Sistem informasi Manajemen adalah serangkaian sub-sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi yang secara rasional mampu menstransformasikan data sehingga menjadi informasi dengan berbagai cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang ditetapkan.

Dari Wikipedia, disebutkan bahwa tujuan Umum dari Sistem Informasi Manajemen adalah :

1. Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain yang diinginkan manajemen.

2. Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan berkelanjutan.

3. Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Ada salah satu kekurangan dari suatu sistem informasi adalah ketidakmampuan dalam memahami cara berfikir manusia (manajer) dalam memproses data sehingga output atau proses sistem informasi manajemen tidak dapat optimal. Cara berfikir manusia ini diwujudkan dalam bentuk gaya manajemen, struktur organisasi, aturan atau kode etik, mekanisme penggajian, iklim persaiangan, inovasi, dan lain-lain. Karenanya suatu sistem informasi yang baik harusnya sudah mengakomodasi cara berfikir tersebut.

Metode manajemen yang digunakan harus jelas dulu sebelum pembuatan sistem informasi, agar pembuatan sistem dapat menyesuaikan algoritmanya sesuai dengan tujuan metode. Penggunaan metode Balanced Score Card (BSC), Economic Value Added (EVA), Activity Based Management (ABM), Six-Sigma jelas berbeda maksud, mekanisme dan tujuannya. Bahkan penerapan metode ABM di suatu perusahaan A misalnya, bisa jadi berbeda dengan penerapannya di perusahaan B, karena semuanya disesuaikan dengan gaya manajemen, kondisi yang unik, atau dengan kata lain “cara berfikir” organisasi yang berbeda antara satu dengan lainnya.

Metode ini menentukan metrik apa saja yang akan diukur, bagaimana cara mengukurnya, aplikasi apa yang akan diterapkan, dan bahkan tindakan apa yang dilakukan jika terjadi ketidaksesuain antara kriteria dengan kondisi kinerja.

Contoh penggambaran untuk penerapan cara berfikir Balanced Scorecard, dapat dilihat pada gambar berikut.

image

Gambar. Piramida balanced scorecard, diambil dari http://www.primerusconsulting.com

CONTOH KASUS

Contoh kasus ada Sistem Informasi X (SIM X) yang diterapkan pada suatu perusahaan ABC, yang digunakan terutama untuk monitoring hasil manajemen review. Status hasil pelaksanaan kesepakatan manajemen review dapat dimonitor di sini, bahkan sistem ini memiliki fasilitas notifikasi dan warning via sms dan email. Selama suatu manajemen review belum di-closed oleh pejabat yang berwenang, maka notifikasi ini akan terus dilakukan setiap hari.

image

Gambar. Bisnis Proses SIM X

Pada gambar bisnis proses SIM X terdapat metode Balanced Scorecard di dalamnya, jadi sistem informasi ini memiliki Performance Management System juga, dengan metrik-metrik Balanced Scorecard.

Metrik-metrik apa yang dimaksud di sini ?

Ya sesuai dengan keempat perpektif yang ada pada konsep BSC, yaitu perspektif finansial, perspektif kastamer, perspektif proses internal, dan perspektif pembelajaran & inovasi. Apa yang diukur dan target apa yang harus dicapai. Itu semua harus ada dalam sistem informasi SIM X tersebut.

image

Gambar. Balanced Scorecard (sumber : http://www.clickhrd.com)

image

Gambar. Balanced Scorecard (sumber : http://www.jiscinfonet.ac.u)

Maka untuk menilai bagus tidaknya sistem informasi X ini, dibutuhkan analisa tentang Balanced Scorecard, pemahaman Manajemen Review, bagaimana mekanisme di dalamnya mampu menggambarkan konsep-konsep ini, dan akhirnya tentu saja bagaimana efektivitasnya sebagai tool manajemen untuk mencapai tujuan awal dari sistem informasi SIM X pada perusahaan ABC.

Lihat contoh uraian kinerja eksekutif di bawah ini, dimana di dalamnya telah di-breakdown beberapa parameter ukuran kinerja berdasarkan kategori perspektif yang ada.

image

Gambar. Contoh Uraian kinerja eksekutif dalam Balanced Scorecard

MANAJEMEN REVIEW

Dari SOP-nya SIM X ini, dijelaskan bahwa SIM X merupakan tools bantu untuk mendokumentasikan setiap event management review yang berbentuk meeting, coffee morning, workshop atau kegiatan lain yang menghasilkan suatu kesepakatan untuk ditindaklanjuti.

Dalam ISO 9000, definisi singkatnya manajemen review adalah sebuah ulasan sistem manajemen mutu yang dilakukan secara periodik, dilakukan oleh Manajemen untuk menganalisa efektivitasnya. Namun dalam definisi umum, manajemen review ini diartikan sebagai sebuah studi suatu status proyek dan analisa alokasi sumber daya di dalamnya.

Manajemen review ini dapat dilakukan secara informal, namun pada umumnya dilakukan secara formal menyesuaikan dengan struktur organisasi dan aturan yang ada.

Di dalam manajemen review dilakukan kegiatan-kegiatan monitoring progress, menentukan rencana dan jadwal, konfimasi persyaratan dan alokasi sistem, atau mengevaluasi efektivitas pendekatan manajemen untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Hasil manajemen review ini digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan tentang aksi koreksi, perubahan alokasi sumber daya atau perubahan ruang lingkup proyek.

Berikut adalah contoh form / tabel manajemen review.

image

Tabel. Form Management Review Metting (Sumber : QualityIndonesia.com)

Dari analisa tentang definisi manajemen review ini, nampak bahwa SIM X tidak konsisten dan bias dalam menggunakan istilah manajemen review. Jika mengikuti ISO 9000, maka form harus mengikuti peryaratan mutu, lengkap dengan ketaatan dalam melakukan penomoran dokumennya, status terkontrol atau tidak, dan aturan siapa saja yang berhak mengaksesnya.

ASAS DAURHIDUP PENGEMBANGAN SISTEM

Suatu sistem informasi yang baik, secara teoritis harus taat pada asas dan standar pembuatan sistem informasi yang baik. Misalnya gambar di bawah ini, yaitu System development Lifecycle dan Tahapan perencanaan sistem informasi.

Pertanyaannya adalah apakah dalam pembuatan SIM X ini sudah mengikuti hal ini ?

Jawaban detail kemungkinan besar sulit dirumuskan karena ternyata dari tinjuan di lapangan SIM X ini didisain sudah cukup lama, sehingga informasi tentang bagaimana pembuatannya cukup sulit didapatkan. Namun demikian jika melihat kondisi saat ini, dimana sistem informasi manajemen kolaborasi sudah semakin banyak, rasanya SIM X ini sudah agak out of date.

Satu contoh saja dalam step “Support” pada gambar System development Lifecycle, dimana pada step ini dilakukan pemeliharaan dan updating sistem informasi menyesuaikan dengan kebutuhan, baik mengurangi maupun menambahkan bebera fungsi baru, dengan tujuan agar lifecycle time bisa lebih lama.

Nyatanya step ini kurang berkembang dengan baik. Dari pengamatan di lapangan, kemungkinan karena sarana feedback itu tidak dibuat oleh designer SIM X.

image

Gambar. System development Lifecycle (sumber http://muhammadiqbal97.blogspot.com)

PENGEMBANGAN SELANJUTNYA

Berikutnya ini ada beberapa “tantangan” (sekaligus tersirat di dalamnya adalah kelemahan SIM X) sehingga tool ini dapat lebih dikembangkan lagi agar dapat menjadi tool andalan sesuai dengan misi awal pembuatannya.

