Ada beberapa arti local genius, diataranya adalah roh pelindung yang menjaga tiap orang atau tempat. Definisi ini mungkin sudah jarang dipahami orang. Arti lain yang lebih sering dipakai akhir-akhir ini adalah ciri khas yang menunjukkan keistimewaan suatu tempat. Maka bila merujuk definisi terakhir, maka tata cara tanam padi, pengobatan tradisional, nasib, upaya harmonisasi terhadap lingkungan sekitar , adalah beberapa kegiatan yang dapat masuk dalam kategori local genius ini.

Judul tulisan saya kali ini terilhami dari judul tulisan pak Bandung Mawardi di harian kompas edisi 3 Januari 2009 yang berkisah tentang sosok Jawa nan genius bernama Sosrokartono, yang sempat menggegerkan Belanda dan Eropa pada awal abad 20 karena penguasaannya dalam bidang linguistik (mampu menguasai 9 bahasa timur dan 17 bahasa barat). Sang genius lokal kita ini terkenal pula dengan kemampuan pergaulannya yang luas dengan tokoh-tokoh intelektual baik di Indonesia maupun Belanda.

Yang menjadi semakin menarik karena pada akhirnya Sosrokartono mendalami ilmu manuggaling ilmu dan laku, salah satunya dengan memproduksi ilmu kantong kosong kantong bolong, yaitu “nulung pepadane, ora nganggo mikir wayah, waduk, kantong. Yen ana isi lumuntur marang sesami”. Maksudnya tolonglah sesama tanpa melihat waktu, perut dan kantong (anggaran, dana). Kalau ada rejeki, langsung digunakan untuk menolong sesama.

Khairul Ihwan, MT, kelahiran suatu desa di Lombok Timur, guru SMK, penggagas pengubahan asap hasil pembakaran batu bata menjadi pestisida organik, adalah juga local genius. Sempat membuat dosen pembimbingnya tersenyum-senyum ketika dia menyodorkan ide itu menjadi judul thesisnya, apakah iya dapat direalisasikan. Dan dia dapat membuktikannya, yang akhirnya penduduk sekitar rumahnya bisa mendapatkan manfaatnya.

Kedua orang berbeda jaman ini mungkin tidak persis bisa dikatakan sebagai produk local genius, walaupun mungkin benar merupakan jenius yang lokal, maksudnya orang jenius yanng berasal dari daerah, bukan melulu Jakarta. Aneh, orang pintar berprestasi kok harus selalu harus mendekati Jakarta alias Jawa. Distribusi fasilitas pengembangan bakat, menumpuk di Jawa. Para jenius luar Jawa sebagian besar berkiprah di Jawa, bagaimana dengan daerahnya sendiri ? Tentu ini bukan salah mereka sendiri, karena sistem “eksisting” sudah parah. Sebagian orang pintar lari ke luar negeri, minimal ke Malaysia, Singapura dan Australia, bahkan ada yang ke Amerika, menyebar ilmu disana, padahal negeri sendiri sedang membutuhkan kiprah orang-orang pintarnya. Apa boleh buat, pemerintah dan rakyatnya tidak peduli dengan itu semua. Boro-boro memikirkan hal seperti itu, perut sebagian rakyat masih sering keroncongan menahan lapar (anehnya yang kenyang masih doyan korup!).

Kini dibutuhkan banyak sekali local genius yang mampu menjadi eksekutor cerdas dalam wilayahnya masing-masing. Diperlukan pejabat Pemda yang jenius untuk bisa membantu menekan inflasi di Jawa Barat yang tahun 2008 ini sudah mencapai dua kali pada tahun 2007, gara-gara kenaikan BBM dan makin menurunnya daya beli rakyat. Diperlukan local genius juga untuk menekan defisit anggaran pada APBD 2009, dimana akhirnya banyak studi banding ke luar negeri (yang mungkin sebagiannya tidak langsung berdampak baik pada masyarakat) dicoret untuk dapat menekan defisit tersebut. Pertanyaannya mengapa tidak memanfaatkan IT sebaga penekan defisit ?

Masih ditunggu local genius ala Sultan Jogja yang mencoba peruntungannya dalam Pilpres 2009. Kalau menurut saya sih terlalu berat mimpinya, tapi mungkin kanjeng sultan punya hitung-hitungan lain atau mungkin “sekedar” melaksanakan tugasnya sebagai raja. Atau jutsri karena beliau adalah local genius (bagi lingkungan rakyat Jogja yang ala Mataram), maka itu jutsru menjadi kartu mati untuk menjadi “interlocal genius”, agar rakyat di Manado sana mau memilihnya, misalnya.

