“Microsoft rupanya tak hanya tercatat sebagai produsen software terbesar di dunia. Perusahaan milik miliuner Bill Gates ini juga didapuk sebagai perusahaan yang paling banyak menggelontorkan pundi-pundi uangnya untuk research & development (R&D). Menurut data yang dikeluarkan Industrial R&D Investment Scoreboard Uni Eropa, Microsoft tercatat sudah menginvestasikan US$ 7,65 miliar untuk kebutuhan R&D pada 2008 ini. Angka itu sekaligus melonjakkan Microsoft di posisi teratas daftar tersebut setelah pada tahun lalu menduduki posisi keempat. Di bawah Microsoft ada dua perusahaan asal Amerika lainnya yakni General Motors dan Pfizer untuk mengisi posisi kedua dan ketiga. Perusahaan TI dan Telekomunikasi rupanya banyak juga yang dinilai royal dalam hal riset. Sebut saja Nokia, Samsung Electronics, Intel, IBM, Alcatel-Lucent, Siemens, Sony, Cisco Systems, Motorola serta Ericsson masuk dalam daftar ini”.

Begitu bunyi salah satu berita dari “www.detik.com” yang baru saja saya baca menjelang tidurku malam sabtu yang cukup membahagiakan kali ini, karena banyaknya ilmu baru yang saya dapatkan dalam ruang kelas kuliah dari pagi sampai sore tadi.
Kagum dan cek..ck..ck..

Mungkin itu ungkapan yang tepat ditujukan kepada perusahaan-perusahaan itu. Sepintas terpikir mereka bisa karena mungkin didukung oleh kemampuan finansialnya yang tinggi. Sepintas lalu juga terbayang berbagai macam sarana prasarana pendukung untuk melakukan inovasi-inovasi hari demi hari dalam pekerjaan para engineer mereka. Sepintas lalu terbayang kemudahan yang diberikan oleh suasana koordinasi nan indah terintegrasi yang sudah berhasil diciptakan landasannya oleh para nenek moyang negara-negara mereka yang dengan landasan ini maka pesawat inovasi terbaru siap diluncurkan dengan kecepatan tinggi dan siap menyasar pangsa pasar sesuai kehendaknya ke seluruh dunia, yang sebagiannya akan singgah ke bangsa yang super konsumtif (padahal kere) yang tak lain adalah Indonesia.

Pertanyaan besar yang selalu saja cenderung dijawab dengan guyonan yaitu kenapa bangsa kita tidak bisa seperti mereka? Padahal sudah susah menghitungnya orang-orang pintar yang S2 bahkan S3, yang anehnya sebagiannya benar-benar jagoan di kampusnya yang sebagiannya malah di luar negeri, tapi begitu masuk kandangnya lagi alias balik ke Indonesia, jadi macan ompong lagi. Faktor dana riset lah, kekurangan waktu riset lah, kurangnya peenghargaan pada hak intelektual lah, kurang terintegrasinya pemerintah-universitas-swasta lah, de-el-el alasan, yang saya sendiri sudah mendengarnya mungkin ratusan kali. Sudah bosan.

Tapi apakah tidak ada solusi lagi selain alasan-alasan itu tadi yang benar-benar membuat kita semua mati kutu beku dalam kulkas keterbelakangan? Bagaimana caranya negara ini agar bisa menjadikan orang-orang pintarnya semua tiba-tiba menjadi “kerasukan” atau “gila” dalam riset dengan segala keterbatasan dana, waktu, dan lain-lain yang menjadi latar belakangnya?

Semangat! Dan ridlo Allah! Saya meyakini inilah kuncinya. Kita sudah tidak kehilangan, bahkan mati, dalam hal semangat ini. Sudah tidak ada motivasi lagi untuk membangkitkan kemampuan bangsa dalam bidang pelayaran, pertanian, kemampuan persatuan dalam kemajemukan, kemampuan memelihara toleransi, dan lain-lain bidang. Sudah waktunya Presiden dan para pembantunya dan pejabat pemda tertinggi sampai ke tingkat RT, para tokoh dan ilmuwan, terutama para pengajar di kampus, bergandeng tangan serta sama-sama secara serempak melakukan revolusi mental dalam semangat riset. Go to riset !

Apa yang harus diriset? Ini perlu fokus juga, agar bisa menjadi pembeda, istilah marketingnya adalah positioning dan differentiation. Tapi ya jangan terlalu berleha-leha juga dalam pembahasan strategi-strategi semacam ini, nanti kehabisan waktu hanya untuk memikirkan rencana, yang akhirnya rencana untuk membuat rencana berikutnya. Pokoknya riset yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat dan negara, nah itu yang harus diutamakan. Tapi biarkan juga jika ada seglintir ilmuwan yang ingin menliti tentang relativitas ala Einstein, misalnya!

Saat ini dibutuhkan evidence, dan diantara kita yang memiliki kapasitas riset ya harus melakukannya, walaupun itu hanya dalam suatu bentuk tulisan berupa analisa yang kemudian diupload ke Internet, misalnya. Saya kok nggak yakin kalau banyak yang bilang bahwa sebagian besar kita tidak bisa menulis. Jangan-jangan bukan tidak bisa, tetapi “sengaja” tidak bisa, dengan berbagai alasannya, dari yang alami (malas) sampai yang canggih (dibuat-buat).

Sepintas saya terlihat optimistic, tapi saya tegaskan bahwa saya tidak sedang ceramah secara berkobar-kobar menyemangati para pembaca (dan saya juga di dalamnya). Tidak sama sekali. Keyakinan saya pada potensi daya riset Indonesia berdasarkan pada pengamatan langsung pada banyak para orang pintar Indonesia yang pernah saya jumpai sehari-hari sampai pada yang hanya saya amati dari kejauhan via koran, majalah dan tentu saja Internet. Banyak dari mereka kelihatan mampu kok (dengan otak risetnya sangat potensial), tapi kok tidak pernah atau jarang melakukan riset ya? Pasti jawabannya nggak jauh dari alasan klasik yg sudah saya uraikan pada paragraf-paragraf awal.

Sudahlah, jangan terlalu banyak berteori tentang harus bagaimana riset. Jendral Sudirman melakukan perjuangannya dengan gerilya, suatu taktik yang sangat Indonesia banget. Rasanya “riset gerilya” mungkin bisa saya sodorkan menjadi judul besar kebangkitan riset Indonesia. Apapun yang anda punya, apapun yang tidak anda punya, asal anda punya potensi riset, lakukan riset, sporadis perorangan sekalipun, bermodalkan buku dan pensil saja (untuk menghasilkan rumus matematika yang baru, analisa fisika yang baru, strategi marketing baru) sekalipun, atau bermodalkan seember air dan sebuah tanaman bunga sekalipun (untuk menghasilkan cara bercocok tanam yang lebih modern).

Kalau gagal? Hm, saya baru siang tadi mendapat pencerahan dari salah satu dosen S2 saya, mengatakan bahwa Apple saja sudah pernah puluhan kali gagal dalam produknya yang jumlahnya ratusan. Tapi mereka tidak pernah kenal lelah.
Rasanya riset sudah jadi darah daging mereka. Kegagalan justru menjadi air dan makanan pembentuknya. Pahami saja ini untuk dijadikan pelajaran bagi kita, dan gampang saja kok, kita tinggal tiru semangat itu, tidak usah berkontemplasi untuk sampai mendapatkan contoh itu kan?

Don’t talk if you don’t wanna do it!

Comments (0)