1. Dokumentasi yang diperluas

Dokumentasi file pada SIM X hanya sekedar mengumpulkan file untuk diupload ke dalam server. Dalam kenyataannya kadang dibutuhkan lebih dari kemampuan itu, misalnya adanya informasi History dari file dan fasilitas Search bahkan FAQ. Dengan fasilitas ini maka para pengguna SIM X dapat mengetahui filenya dalah file versi keberapa, karena bisa saja file yang digunakannya sudah kadaluwarsa (hasil download beberapa waktu lalu, padahal saat ini sudah ada versi terbaru hasil edit dari administrator).

image

(Gambar. Contoh bagian tampilan fasilitas History dari software kolaborasi Clearwiki)

2. Directory

Perlu ada fasilitas Directory yang dapat memudahkan karyawan jika ingin berkomunikasi menggunakan sarana komunikasi lainnya seperti telpon, email, dll. Dalam SIM X ini bisa memanfaatkan informasi pada database LDAP Portal, atau database HR yang mencantumkan informasi nomor telpon rumah, HP dan email address. Namun jika ini dilakukan, kelemahannya adalah bahwa data tersebut tidak update.

image

(Gambar. Contoh bagian tampilan fasilitas Directory dari software kolaborasi Clearwiki)

3. Search

Perlunya fasilitas Search untuk seluruh content yang ada pada suatu proyek pada SIM X.

4. Dashboard

Tampilan muka dari SIM X tampak terlalu kaku, dan agak sukar dipahami, terutama untuk para pengguna pemula. Diperlukan perbaikan pada tampilan awal (disebut dashboard).

image

Gambar. Contoh tampilan Dashboard pada SocialText)

5. Spreadsheet

Hasil kerja dari kolaborasi para karyawan yang terlibat dalam proyek tidak bisa “disatukan” dengan mudah, untuk kemudian dapat dimonitor bersama-sama. Laporan diberikan secara individual, dan tracking prestasi secara keseluruhan tidak mudah dibuat. Karenanya perlu ada tampilan kinerja tim secara keseluruhan secara real time.

image

Gambar. Contoh Spreadsheet pada SocialText)

6. Community Facility

Fasilitas ini mirip seperti Facebook, sehingga masing-masing anggota proyek pada SIM X dapat saling bertukar pesan (layaknya Milist) namun dengan kemampuan visual yang lebih baik.

image

Gambar. Contoh Community Facility pada SocialText)

KRITERIA PENILAIAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

Untuk menilai atau mengaudit apakah SIM X ini merupakan sistem informasi yang baik, selain harus menyesuaikan dengan tujuan, harus pula dilihat bagaimana perbandingannya dengan produk lain dan fungsi generik apa saja yang ada di dalamnya. Sebagai sebuah sistem informasi, SIM X sebenarnya bisa dianalisa atau dinilai dari sudut pandang sebagai sistem informasi secara umum.

Dalam sistem informasi manajemen semacam ini, ada beberapa parameter atau fungsi umum yang bisa dijadikan obyek analisa untu menilai canggih tidaknya sistem, antara lain :

1. Kemampuan Kolaborasi, meliputi :

a. Dashboard

b. Tim

c. Kalender / timeline

d. Kemampuna Tracking sebuah isu

e. Forum

f. Integrasi Email

g. RSS Feed

2. Manajemen Resource

a. Detil resource

b. Informasi skill resource

c. Timesheet

d. Material

e. Daftar email address

f. Cost

g. Catatan Reosurce

h. Grup

3. Manajemen Proyek

a. Manajemen tugas (task management)

b. Task feedback

c. Grant chart

d. Mind map

e. Reporting

f. Statistik

g. Work load

h. Finansial

i. Critical Path

j. Template proyek

k. Scope

l. Milestone

m. Baseline

n. Risk / Benefit

o. Analyzer

p. Automatic Notification

q. Privacy Setting

4. Kemampuan Remote

a. Multilingual

b. HP / Smartphone

5. Help / Support

a. General Support

b. Ada tidaknya Forum

c. FAQs

d. Demo Video Online

6. System Requirement

a. Window

b. Mac OS X

c. Linux

7. Harga

Dari soal biaya pembuatan, SIM bisa dibuat murah, misalnya dengan berbasis Web, hanya perlu “diinstall” di server, dibuat menggunakan PHP, Apache dan mySQL plus SMS Gateway, yang semuanya sudah tersedia free di Internet.

Dari parameter dan sub-sub nya inilah suatu sistem informasi manajemen dapat dilihat bagus tidaknya, terutama jika dibandingkan dengan sistem sejenis. Dalam prakteknya ada beberapa parameter yang perlu diberi prioritas lebih tinggi daripada lainnya, atau bahkan ada penambahan kriteria kusus, atau ada kriteria yang dapat dihapus.

Yang tidak disebutkan di atas adalah jaminan security, kelengkapan informasi, tingkat kebenaran informasi, relevansi, dan ketapatan waktu penyampaian informasi. Parameter-parameter ini bisa juga dijadikan pedoman dalam penilaian. Misalnya dalam hal completeness, jangan mentang-mentang teknologi ini berbasis ICT maka semua informasi disediakan di dashboard dengan tujuan memberi data selengkap-lengkapnya pada pengguna. Hal itu akan membuat pengguna jadi bingung mana yang harus dibaca. Namun demikian juga jangan sampai informasi terlalu singkat sampai membuat pengguna kesulitan menangkap makna informasi.

Satu hal lagi, sebelum sistem informasi dibuat biasanya dilakukan studi kelayakan, meliputi kelayakan ekonomi (echonomical feasibility), kelayakan operasi (operational feasibility), kelayakan teknik (technical feasibility), kelayakan jadwal (schedule feasibility) dan kelayakan hukum (law feasibility). Semua macam studi ini bisa saja diterapkan pada saat suatu sistem informasi sudah diterapkan dalam jangka waktu lama, karena pada saat itu kondisinya kemungkinan berbeda dengan kondisi saat sistem baru tahap perencanaan. Mungkin waktu itu sistem ini feasible dalam teknik, namun saat ini sudah tidak lagi. Lalu dari sini ambil pertimbangan apa yang harus dilakukan agar mengembalikannya ke posisi feasible lagi, bahkan bisa saja muncul keputusan untuk melakukan penggantian sistem secara keseluruhan.

Sebagai catatan akhir, perlu ditekankan bahwa yang namanya teknologi sebenarnya hanyalah pelengkap saja, karena yang lebih penting dari itu adalah bagaimana sistem informasi dapat efektif mencapai tujuannya. Kalau efisiensi yang diharapkan muncul ternyata tidak terwujud, bahkan menambah rantai birokrasi yang semakin panjang saja, tentu ini menjadi pertimbangan untuk perbaikan sistem lebih lanjut. Yang jadi masalah pelik adalah jika manusia penggunanya yang menjadi biang masalah utama, misalnya saling menyembunyikan data. Kalau begini keadaannya, sebagus apapun sistem informasi yang dibuat, tanpa ada dukungan dari para aktornya, sistem tidak bisa berbuat banyak. Semakin jelas terbukti, manusia juga yang sering menjadi sumber permasalahannya.

