Untuk menghasilkan film ala Pixar atau ILM misalnya, butuh pekerja seni sampai lebih dari seribu orang.

Dan diam-diam ada beberapa diantaranya yang menggarap order dari luar negeri. Menurut saya, sebenarnya testimony seperti ini perlu diblow-up bukan hanya untuk Indonesia saja, tapi juga ke dunia agar pasar bisa makin terbuka lebar buat dunia animasi kita.

Semoga saja dengan kehangatan “Janus Prajurit Terakhir” ataupun “Homeland” dan ratusan karya lainnya, animasi bangsa ini bisa mangejar India. Untuk itu harus ada “tangan besar” yang mau berinvestasi sekaligus melakukan manajemen yang baik sampai ke persoalan pasarnya di dunia. PP terkait yang terbaru yaitu PP 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN) perlu disambut dengan semangat empat-lima, walaupun sikap skeptis, seperti biasa, banyak mewarnai niat baik pemerintah ini. Animasi menjadi bagian dari Industri kreatif informasi dan komunikasi, dan mendapat posisi prioritas.

image

http://www.studiokasatmata.com/home.php

image

http://www.frameworks-studios.com/

Anda mungkin sudah sering mendengar istilah CAD (Computer Aided Design) terutama bagi anda yang bekerja di industri / manufacture. Mendengar istilah ini, sesuai juga dengan kepanjangannya, pasti akan terbayang perangkat komputer beserta berbagai kabel atau konektor yang terkait di dalamnya. Mungkin terbayang juga gambar suatu disain produk pada suatu komputer, misalnya gambar disain mesin mobil yang siap diproduksi pada suatu pabrik mobil. Kalau itu yang dibayangkan, anda sudah berada pada alur benar untuk mengetahui apa sebenarnya CAD itu.

Kalau melihat definisi dari Wikipedia, CAD didefinisikan sebagai penggunaan teknologi komputer dalam disain, hususnya dalam bidang drafting (gambar teknik dan rekayasa) sebagai bagian produk atau sebagai produk itu sendiri. Di dalamnya terdapat penggunaan metode komunikasi baik berbasis visual maupun berbasis simbol yang memiliki aturannya sendiri pada suatu bidang tertentu. Awalnya “hanya” menggantikan fungsi meja gambar saja, namun saat ini sudah terintegrasi dengan software CAE (Computer Aided Engineering) dan CAM (Computer Aided Manufacturing).

Catatan :

1. CAE adalah teknologi informasi yang digunakan untuk mendukung engineer dalam kegiatan analisa, simulasi, disain, manufacture, perencanaan, diagnosis, dan repair. Misalnya bagaimana menganalisa analisa tekanan (stress) suatu komponen hasil produk suatu pabrikan, maka bisa digunakan CAE tools, misalnya dengan melakukan suatu simulasi. Area CAE meliputi analisa stress pada komponen (menggunakan FEA - Finite Element Analysis), analisa flow dan thermal (menggunakan CFD - Computational fluid dynamics), simulasi kejadian mekanik (menggunakan MES - Mechanical event simulation), dan optimasi produk atau proses. Software CAE misalnya Altair RADIOSS, LSTC’s LS-DYNA, Cranes CAE suite, ESI’s PAM-CRASH (http://www.esi-group.com) yang digunakan di bidang Automotive untuk pengetesan perlindungan pengendara mobil. Tools umum lainnya yang biasa digunakan untuk analisa struktur dan analisa dinamis antara lain eta/VPG, NISA, Altair HyperWorks, BETA CAE Systems', MSC’s Patran, MSC’s ADAMS, LMS', NEi Nastran and UGS’s Scenario. Masih banyak contoh lainnya.

2. Sedangkan CAM, yang diperkenalkan pertamakali pada tahun 1971 untuk desain mobil, adalah sebutan untuk penggunaan komputer untuk mendukung engineer dan ahli mesin dalam kegiatan manufacturing. Jadi CAM sebenarnya adalah tool yang memungkinkan CAD digunakan dalam kegiatan manufacturing. CAM lah yang membuat disain komponen (hasil CAD) menjadi komponen sebenarnya secara fisik. CAM menggunakan pemrograman numerical control (NC) untuk menerjemahkan hasil disain CAD untuk menghasilkan kode-kode CNC yang kemudian akan men-drive bagian-bagian mesin pabrik.

