Tadinya agak-agak ada rasa “menghina” juga pada suatu institusi yang menjanjikan gelar S-1 tanpa skripsi, tiga tahun “dijamin” lulus pula. Ini saya lihat pada suatu harian surat kabar di Bandung (Tribun). 


Ada juga di sebelahnya Hartomo Mechanical Training Centre, yang menyediakan layanan pendidikan jadi montir sepeda motor, yang katanya memberi beasiswa bagi korban lumpur Lapindo, Tsunami Aceh, Tsunami Pangandaran, Gempa Jogja. Semuanya bekerjasama dengan Bank Ekspor Indonesia dan beberapa BUMN.


Satu lagi inspirasi saya hari ini, si iron woman Miss Chrissie Wellington yang jadi juara thriatlon dunia baru-baru ini di ajang dunia Ironman World Triathlon Championship, Hawaii. Ini cewek benar-benar hebat, lengkap dengan cerita “bersahabat dengan alam” di Nepal sana, yang membuat fisiknya terlatih oleh alam. Maka terbitlah cerita fantastis dalam perjuangannya berenang, mengayuh sepeda dan marathon, yang totalnya mencapai ratusan kilometer perjalanan menuju tangga juara.


Lantas, apa hubungan cerita Chrissie ini dengan pendidikan kita?

Ulet ! itulah kunci yang sudah seharusnya kembali kita renungkan dan praktekkan. Saya meyakini jika keuletan bisa mengalahkan segalanya, tentu atas ridlo Allah, yang pasti akan membantu hamba-hambanya yang ingin mengubah nasibnya, sesuai dengan salah satu ayat di Quran. Dan janji itu Insya Allah akan benar menjadi kenyataan, asalkan kita benar-benar sudah maksimal mengusahakannya. 


Saya tahu bahwa sekolah saat ini sudah hampir kehilangan daya mujarabnnya untuk bisa mengatasi berbagai persoalan. Nggak usah jauh-jauh, Bandung aja carut marut pembangunannya, padahal di situ ada beberapa universitas ternama. Ini pada kemana orang-orang pinternya? Atau sudah pada cuek semua? Atau pemda-nya yang sudah bebal nggak mau dengar teriakan para aktivis dan mahasiswa kampus?


Saya pribadi sih sebenarnya tidak terlalu peduli dengan gelar, tapi bagaimanapun manusia Indonesia harus dilatih menjadi orang pinter yang tahan banting lengkap dengan hati nurani yang terasah. Dan salah satu candradimukanya ya di kampus.

Maka aneh saja kalau ada kampus yang memudahkan mahasiswanya lulus, nggak pakai skripsi segala lah, Cuma tiga tahun saja lah (kenapa nggak sekalian dua setengah tahun sekalian, atau dua tahun saja kalau mau, kan itu Cuma masalah birokrasi saja).


Sudah cukup lah dengan kemudahan-kemudahan itu. Kita harus latih generasi muda dengan tantangan-tantangan, biar mereka berfikir keras untuk dirinya, melatih otot-otot otaknya, mengembangkan imajinasinya. Jangan lagi ditambahkan buaian-buaian hanya karena ingin kampus cepat dapat mendatangkan keuntungan karena calon mahasiswa tertarik dengan berbagai kemudahan itu. 
Coba kita lihat lebih jauh lagi. Saat ini kalau ada Pe-er sedikit lebih banyak saja, anak-anak sekolah sudah pada cengeng. Orang tua juga pada ngomel, dipikirnya si guru hanya cari masalah saja. Padahal kalau dikerjakan, paling-paling butuh dua jam, selesai. Bandingkan dengan berapa jam yang dibutuhkan si anak nonton TV atau maen playstation, misalnya.
Jadi guru saat ini memang serba salah. Saya pernah mengalaminya waktu mengajar di salah satu SMK terkemuka di Makassar. Baru saja dikasih beberapa PR, saya malah dicemberutin anak-anak. Mereka sudah mulai “marah” pada saya. Entahlah, generasi sekarang kok tambah lembek saja.

Lihat saja cara mendidik ortu modern saat ini. Semua yang berbau kotor dan keras, tidak diperbolehkan untuk dilakukan sang anak. Maka si anak jadi cengeng, norak, egois, maunya enak sendiri. Ah, itu bukan menjaga namanya, tapi justru menyiksa secara pelan-pelan. Sampai kapan ortu akan memanjakan anaknya? Bahkan nenek-nenek jaman sekarang saja sudah sulit ditemui yang nganggur, semua pada sibuk, seperti sibuknya mereka dulu waktu mengasuh anak-anaknya. Ngapain aja mereka ? Ya, sibuk ngurusin cucu-cucunya, padahal si ibu nganggur di rumah saja. 


Para generasi muda, latih otot otak dan otot mentalmu. Jangan lemot dan loyo untuk tetap konsisten belajar dan bekerja keras. Sudah waktunya hilangkan impian-impian hidup ala sinetron yang banyak bohongnya itu. Sudah waktunya sinetron atau acara sejenis yang meninabobokkan pemirsa diharamkan dari layar TV, buat apa ada Lembaga Sensor coba? Jangan hanya berfikir sempit kalau yang harus disensor Cuma yang ada sex-nya doang. Kalau itu sih, saya juga bisa kok. Gampang banget.

Dari koran yg kubaca hari ini, ada berita menyedihkan dari Kampung Babakan, kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, dimana ada lima pekerja pembangun tebing tertimbun tanah sampai meninggal dunia. Ironisnya, persis di sebelahnya ada bahasan sedikit tentang perkelahian anak-anak UKI vs YAI yang sudah jadi tradisi.