Bagaimana kalau kita mencari akal berfikir global bertindak lokal dalam mengelola Trowulan, agar tidak menjadi semakin parah seperti sekarang ? Andai Pusat Informasi Majapahit itu tidak menghancurkan bagian candi di bawahnya, emang iya gitu sejarah Majapahit dapat tetap terpelihara ? Apa ada efeknya terhadap masyarakat dan negara ? Kenapa tidak kita “jual” saja sejarah dan potensi budaya yang sangat besar ini ke luar negeri. Kita kasih bumbu-bumbu magic dan cerita-cerita teng kehebatan sang Gajah Mada, lalu kita beritakan besar-besaran via mass media plus internet, agar orang-orang dunia pada penasaran untuk datang ke Trowulan, melakukan penelitian, menyalurkan energi penasarannya, sehingga pariwisata kita sekalian terkatrol di sana. Biar saja orang-orang luar itu kita pancing untuk bisa memberikan engineering effort pada semua segi budaya trowulan. Banyak kok para filantropis budaya. Banyak dana pelestarian budaya di PBB yang bisa manfaatkan. Hanya promosi saja, itu saja, tidak perlu lah melakukan dikte budaya pada masyarakat. Pemerintah cukup menjaganya saja, dari tangan-tangan usil yang berpotensi merusak. Serahkan penjagaannya pada beberapa universitas di Jawa Timur, misalnya, agar yang punya jurusan sejarah dan budaya secara umum, bisa mempraktekkan ilmunya, tidak melulu dapat cerita hebat nenek moyangnya saja. Kehebatan Hayam Wuruk, Tribuana Tunggadewi, dan sang master piece Gajah Mada.

Setuju sekali dengan dua bentuk tirani yang dibahas pada tulisannya Mas Boni Hargens berjudul Tirani Ganda Demokrasi, dalam harian Kompas. Katanya, ada dua yaitu tirani legitimasi dan tirani popularitas. Dari pemahaman saya, dengan tirani legitimasi, maka susah sekali kita mengganti orang-orang di DPR yang kerjanya cuma manggut-manggut saja, karena bagaimanapun mereka legitimate kok.

Tirani popularitas ? Apalagi ini, jika seorang artis X misalnya, yang gak bisa apa-apa, ternyata mampu menyedot suara sampai dia menjadi walikota. Maka ini tidak bisa lagi dicegah, atas nama demokrasi kok. Seorang profesor pun tidak bisa berbicara banyak dalam pesta demokrasi nanti karena suaranya hanya satu, sama dengan seorang preman kelas kakap yang menjadi sampah masyarakat. Kata Emha Ainun Najib, rakyat sebenarnya adalah kekasih hati pemerintah. Dirugikan pemerintah dalam berbagai dimensi, tetap saja manut, malah tetap memilih partai yang itu itu lagi, pemimpin yang itu-itu juga, padahal jelas-jelas dari tracknya berkinerja jelek, malah menghancurkan.

Sebenarnya ada tirani lainnya. Misalnya tirani di dalam rakyat itu sendiri. Kantor dibakar massa, maling kelas teri digebukin sampai mati, dan yang masih hangat yaitu pembakaran umbul-umbul dan baliho parpol di Aceh yang membuat Panitia Pengawas Pemilu di sana tak berkutik sama sekali karena memang tidak ada laporan dari masyakarat, yang mungkin takut dengan sekelompok orang yang suka bakar-bakar itu. Siapa yang bisa melawan “rakyat” kalau sudah beringas tidak terkendali menjarah mall-mall di Jakarta, misalnya, yang dulu pada 1997-an sempat terjadi ?

Ada lagi rezim isolasi informasi. Sudah banyak perusahaan yang berpura-pura sakit, kemudian minta dana talangan kepada pemerintah, dengan ancaman jika tidak diberi maka akan melakukan PHK pada para karyawannya. Pemerintah ya anehnya sering manut saja. Padahal itu perusahaan sebenarnya sudah balik modal dan sudah menyimpan keuntungannya di masa-masa jayanya dulu di bank luar negeri atau industri lain. Dana talangan (bail out) itu akan dijadikannya penambah modal bagi keberlangsungan perusahaan. Asyik juga punya usaha seperti itu di Indonesia. Bagaimana mengetahui informasi kondisi perusahaan yang sebenarnnya? Siapa yang tahu? Hanya para direksi yang tahu, apalagi kalau direksinya orang asing atau mewakili asing. Makanya banyak buruh sulit percaya kalau perusahaannya dinyatakan mendekati bangkrut, sehingga permintaan kenaikan upah minimumnya dinaikkan.

Saya dengar katanya UGM (dan mungkin beberapa perguruan tinggi lain) sudah melakukan identifikasi semua local genius di Jogja. Semoga ini bisa berjalan secara konsisten, apalagi kini dimudahkan dengan dukungan IT. Tapi jangan sampai pekerjaan besar ini terhenti hanya dalam buku dan terkena efek birokrasi, untuk membacanya saja perlu guntingan pita dari seorang kepala daerah, misalnya. Jauh dari itu semua, perlu betul-betul dihangatkan, dihebohkan, digoreng, dibakar bolak-balik agar asapnya terhisap ke seluruh persada, utamanya ke dada para pemuda Indonesia, dan dapat berguna bagi masyarakat.

Pernah terfikir juga bahwa penerapan ilmu manajemen ala barat di Indonesia seringkali gagal memberi jawaban memuaskan untuk peningkatan kinerja karena bukan digali dari budaya bangsa sendiri. Mungkin bangsa ini memang harus bekerja dengan rantai di kaki, seperti yang terpaksa dialami nenek moyang dulu, jaman penjajahan. Maksudnya harus diawasi oleh seorang supervisor dengan sedikit keras, mata agak melotot, tetapi tetap memberi keleluasaan kepada para inovator, local genius, untuk memperlihatkan bakat-bakatnya.

Comments (0)