REFERENSI

1. Project Management Software Comparisons, http://project-management-software-review.toptenreviews.com/

2. Knowledge Management Review, http://findarticles.com

3. Clearwiki Website, http://www.clearwiki.com

4. Socialtext Website, http://www.socialtext.com

5. Mengelola Kinerja Perusahaan dengan Balanced Scorecard, http://strategimanajemen.net

6. Mutia Ismail, Konsep Sistem Informasi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

7. Teguh Wahyono, Computer Based Information System (CBIS), Ilmukomputer.com, 2005

Akhirnya Jepang, Uni Eropa dan Amerika Serikat memberi “BLT” sebesar 100 Milyar US$ untuk mendukung IMF dalam rangka membantu negara-negara di dunia yang terkena dampak krisis global. Jangan dikira ini adalah sumbangan, karena mereka pasti sudah berhitung uang itu bermuaranya kemana nantinya, pastinya untuk kepentingan mereka juga.

image

Padahal kita semua tahu bahwa krisis ini karena ulah serakahnya para pendukung liberalisme di Amerika sana. Akhirnya dunia kena getahnya, dan negera miskin menjadi negara yang makin merana. Itu artinya lagi bangsa Indonesia mungkin akan berhutang lagi, entah dengan packaging apa nanti hutang itu direalisasikan. Dari data Ichsanudin Noorsy, salah satu pengamat ekonomi, beban utang per kapita saat ini bertambah, dari yang semula 5,8 jutaaan dimasa awal kepemimpinan SBY menjadi 7,7 jutaan rupiah (jadi hutang negeri ini makin meningkat, tidak sama dengan klaim dari iklan politik yg mengatakan hutang luar negeri menurun).

Indonesia memang miskin, itu kalau dilihat dari aspek finansialnya saja. Namun kita masih punya potensi yang sangat bisa dikembangkan untuk menahan gempuran PHK, gulung tikarnya pabrik, lesunya perdagangan dan ratusan jenis kehancuran lainnya yang sebagiannya sudah mulai menampakkan wajahnya dalam beberapa bulan terakhir ini. Potensi apakah itu ? Ya, yang pasti adalah potensi alamnya, yang sayangnya tidak diikuti dengan optimalisasi potensi manusianya. Kita masih bisa menyuapi anak-anak kita dengan ikan-ikan di laut kita sendiri. Memberi mereka makan menggunakan nasi hasil bercocok tanam di ribuan hektar lahan pertanian milik kita sendiri. Ribuan liter susu dari ratusan peternakan sapi perah milik bangsa sendiri. Dan itu semua hanya butuh satu hal saja, yaitu keseriusan.

Lihatlah kesiapan logistik pemilu kita sampai hari ini, menjelang 10 harian lagi akan Pemilu, masih saja ada banyak laporan ketidaksiapan di daerah-daerah. Saya berfikirnya simple saja, itu pasti buah dari ketidakseriusan. Bayangkan saja, uang ada, orang overdosis alias banyak tersedia, metode bisa dicari, apa lagi alasan mengapa masih saja tidak siap, sampai-sampai KPU Pusat diminta sebagian pengamat untuk menyatakan kondisi darurat.

Semua memang harus dimulai, dijalankan dan diakhiri dengan keseriusan, jangan “becanda” alias “nyantai” ketika menjalankan tugas bangsa. Menjadi menteri, jadilah menteri yang serius, lincah, penuh taktik dan strategi, komprehensif dalam berpikir. Menjadi petani, jadilah petani yang serius, menanam tanaman di bumi Tuhan, maka jagalah alam dengan serius, jangan dirusak hutan-hutan yang makin kritis saja keadaaannya. Menjadi guru, seriuslah mengajar dengan cara-cara yang lebih kreatif lagi, agar anak-anak didik mendapatkan sharing pengalaman belajar mengajar, bukan hanya sekedar hafalan, asal ulangan dapat nilai 100 atau nilai A. Tambaan lagi, menjadi guru haruslah benar-benar mau mengajar, jangan malas seperti ditemukan kasusnya di Tasikmalaya, dimana ada banyak guru sukwan yang mengganti sementara untuk para guru yang sudah berstatus PNS. Dan itu terjadi di sekolah-sekolah yang guru PNS nya sudah cukup. Jika mau serius sedikit saja, guru sukwan ini bisa didistribusikan ke sekolah lain yang masih kekurangan guru. Heran, sudah lama terjadi namun baru ini ditemukenali masalahnya.

Banyak sekolah yang merasa tidak punya dana cukup untuk keperluan belajar mengajarnya. Padahal di luar sana, ada saja perusahaan volunteer yang bersedia memberi bantuan, atas nama CSR misalnya. Seandainya kepala sekolahnya serius, ajukan saja proposal, kirim ke perusahaan-perusahaan tersebut, misalnya PT Indosat dengan program ISMS (Indosat Science & Multimedia School) yang memberi bantuan laptop, akses wireless broadband, projector, software sains, pelatihan IT, kepada SMU di tanah air.

Soal kawasan lindung, juga gak kalah tidak seriusnya dalam pengelolaannya. Dalam RTRW Jawa Barat misalnya, 45% dari 3.7 hektar luas keseluruhan hutan harus berfungsi sebagai hutan lindung, tapi nyatanya belum tercapai juga. Kalau mau serius, buat penegakan hukum yang baik. Saran dari seorang pengamat lingkungan bernama Supardiyono Sobirin agar pemerintah membuat Peraturan Gubernur kusus untuk itu, rasanya masuk akal. Tentu harus diimbangi dengan penegakan hukum yang tegas.

Setali tiga uang dengan pelimpahan tanggung jawab dari negara kepada masyakarat dalam hal pendidikan nasional, seiring dengan perbedaan isi dari UUD 45 pasal 31 yang menyatakan negaralah yang bertanggung jawab menyelenggarakan sisdiknas, di sisi lain ada UU BHP, yang kontroversial itu, yang mengisyarakatkan pembiayaan penuh hanya pada pendidikan dasar saja, setengah kebutuhan biaya SMA dan sepertiga kebutuhan perguruan tinggi. Tidak seriusnya negara ditambah pula dengan ketidakseriusan para aparat pendidikannya, jadilah proses pendidikan kita masih buram seperti saat ini. Sampai-sampai KPK dan BPK harus turun tangan untuk mengecek spesifikasi bangunan sekolah yang dicurigai di bawah standar, walaupun sudah ada Dinas Pendidikan di setiap Pemkot.

Tidak hanya negara, swasta di negeri inipun haus serius jika ingin maju dalam abad kompetisi seperti saat ini. Ada kabar 40 industri content provider dipecat XL gara-gara tidak serius (baca : tidak kreatif) dalam mengembangkan value added service, sebagai pengganti voice dan SMS yang saat ini semakin turun saja. XL saja sudah meninggalkan program branding Extra Large-nya dengan branding barunya Fun & Excitement, sehingga keseriusan untuk menghasilkan layanan yang mungkin tidak murah namun bermutu sangat diperlukan.

Baru saja Telkom meluncurkan paket-paket baru Speedy-nya, yaitu dengan hadirnya 7 paket, dari mulai paket mail dengan harga Rp 75 ribu, paket chat seharga Rp 145 ribu, paket family dengan kecepatan akses up to 384 Kbps seharga Rp 195 ribu per bulan, paket Load dengan kecepatan up to 512 dengan biaya Rp 295 ribu per bulan, paket game dengan kecepatan up to 1 Mbps dengan biaya Rp 695 ribu per bulan, paket Executive dengan kecepatan up to 2 Mbps seharga Rp 995 ribu dan akhirnya paket Biz kecepatan 3 Mbps dengan biaya Rp 1.695.000. Tidak cukup sampai di sini, Telkom harus membuktikan keseriusannya untuk menjaga kinerja jaringan Internetnya jika ribuan kastamer di satu kota melakukan surfing Internet bersamaan. Bahkan dari awal penawaran ini juga bisa dilihat keseriusan dari pelayanannya dalam membantu para kastamernya yang diyakini akan banyak melakukan adjustment terhadap kebutuhannya disesuaikan dengan paket-paket yang ditawarkan. Sebagai tambahan lagi, visi kolaborasi yang saling menguntungkan dengan para content provider, terutama lokal, akan diuji dalam beberapa bulan ke depan, apakah dapat menciptakan sinergi yang positif.