Kedua kejadian itu sama-sama menunjukkan pertarungan terhadap dunia yang keras. Namun sangat berbeda sekali kutubnya, yang di Dramaga adalah pertarungan suci nan Insya Allah diridhoi Allah, karena keluarga mereka menunggu di rumah, di kampungnya di Majalengka, menunggu bapak atau saudara atau anaknya datang membawa uang untuk keperluan sehari-hari dan mungkin untuk sekolah anak-anaknya. Sedangkan satunya adalah pertarungan kekanak-kanakan bin kampungan bin ndeso yang nggak ada pantas-pantasnya dilakukan sang generasi muda, anak sekolahan. Bahkan dari razia polisi kabarnya ada asesories senjata tajam, minuman keras, dan obat terlarang yang kesemuanya mewarnai kehidupan sang generasi penerus bangsa itu. Ada alibi bahwa semua tidak lepas dari kecemburuan sosial karena salah satu kampusnya lebih megah dari yang lain. Menurut saya tetap saja itu tidak menjelaskan alur logika, apalagi ini mahasiswa, siswa yang harusnya sudah “maha”, termasuk sopan santunnya tentu. Kelakukan cetek begitu sih nggak ada bedanya dengan anak-anak tetangga di kampung saya yang berkelahi gara-gara persoalan kalah maen kelereng atau kalah maen bola.


Saya tahu kalau mereka mereka itu oknum saja, tidak mewakili semua mahasiswa YAI dan UKI tentunya. Tindakan tegas harus diambil. Minimal pecat mereka dari pangkat mahasiswanya, dan harus dipenjara juga. Jangan dilepaskan begitu saja. Keenakan mereka nanti. Tapi ya polisi harus diingatkan jangan sampai gara-gara Mama dan Papanya datang ke polisi terus anak-anaknya yang super nakal itu dilepas. Wah, ini bisa menimbulkan kecurigaan pada polisi, jangan-jangan main mata deh.


Akhirnya Rektor kedua kampus itu “bersumpah” akan mencari solusinya. Ha..ha…ha..itu sumpah udah berapa kali diucapkan, dari tahun kapan tuh, karena kejadian ini sudah berkali-kali. Malah sudah empat kali dalam dua tahun terakhir, dan kata Kompas itu belum ada hasilnya sama sekali. Ya, nggak salah juga sih, si rektor emang harus ngomong begitu, demi menyelematkan muka, dan menyelamatkan bisnis pendidikan yang dibebankan padanya sebagai bosnya kampus. Kasiyan deh.

Saya jadi mikir nih, kok banyak sekali mahasiswa yang doyan perang ya. Pengalaman setahun saya di Makassar dulu juga begitu, anak-anak di sana doyan sekali demo dan membuat irama kekerasan, atas nama militan dan membela idealisme. Antar fakultas di universitas yang sama saja sering terjadi perkelahian. Ya sekali lagi memang tidak semuanya sih, tapi tetap saja masyarakat geleng-geleng kepala. Ayo, mari kita hancurkan sama-sama negeri ini. Kata salah satu lagunya Mas Dani Ahmad dulu tuh (lupa judulnya) “yang muda mabuk yang tua korup”. Lengkap sudah.


Jangan-jangan ini bukan hanya menunjukkan kegagalan di universitasnya, tapi juga dari tingkat dasarnya ada (SD dan SMP) sudah nggak menghasilkan lulusan dengan kualitas dan etika yang layak.


Tadinya saya ingin menganalisa, dan ingin coba mencari solusi lebih jauh. Tapi tiba-tiba saya jadi malas, apagi tersadar bahwa ini Indonesia, dan yang saya bicarakan dari tadi adalah manusia. “Manusia Indonesia” tepatnya. Nah, kalau bicara tentang yang namanya Manusia Indonesia nih, capek deh….sampai berbusa nih mulut nggak bakal menemukan solusi, kecuali ada revolusi besar-besaran di segala bidang di Indonesia ini. Dan itu cukup impossible.

Ada petikan promo UNSW (Universitas New South Wales) yang lumayan “mengganggu” saya, berbunyi “pendidikan global + jejaring global = peluang global”. Apa iya itu masih benar dalam kondisi carut marut ekonomi dan sosial dunia saat ini? Apakah pernyataan itu tidak ditakar ketidakpastiannya? Dan berikutnya apakah calon mahasiswa dan ortunya sekalian memiliki kemampuan dalam mengkritisi pernyataan-pernyataan “boom” semacam itu?

Saya coba berhati-hati terhadap gelagat pamer diri yang saat ini sudah jamak diadop oleh pihak universitas sekalipun, yang sebenarnya harus benar-benar steril terhadap urusan “keduniawian”. Tapi kalau ditinjau dari soal sah tidaknya ya tentu sah saja, apalagi yang membuat slogan itu toh bukan UNSW nya sendiri, bisa jadi kerjaannya para merketernya di Jakarta.

Agak curiosity ke universitas yang satu ini, saya coba surfing sebentar di homepage-nya. Ada statement di dalamnya bahwa :

“UNSW, a member of the Go8, is one of Australia's leading research intensive universities. While we conduct research across a wide range of disciplines, we are investing considerable resources in particular areas where we feel we can make a difference. This involves building on existing strengths, in fields where we are already a world leader, as well as identifying emerging problems and opportunities, and moving to meet the challenge. In the latest issue of Research@UNSW, we outline developments in climate change and sustainability, smart technology, creative media, social policy and life saving medical research”.

