Ada satu juta blogger di Indonesia sampai awal 2009 ini, dan dipastikan akan terus bertambah mengikuti distribusi eksponensial, apalagi dengan semakin hebatnya teknologi internet yang menumpang kedigdayaan teknologi seluler, sehingga makin memudahkan penjajahan internet di seluruh jengkal ibu pertiwi. Akhirnya bahasa dan sastra Indonesia menemukan the killer application-nya, sehingga tidak perlu kawatir akan hilang atau tenggelam di telan gemuruh teknologi dan sifat sok modern yang melanda hampir semua generasi dan semua kelas ekonomi.

ICT memang tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup. Biarkan saja jika nanti ada pelatihan menulis sms dan email asmara bagi para mahasiswa, seperti yang dilakukan di Postdam University baru-baru ini. Biarkan saja para TKI kita di Hongkong sana kerajingan menulis kisah nasibnya. Biarkan saja beberapa guru-guru SMA mulai menggunakan blog sebagai sarana komunikasinya, agar suatu saat nanti tidak perlu ada buku wajib lagi. Biarkan saja para sastrawan membuat “database raksasa” via komunitasnya untuk satu persatu mengupas lebih dalam lagi sastra Indonesia yang berpotensi sebagai salah satu sumber keagungan sastra dunia. Biarkan saja para sejarawan memasukkan jutaan foto dan kisah sejarah bangsa, sehingga andai situs Majapahit di Trowulan hilang di telan mesin modernisasi, maka jejaknya masih sangat mudah dilihat dan dipelajari oleh suatu generasi di pesawat antariksa raksasa nanti.

Romi Satria Wahono bilang kalau di Indonesia sudah memiliki 400-an independent software vendor (ISV) dengan jumlah tenaga ahli didalamnya mencapai 72 ribu orang. Bukan apa-apa dibandingkan India yang mungkin sudah hitungan jutaan. Biar sajalah, yang lebih penting adalah bagaimana ISV Indonesia diperhitungkan oleh bangsanya sendiri dan mudah-mudahan oleh dunia. Saat ini trend-nya adalah pembuatan software as service (SAS), yaitu software berbasis pelayanan pada jaringan, misalnya e-learning via Internet.

Sebenarnya bidang lain juga banyak membutuhkan ilmu ICT yang dapat dikembangkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Dan itu butuh kepedulian dari yang bersangkutan. ICT di kepolisian, misalnya, jelas masih sangat berpotensi untuk bisa ditingkatkan. Bagaimana polisi atau penegak hukum umumnya bisa melayani masyarakat dengan mengandalkan teknologi ICT.

Ada Jim Geoverdi, yang terkenal dengan kemampuan di bidang security jaringan. Ada Kendro Hendra, dengan InTouch-nya yang salah satu produk softwarenya dipakai oleh Nokia, yaitu Air Guard, sehingga jika ponsel dicuri orang, maka data didalamnya tetap bisa terjaga, bahkan kita masih bisa menghubungi pencurinya walau dia sudah mengganti simcard-nya.

Ada Game Nusantara Online, sebuah game asli Indonesia yang bertutur tentang sejarah bangsanya, Pesona Edukasi, dengan mesin ANGEL (Another Game Engine Library) yang merupakan hasil karya sendiri. Ada pula Pesona Edu, dengan software pendidikan untuk SD sampai SMA. Braincode, provider untuk mobile content di Indonesia, yang CEO-nya sempat mendapatkan Asia’s Best Entrepeneur oleh Business Week. Pesona Edu ini memproduksi mobile TTS, java games, mobile comics, wallpaper. Telkomsel, Indosat, TelkomFlexi, Esia, 3, Smart, adalah nama-nama pengguna softaware produksinya.

Mungkin masih banyak lagi cerita-cerita yang dapat menambah kepercayaan diri bangsa ini untuk bisa bermain lebih “ke luar pagar rumah”. Biar sajalah kalau iklim bisnis software masih belum bagus karena mungkin pemerintah belum mengerti benar tentang bisnis yang mengutamakan kecerdasan dan kreativitas ini (itu pulalah mungkin penyebab mengapa Mas Kendro membuka kantornya di Singapura).

Yuswohady dalam bukunya “Crowd”, merumuskan energi marketing sebagai hasil perkalian dari worth of mouth dengan community pangkat 2 (uniknya rumus ini sepintas mirip dengan rumus mister Einstein). Kalau coba saya perluas ini dalam sebuah konsep “menjual Indonesia” dalam peta perdagangan dunia, utamanya ICT, saya melihat potensi yang sangat besar jika kita berhasil membangun aspek community-nya. Itu saja, tidak perlulah pemerintah membangun kekuatan worth of mouth karena memang pada dasarnya bangsa ini suka ngobrol, walaupun pada dekade-dekade terakhir kehilangan daya magisnya, karena orang sudah mulai individualistis. Asalkan fasilitas community ada, maka pasti orang-orang akan ramai atau aktif di dalamnya. Terbukti dengan facebook, friendster, atau komentar-komentar di berbagai sarana ngobrol di internet, Indonesia yang memiliki “karunia” jumlah penduduk yang sangat besar ini adalah termasuk juaranya.