Kita beralih pembicaraan ke soal pertanian. Dari dulu kita sama-sama tahu bahayanya pestisida, tapi yang terjadi petani masih saja dibiarkan menggunakannya, padahal ada beberapa alternatif lain, seperti pestisida nabati, yang berasal dari daun nimba, bawang putih, dan serai wangi, lalu setelah ditumbuk dan diendapkan semalam bahan lalu dicampurkan dengan air untuk kemudian disemprot ke hama yang dituju (misalnya ulat grayak).

Memang banyak knowledge tentang pertanian yang belum dikembangkan. Struktur pasar hasil pertanian saja belum banyak yang menelitinya, padahal ini akan dapat membantu mengetahui letak permasalahan sebenarnya mengapa petani belum bisa makmur juga, walaupun harga gabah tinggi sekalipun. Baru-baru saja ada kabar seorang Profesor Universitas Winaya Mukti melakukan penelitiannya, yaitu Prof Yogi, yang salah satu kesimpulannya menyatakan bahwa dari produk gabah menjadi beras, kenaikan harga rata-rata hanya 30 %.

Praktek ijon masih saja sering terdengar menjadi belenggu yang tidak berkesudahan dialami para petani kita. Itu sudah berumur puluhan tahun, sejak kecil (80-an) sayapun sudah pernah mendengar ceritanya dari guru-guru saya tentang betapa jahatnya praktek itu. Ternyata baru-baru saja, itupun yang pasti belum maksimal, terdengar kabar adanya usaha-usaha mengurangi dengan serius praktek ijon itu, misalnya penggalakan transaksi lelang agro.

Remedy adalah suatu software aplikasi Business Service Management (BSM), yang memungkinkan user untuk me-manage infrastuktur IT dalam perspektif bisnis. Software ini adalah buatan BMC Software, bersifat client server, dan biasa dikenal juga dengan nama AR System (Action Request System) atau ARS.

Awalnya Remedy diciptakan oleh Remedy Corp yang berdiri tahun 1990 oleh Larry Garlick. Setelah mengalami pergantian kepemilikan dan kasus kebangkrutan, akhirnya Remedy dibeli oleh BMC Software Company, dan menjadi salah satu unitnya. Saat ini BMC berkantor pusat di Houston, Texas, USA dengan 6000 karyawan di seluruh dunia.

Produk-produk BMC sebenarnya tidak hanya Remedy. Produk-produknya dapat dikategorikan antara lain berupa software untuk IT Service Management, Service Impact Management, manajemen aplikasi, manajemen operasi IT, database dan manajemen infrastruktur.

Sedangkan Remedy sendiri masuk dalam kategori sebagai IT Service Management, dimana dalam kategori ini selain Remedy ARS, ada Remedy Help Desk, Service Desk Express (awalnya disebut Magic), BMC Event Manager dan Enterprise Performance Assurance. Dengan produk-produk ini maka layanan IT dapat di delivery-kan dalam aneka fungsi bisnis.

Remedy menggunakan database pihak ketiga seperti Sybase, MS SQL Server dan Oracle sebagai sarana penyimpanan data dan metatable (source code yang memerintahkan aplikasi untuk mendukung interaksi antara user dengan data). Selain itu Remedy juga memiliki API yang bersifat terbuka, yang memberi kebebasan user untuk membuat tool sendiri melalui script tertentu yang dapat berkomunikasi langsung dengan Remedy.

Beberapa aplikasi yang ada dalam framework Remedy adalah sbb :

  • BMC Remedy Help Desk
  • BMC Remedy Service Desk: Incident Management
  • BMC Remedy Service Desk: Problem Management
  • BMC Remedy Change Management
  • BMC Remedy Customer Support
  • BMC Service Level Management
  • BMC Remedy Asset Management
  • Knowledge Base
  • ExpertDesk

Jadi Remedy ini memiliki banyak aplikasi dengan keistimewaan dan fungsinya masing-masing, karena Business Management memiliki scope yang sangat luas.

clip_image002

Lihat gambar struktur fungsi TMN di atas. Tampak bahwa dalam tinjauan layer logika, Business dan Service Management berada di atas manajemen jaringan dan elemennya. Namun demikian setiap lapisan menajemen selalu memiliki fungsi OSI berupa manajemen fault, konfigurasi, accounting, kinerja dan keamanan. Jadi dalam Remedy, fungsi-fungsi ini sudah ada di dalamnya.

Sebagai contoh produk, mari kita simak BMC Remedy Asset Configuration Management (ACM). Dengan aplikasi ini maka lisensi software dapat dimanage dengan baik, mendukung manajemen kontrak secara proaktif, dapat memberi informasi cost aset dengan lebih visible, mengintegrasikan layanan ITIL dalam mendukung workflow.

clip_image004

Dengan mengimplementasikan ACM, maka cost untuk lisensi software dapat diturunkan, menghindari pengadaan hardware dan software secara berlebihan atau justru sebaliknya, kekurangan. Selain itu dapat mengurangi cost untuk leasing dan penalti. ACM menjanjikan memberikan kemudahan dalam proses manajemen perubahan konfigurasi dan penanggulangan masalah. Dan akhirnya dapat mengurangi operational down time dan meningkatkan kualitas layanan.

Contoh produk lain BMC Service Desk Express Suite (SDES) yang merupakan tool berbasis web untuk melakukan tracking layanan secara otomatis. Produk ini menawarkan fleksibilitas dalam arsitektur dan dapat mengurangi biaya operasional, sekaligus memberikan laporan data secara grafis kepada user sebagai bahan pertimbangan untuk membuat keputusan bisnis.

clip_image006

Jadi BMC memberikan solusi komprehensif dalam bisnis IT baik dalam perencanaan, dukungan layanan, assurance layanan, automasi layanan dam optimasi layanan. BMC mengklaim diri 82 persen dari peruhaaan yang masuk dalam daftar Fortune 500 dengan lebih dari 15 ribu perusahaan telah mempercayakan BMC untuk mengontrol kompleksitas IT, meningkatkan kualitas layanan, dan mampu memenuhi kebutuhan bisnis.

Dalam pengukuran kinerja suatu perangkat yang digunakan dalam memberikan layanan kepada kastamer, PT Telkom telah menggunakan beberapa tool, diantaranya Remedy dan Chroniker. Remedy digunakan sebagai tools untuk memudahkan pelenyelesaian complain dan request handling, dimana di dalamnya parameter-parameter seperti RTH, RTS, RTC, FLR, TCC, RFR, RRC, TCT. Sedangkan Chroniker adalah software untuk mengukur perangkat infrastrukutur (hardware dan software) dengan parameter-parameter seperti AoS (Availability of Service) dan RtS (Response Time of Services).

Jika terdeteksi kesalahan dalam suatu perangkat baik software (databasem ftp, http, dll) maupun hardware, maka sistem dapat disetting untuk mengirimkan notifikasi berupa email ataupun sms yang langsung dapat dikirimkan kepada teknisi terkait.