Hm, gagahnya mereka, pede-nya mereka. Seolah-olah hampir segala bidang yang “laku” saat ini sudah berada dalam jangkauan riset mereka. Kapan saya bisa saksikan “kesombongan” ini di website universitas-universitas di negeri kita ya?
Tiba-tiba saya ingat pada Rachael Ray, si cantik jago masak yang meroket di Amrik dengan talk show-nya, bahkan sudah mampu menyaingi Oprah. Dia mampu meramu berbagai masakan dari bahan-bahan yang ada, tidak perlu yang ruwet-ruwet, rumit-rumit, aneh-aneh, yang kalau di supermarket ada ya sudah langsung saja pakai, tidak harus masak dengan bumbu yang harus dibuat sendiri dari nol besar. Dan hasil masakannya banyak yang berpendapat tidak kalah dengan hasil racikan resto-resto supermewah di sana. Ya ini katanya, dan mungkin juga itu semua resep bukan hasil riset dia sendiri, tentu sudah ada team-nya yang membantu.

Namun bukan soal masakan itu yang saya mau ambil di sini. Saya hanya mau padukan keinginan kuat untuk riset dari universitas UNSW dengan bahan-bahan “seadanya dan disekitar lingkungan kita” dari Racahel Ray. Formula ini mungkin perlu ditambah dengan bumbu-bumbu lain seperti pola menghargai karya sendiri ala Mahatma Gandi dengan swadesi-nya, yang membuat rakyat India hanya akan membeli hasil produk tenunan sendiri walaupun kalah jauh kualitasnya dengan produk luar negaranya. Artinya, saya ingin kita semua belaja menghargai hasil karya sendiri.


Jika anda bisa menghasilkan karya, sekecil apapun itu, berbanggalah. Jangan membandingkannya dengan produk luar yang serupa yang mungkin jauh lebih baik kualitasnya. Ya menoleh ke produk lain bolehlah, namun hanya untuk memberi pelajaran tambahan untuk memperbaiki hasil produk kita lebih baik lagi. Saya baru saja semingguan lalu membaca PT Inka akan membuat mobil hemat energi buatan bangsa sendiri. Ini sih tidak aneh sebenarnya, karena sudah ada isu serupa bahkan sejak jaman Soeharto. Namun marilah kita menyikapinya dengan lebih wise lagi, hentikan kebiasaan yang tidak jelas juntrungannya, yang hanya selalu produk luar minded. Saya sih bukan bermaksud untuk anti terhadap produk luar, tapi hanya berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak hanyut dalam gelombang paradigma yang makin menganak-emaskan produk luar, yang akhirnya akan membuat bangsa ini bangkrut, PHK masal, orang pada malas menjadi produsen, mendingan jadi pedagang saja, tidak usah memikirkan nasib buruh, yang penting dapat untung.

Sedih juga kalau melihat fakta bahwa sampai detik ini kita masih tidak mampu menambang minyak dengan alat sendiri, tidak mampu membuat infrastruktur telekomunikasi dengan hasil karya sendiri, tidak mampu membuat benang walau terkenal sebagai salah satu negara produsen clothing. Hmm, begini lah kalau range pikiran hanya sampai situ-situ saja, berhenti di urusan perut. Masih lumayan kalau yang seperti itu adalah para tukang becak, atau petani miskin di pedesaan. Karakter yng seperti itu ternyata juga sangat ramai “diminati” banyak orang pintar di negeri tercinta ini, termasuk di kalangan universitas.

Kembali ke peluang global, apakah iya pendidikan global menjadi kuncinya? Kalau pada awal tadi dalam sudut pandang nasionalisme saya agak membencinya, tapi pemikiran gila saya malah setuju saja untuk dicoba jika memang gaya pendidikan “lokal” saat ini tidak bisa memberi solusi yang diinginkan. Bayangkan jika para rektor seluruh universitas di Indonesia diganti dengan manajer-manajer ulung yang kita import dari Singapura, India, Amerika, Hongkong, China. Kita bayar mahal mereka untuk menghargai profesionalitasnya, seperti Chelsea mambayar mahal “the special one” untuk menggolkan keinginan mereka merajai lapangan bola di daratan Inggris. Solusi aneh ? Wah, nggak juga. Malah saya usulkan saja sekalian kita import orang untuk jabatan-jabatan anggota DPR sampai menteri, tapi jangan presidennya lah. Why not? Mungkin suatu saat pun khayalan ini akan jadi kenyataan loh.

Nah saat itulah slogan jejaring global = peluang global, saya yakini, akan bisa direalisasikan. Kan sudah jadi warisan nenek moyang kalau bangsa ini selalu nurut kalau diperintah wong Londo ? Jadi siapa tahu dengan begitu, rakyat Indonesia akan lebih mudah diatur, gampang termotivasi untuk kerja, kerja dan kerja sekalian gak banyak omong, karena tidak mengerti bagaimana speaking in English kepada para meneer barunya. Dan kalau ada pegawai yang bandel atau kinerjanya kurang baik, si meneer akan lebih “sampai hati” memecatnya. Lihatlah Ibu Sri Mulyani, yang baru-baru saja merombak jajaran di eselon 2 di departemennya yang berkinerja buruk, dimana dulunya si pejabat-pejabat brengsek ini tetap survive karena dilindungi terus oleh eselon 1 di atasnya, atas dasar kasihan misalnya. Menyedihkan memang !
“Microsoft rupanya tak hanya tercatat sebagai produsen software terbesar di dunia. Perusahaan milik miliuner Bill Gates ini juga didapuk sebagai perusahaan yang paling banyak menggelontorkan pundi-pundi uangnya untuk research & development (R&D). Menurut data yang dikeluarkan Industrial R&D Investment Scoreboard Uni Eropa, Microsoft tercatat sudah menginvestasikan US$ 7,65 miliar untuk kebutuhan R&D pada 2008 ini. Angka itu sekaligus melonjakkan Microsoft di posisi teratas daftar tersebut setelah pada tahun lalu menduduki posisi keempat. Di bawah Microsoft ada dua perusahaan asal Amerika lainnya yakni General Motors dan Pfizer untuk mengisi posisi kedua dan ketiga. Perusahaan TI dan Telekomunikasi rupanya banyak juga yang dinilai royal dalam hal riset. Sebut saja Nokia, Samsung Electronics, Intel, IBM, Alcatel-Lucent, Siemens, Sony, Cisco Systems, Motorola serta Ericsson masuk dalam daftar ini”.