Tinggal sekarang masalah mengarahkannya saja. Namun ini adalah pekerjaan rumah sebenarnya, yang justru sangat sulit dilakukan kalau menggunakan cara-cara konvensional seperti saat ini. Saya pernah mimpikan kalau seluruh anggota kabinet dan DPR adalah orang-orang asing, profesional, yang tidak ada hubungan apapun dengan partai-partai. Mereka bisa bekerja secara profesional, seperti halnya para pemain bola kesebelasan nasional Singapura sekarang, yang sudah hampir separuhnya adalah pemain “asing”-nya. Jika sinergi dan profesionalitas tercipta, mengarahkan program pembangunan, termasuk di dalamnya adalah program terkait ICT, mungkin tidak serumit yang dirasakan saat ini.

Coba bayangkan kekuatan blogger Indonesia jika diarahkan untuk memanaskan jagad internet dengan temuan-temuan bangsa sendiri, contohnya rekayasa pembuatan plastik dengan bahan pati sagu dan lemak sawit. Hasilnya adalah sebuah bioplastik yang ramah lingkungan. Penciptanya adalah Khaswar Syamsu, dari IPB. Contoh lain (dan ini sangat mudah, tinggal mau atau tidak saja) adalah blogger sebagai jurnalis yang melaporkan apa saja ketidakberesan di daerahnya masing-masing. DBD yang diberitakan sudah mulai merengut nyawa penduduk di daerah Bekasi pada minggu ini misalnya, dapat saja sejak dini dilaporkan ke publik via blog. Tentu saja blog-blog ini tidak menyebar, bisa dikumpulkan dalam satu blog park. Contoh lain lagi jika ada pencemaran di suatu sungai oleh suatu pabrik. Foto dan aneka cerita di dalamnya bisa saja dilaporkan via blog. Pembaca atau blogger lain bisa saling menimpali dengan penjelasan tentang UU 23 tahun 1997 tentang ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup, UU No 7 tahun 2004 tentag Pengelolaan Sumber daya air, UU No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Banyak cara untuk sama-sama berdiskusi dengan cara yang lebih smart lagi daripada cara diskusi via milist yang sudah banyak dipraktekkan para pencinta internet.

Mengapa dugaan di media tidak dibalas dengan counter statement sekaligus penjelasannya via blog ? Tidak usah lah menunggu website kusus, atau perlu banyak verifikasi dulu dari pejabat-pejabat yang terkait. Tidak akan selesai-selesai kalau begini caranya. Bebaskan saja semua anggota organisasi membuat blog untuk keperluan pengawasan, perencanaan dan pelaksanaan. Jika ada dugaan deptan memiliki 117 rekening liar hasil temuan BPK, para karyawan deptan bisa ramai-ramai melakukan counter via blog. Apa susahnya menjelaskan segala sesuatunya jika rekening itu memang dibuat untuk suatu kepentingan kusus operasional deptan, misalnya. Tapi jika benar ada, itulah masalahnya, informasi ini tidak mungkin dishare via internet. Apalagi kalau benar-benar muncul karena praktek KKN, wah…kelu rasanya jari para karyawan untuk “bercerita”.

Bayangkan juga jika pemetaan flu burung dengan cara mencari induk semang atau hewan yang menjadi pangkal penular berhasil dilakukan di Indonesia. Bisa ditebak, nama bangsa akan mashur di mata dunia. Dan community bisa membantu tracking ini.

Ketika dalam suatu kesepatan mengajar anak-anak SMK di suatu kota, saya sempat dikejutkan dengan beberapa murid yang ternyata memiliki wawasan lebih luas tentang berbagai hal di internet. Hebat nian generasi sekarang, mungkin tidak perlu diajari apa-apa, cukup difasilitasi dan “dipancing-pancing” saja, dia akan bisa belajar secara otodidak dengan kecepatan belajar yang jauh lebih tinggi dibandingkan generasi 70 atau 80-an.