Maka Remedy dapat diintegrasikan dengan sistem layanan otomatisasi helpdesk yang juga dimiliki Telkom, yang disebut Call Handling. Panggilan dari seseoranng yang mengadukan masalahnya dapat diarahkan ke satu nomor panggil yang berlaku nasional. Dengan demikian penanganan masalah IT dapat dipercepat, karena akar masalahnya dapat diketahui dengan cepat. Kinerja Helpdesk juga dapat diukur karena ada parameter tolok ukur yang sudah disetting dalam database di dalam sistem Remedy, sehingga setiap kegiatan petugas Helpdesk dapat terekam kinerjanya.

Remedy dapat mengetahui gangguan bukan hanya pada hardware, tapi juga software-nya. Seperti halnya kemampuannya dalam monitoring ribuan komputer sekaligus, termasuk detail software di dalamnya.

Terbayang suatu jaringan lengkap dengan terminal-terminalnya dapat dengan mudah diawasi kinerjanya, dan dengan mudah dapat diketahui jenis gangguannya. Misalnya untuk telepon umum di Indonesia, dimana menurut Kepmenhub No. 20 tahun 2001 dan 21 tahun 2001 menyebutkan bahwa operator penyelenggara jaringan tetap diwajibkan untuk menyediakan layanan telepon umum minimal 3 persen dari total kapasitas jaringan terpasangnya. Padahal selain Telkom, ada operator lain yang memiliki kewajiban yang sama yaitu Indosat (StarOne), Mobile8 Telecom (Hepi), Bakrie Telecom (Esia dan Wifone), dan Batam Bintan Telecommunication. Semuanya memiliki lisensi telepon tetap.

Mungkin saja Remedy ini diinstall dalam jaringan yang melingkupi semua telepon umum dari semua operator tersebut. Pemerintah dapat mengakses datanya via browser sehingga dengan mudah mengetahui berapa kapasitas terpasang dan dimana saja. Kinerjanya pun dapat diketahui dengan mudah oleh operator. Tentu saja untuk sampai kepada kemampuan seperti ini dibutuhkan biaya dan effort yang tidak kecil. Tantangannya terletak pada networking level manajemen antar operator, kesulitan integrasi teknis akibat beraneka ragamnya jenis telepon umum, seperti Telkom yang memiliki telepon umum coin (TUC), telepon umum kartu (TUK), telepon umum flexi, dan telepon umum kartu chip yang tersebar di sejumlah kantor Divisi Regional (Divre).

Business Software Management saat ini menggunakan referensi ITIL (Information Technology Infrastructure Library), yang menuntun bagaimana SDM, proses, dan teknologi digunakan untuk efisiensi dan efetivitas proses bisnis, termasuk dalam penentuan kualitas layanan yang sesuai dengan keinginan perusahaan, kastamer. Ada detail tentang peta peran masing-masing karyawan yang terlibat, juga bagaimana hubungan antar proses dari start sampai end.

clip_image002[1]

Gambar. IT Service Management, diambil dari “Getting ITIL Done with IT Process Automation”, OPALIS User Guide

Terkait dengan business software management ini, skema manajemen lainnya seperti revenue assurance (RA), pengaturan guarantee dan warranty (baik antara kastamer dengan perusahaan, maupun antara perusahaan dengan vendor) akan dapat didefinisikan dengan baik.

E-Procurement yang diadakan Pemda Jabar yang awalnya bertujuan mulia yaitu membuat proses pengadaan menjadi lebih transparan, efisien dan efektif, ternyata malah menuai kritik tajam dari para pengusaha jasa konstruksi. Mereka merasa bahwa E-Proc ini justru menimbulkan ketidakpastian, dibuktikan dalam proses lelangnya, untuk urusan upload (sebagai syarat pendafataran lelang) saja membutuhkan waktu seharian.

Mungkin server tidak memenuhi spesifikasi, atau jaringannya tidak didisain dengan baik, atau mungkin software aplikasinya tidak pas dengan requirement. Ini memberikan pelajaran berarti bahwa segala sesuatu harus dilakukan oleh ahlinya. Dan satu hal lagi, jangan segan untuk masuk ke wilayah detail, proyek dibedah sedetail mungkin dengan perencanaan yang sekomprehensif mungkin tanpa meninggalkan syarat kepraktisannya. Seperti juga terjadi pada industri kreatif yang ditengarai banyak bermasalah dalam hal pembuatan rencana cash-flow dan business plan. Ternyata tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas dalam produknya saja, karena Bank akan sulit mengucurkan dananya pada industri yang tidak jelas skema bisnisnya.

Saya tidak tahu apakah berpikir bangsa kita rata-rata memiliki kesulitan berpikir komprehensif alias sistem. Karena untuk bidanga spesialisasi yang rumit-rumit, banyak cerita terdengar betapa mumpuninya anak-anak bangsa, dari mulai menjadi jago dalam Olimpiade Fisika, Matematika, ataupun lomba-lomba sejenis lainnya. Baru saja terdengar lagi kabar kemenangan tim dari STEI ITB yang mengalahkan 29 tim dari berbagai universitas dunia dalam LSI Design Contest di Onikawa Jepang. Lomba ini merupakan kompetisi tahunan dalam perancangan chip. Terbayang betapa rumitnya bidang ini dan lebih dari itu betapa cerdasnya para mahasiswa kita itu.

Menurut saya harusnya pemerintah didominasi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan berpikir sistem. Otak cerdas tidak berarti otomatis membawa kemakmuran, karena belum tentu apa yang dipelajari benar-benar bermanfaat buat bangsa. Sederhana saja, cobalah analisa seseorang yang bekerja di bidang yang sama dengan bidang yang dipelajarinya di bangku kuliah, tanyakan berapa persen dari pelajarannya dulu terpakai dalam bekerja. Dan tanyakan hal yang sama pada puluhan rekan lainnya, dan dengan analisa statistik sederhana bisa kita buat berapa persen hasil belajar dapat bermanfaat dalam bekerja. Belum lagi dalam kasus dimana jurusan sekolah atau kuliah dulu yang berbeda, bahkan 180 derajat, dengan bidang pekerjaan yang ditekuni saat ini.

Jangan-jangan pelajaran Fisika yang diajarkan pada anak-anak kita hanya sedikit manfaatnya bagi bangsa. Begitu juga pelajaran lainnya. Karenanya saya mengajak kita semua merenungkan bersama untuk membuat disain baru pendidikan di Indonesia. Requirement saat ini apa, lalu start dari sini disainlah apa saja peta keahlian yang dibutuhkan sesuai dengan jurusan-jurusan yang ada di sekolah dan perguruan tinggi. Dari titik ini definisikan apa saja yang harus dipelajari, dan bagian yang tersulitnya adalah manajemen content-nya. Misalnya dalam jurusan pertanian, berbagai industri agro dan departemen pertanian harus duduk bersama mengajarkan kepada apa yang kini menjadi masalah dan tantangan bangsa, dan itulah yang harus dipelajari sampai mendapatkan solusi. Maka ketika lulus, anak-anak ini bisa langsung “in line” dengan industri pertanian tersebut. Link and match yang dulu didengung-dengungkan saat ini kok terlihat padam.