Begitu bunyi salah satu berita dari “www.detik.com” yang baru saja saya baca menjelang tidurku malam sabtu yang cukup membahagiakan kali ini, karena banyaknya ilmu baru yang saya dapatkan dalam ruang kelas kuliah dari pagi sampai sore tadi.
Kagum dan cek..ck..ck..

Mungkin itu ungkapan yang tepat ditujukan kepada perusahaan-perusahaan itu. Sepintas terpikir mereka bisa karena mungkin didukung oleh kemampuan finansialnya yang tinggi. Sepintas lalu juga terbayang berbagai macam sarana prasarana pendukung untuk melakukan inovasi-inovasi hari demi hari dalam pekerjaan para engineer mereka. Sepintas lalu terbayang kemudahan yang diberikan oleh suasana koordinasi nan indah terintegrasi yang sudah berhasil diciptakan landasannya oleh para nenek moyang negara-negara mereka yang dengan landasan ini maka pesawat inovasi terbaru siap diluncurkan dengan kecepatan tinggi dan siap menyasar pangsa pasar sesuai kehendaknya ke seluruh dunia, yang sebagiannya akan singgah ke bangsa yang super konsumtif (padahal kere) yang tak lain adalah Indonesia.

Pertanyaan besar yang selalu saja cenderung dijawab dengan guyonan yaitu kenapa bangsa kita tidak bisa seperti mereka? Padahal sudah susah menghitungnya orang-orang pintar yang S2 bahkan S3, yang anehnya sebagiannya benar-benar jagoan di kampusnya yang sebagiannya malah di luar negeri, tapi begitu masuk kandangnya lagi alias balik ke Indonesia, jadi macan ompong lagi. Faktor dana riset lah, kekurangan waktu riset lah, kurangnya peenghargaan pada hak intelektual lah, kurang terintegrasinya pemerintah-universitas-swasta lah, de-el-el alasan, yang saya sendiri sudah mendengarnya mungkin ratusan kali. Sudah bosan.

Tapi apakah tidak ada solusi lagi selain alasan-alasan itu tadi yang benar-benar membuat kita semua mati kutu beku dalam kulkas keterbelakangan? Bagaimana caranya negara ini agar bisa menjadikan orang-orang pintarnya semua tiba-tiba menjadi “kerasukan” atau “gila” dalam riset dengan segala keterbatasan dana, waktu, dan lain-lain yang menjadi latar belakangnya?

Semangat! Dan ridlo Allah! Saya meyakini inilah kuncinya. Kita sudah tidak kehilangan, bahkan mati, dalam hal semangat ini. Sudah tidak ada motivasi lagi untuk membangkitkan kemampuan bangsa dalam bidang pelayaran, pertanian, kemampuan persatuan dalam kemajemukan, kemampuan memelihara toleransi, dan lain-lain bidang. Sudah waktunya Presiden dan para pembantunya dan pejabat pemda tertinggi sampai ke tingkat RT, para tokoh dan ilmuwan, terutama para pengajar di kampus, bergandeng tangan serta sama-sama secara serempak melakukan revolusi mental dalam semangat riset. Go to riset !

Apa yang harus diriset? Ini perlu fokus juga, agar bisa menjadi pembeda, istilah marketingnya adalah positioning dan differentiation. Tapi ya jangan terlalu berleha-leha juga dalam pembahasan strategi-strategi semacam ini, nanti kehabisan waktu hanya untuk memikirkan rencana, yang akhirnya rencana untuk membuat rencana berikutnya. Pokoknya riset yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat dan negara, nah itu yang harus diutamakan. Tapi biarkan juga jika ada seglintir ilmuwan yang ingin menliti tentang relativitas ala Einstein, misalnya!

Saat ini dibutuhkan evidence, dan diantara kita yang memiliki kapasitas riset ya harus melakukannya, walaupun itu hanya dalam suatu bentuk tulisan berupa analisa yang kemudian diupload ke Internet, misalnya. Saya kok nggak yakin kalau banyak yang bilang bahwa sebagian besar kita tidak bisa menulis. Jangan-jangan bukan tidak bisa, tetapi “sengaja” tidak bisa, dengan berbagai alasannya, dari yang alami (malas) sampai yang canggih (dibuat-buat).

Sepintas saya terlihat optimistic, tapi saya tegaskan bahwa saya tidak sedang ceramah secara berkobar-kobar menyemangati para pembaca (dan saya juga di dalamnya). Tidak sama sekali. Keyakinan saya pada potensi daya riset Indonesia berdasarkan pada pengamatan langsung pada banyak para orang pintar Indonesia yang pernah saya jumpai sehari-hari sampai pada yang hanya saya amati dari kejauhan via koran, majalah dan tentu saja Internet. Banyak dari mereka kelihatan mampu kok (dengan otak risetnya sangat potensial), tapi kok tidak pernah atau jarang melakukan riset ya? Pasti jawabannya nggak jauh dari alasan klasik yg sudah saya uraikan pada paragraf-paragraf awal.

