Pesta telah usai. Menyambut tahun baru, katanya. Entah kenapa harus pakai acara sambut-sambutan segala, padahal jelas hanya mengganti angka “8” menjadi “9” di belakang angka “200” untuk menyatakan tahun.
Saya tidak habis mengerti mengapa semua menghamburkan uang hanya untuk pisah sambut seperti ini, dari mulai bermalam di hotel sampai hampir seminggu, beli kembang api sampai ratusan ribu bahkan jutaan, berjejalan di sekitar alun-alun atau teriak-teriak di jalanan. Entah mungkin karena saya kini tidak musa lagi, kehilangan touch darah muda, sehingga sudah tidak mampu lagi merasakan gejolak energi untuk beramai-ramai bakar sate, teriak-teriak di jalanan, atau sekedar bergenggaman tangan dengan sang kekasih sambil melancarkan rayuan gombal di tahun baru.
Padahal ada banyak PR yang menanti perhatian semuanya.
Hingga 5 Desember kemarin, untuk Jawa Barat saja sudah hampir 18 ribu pekerja terkena PHK, dan nanti di awal-awal tahun sekitar 24 ribu akan terkena dampak krisis serupa. Belum lagi sudah ada 6500 an yang sudah dirumahkan, dan akan ada 19 ribu lagi yang akan terkena hal serupa.
Mengandalkan usaha mikro alias UMKM ? Ya bisa saja, tetapi paling-paling masyarakat sendirilah yang terpaksa bekerja keras sendirian, tidak bisa berharap banyak dari pemerintah, yang tidak bisa berbuat banyak. Tidak usah bicara anggaran yang jelas-jelas sangat terbatas, soal kebijakannya saja tidak sinergis antara dinas dan departemen. Mau bagaimana lagi kalau database terkait UMKM tidak ada ? Apa yang mau dianalisa. Satu hal mendasar dari bangsa ini kan masalah dokumentasi, alias pendataan. Contoh lain, banyak yang mencibir (terutama dunia usaha) pada data hasil sensus dari BPS tahun 2006, yang minim manfaat sebagai bahan analisa untuk masa kini. Data lama kok dipakai untuk kondisi terkini, ketinggalan jaman lah. Tapi bayangan di kepala saya jika nanti data cukup, jangan-jangan kesulitan menganalisanya, karena kekurangan ahli yang berkompeten untuk itu.
Kita memang kekurangan orang-orang yang dengan sabar (namun bersemangat) mengumpulkan data-data untuk bahan analisa, dalam bidang apapun juga. Ma Eroh memberi contoh kepada kita bagaimana dengan kesabaran bertahun-tahun, bermodal linggis dan cangkul saja, beliau bisa membuat saluran air untuk mengairi sawahnya.
Untuk yang akan menghadapi ujian nasional tahun ini, ada PR baru yaitu kenaikan rata-rata minimal dari 5,25 menjadi 5,50 untuk semua mata pelajaran baik untuk SMA/MA/SMK maupun SMP/MTs. Boleh 4,00 maksimal dua pelajaran, dengan catatan pelajaran lain tidak boleh ada yang kurang dari 4,25.
Geoscience Australia menerbitkan peringatan kemungkinan bencana dasyat yang akan menimpa kota-kota di sabuk Himalaya, Cina, Indonesia, Filipina. Korban diperkirakan mencapai satu jutaan. Kesimpulan yang diklaim ilmiah ini didapatkan dari analisa data-data kejadian gempa, topan, tsunami dan gunung meletus pada 400 tahun terakhir.
Dunia dipastikan menuju kiamat. Itu sudah pasti. Karena kitab-kitab suci sudah menggariskan bahwa the end of the day itu akan tiba, cepat atau lambat. Dan untuk Indonesia yang sudah “dicuci” oleh tsunami dan gempa, semua orang perlu sering-sering menundukkan kepala, tanda sujud mohon ampun pada Allah. Tsunami yang akan datang, gempa yang akan datang, yang bisa jadi akan menimpa kita, harus membuat pemrintah dan rakyat bertindak nyata dalam menyikapinya. Di Televisi perlu ada jam khusus setiap hari pada prime time, sekitar 10 menit misalnya, untuk berdoa berjamaah. Acara-acara yang berpotensi merusak ahlak harus dibredel habis atas nama Undang-undang pornografi. Tidak usah takut-takut lagi, toh sebagian besar masyarakat masih ada yang “waras” mendukung sensor semacam itu.