Jangan lupa juga untuk mengajarkan arti norma dan nilai-nilai luhur bangsa dan alam raya. Percuma otak brilian tapi kelakukan menunjukkan kebodohan dalam ahlak. Merujuk tulisan pak Usep Romli HM di dalam Renungan Jumat di Pikiran Rakyat tentang “Kiamat akan tiba”, dikatakannya bahwa menjelang kiamat, seperti saat ini, orang-orang berlomba-lomba mencari ilmu. Namun ilmu yang didapatkan tidak ada manfaatnya apa-apa, jangankan untuk orang lain, untuk dirinya sendiripun tidak ada manfaatnya. Kemanfaatan ilmu hilang akibat manusia tidak lagi memperhatikan aturan Allah.

image

Berpikir komprehensif sama sekali tidak sama dengan berpikir “kulit luarnya” saja. Detail proses, detail program, detail masalah, adalah hal yang mestinya sudah menjadi keharusan untuk dikuasai jika ingin disebut telah mampu berpikir sistem. Semoga para pemimpin kita dari Presiden sampai Lurah, dapat menjadi pembelajar sejati untuk “ilmu” ini, agar dapat melihat segala sesuatunya lebih wise dan lebih bisa memberikan manfaat riil pada masyarakatnya.

Bersyukurlah anda jika anda suka membaca, atau menulis, atau keduanya. Bersyukurlah jika anda doyan belajar. Karena ternyata kegiatan-kegiatan yang harusnya “biasa” ini, sampai saat ini menjadi kegiatan yang “istimewa” terutama di kalangan anak-anak sekolah dan mahasiswa. Tentu saya tidak mengatakan bahwa kegiatan ini tidak diperlukan dalam keseharian seorang karyawan, pengusaha, bahkan seorang yang tidak bekerja sekalipun wajib hukumnya membaca atau belajar.

Suatu hari tanpa disengaja saya melihat poster Seminar Pumping Sudent, yang setelah saya telusuri sumbernya di Internet, sebenarnya memiliki tujuan mulia untuk memompa semangat pelajar untuk lebih bisa sukses dalam kegiatan belajarnya, bagaimana sukses dalam ujian nasional misalnya.

Dimotori oleh seorang motivator bernama Amir Tengku Ramly, dengan lembaganya yaitu Pumping Learning Centre yang berkantor di Gedung PPIB Bogor (dekat masjid raya), lembaga ini tampaknya serius untuk dapat memotivasi para stakeholder pendidikan, tidak hanya siswa, tapi juga guru, mahasiswa, dan pemuda.

Kusus untuk guru, misalnya, ada program yang disebut pumping teacher, menjadi guru epos. Program ini ditujukan memperbaiki hubungan antara siswa dan guru berdasarkan energi positif dan kuadran guru kaya. Guru sebaiknya suka belajar, menulis, menikmati karya seni, mengamati tanda-tanda alam, membangun dan memelihara relasi dengan sebaik-baiknya. Kalau saya tambahkan dari petunjuknya mas Al Falaq Arsendatama, biasakan berpikir beda dan tidak menyerah dalam mempelajari hal-hal baru meskipun terasa sangat rumit.

Ada tulisan yang menurut saya cukup revolusioner untuk dilaksanakan di kelas, yaitu tulisan mas Aris Wahyu Prasetyo tentang “Desain Anak: Inovatifnya Pembelajaran” di http://public.kompasiana.com yang intinya memberi ide segar untuk memanfaatkan iklan, misalnya, untuk dijadikan sarana pembelajaran. Saya sependapat dengan mas Wahyu, bahkan pernah saya bayangkan ada pelajaran “analisa media” di dalam kelas, yang membahas tentang isu apa saja yang ada di koran atau majalah (termasuk berita musik, film, sinetron, bahkan gosip) dan bagaimana para murid memanfaatkan semua informasi tersebut menjadi sesuatu yang berguna.

image

Secara umum nampaknya pelatihan ini tidak beda jauh dengan pelatihan ESQ. Ada istilah-istilah “fresh” yang diciptakan dan diberi pemaknaan menggunakan ilmu manajemen modern kususnya ilmu pengembangan diri. Memang kalau kita lihat di toko buku, misalnya, buku-buku pengembangan diri selalu saja menempati ranking teratas dalam penjualan. Mungkin orang haus akan nasehat dan inspirasi yang dapat membuatnya termotivasi untuk tujuan hidupnya masing-masing.

Contoh ada kalimat dalam suatu tulisan Orbit Sukses Manusia di http://senyum127.blogspot.com menyatakan bahwa : “Membangun orbit sukses dan hidup lebih bermakna adalah upaya memberdayakan tiga kekuatan sukses (principle power, competence power dan action power) sesuai corevalues ketauhidan (Ihsan), rukun Iman dan rukun Islam yang dilakukan secara sungguh-sungguh dan focus pada orbit sukses diri pribadi”.

Seorang siswa kelas IX, warga Babakan Ciparay Bandung ditemukan tewas gantung diri. Dan berita serupa juga sempat kita dengar beberapa waktu sebelumnya. Banyak yang bilang anak-anak jaman sekarang memiliki mental yang rapuh. Dan memang saya sangat sayangkan mengapa sekolah tidak mengajarkan “bagaimana cara berpikir”, sekolah hanya mengajarkan “apa yang harus dipikir”. Menjadi tugas gurulah untuk juga membantu pembangunan mental anak-anak didiknya.

Contoh, Imam Syafi’i pernah menasehatkan kita melalui kisahnya masa menjadi pelajar, tentang keadaan hafalannya yang jelek. Lalu oleh Imam Waqi’, gurunya, diberikan nasehat “Ketauhilah, sesungguhnya ilmu itu adalah cahaya, Dan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat”. Dan mungkin ada deretan resep mujarab lainnya yang dapat diberikan pada siswa, mahasiswa, pemuda atau siapapun yang berstatus sebagai penuntut ilmu.

Kabar dari Wellington, seorang mahasiswa 18 tahun bernama Owen Thor Walker akhirnya direkrut oleh Telstra Selandia Baru, setelah sebelumnya berhasil membobol jutaan komputer dengan kerugian potensial mencapai 20 juta US$. Jika sistem hukum berpikir sempit, anak muda ini akan langsung dijebloskan ke penjara, namun sistem pendidikan modern yang lebih menghargai potensi manusia lah yang lebih dipentingkan. Akhirnya Owen bebas dan mendapatkan pekerjaan sebagai ladang kreativitasnya.

Kembali ke tema Pumping, bahkan untuk tersenyum pun diajarkan oleh mas Amir Tengku. Dinamakannya senyum 127, yang maksudnya adalah senyum yang memiliki akar kuat, bersumber dari 1 hati nurani, lebar 2 cm ke kanan dan ke kiri, dengan durasi 7 detik saja. Senyum gaya ini diklaim mampu menghasilkan energi positif yang akan mengalahkan energi negatif di sekitarnya.

Senyum ini pulalah yang diharapkan dapat dipraktekkan para guru ketika mengajar di sekolah. Entahlah kenapa saya tidak terlalu setuju jika guru terlalu ramah dengan para muridnya, karena murid ada saja yang semakin parah kelakuannya karena melihat gurunya sangat baik, yang biasanya dimaknai sebagai guru yang sangat toleran dalam segala hal.

Guru juga harus diharuskan untuk tidak saja memperhatikan anak didiknya yang belajar, tapi dia sendiri juga harus mengembangkan dirinya dengan cara belajar pula. Ilmu ini harus diamalkan. Jika niat ini tidak ada, akan diharamkan baginya keberkahan ilmu, kemuliaan dan pahalanya. Nabi bersabda bahwa “Perumpamaan orang yang mengajari orang lain kebaikan, tetapi melupakan dirinya (tidak mengamalkannya), bagaikan lilin yang menerangi manusia sementara dirinya sendiri terbakar” (HR. Thabrani. Muhaddits abad ini, Muhammad Nashiruddin Albani) .