Sudahlah, jangan terlalu banyak berteori tentang harus bagaimana riset. Jendral Sudirman melakukan perjuangannya dengan gerilya, suatu taktik yang sangat Indonesia banget. Rasanya “riset gerilya” mungkin bisa saya sodorkan menjadi judul besar kebangkitan riset Indonesia. Apapun yang anda punya, apapun yang tidak anda punya, asal anda punya potensi riset, lakukan riset, sporadis perorangan sekalipun, bermodalkan buku dan pensil saja (untuk menghasilkan rumus matematika yang baru, analisa fisika yang baru, strategi marketing baru) sekalipun, atau bermodalkan seember air dan sebuah tanaman bunga sekalipun (untuk menghasilkan cara bercocok tanam yang lebih modern).

Kalau gagal? Hm, saya baru siang tadi mendapat pencerahan dari salah satu dosen S2 saya, mengatakan bahwa Apple saja sudah pernah puluhan kali gagal dalam produknya yang jumlahnya ratusan. Tapi mereka tidak pernah kenal lelah.
Rasanya riset sudah jadi darah daging mereka. Kegagalan justru menjadi air dan makanan pembentuknya. Pahami saja ini untuk dijadikan pelajaran bagi kita, dan gampang saja kok, kita tinggal tiru semangat itu, tidak usah berkontemplasi untuk sampai mendapatkan contoh itu kan?

Don’t talk if you don’t wanna do it!
Miris juga melihat berita koran kompas kemarin (16 Oktober 2008). Kang Dada sang walikota Bandung meminta para camat kerja bakti bersih-bersih lingkungan. Ditambahkannya pula bahwa harusnya urusan beginian sudah dikerjakan tanpa menunggu perintahnya.

Tul banget tuh Kang, ini dia yang menjadi kegemasan saya pada aparat-aparat pemerintahan, dan banyak lagi para pemimpin organisasi lainnya. Punya hak dan kewajiban, sudah tahu job desc, sudah paham apa yang harus dilakukan, tapi aneh bin ajaib, nggak ada yang bergerak, malah banyak juga yang NATO (not action talk only) alias omdo.

Apa sih yang sudah dan akan dikerjakan para Kades, camat, bupati, walkot, gubernur sampai menteri bahkan Presiden ? Itu baru pentolannya, apalagi bawahan-bawahannya, bagaimana tuh. Tapi terkadang kalau disuruh membuat list tentang apa saja yang sudah dilakukan plus prestasi apa saja yang berhasil didapat, kemudian ditambahkan dengan manfaat apa saja yang sudah dihasilkan dari apa yang sudah dilakukan tadi, pasti list-nya bisa panjang lebar. Laporan tebal-tebal setiap tahunnya, untuk disampaikan kepada atasan atau manajemen diatasnya. Penuh dengan gambar, grafik kemajuan, analisa keberhasilan, foto-foto senyuman keberhasilan (yang kadang terlihat terlalu dibuat-buat). Dan anehnya lagi itu semua sudah menjadi pekerjaan “biasa”, yang dilakukan secara berjamaah, tanpa sentuhan perbaikan dari tahun ke tahunnya, dan tanpa sentuhan keberanian untuk berkata jujur tentang kelemahan diri.

Saya mengimpikan ada laporan tahunan yang ada bagian khusus tentang ketidakberhasilan program-program yang dilakukan. Misalnya dalam hal kegagalan penanggulang banjir, ya ceritakan saja fakta-faktanya. Plus semua sebab dan kalau perlu tunjuk siapa saja yang dianggap bertanggung jawab juga terhadap itu semua, dan siapa saja yang harusnya diharapkan berperan aktif untuk mencarikan solusinya. Kemudian masukkan laporan itu ke koran, website, kirim juga ke semua perguruan tinggi yang ada di wilayahnya untuk dimintai komentar dan analisanya, biar sekalian menjadi bahan pelajaran bagi para mahasiswa.

Kalau urusan banjir ya berikan saja terutama para mahasiswa yang punya mata kuliah utama tentang lingkungan, juga pada mahasiswa planologi, arsitektur, bahkan ilmu-ilmu kesehatan (termasuk kedokteran). Semua disuruh memberi masukan dan apa yang bisa dikerjakan universitas untuk hal itu. Buat juga usulan plan action nya.
Bangsa yang harusnya bisa benar-benar besar ini (baca : I-n-d-o-n-e-s-i-a), sudah terkenal kalau soal pembangunan memang jagonya, tapi kalau sudah urusan memelihara alias konsistensi, wah….letoy dah. Mungkin termasuk saya juga. Kalau lagi menghadapi hal-hal baru, sering semangat 45, tapi itu sangat sering tidak bertahan lama, untuk kemudian layu sebelum berkembang. Apakah ini sudah “given” dari sononya ya? Jangan-jangan penjajah dulu (Belanda kali nih, sebagai bangsa yang terlama menjajah kita) sudah mencuci bukan saja otak, tapi juga mental manusia Indonesia dan itu diwariskan secara turun temurun ke anak cucu sampai cicit dan seterusnya nanti. Ya mudah-mudahan akan ada revolusi mental suatu saat nanti. Wah, jangan-jangan harus menunggu sang Imam Mahdi dulu nih baru bisa begitu, wah agak percuma juga, karena itu berarti sudah dekat kiamat.