HDI alias Human Development Index Indonesia saat ini melorot di peringkat 111, padahal pada tahun 1998 sempat di urutan 96 dari 170 negara. Padahal biaya pendidikan semakin gila-gilaan mahalnya, tapi secara kualitas ternyata makin melorot saja. Unit biaya pendidikan di Indonesia saat ini hanyalah 8 juta per orang per tahunnya, padahal di Singapura sudah 150 juta. Dan melalui pola BHMN, maka pemerintah hanya menyumbang sangat sedikit bagi perguruan tinggi. Mana bisa dana serba minim plus manajemen pengajaran yang juga minim kualitas ini akan menghasilkan lulusan-lulusan excellent?
Tahun 2009 ini pastinya pemerintah hanya akan bekerja dengan setengah tenaga, setengah konsentrasi, dan mungkin setengah hati, karena apa yang dilakukan orang-orang di pemerintahan (dan MPR / DPR) tahun ini sangat menentukan apakah mereka tetap berada di kursi empuknya. Mengurus rakyat? Kan ada alibi krisis internasional, dimana Eropa dan Amerika saja kalang kabut, masa kita yang HDI-nya peringkat di atas 100 bisa lebih hebat dibanding mereka? Kalaupun nanti ada keharusan harga BBM naik lagi, paling-paling ditahan dulu sampai tahun depan lagi, agar image masyarakat terhadap pemerintah masih terjaga dengan baik, agar rakyat yang sering lupa ini mau memilihnya lagi.
Saya kok punya solusi yang agak mendasar, namun saya sendiri menganggapnya agak naif, tapi bolehlah saya ungkapkan di sini sekedar ingin berbagi ide saja.
Rasanya sudah waktunya saat ini teknologi tampil memimpin kebangkitan bangsa. Contoh yang nyata saja, adalah teknologi telekomunikasi, termasuk didalamnya Internet.
Yang manual-manual hapus sesegera mungkin, pakai online. Kalau saya mau melaporkan SPT, mbok ya cepat-cepat ada fasilitas website-nya di pajak.go.id sana. Proses belajar mengajar sudah waktunya setengah datang setengah online, maksudnya jika satu semester dalam satu pelajaran butuh 16 kali pertemuan, misalnya, ya 8 bertemu fisik, 8 lagi bertemu via dunia maya saja. Toh ada hutan belantara informasi di dalam Internet yang bisa memudahkan pertukaran info antara guru dan murid atau dosen dengan mahasiswanya. Telecomuting juga begitu, konsep yang sudah digembar gemborkan puluhan tahun silam, sudah waktunya diimplementasikan secara nyata. Tentu rekan-rekan pekerja pabrik tidak bisa memanfaatkannya, karena memang harus hadir secara fisik. Tetapi ada banyak yang bisa menggunakannya. Lumayan kan, daripada gara-gara harus menutupi ongkos operasional yang kelewat tinggi, maka manajemen perguruan tinggi berpotensi kena hukuman kurungan 5 tahun dan denda ½ Milyar.
Di negeri ini pedagang dan distributor yang nakal sudah waktunya dikurangi perannya dengan teknologi telekomunikasi. Petani bisa langsung berhadapan dengan pembeli tanpa melalui distributor nakal tersebut. Dibeli 100 dari petani, bisa dijual 500 ke pembeli, untung sampai 400. Petani gigit jari. Tapi sekarang sudah nggak jaman lagi yang begitu, sudah banyak website yang dapat dijadikan perantara antara produsen dengan pembeli langsung. Tentu ini semua bertahap, tapi mbok ya tahapannya itu berlangsung lebih cepat lagi. Tinggal masalah kebiasaan saja kok. Toh petani kita tidak bodoh, mereka juga punya anak-anak yang punya touch terhadap teknologi terkini, setidaknya sering maen SMS via handphone, yang kini sudah bukan barang mewah lagi.
