E-Procurement yang diadakan Pemda Jabar yang awalnya bertujuan mulia yaitu membuat proses pengadaan menjadi lebih transparan, efisien dan efektif, ternyata malah menuai kritik tajam dari para pengusaha jasa konstruksi. Mereka merasa bahwa E-Proc ini justru menimbulkan ketidakpastian, dibuktikan dalam proses lelangnya, untuk urusan upload (sebagai syarat pendafataran lelang) saja membutuhkan waktu seharian.

Mungkin server tidak memenuhi spesifikasi, atau jaringannya tidak didisain dengan baik, atau mungkin software aplikasinya tidak pas dengan requirement. Ini memberikan pelajaran berarti bahwa segala sesuatu harus dilakukan oleh ahlinya. Dan satu hal lagi, jangan segan untuk masuk ke wilayah detail, proyek dibedah sedetail mungkin dengan perencanaan yang sekomprehensif mungkin tanpa meninggalkan syarat kepraktisannya. Seperti juga terjadi pada industri kreatif yang ditengarai banyak bermasalah dalam hal pembuatan rencana cash-flow dan business plan. Ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dalam produknya saja, karena Bank akan sulit mengucurkan dananya pada industri yang tidak jelas skema bisnisnya.

Saya tidak tahu apakah berpikir bangsa kita rata-rata memiliki kesulitan berpikir komprehensif alias sistem. Karena untuk bidanga spesialisasi yang rumit-rumit, banyak cerita terdengar betapa mumpuninya anak-anak bangsa, dari mulai menjadi jago dalam Olimpiade Fisika, Matematika, ataupun lomba-lomba sejenis lainnya. Baru saja terdengar lagi kabar kemenangan tim dari STEI ITB yang mengalahkan 29 tim dari berbagai universitas dunia dalam LSI Design Contest di Onikawa Jepang. Lomba ini merupakan kompetisi tahunan dalam perancangan chip. Terbayang betapa rumitnya bidang ini dan lebih dari itu betapa cerdasnya para mahasiswa kita itu.

Menurut saya harusnya pemerintah didominasi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir sistem. Otak cerdas tidak berarti otomatis membawa kemakmuran, karena belum tentu apa yang dipelajari benar-benar bermanfaat buat bangsa. Sederhana saja, cobalah analisa seseorang yang bekerja di bidang yang sama dengan bidang yang dipelajarinya di bangku kuliah, tanyakan berapa persen dari pelajarannya dulu terpakai dalam bekerja. Dan tanyakan hal yang sama pada puluhan rekan lainnya, dan dengan analisa statistik sederhana bisa kita buat berapa persen hasil belajar dapat bermanfaat dalam bekerja. Belum lagi dalam kasus dimana jurusan sekolah atau kuliah dulu yang berbeda, bahkan 180 derajat, dengan bidang pekerjaan yang ditekuni saat ini.

Jangan-jangan pelajaran Fisika yang diajarkan pada anak-anak kita hanya sedikit manfaatnya bagi bangsa. Begitu juga pelajaran lainnya. Karenanya saya mengajak kita semua merenungkan bersama untuk membuat disain baru pendidikan di Indonesia. Requirement saat ini apa, lalu start dari sini disainlah apa saja peta keahlian yang dibutuhkan sesuai dengan jurusan-jurusan yang ada di sekolah dan perguruan tinggi. Dari titik ini definisikan apa saja yang harus dipelajari, dan bagian yang tersulitnya adalah manajemen content-nya. Misalnya dalam jurusan pertanian, berbagai industri agro dan departemen pertanian harus duduk bersama mengajarkan kepada apa yang kini menjadi masalah dan tantangan bangsa, dan itulah yang harus dipelajari sampai mendapatkan solusi. Maka ketika lulus, anak-anak ini bisa langsung “in line” dengan industri pertanian tersebut. Link and match yang dulu didengung-dengungkan saat ini kok terlihat padam.

Jangan lupa juga untuk mengajarkan arti norma dan nilai-nilai luhur bangsa dan alam raya. Percuma otak brilian tapi kelakukan menunjukkan kebodohan dalam ahlak. Merujuk tulisan pak Usep Romli HM di dalam Renungan Jumat di Pikiran Rakyat tentang “Kiamat akan tiba”, dikatakannya bahwa menjelang kiamat, seperti saat ini, orang-orang berlomba-lomba mencari ilmu. Namun ilmu yang didapatkan tidak ada manfaatnya apa-apa, jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiripun tidak ada manfaatnya. Kemanfaatan ilmu hilang akibat manusia tidak lagi memperhatikan aturan Allah.

image

Berpikir komprehensif sama sekali tidak sama dengan berpikir “kulit luarnya” saja. Detail proses, detail program, detail masalah, adalah hal yang mestinya sudah menjadi keharusan untuk dikuasai jika ingin disebut telah mampu berpikir sistem. Semoga para pemimpin kita dari Presiden sampai Lurah, dapat menjadi pembelajar sejati untuk “ilmu” ini, agar dapat melihat segala sesuatunya lebih wise dan lebih bisa memberikan manfaat riil pada masyarakatnya.

Comments (2)

On 31 Maret 2009 pukul 05.34 , Abu Zahra mengatakan...

Menurut saya sih, kurikulum pendidikan kita banyak yang mubazir. Anak-anak kita banyak dicekoki pelajaran-pelajaran yang sebenarnya mereka tidak butuhkan.

Kecerdasan yang ditonjolkan hanya kecerdasan intelejensia semata. Mana kecerdasan emosi dan spiritualnya. Yah... wajar kalau hasilnya banyak kekerasan yang dilakukan pelajar-pelajar kita. Bayangkan kalau mental ini dibawa sampai dewasa!

Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, karena ini tugas kita bersama untuk membenahi. Semoga pemerintah mau mendengar.

 
On 30 Juli 2009 pukul 18.08 , rodhkam mengatakan...

Ya mungkin perlu ada penelitian ilmiah lebih lanjut untuk ini. Makin beragam pelajaran sebenarnya berpotensi mengasah multi kecerdasaan yg anak-anak miliki. Tapi terlalu berlebihan (dalam hal apapun juga sih) biasanya akan membawa efek negatif.