Konsistensi memang menjadi barang yang sangat mahal di mana-mana. Saya saja sering angin-anginan untuk urusan sholat, kalau lagi kenceng iman maka kenceng juga ketepatan waktu sholat berikut ngajinya. Tapi ya sekali lagi, itu tidak bertahan lama, untuk selanjutnya “biasa” lagi, loyo lagi, butuh di-charge lagi. Konsistensi, dimana kau berada?

Usulan untuk melakukan reposisi pasar produk-produk hasil buatan anak negeri ini ke negara –negara para syeikh (Arab dan konco-konconya), waktu krismon menghajar tanpa ampun fondasi ekeonomi, ternyata hanya panas-panas tahi ayam doang, untuk selanjutnya ya ke Amrik lagi ke Amrik lagi…Sekarang saat krismon ala Lehman Brothers sudah mulai meresahkan kita, baru deh banyak para pakar dan orang-orang pemerintahan mulai sok kreatif dan sok inovatif melahirkan ide untuk reposisi pasar semacam itu, padahal bagi saya itu sudah bassssiii, cerita lammaaaa. Lihat saja nanti, kalau ekonomi sudah kalem lagi, back to nature deh, Amrik deui Amrik deui.

Lain lagi ceritanya gorong-gorongnya Jakarta dan Bandung misalnya, yang pada bulan-bulan terakhir ini sudah mulai diutak-atik keberadaannya, karena sebentar lagi akan musim banjir (sebagai pengganti istilah musim hujan). Banyak yang mampat di banyak ruasnya. Dan coba saja lihat nanti kalau musim hujan sudah lewat, ya dibiarin lagi tidak terurus, dan menjadi bak sampah terpanjang didunia dan menjadi surga bagi para cecurut dan tikus.

Jadi kembali ke urusan para pentolan-pentolan organisasi yang tidak “tahu diri” tadi. Ayolah kita semua belajar berperang melawan mental negatif yang seakan-akan sudah menjadi kutukan bagi bangsa ini. Jangan jadi kiamat dulu baru sadar. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan, dan pasti itu ada dan pasti banyak, kalau mau, ingat..kalau mau, dan mestinya harus mau dong, kan demi rakyat atau anggota organisasi yang anda pimpin. Kalau tidak, ya lihat saja nanti, mabuk masal ala Indramayu akan terulang lagi, entah di kota mana atau dikampung mana, dengan berbagai variasinya. Tawuran antar kampung, antar pelajar, antar mahasiswa, akan menjadi budaya abadi. Orang-orang merokok di dalam bus atau kereta yang penuh dijejali penumpang, akan menjadi pemandangan yang makin biasa saja, walaupun peraturannya sudah ada, bahkan nanti akan muncul RUU Dampak Tembakau (Prolegnas 2009).

Hi hi hi…jangan jangan saya sedang menelanjangi diri sendiri, dan kemudian mentertawakannya.

Konsistensi ? Tahu diri ?
Hua..hua..hua..ha..
Iseng-iseng saya pada saat surfing suatu hari lalu membawa saya secara tidak sengaja masuk ke website-nya UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, yang sering dipelesetkan jadi Universitas Pokoknya Ikip, he..he…).
Ada satu hal yang menarik nalar saya untuk “membahasnya” di otak saya sendiri, yaitu adanya kegiatan kampus yang dikelompokkan dengan istilah bidang cakupan “penalaran dan keilmuan”. Sangat menarik dan mengundang kerinduan saya akan pembahasan filosofi ilmu itu sendiri, karena dongengan yang menyangkut ini biasanya membuat saya seolah melakukan “refresh” terhadap motivasi menuntut ilmu dan sekalian mengasah lebih dalam lagi kegiatan dan “kemauan” untuk menulis.
Dikatakan pada website-nya bahwa :
“Cakupan bidang penalaran dan keilmuan di Universitas Pendidikan Indonesia terwujudkan dalam bentuk kegiatan Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM), Program kreativitas Mahasiswa (PKM), Seleksi mahasiswa berprestasi, seminar dan Lokakarya, Lomba Cerdas Cermat, Pembekalan dan Pengkajian Islam, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), berbagai perlombaan, Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), temu sivitas akademika, Studi Pembina Islam Intensif, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), dll”.

Hebat nian UPI ini, seabreg kegiatan, jadi penasaran ingin kuliah di sana, tapi ambil S-1 nya saja, dan kalau bisa umur bisa ditarik mundur. He..he..apalagi tempat kuliahnya tidak jauh dari tempat saya tinggal dulu bersama ayah ibu di gegerkalong. Dekat pesantrennya Aa Gym pula.

Tapi sayangnya saya tidak punya informasi seefektif apa kegiatan-kegiatan ini benar-benar dilakukan, dan bagaimana efeknya terhadap mahasiswa-mahasiswanya. Seingat saya, saya tidak punya teman yang kuliah di sana.
Tentang pengembangan diri, ada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pengembangan organisasi sekalus kaderisasi, meliputi (saya ambil lagi dari websitenya) :
 Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang diselenggarakan oleh ormawa tingkat jurusan/ program,
 Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang diselenggarakan oleh ormawa tingkat fakultas (SMF, BEM, DPMF),
 Latihan kepemimpinan mahasiswa (LKM) diselenggarakan oleh ormawa tingkat universitas (BEM UPI)
 Musyawarah Mahasiswa (Mumas). Kegiatan musyawarah Mahasiswa (MUMAS) dilakukan oleh semua ormawa dengan sebutan yang berbeda-beda di antaranya Musyawarah Besar (Mubes), Musyawarah Mahasiswa (Mumas), Musyawarah Anggota (Musang), Musyawarah Adat (Mudat), Musyawarah Teater (Muter), Pemilihan Umum Raya (Pemilu Raya).