Melengkapi buku Recode your Change DNA, Rheinald Khasali membeberkan howto-nya yaitu jika obyek pengamatan berupa universitas, maka re-code lah pola pikir dan pengajarannya. Jika ia berupa birokasi dan lembaga pelayanan publik, re-code lah kepemimpinan, prosedur dan mekanisme. Dan jika ia berupa kesehatan, re-code lah pelayanan yang tidak informatif. Maka dicontohkan oleh Pak Rheinald pada apa yang disebutnya Participant Centered-Learning atau PLC, dimana dia mengharuskan mahasiswa bertanya pada awal kuliah dari bahan bacaan yang diwajibkan, dan kuliah diberikan belakangan. Semangat participant ini adalah juga semangat community.

Klaim bahwa hampir semua keberhasilan SBY adalah hasil karya SBY plus partai demokratnya, tentu akan mengundang senyum bagi para pemerhati dan para tracker perjalanan pemerintahannya. Perdamaian Aceh, BTL (Bantuan Tunai Langsung), kredit usaha rakyat, turunnya harga BBM, menjadi beberapa contoh klaimnya. Pasalnya ada sebagian pengamat mengatakan bahwa semua juga tahu kalau justru JK yang jauh lebih berperan di situ. Andai SBY memanfaatkan community untuk mensosialisasikan apa saja yang telah dilakukannya sejak hari pertama menjabat, tentu tidak akan menjadi begini. Tapi masyarakat punya memori yang pendek kok, suka lupa akan kejadian di masa silam, atau cuek saja karena lebih memprioritaskan urusan perut.

Anehnya kita semua tidak menggunakan penderitaan masa lalu sebagai pembelajaran. Sudah tahu kalau saat musim hujan dan angin besar datang, nelayan kesulitan mendapatkan ikan. Mengapa tidak melakukan intensifikasi budidaya ikan saja di darat. Tentu ini tidak bisa terealisasi tanpa bantuan pemerintah. Semua harus ada perintisannya. Dan yang harus mengawal tentu saja pemerintah, sambil terus mengupayakan perbaikan ekosistem pantai.

Kafe Bedugal di Bukti Tinggi sempat jadi sasaran teroris, begitu klaim polisi, yang saat ini sedang menyidangkan para calon pelaku-pelakunya. Jika klaim itu benar, harrrre gini masih saja ada sekelompok orang yang membocorkan perahu bangsa hanya demi janji “surga” yang tidak jelas dan tidak masuk akal. Adakah masyarakat tidak peduli dengan itu semua? Saya berharap jauh agar para blogger tidak melulu menceritakan sejarah dirinya saja di blog (sebagai bentuk narcis baru – walaupun tetap banyak manfaatnya), tetapi jauh dari itu adalah menceritakan tentang lingkungan mereka, sehingga bisa dishare dengan berbagai community.

UU BHP katanya bagai pedang bermata dua. Mata satu untuk memberi landasan hukum untuk mencari anggaran secara mandiri sekalian agar bisa beroperasi lebih efisien, mata satunya lagi dapat menimbulkan komersialisasi. Mengapa tidak menggunakan kekuatan community saja ? Dosen saya pernah bilang, kalau kita sedang kumpul-kumpul di kantin, apakah saat itu tidak mungkin untuk dilakukan proses belajar-mengajar ? Mengapa suatu proses belajar-mengajar harus dibatasi dalam ruang kelas saja? Perlu diingat bahwa community ini bukan sekedar kongkow di dunia maya ala friendster, tapi juga kumpul konvensional ala ngopi di warteg atau merayakan ulang tahun teman sekelas di McD.

Tentu saja sebagaimana konsep apapun di dunia ini, community juga punya titik kelemahan. Saya bisa belajar sedikit-sedikit cara santet dari wawasan yang diberikan Gede Mahendra. Saya bisa bikin bom, bisa menghabiskan waktu keluarga dengan surfing di Internet, dan lain-lain. Community perlu kedewasaan, tetapi community memudahkan pendewasaan seseorang.

UU Guru dan Dosen yang mensyaratkan guru minimal berkualifikasi D-4/S-1 agar bisa ikut sertifikasi guna memperoleh tunjangan profesi tidak akan berjalan dengan baik jika guru akhirnya hanya konsen pada bagaimana mencapai sertifikat ini tanpa mempedulikan lagi tugas utamanya sebagai pengajar. Makanya dibuatlah inovasi berupa program pembelajaran jarak jauh. Lihatlah bagaimana internet, sekali lagi mampu memberi solusinya. Namun perlu diawasi terus bagaimana kualitas hasil inovasi ini, jangan hanya asal berjalan saja, tanpa ada kepedulian terhadap kualitas guru atau dosen tersebut.

E=wcM^2, mungkin sudah waktunya Einstein diangkat menjadi guru marketing juga.

Comments (1)

On 28 Januari 2009 pukul 08.19 , rodhkam mengatakan...

Oke Mas Arif, saya sudah masukkan http://regedit.blog.telkomspeedy.com sebagai website pilihan saya di blog ini.
Thanks ya.