CAD, sebagai salah satu bagian kecil dari teknologi Computer-Aided, adalah bagian dari aktivitas yang disebut Digital Product Development (DPD) dalam suatu proses Product Lifecycle Management (PLM). Bagian lainnya (selain CAD) dalam DPD ini antara lain :

  1. Computer-aided engineering (CAE) dan Finite element analysis (FEA)
  2. Computer-aided manufacturing (CAM), termasuk instruksi-instruksi pada mesin-mesin Computer Numerical Control (CNC)
  3. Photo realistic rendering
  4. Manajemen dokumentasi dan kontrol revisinya menggunakan Product Data Management

Saat ini paket-paket software CAD sudah cukup banyak, dengan kemampuan sistem drafting berbasis 2D vektor bahkan 3D solid dan surfacemodeller. Beberapa diantaranya memiliki kemampuan pemodelan matematika dinamis, yang biasa dikenal sebagai CADD (Computer Aided Design and Drafting).

Dulu CAD biasa dibuat menggunakan Fortran, namun saat ini sudah berkembang dengan kemampuan metode object-oriented, menggunakan bahasa C lengkap dengan API-nya, bersifat GUI (graphical user interface) dengan geometri NURBS dan atau boundary representation (B-rep) data melalui kernel pemodelan geometric. OS yang digunakan saat ini kebanyakan berbasis Window, sebagiannya Unix dan Linux. Beberapa diantaranya memiliki kemampuan multi OS (Windows, Linux, UNIX dan Mac OS X) misalnya as QCad, NX or CATIA V5.

Bisa ditebak bahwa kemampuan drafting CAD ini membutuhkan resource pemrosesan (di dalam komputer) yang baik, meliputi graphic card, processor, dan RAM. Teringat dulu pada awal tahun 90-an, saya pernah menginstall AutoCAD namun gagal install karena ternyata komputer saya tidak memiliki coprocessor.

Dengan CAD maka kita dapat menggambar rumah sederhana sampai gedung yang besar (rumah sakit, pabrik). Maka cost pengembangan diharapkan menurun dengan kemampuan menghemat siklus disain.

Apa saja software CAD pada saat ini?

Jika melihat-lihat berbagai software CAD yang ditawarkan provider, ada beraneka ragam dengan berbagai kelebihannya masing-masing. Ada yang menawarkan gratisan ala open source (yang biasanya menawarkan sistem CAD 2D sederhana). Ada yang masuk dalam kelompok 3D wireframe yang sebenarnya adalah ekstensi dari 2D drafting, dimana setiap garis dimasukkan secara manual dalam gambar, dan produk finalnya tidak memiliki property massa yang terasosiasi dengannya dan tidak dapat memiliki feature yang ditambahkan secara lagsung seperti “holes”.

Sedangkan program AutiCAD dan Cadjey 19 adalah software CAD yang masuk dalam golongan 3D “dumb” solids. Software ini bekerja dengan cara menirukan obyek sesungguhnya. Bentuk geometri 3D dasar-nya (prisma, silinder, sphere, dll) memiliki volume solid. Bentuk semacam ini bisanya terbatas dalam hal pembuatan “motion”-nya. Berbeda dengan pemodelan 3D parametric solid, yang digunakan pada Pro/ENGINEER, NX, the combination of UniGraphics and IDeas, CATIA V5,Autodesk Inventor, Alibre Design, TopSolid, T-FLEX CAD, SolidWorks, dan Solid Edge. Obyek dan feature pada software-software ini dapat diajust, walaupun soal kemudahan dalam modifikasi obyek tersebut sangat bergantung pada bagaimana bagian aslinya dibuat.

image

Gambar. Contoh software CAD buatan Rusia (Top System) : T-Flex (gambar diambil dari Wikipedia)

Software CAD yang lebih maju lagi adalah yang menggunakan apa yang disebut fungsi Explicit Modeller, yang diperkenalkan oleh Hewlett-Packard pada tahun 80-an dengan nama SolidDesigner. Software ini makin memudahkan penggunanya, dengan kemampuan mengedit parametric dan non-parametric geometry. Dan pada sistem CAD kelas berat, dikenal software-software yang menawarkan feature yang lebih ergonomik dan estetik misalnya Catia dan GenerativeComponents.