Lengkap kan ? Mudah-mudahan tidak terjebak hanya ke urusan demo di jalanan saja, apalagi untuk BEM, yang di sebagian besar universitas yang ada di Indonesia dijadikan sebagai wadah pembelajaran dan pematangan dalam urusan politik, yang buntut-buntutnya demonstrasi. Tidak salah sih, bahkan dalam sebagian masalah memang harus “dilawan” dengan gerakan demo ini, misalnya jika pemerintah sudah semakin “bolot” terhadap esensi kebenaran dan keadilan.

Satu hal yang menjadi perenungan saya juga, bagaimana kalau LKTM, LKIM, PKM, Seleksi mahasiswa berprestasi, seminar dan Lokakarya, Lomba Cerdas Cermat, Pembekalan dan Pengkajian Islam sampai ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) itu dijadikan mesin-mesin produksi karya ilmiah berstandar nasional dan internasional ? Suruh semua mahasiswa mencoba membuat inovasi sesuai dengan bidang atau jurusannya masing-masing, untuk kemudian yang benar-benar memenuhi suatu syarat tertentu difasilitasi oleh universitas untuk masuk ke dalam karya ilmiah setingkat internasional.

Masa sih tidak ada profesor atau doktor atau dosen secara umumlah, yang memiliki pengalaman dan networking untuk memfasilitasi itu semua? Sudah waktunya juga dalam pejaran-pejaran harian yang diberikan tidak melulu teori-teori lama, tapi langsung saja mencari dan mendalami teori apa yang saat ini sedang hangat didiskusikan dunia, untuk kemudian dicoba untuk dikembangkan oleh para mahasiswa. Jadi memulainya alias “garis start”-nya tidak lagi dari posisi nol, yang masih menjadi default saat ini, tapi mungkin sudah di sekitar 30 –an (skala 0 sampai 100).

Jangan lupa bahwa tugas dosen dan guru besar adalah bagaimana anak didik dapat “melahap” semua sajian ilmu yang diberikan dengan mudah, sederhana, cepat, inspiratif tanpa melupakan alat pendukung terkini. Jangan dipersulit kalau bisa dipermudah, dan murid harusnya dibantu agar bisa lebih pintar dari gurunya.Wah, saya kok jadi sok lebih pintar ya dibandingkan dengan para guru. Tapi yakinlah, saya punya data akurat (karena saksi matanya adalah saya sendiri) bahwa tidak sedikit guru atau dosen yang gaya-nya masih saja terlihat "mempersulit", entah sadar atau tidak.

Sore ini saya dan istri, lagi-lagi, menonton tawuran antar mahasiswa YAI dengan UI di Salemba, yang salah satu korbannya adalah sebuah avanza yang hancur, dilempari batu-batu sebesar buah kelapa, kaca pecah berantakan, luamayan ringsek juga. Kasiyan si pemilik, ngomelin kedua lembaga universitas yang tidak mampu “menggembala” anak-anak didiknya jadi manusia bener. Omelan selanjutnya tertuju kepada pihak kepolisian yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat itu mobil yang tak berdosa sedikitpun dihancurkan, padahal sudah dengan setia menunggu tuannya kontrol kesehatan di rumkit Cipto.

Well, inilah wajah negeri yang makin bopeng saja disana-sini, bukan melulu komedo atau jerawat, tapi sudah super cacat dan sangat muskil untuk bisa diperbaiki lagi, kecuali mungkin para malaikat turun langsung menjadi anggota DPR, menjadi pejabat-pejabat penting. Astaghfirullah. Tapi apa hendak dikata, sudah demikian adanya. Saya sendiri kadang merenung masih terasa asyik jadi generasi yang lahir di tujuh puluhan, saat waktu remaja dulu masih terbuka (walaupun tidak lebar) lapangan pekerjaan. Saya generasi yang mungkin dalam tigapuluh tahunan lagi (Insya Allah jika mengikuti “aturan umur Nabi”) mungkin sudah menghadap padaNya. Saat itu bagaimana jadinya bangsa saya ini ya? Alamnya semakin hancur, semakin panas, makin banyak bencana di sana-sini, makin korup, adu jotos dimana-mana, hama tanamana produksi semakin tidak terkendali, manusia semakin egois, kriminalitas semakin naik daun. Aduh, baru ingat nih, saya masih punya adik yang masih kelas tiga SMP. Semoga Allah melindungimu adindaku.

Itu memang pandangan skeptis saya, yang memang sering-sering meremehkan usaha-usaha dari segelintir orang yang masih berprilaku bener di negara kita ini. Tapi ya sudah menjadi sifat sih, dulunya sih nggak, tapi karena sudah keseringan dikecewakan oleh tayangan-tayangan di televisi, koran dan Internet, akhirnya menjadi “habit”, susah untuk diubah. Saya memandang Indonesia adalah kapal yang akan segera karam, dan saya berani bertaruh bahwa itu “pasti”, cepat atau lambat, tinggal bagaimana kita sekarang banyak-banyak berdoa agar bisa masuk surga. Se-simple itu kok. Meminjam Mas Ebit G Ade, Tuhan tampaknya sudah benar-benar bosan ama perilaku manusia, dan manusia itu gak jauh-jauh, kita !

Adakah upaya memperlambat karamnya sang kapal raksasa itu? Mungkin bisa, walaupun ingat loh ya, ini hanya memperlambat saja, tidak mencegah. Saat ini kita membutuhkan orang sepopulerdan setenang SBY, secepat berpikir ala JK, namun sekuat Gusdur atau Suharto. Bukan berarti saya penyuka figur-figur ini, saya sih biasa-biasa saja, toh setiap dari mereka punya kelebihan dan kekuranganny masing-masing, nggak usah repot-repot mengagung-agungkan mereka jika anda fans berat, tapi juga hemat energi anda untu ngomelin mereka jika anda gak suka dengan mereka-mereka ini, jangan mau capek deh pokoknya, nggak mengubah apapun juga kok, malah bisa-bisa kalau salah cara mengungkapkannya dan timingnya tidak tepat, malah bisa jatuh ke dosa.