Itu baru beberapa contoh saja. Tentu perlu ada perubahan sikap dan mental juga, yang tidak sedikit kemungkinan akan gagal dan menghancurkan. Bagi orang-orang yang “berkepentingan” dengan yang serba manual, tentu akan menolak keras upaya online-isasi semacam ini. Rasanya bisa kok, wong pertumbuhan blog Indonesia saja cukup mengejutkan, menempati peringkat empat dunia dibawah Amerika, India dan Brasil (www.alexa.com). Blogging bisa menjadi sarana jualan, minimal media promosi. Sayangnya blog belum dimanfaatkan secara optimal bagi banyak perusahaan, termasuk yang besar sekalipun. Memang, saat ini pengguna internet masih mabuk dengan jejaring sosial, belum memanfaatkan Internet menjadi sesuatu yang produktif dalam ekonomi.
Anggaran sisa yang serba minim dari pemerintah itu dialokasikan saja untuk membangun ribuan warnet dengan tarif murah meriah. Para pilantropis baik yang berpura-pura ataupun benar-benar ikhlas lahir batin, tolonglah untuk juga membangun infrastruktur sejenis itu. Ada banyak skenario ekonomis yang disediakan para pakar, misalnya RT-RW net ala Pak Ono Purbo. Jika ada pesananan jutaan laptop dari Indonesia pada Acer, misalnya, jangan-jangan satu laptop versi ekonomis bisa benar-benar seharga satu juta saja. PC bisa seharga di bawah-nya lagi. Tahun 2007 saja sudah 25 jutaan pengguna Internet, dari 20 juta di 2006 dan 15 juta di tahun 2005. Dan lihat juga fenomena disediakannya akses gratis selama 6 bulan untuk 2 GB oleh PT Smart Telecommunication, akses GPRS 0.7 rupiah per kb. Ini pertanda makin murahnya akses Internet, dan kejadiannya diramalkan akan persis dengan perang harga seluler pada tahun 2008 yang sampai kini kita rasakan. Dan itu memberikan sinyal bahwa Internet sudah on the right track untuk memberi kesempatan online seluas-luasnya bagi masyarakat, namun distibusi atau penyebarannya yang harus juga dipikirkan, agar saudara-saudara kita di daerah-daerah “sulit” bisa juga menikmatinya.
Untuk penyebaran, sebaiknya pakai teknologi wireless ala seluler. Saat ini seluler sudah jauh lebih digdaya sebagai alat pembuka isolasi akses telekomunikasi bagi daerah-daerah sulit. Penurunan harga yang gila-gilaan tahun 2008 mudah-mudahan bisa diterapkan juga dalam layanan data pada tahun 2009 ini dan tahun-tahun mendatang. Tentu saja ini membutuhkan kematangan teknologi pendukungnya juga di sisi teknis operator.
Layanan murah dari para operator sudah menjadi keniscayaan yang tidak bisa ditawar lagi. Jika ada yang terlalu mahal, maka tak ayal lagi tidak lama kemudian akan tidak laku, karena produk lain yang lebih murah, bahkan dengan kualitas lebih baik sudah menunggu menjadi produk substitusi. Toh penurunan tarif tidak selalu sama dengan penurunan pendapatan. Lihat saja tahun 2008 dimana PT Excelkomindo dengan menurunkan tarifnya ke “tarif dasar”, ternyata mampu menghasilkan pertumbuhan pendapatan usaha 9,6 T yang berarti meningkat 60% dibanding tahun sebelumnya. Jumlah pelanggannya meningkat 96%, mencapai 26 juta. Sedangkan PT Telkomsel “hanya” mendapat 27.4 T, meningkat cuma 3 %. Jumlah pelanggannya naik 36%, yaitu mencapai 65 juta. Bagaimana dengan Indosat ? Pendapatannya mencapai 14 T, atau meningkat 15 % dari tahun sebelumnya, dengan pelanggan 36 juta, atau naik 61%. Kalau hitung-hitungan laba bersihnya, Telkomsel mendapat 9 T, Indosat 1.5 T, sedangkan Excel mencapai 890 M.
Saya meyakini bahwa internet bisa mengurangi korupsi, internet bisa mengurangi penghamburan anggaran yang tak terkendali, internet bisa mengurangi bentrok di jalan kala ada kampanye. Soal sisi negatif, gampang saja, buat aturan ketat ala Cina. Hukum dengan adil orang-orang yang merusak tatanan internet di Indonesia, yang menyebarkan konsumsi pornografi, membocorkan rahasia negara, penyebar virus, dan lain-lain. ID-SIRTII harus dikasi modal besar untuk membangun sistem semacam ini.

Comments (0)