Saat ini harga hardware dan software yang terkait CAD ini semakin turun. Namun terkadang baru terasa mahalnya saat dibutuhkan anggaran yang kadang tidak sedikit untuk pelatihan penggunaannya, integrasi CAD/CAM/CAE PLM pada lingkungan multii-CAD dan multi platform.

Menarik sekali saat salah satu Direktur perusahaan saya di bidang Compliance & Risk Management yang memberikan statement perlunya inisiatif-inisiatif dari bawah (bottom-up) yang dapat memberikan value added bagi peningkatan kinerja perusahaan. Hebatnya lagi di perusahaan tempat saya bernaung, hal ini sudah dibuatkan payung hukumnya, dalam bentuk suatu Keputusan Direksi.

Menurut saya, saatnyalah semua karyawan berpikir sebagai entrepeneur, bagaimana menghasilkan suatu manfaat sebesar-besarnya bagi perusahaan, dan memperlakukan rekan karyawan lain sebagai anggota dalam tim yang sama, seperti para sales lapangan yang bahu-membahu berjuang memasarkan produknya (door to door).

Namun ini juga harus disadari oleh para pimpinan, yang harus menghargai pendapat atau usulan bisnis dari anak buahnya yang berada di level bottom ini. Bagaimana kemampuan menfasilitasi semua ide dan masukan yang sebenarnya menumpuk di kepala para pion di lapangan. Karenanya sudah saatnya pula karakter ini menjadi parameter yang harus dinilai ketika memilih seorang leader bisnis.

Saya punya pengalaman sedikit tentang hal ini, dimana saya pernah menjadi karyawan di lini terdepan selama hampir 10 tahun di suatu jasa teknis. Betapa banyaknya ide-ide kami secara alami mengalir begitu saja di mobil kantor saat berangkat atau pulang dari suatu proyek. Saya dan rekan-rekan secara tidak sadar sudah mengeluarkan puluhan ide setiap minggunya yang jika direnungkan dapat dianggap sebagai inisiatif bisnis. Dari mulai pembicaraan tentang kualitas hasil layanan, harga layanan, kepuasan pelanggan, kecepatan layanan, bahkan sampai ke ide pembentukan layanan baru baik sebagai added value layanan eksisting sampai ke layanan yang benar-benar baru. Dan yakinlah hal itu tidak akan dapat dibayangkan oleh sang leader yang hampir setiap harinya ada di belakang meja.

Tentang kebutuhan suatu payung hukum ini jelas maknanya untuk melindungi para inisiator, jangan sampai jika nanti bisnis usulannya tersebut gagal, maka dia akan dijadikan sebagai pesakitan, apalagi sampai didakwa korupsi karena mengeluarkan anggaran perusahaan tanpa melalui prosedur. Benar loh, ini jangan dianggap enteng, karena lagi-lagi ini benar terjadi di perusahaan saya.

Sayangnya para karyawan di lapangan seringkali tidak punya cukup waktu untuk menuliskan segala ide berbau inisiatif bisnis ini dalam suatu tulisan yang sistematis, apalagi prosedural. Disamping karena waktu yang sering habis untuk melayani kastamer secara langsung, seringkali memang kemampuan menulis semakin pudar karena pekerjaan jarang memaksanya melaporkan hasil kerja dalam bentuk laporan tertulis. Ini perlu dipikirkan, jangan sampai ide bagus hilang hanya karena tidak sempat atau tidak mampu menulis. Pimpinan lini (line manager) harus bisa mengantisipasinya, misalnya dengan mengajak berdiskusi (baca : ngobrol) dan hasil diskusi inilah yang perlu diambil titik-titik opportunity-nya.

Tentang mekanisme manajemen inisiatif bisnis ini sendiri umumnya menggunakan mekanisme manajemen secara umum, yaitu PDAC. Kalau di perusahaan saya meliputi  Inisiatif, Review, Approval, Perikatan, Implementasi dan Evaluasi. Tahapan-tahapan ini sebenarnya bentuk lain atau penjabaran dari PDAC tersebut.

Dukungan tool atau perangkat pendukung rasanya juga harus diperhatikan. Ada baiknya jika ICT yang bisa menfasilitasi ini, walaupun ini jelas tidak mutlak, sangat bergantung pada kebutuhan dan situasi kondisi perusahaan masing-masing.