Mungkin perlu ada pengembangan ilmu pumping motivasi semacam ini untuk pegawai negeri khususnya aparat Pemda, agar dapat menjalankan tugasnya dengan lebih baik lagi. Ada isu di suatu daerah mengalami kekuranga pegawai, di sisi lain ada daerah yang justru ditengarai kelebihan pegawai. Pemda Kuningan, misalnya, diidentifikasi kelebihan 4 ribu pegawai, yang akibatnya 80% APBD habis hanya untuk gaji dan belanja pegawai.

Terlepas dari kebenaran data di atas, yang saya cuplik dari suatu kolom di suatu harian di Bandung, kelebihan jumlah pegawai ini harus disikapi sebagai kesempatan untuk lebih baik lagi dalam menerjemahkan dan menjalankan semua kebijakan daerah sampai ke desa-desa terpencil di Kuningan. Bagaimana caranya ? Nah, ini membutuhkan kreativitas dan kemauan dari para aparat tersebut. Saya cenderung menginginkan para aparat Pemda bersikap sebagai “guru” bagi masyarakat, sehingga dalam peta peran dan sikapnya baik dalam implementasi proyek apapun terkait pembangunan di daerah, mereka mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, memberi teladan dan mengajak masyarakat untuk menjadi pembelajar sejati yang peduli dengan obyek pembangunan.

Pertanyaan saya, apa ada pejabat atau pegawai Pemda yang jago mengurusi musium yang ada di daerah kerjanya ? Contoh perpustakaan museum sejarah Jakarta, dimana dari sini sebenarnya banyak yang dapat dieksplore dan disosialisasikan kepada para anak didik terutama di Jakarta, agar mereka tidak hanya tahu tentang sebaran mall di ibukota negara, tapi juga tahu detail tentang sejarah kotanya.

Tentu saja sudah ada pelaksana teknis dari Pemda yang ditunjuk menanganinya, tapi maksud saya adalah bagaimana membuat sejarah menjadi sesuatu isu yang menarik baik dari sisi pendidikan maupun peluang dalam pariwisata. Kalimat “Jakarta akan kehilangan ruhnya ketika seluruh warisan nenek moyangnya hilang” mungkin tidak banyak dipahami orang yang tidak pernah merenungkan apa yang disebut kehidupan sejati dengan manusia utuh (jasmani dan rohani) yang menjadi subyek utama.

Mengikutsertakan dunia pendidikan dalam program pemerintah secara langsung juga merupakan salah satu cara untuk melejitkan lagi potensi anak didik. Seperti upaya Mahkamah Institusi megikutsertakan 34 Fakultas Hukum di seluruh Indonesia untuk membantu sidang sengketa hasil pemilu nanti. Saya kadang bertanya, mengapa tidak melakukan hal serupa untuk sidang korupsi yang dilakukan oleh para pejabat di daerah, sehingga penuntasan perkara dapat lebih cepat dan tidak menumpuk seperti sekarang ini yang akhirnya menyebabkan munculnya sistem tebang pilih dalam perkara korupsi.

Bob Sadino akhir-akhir ini lewat bukunya maupun lewat berbagai seminar, tampak sedang bersemangat untuk menularkan virus anti kuliah. Tidak dalam bahasa yang sebenarnya tentu, tapi sekedar mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan perkualiahan selama ini. Di kampus, katanya, mahasiswa ibarat pemulung, memunguti barang-barang yang kemudian memenuhi otak. Ironisnya, barang-barang itu hanya akan menjadi sampah di otak. Artinya makin banyak belajar, maka makin banyak sampah ada di otak.

Menurut saya, mungkin itu yang menyebabkan banyak para lulusan akhirnya tidak berani membuka usaha sendiri, selalu saja berpikiran kalau yang namanya kerja hanyalah pergi ke kantor jam 8 pulang jam 5 sore. Tiap hari disibukkan dengan kegiatan sebagai pelaksanaan perintah dari bos. Untuk point ini saya cukup setuju, karena saya menjadi bukti nyata, sampai menjelang usia 40 ini, saya masih saja tidak punya lanscape luas untuk bisa melihat peluang entrepreneurship dalam hidup saya. Jadi beginilah akhirnya, hanya mengandalkan gaji dari perusahaan saya tercinta. Dan jika ditanya akan adakah rencana untuk membuat second money generator, saya selalu mengatakan iya, dan sayangnya itu sudah saya ucapkan hampir sepuluh tahun lalu tanpa ada realisasi sama sekali.

image

Bob Sadino menambahkan untuk tidak menanyakan prospek ketika membuka usaha, karena prospek itu dilakukan, tidak perlu dibicarakan, alias jalankan saja bisnisnya, tidak perlu terlalu dibatasi oleh perencanaan, prospek apalagi kekawatirab berlebihan.

Pemerintah sebenarnya menurut saya sudah cukup tanggap dalam mendorong masyarakat untuk berwirausaha. Ini adalah konsekuensi logis dari ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakatnya. Sebenarnya dorongan berwirausaha itu bisa diartikan bahwa pemrintah sudah mulai mengibarkan bendera putih tanpa menyerah dalam program penyediaan lapangan kerja. Ironisnya, sampai saat ini pengangguran semakin bertambah saja, apalagi dengan krisis keuangan yang katanya belum mencapai efek puncaknya.

Namun demikian terkadang antar pejabat pemerintah sendiri masih saja belum satu suara untuk urusan ini. Lihat saja bagaimana rencana perubahan peruntukan Kemang, Jakarta Selatan, yang akan disulap menjadi wilayah komersial dengan konsep yang tidak merakyat. Konsep saat ini dimana kawasan usaha yang banyak berkonsep galeri akan diubah menjadi gedung-gedung yang menjulang tinggi. Buru-buru para usahawan di sana mewanti-wanti agar tidak ada biaya retribusi baru untuk konsep baru ala pemerintah kota itu. Di sisi lain, perubahan peruntukan itu jelas menyalahi Rencana tata ruang dan wilayah (RTRW) 2010. Yah, kita lihat saja nanti bagaimana kelanjutan bola panas ini.

Dan asli ini paling tidak mendidik masyarakat, yaitu program BLT, yang banyak kalangan berpendapat sudah menggiring masyarakat ke tahap ketagihan. Andai saja ada seorang menteri atau penasehat presiden yang dapat membuat formula ajaib, dengan menyulap dana BLT ini untuk dijadikan “kail” untuk masyarakat agar dapat mandiri, tentu acara Gelar Produk Kerajinan Indonesia di JCC pada 18-22 Maret ini akan turut membantu menciptakan entrepeneur-entrepeneur baru.

Seorang entrepeneur sangat diperlukan dalam berbagai bidang pembangunan bangsa. Termasuk politik juga, dimana saat ini kita memerlukan banyak penyegaran untuk dapat membuka pintu-pintu kemungkinan baru percepatan pembangunan. Sempat saya dengar ada seorang pakar marketing politik dari UI, Firmanzah, yang berpendapat bahwa kampanye negatif itu penting, agar kampanye menjadi lebih dinamis. Kampanye jenis ini dilakukan dengan cara menelintir isu, namun tetap mengacu kepada fakta dan data yang ada, jadi berbeda sekali dengan black campaign.

Maksud saya, pendapat-pendapat bernas dan baru inilah yang perlu dikembangkan dalam suasana perpolitikan Indonesia. Tarik ulur antara kampanye SBY di Senayan lalu dengan Megawati adalah suatu pertarungan politik yang tidak perlu diributkan, karena bagaimanapun perbedaan itu adalah lumrah dan rakyat punya potensi untuk dapat menilai mana yang lebih baik, walaupun tetap saja membutuhkan keterlibatan sebagian masyarakat lain untuk dapat membantu menerjemahkannya ke dalam bahasa sebenarnya, karena kalimat yang keluar dari mulut seorang politisi biasanya memiliki sayap, yang makna dan tafsirannya bisa “terbang” kemana-mana.