Lalu siapa yang memiliki sifat itu semua? Gak ada ! Asli gak ada ! Tidak juga Amin Rais yang dulu saya favoritkan atau Sinuwun Sultan atau Dien Samsudin. Lalu ? Ya jangan menciptakan orang, ciptakan sistem yang memiliki sifat-sifat itu. Yang sering dilupakan orang adalah bahwa yang namanya presiden sebenarnya kalau menurut UUD bukan orang, tapi lembaga, disana berdiri banyak orang selain wakilnya sendiri, para staf ahli, jubir, sekretaris, dengan ratusan orang-orang yang sakti dalam bidangnya masing-masing,  yang sewaktu waktu bisa dimintai pendapat atau petuah, misalnya Forum Rektor, kumpulannya para direktur perusahaan besar, tokoh-tokoh lembaga strategis (LAPAN, LIPI, PAL, dll). Nah lo, kurang apa lagi. Makanya salah besar kalau SBY berfikir dirinya adalah “tok til” presiden, karena dirinya sebenarnya bagian dari suatu sietem. Karenanya sang presiden ini harus bisa menjadi perekat sekaligus communicator yang super-super ulung (mungkin harus pakar dalam NLP misalnya) untuk bisa menciptakan sinergi, sebuah kata yang teramat sering diucapkan secera formal dalam berbagai forum, agak bullshit dan sudah terbukti sulitnya setengah edan untuk bisa diwujudkan dalam kehidupan berorganisasi, bernegara dan berbangsa, termasuk ber-RT ria dalam lingkungan kita sehari-hari. Sepertinya konsep-konsep manajemen dari negara barat saya rasa tidak cocok dengan budaya Indonesia yang serba pingin cepat alias instant, konsumtif, berfikir pendek-pendek saja. Harusnya Hermawan Kertajaya atau Rheinald Khasali bisa menciptakan manajemen gaya asli Indonesia tersebut, bagaimana sifat suka tawuran bisa menjadi penggerak signifikan ekonomi Indonesia modern, bagaimana sifat suka korup bisa menjadi soko guru perekonomian nasional, bagaimana sifat latah yang semakin memasyarakat bisa menjadi motor inovasi Indonesia di mata dunia Internasional. Ooooo….saya jadi berfikir, pantas saja dulu penjajah Belanda ampun-ampunan mempertahankan kedudukannya di Indonesia, bagaiaman bisa bertahan menghadapi ribuan orang yang “latah, nggak ada takutnya kalau keroyokan, nekad, keras kepala”. Lihat saja perang Surabaya, jaman kemerdekaan dulu, Belanda lari tunggang langgang. Gimana nggak, wong yang dilawan moyangnya bonek !

Kembali ke diri saya sendiri, malam ini saat saya menekan-nekan keyboard laptop hasil korupsi saya ini, saya sebenarnya sedang sedih, karena saya tidak berdaya menolong bahkan hanya sekedar menengok saja Mbah saya yang sedang sakit nun jauh di Banjar sana. Saya juga tidak berdaya ketika memikirkan jangan-jangan Mom saya ingin terbang ke sana. Wah, saya nggak punya cukup duit. Apalagi sudah dua minggu ini dalam kepala saya masih berterbangan memori menyedihkan Mbahlek saya (adik kakek saya) yang di Jogja dalam kondisi sakit, sudah tua, dengan rumah yang sudah terluluh-lantakkan gempa Jogja beberapa tahun silam, makan hanya nasi dan tempe saja. Menangis hati saya, tapi saya tidak berdaya. Ah, andai saya Warren Buffet !

Mengapa orang yang harusnya berdaya di negeri ini menjadi kerdil, tidak berdaya apa-apa. Hakim dengan palu ketegasannya, polisi dengan pistolnya, Menteri dengan kekuasaannya, anggota DPR dengan cek kosong yang diberikan rakyat padanya. Ah….semua menjadi tidak berdaya, apa iya hanya bergairah saat ada proyek yang ada duitnya saja?

Termasuk saya yang tidak berdaya apa-apa untuk membantu lebih kepada keluarga besar saya. Saya hanya mampu membantu sedikit-sedikit Mom, Dad, dan adik terkecil saya. Tidak pula bisa diharapkan untuk mertua saya atau paman-bibi saya, apalagi yang hubungannya lebih jauh lagi. Hanya kepada Allah saja saya serahkan segala urusan ini, karena dengan Kun Fayakun-Nya segala sesuatu serba mungkin terjadi. Allah adalah Tuhan saya yang Maha Perkasa di seluruh jagad alam raya ini, bagaimana tidak, wong jagad ini ciptaan-Nya juga, sekedar mahluk-Nya.

Allah Tuhanku yang Maha Besar, berilah pertolonganmu untuk semua ketidakberdayaanku ini. Aku bergantung pada kekuatan-Mu yang tiada tara itu. Berilah aku dan keluargaku rejeki yang meimpah ruah, namun tetap dalam alur keselamatan yang Engkau kehendaki. Hanya kepada Engkau aku bergantung.

Akhirnya ampuni hamba dengan segala kealpaan yang hamba perbuat selama ini, karena kuyakini bahwa Engkau adalah Al-Gofur, sang Maha Pengampun. Amin.