Bob Sadino akhir-akhir ini lewat bukunya maupun lewat berbagai seminar, tampak sedang bersemangat untuk menularkan virus anti kuliah. Tidak dalam bahasa yang sebenarnya tentu, tapi sekedar mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan perkualiahan selama ini. Di kampus, katanya, mahasiswa ibarat pemulung, memunguti barang-barang yang kemudian memenuhi otak. Ironisnya, barang-barang itu hanya akan menjadi sampah di otak. Artinya makin banyak belajar, maka makin banyak sampah ada di otak.

Menurut saya, mungkin itu yang menyebabkan banyak para lulusan akhirnya tidak berani membuka usaha sendiri, selalu saja berpikiran kalau yang namanya kerja hanyalah pergi ke kantor jam 8 pulang jam 5 sore. Tiap hari disibukkan dengan kegiatan sebagai pelaksanaan perintah dari bos. Untuk point ini saya cukup setuju, karena saya menjadi bukti nyata, sampai menjelang usia 40 ini, saya masih saja tidak punya lanscape luas untuk bisa melihat peluang entrepreneurship dalam hidup saya. Jadi beginilah akhirnya, hanya mengandalkan gaji dari perusahaan saya tercinta. Dan jika ditanya akan adakah rencana untuk membuat second money generator, saya selalu mengatakan iya, dan sayangnya itu sudah saya ucapkan hampir sepuluh tahun lalu tanpa ada realisasi sama sekali.

image

Bob Sadino menambahkan untuk tidak menanyakan prospek ketika membuka usaha, karena prospek itu dilakukan, tidak perlu dibicarakan, alias jalankan saja bisnisnya, tidak perlu terlalu dibatasi oleh perencanaan, prospek apalagi kekawatirab berlebihan.

Pemerintah sebenarnya menurut saya sudah cukup tanggap dalam mendorong masyarakat untuk berwirausaha. Ini adalah konsekuensi logis dari ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakatnya. Sebenarnya dorongan berwirausaha itu bisa diartikan bahwa pemrintah sudah mulai mengibarkan bendera putih tanpa menyerah dalam program penyediaan lapangan kerja. Ironisnya, sampai saat ini pengangguran semakin bertambah saja, apalagi dengan krisis keuangan yang katanya belum mencapai efek puncaknya.

Namun demikian terkadang antar pejabat pemerintah sendiri masih saja belum satu suara untuk urusan ini. Lihat saja bagaimana rencana perubahan peruntukan Kemang, Jakarta Selatan, yang akan disulap menjadi wilayah komersial dengan konsep yang tidak merakyat. Konsep saat ini dimana kawasan usaha yang banyak berkonsep galeri akan diubah menjadi gedung-gedung yang menjulang tinggi. Buru-buru para usahawan di sana mewanti-wanti agar tidak ada biaya retribusi baru untuk konsep baru ala pemerintah kota itu. Di sisi lain, perubahan peruntukan itu jelas menyalahi Rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) 2010. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutan bola panas ini.

Dan asli ini paling tidak mendidik masyarakat, yaitu program BLT, yang banyak kalangan berpendapat sudah menggiring masyarakat ke tahap ketagihan. Andai saja ada seorang menteri atau penasehat presiden yang dapat membuat formula ajaib, dengan menyulap dana BLT ini untuk dijadikan “kail” untuk masyarakat agar dapat mandiri, tentu acara Gelar Produk Kerajinan Indonesia di JCC pada 18-22 Maret ini akan turut membantu menciptakan entrepeneur-entrepeneur baru.

Seorang entrepeneur sangat diperlukan dalam berbagai bidang pembangunan bangsa. Termasuk politik juga, dimana saat ini kita memerlukan banyak penyegaran untuk dapat membuka pintu-pintu kemungkinan baru percepatan pembangunan. Sempat saya dengar ada seorang pakar marketing politik dari UI, Firmanzah, yang berpendapat bahwa kampanye negatif itu penting, agar kampanye menjadi lebih dinamis. Kampanye jenis ini dilakukan dengan cara menelintir isu, namun tetap mengacu kepada fakta dan data yang ada, jadi berbeda sekali dengan black campaign.

Maksud saya, pendapat-pendapat bernas dan baru inilah yang perlu dikembangkan dalam suasana perpolitikan Indonesia. Tarik ulur antara kampanye SBY di Senayan lalu dengan Megawati adalah suatu pertarungan politik yang tidak perlu diributkan, karena bagaimanapun perbedaan itu adalah lumrah dan rakyat punya potensi untuk dapat menilai mana yang lebih baik, walaupun tetap saja membutuhkan keterlibatan sebagian masyarakat lain untuk dapat membantu menerjemahkannya ke dalam bahasa sebenarnya, karena kalimat yang keluar dari mulut seorang politisi biasanya memiliki sayap, yang makna dan tafsirannya bisa “terbang” kemana-mana.

Kembali ke persoalan ketidak-nyambungan antara kuliah dengan kemampuan untuk berwirausaha. Rasanya akan cukup baik kalau pendapat om Bob tadi dijawab tuntas oleh kalangan perguruan tinggi dengan cara memberi palajaran “life skill” kepada para mahasiswanya. Jika perlu bisa dibuka jurusan entrepenuership, yang hanya akan lulus jika sang mahasiswanya sudah membuktikan memiliki usaha sendiri dengan prestasi di atas suatu pagu tertentu, misalnya dalam hal tingkat kekayaan dari hasil usahanya, besaran market share yang berhasil diambilnya, image produk yang berhasil dibangun, dan lain-lain.

Comments (0)