Kembali ke persoalan ketidak-nyambungan antara kuliah dengan kemampuan untuk berwirausaha. Rasanya akan cukup baik kalau pendapat om Bob tadi dijawab tuntas oleh kalangan perguruan tinggi dengan cara memberi palajaran “life skill” kepada para mahasiswanya. Jika perlu bisa dibuka jurusan entrepenuership, yang hanya akan lulus jika sang mahasiswanya sudah membuktikan memiliki usaha sendiri dengan prestasi di atas suatu pagu tertentu, misalnya dalam hal tingkat kekayaan dari hasil usahanya, besaran market share yang berhasil diambilnya, image produk yang berhasil dibangun, dan lain-lain.

 

Bermula dari tulisan pada lembar promosi Institut Teknologi Harapan Bangsa tentang prospek inustri animasi, saya sempatkan surfing ke beberapa perusahaan animasi India yang sebenarnya ada di balik kehebatan Walt Disney, Imax, Warner Brothers dan Sony. Disebut-sebut bahwa India adalah pendekar animasi unggulan di kawasan Asia Pasifik selain Filipina, Taiwan dan Korea. Sayangnya nama Indonesia tidak ada di situ, entah kapan bangsa yang dikenal memiliki banyak orang pinter ini bisa sejajar dengan minimal Filipina lah.

Kalau anda ikutan surfing ke perusahaan seperti Maya Entertainment, Pentamedia Graphics dan Toonz Animation, maka akan anda temukan kehebatan mereka dalam animasi ini. Di wesbite mereka juga ditampilkan (demo) beberapa hasil karya mereka. Luar biasa.

Maya Entertainment Ltd (MEL) adalah studio tertua, dibangun tahun 1996, bergerak di bidang animasi, efek visual, produksi content dan edukasi animasi 3D. Studionya terletak di Mumbai dan Delhi, dengan 200 pekerja seni di sana.

 

image

(http://www.mayaent.com/portfolio_animation.html)

 

image

(salah satu hasil karya MEL)

 

MEL sudah berpengalaman mendukung perusahaan-perusahaan yang mengeruk untung di bisnis entertainment seperti BBC, Rainbow, Mike Young, Electronic Arys, Sony, Activision, termasuk juga Google.

Uniknya MEL juga memiliki divisi yang bekerja di bidang pendidikan dan pelatihan untuk edukasi animasi 3D, namanya Maya Academy for Advanced Cinematics (MAAC). Akademi ini mungkin sekaligus dijadikan sumber para pekerja seninya, karena memang resource inilah yang paling penting diantara semua modal pada perusahaan animasi. Saat ini akademi ini sudah menjangkau 60 sekolah di 5 negara dengan lebih dari 10 ribu siswa. Dan bisa ditebak, MAAC memiliki linking erat (aliansi) dengan provider teknologi pendukung animasi seperti Autodesk, NVidia, Apple, HP. Untuk masalah sertifikasi keahlian, MAAC bekerjasama dengan Cambridge University , UK.

Pentamedia Graphics Ltd (PGL), dibangun pada Mei 1976, awalnya dikenal sebagai Pentafour Software And Exports (PSEL) yang bergerak di bidang perangkat elektronik seperti AC, UPS, pemanas air, stabilizer, dll. Pada tahun 2000 berubah nama menjadi Pentamedia Graphics Ltd dengan keahlian di bidang film, broadcasting, video, CD/DVD dan hiburan internet, dengan kemampuan di bidang multimedia. Memiliki kantor marketing di Hollywood, Cerritos, Singapore, Manila, Tokyo & London. Proyeknya antara lain The New Millennium TV (www.numtv.com) yang merupakan “Internet Live Broadcasting TV” pertama, yang sampai saat ini memiliki viewer sebanyak 200 ribu, tersebar di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. Saat ini PSEL melakukan webcasting 17 kanal TV dari India. Dan masih ada beberapa proyek besar lain yang ditangani PGL.

image

http://www.penta-media.com

Toonz, yang dibangun tahun 1999, adalah salah satu provider animasi langganan untuk produser di USA dan Eropa, misalnya Marvel, Hallmark, Paramount, Disney, and Cartoon Network. Bahkan majalah “The Animation Magazine” memberinya predikat sebagai satu dari sepuluh studio multimedia paling top di dunia.

image

http://www.toonzanimationindia.com/toonz.htm

Satu nama lagi untuk urusan belajar animasi adalah Academi of Animation Arts and Technology (The AAAT). Akademi ini didirikan pada tahun 2003 yang mengambil spesialisasi di bidang animasi klasik. Siswa yang belajar di sana akan diajarkan story boarding, layout, disain, animasi, produksi, dan animasi computer-generated. Salah satu rumah produksinya ada di Kolkota.

image

http://www.animationacademyindia.com/index.htm

Sebenarnya masih ada beberapa studio lagi selain beberapa studio ternama di atas, dan dalam beberapa tahun ke depan dipastikan akan semakin banyak lagi, mengingat prospek industri ini yang “tidak ada matinya”, karena dibutuhkan di banyak industri baik pendidikan, games, film, berbagai media penerbitan, website, dan lain-lain.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri ?

Ada beberapa nama yang bisa anda telusuri di web, jumlahnya konon sudah lebih dari seratus studio, baik besar maupun kecil. Ada Perfext Studio yang bergerak di bidang desain arsitektur, desain WEB, maket model dan 3D visualisasi. Fate Esia Cipta, yang mengambil spesialisasi di animasi 3D dan simulasi, visual arsitektur, presentasi multimedia, dll. Ada Infinite Frameworks Studios, yang berposisi di Batam, dengan perangkat yang katanya sudah berkelas internasional, sekelas Dreamworks. Ada PT Citra Andra Media (CAM) yang memposisikan diri sebagai inkubator industri content, termasuk dalam hal pendidikan dan pelatihan buat para animator.

 

image

http://www.perfextstudio.com/

 

image

http://www.rekamatra.com/new/index.php

Beberapa hasil karya mereka bisa dilihat dari websitenya atau via Youtube. Rupanya video content provider ini dimanfaatkan juga sebagai sarana marketing para pendekar animasi Indonesia. Peluangnya cukup besar, karena memang industri animasi ini padat modal dan padat karya. Untuk menghasilkan film ala Pixar atau ILM misalnya, butuh pekerja seni sampai lebih dari seribu orang.

Dan diam-diam ada beberapa diantaranya yang menggarap order dari luar negeri. Menurut saya, sebenarnya testimony seperti ini perlu diblow-up bukan hanya untuk Indonesia saja, tapi juga ke dunia agar pasar bisa makin terbuka lebar buat dunia animasi kita.

Semoga saja dengan kehangatan “Janus Prajurit Terakhir” ataupun “Homeland” dan ratusan karya lainnya, animasi bangsa ini bisa mangejar India. Untuk itu harus ada “tangan besar” yang mau berinvestasi sekaligus melakukan manajemen yang baik sampai ke persoalan pasarnya di dunia. PP terkait yang terbaru yaitu PP 28 tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional (KIN) perlu disambut dengan semangat empat-lima, walaupun sikap skeptis, seperti biasa, banyak mewarnai niat baik pemerintah ini. Animasi menjadi bagian dari Industri kreatif informasi dan komunikasi, dan mendapat posisi prioritas.

image

http://www.studiokasatmata.com/home.php

image

http://www.frameworks-studios.com/