Iseng-iseng saya pada saat surfing suatu hari lalu membawa saya secara tidak sengaja masuk ke website-nya UPI (Universitas Pendidikan Indonesia, yang sering dipelesetkan jadi Universitas Pokoknya Ikip, he..he…).
Ada satu hal yang menarik nalar saya untuk “membahasnya” di otak saya sendiri, yaitu adanya kegiatan kampus yang dikelompokkan dengan istilah bidang cakupan “penalaran dan keilmuan”. Sangat menarik dan mengundang kerinduan saya akan pembahasan filosofi ilmu itu sendiri, karena dongengan yang menyangkut ini biasanya membuat saya seolah melakukan “refresh” terhadap motivasi menuntut ilmu dan sekalian mengasah lebih dalam lagi kegiatan dan “kemauan” untuk menulis.
Dikatakan pada website-nya bahwa :
“Cakupan bidang penalaran dan keilmuan di Universitas Pendidikan Indonesia terwujudkan dalam bentuk kegiatan Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM), Lomba Karya Ilmiah Mahasiswa (LKIM), Program kreativitas Mahasiswa (PKM), Seleksi mahasiswa berprestasi, seminar dan Lokakarya, Lomba Cerdas Cermat, Pembekalan dan Pengkajian Islam, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), berbagai perlombaan, Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar), temu sivitas akademika, Studi Pembina Islam Intensif, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), dll”.

Hebat nian UPI ini, seabreg kegiatan, jadi penasaran ingin kuliah di sana, tapi ambil S-1 nya saja, dan kalau bisa umur bisa ditarik mundur. He..he..apalagi tempat kuliahnya tidak jauh dari tempat saya tinggal dulu bersama ayah ibu di gegerkalong. Dekat pesantrennya Aa Gym pula.

Tapi sayangnya saya tidak punya informasi seefektif apa kegiatan-kegiatan ini benar-benar dilakukan, dan bagaimana efeknya terhadap mahasiswa-mahasiswanya. Seingat saya, saya tidak punya teman yang kuliah di sana.
Tentang pengembangan diri, ada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pengembangan organisasi sekalus kaderisasi, meliputi (saya ambil lagi dari websitenya) :
 Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa (LDKM) yang diselenggarakan oleh ormawa tingkat jurusan/ program,
 Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) yang diselenggarakan oleh ormawa tingkat fakultas (SMF, BEM, DPMF),
 Latihan kepemimpinan mahasiswa (LKM) diselenggarakan oleh ormawa tingkat universitas (BEM UPI)
 Musyawarah Mahasiswa (Mumas). Kegiatan musyawarah Mahasiswa (MUMAS) dilakukan oleh semua ormawa dengan sebutan yang berbeda-beda di antaranya Musyawarah Besar (Mubes), Musyawarah Mahasiswa (Mumas), Musyawarah Anggota (Musang), Musyawarah Adat (Mudat), Musyawarah Teater (Muter), Pemilihan Umum Raya (Pemilu Raya).

Lengkap kan ? Mudah-mudahan tidak terjebak hanya ke urusan demo di jalanan saja, apalagi untuk BEM, yang di sebagian besar universitas yang ada di Indonesia dijadikan sebagai wadah pembelajaran dan pematangan dalam urusan politik, yang buntut-buntutnya demonstrasi. Tidak salah sih, bahkan dalam sebagian masalah memang harus “dilawan” dengan gerakan demo ini, misalnya jika pemerintah sudah semakin “bolot” terhadap esensi kebenaran dan keadilan.

Satu hal yang menjadi perenungan saya juga, bagaimana kalau LKTM, LKIM, PKM, Seleksi mahasiswa berprestasi, seminar dan Lokakarya, Lomba Cerdas Cermat, Pembekalan dan Pengkajian Islam sampai ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) itu dijadikan mesin-mesin produksi karya ilmiah berstandar nasional dan internasional ? Suruh semua mahasiswa mencoba membuat inovasi sesuai dengan bidang atau jurusannya masing-masing, untuk kemudian yang benar-benar memenuhi suatu syarat tertentu difasilitasi oleh universitas untuk masuk ke dalam karya ilmiah setingkat internasional.

Masa sih tidak ada profesor atau doktor atau dosen secara umumlah, yang memiliki pengalaman dan networking untuk memfasilitasi itu semua? Sudah waktunya juga dalam pejaran-pejaran harian yang diberikan tidak melulu teori-teori lama, tapi langsung saja mencari dan mendalami teori apa yang saat ini sedang hangat didiskusikan dunia, untuk kemudian dicoba untuk dikembangkan oleh para mahasiswa. Jadi memulainya alias “garis start”-nya tidak lagi dari posisi nol, yang masih menjadi default saat ini, tapi mungkin sudah di sekitar 30 –an (skala 0 sampai 100).

Jangan lupa bahwa tugas dosen dan guru besar adalah bagaimana anak didik dapat “melahap” semua sajian ilmu yang diberikan dengan mudah, sederhana, cepat, inspiratif tanpa melupakan alat pendukung terkini. Jangan dipersulit kalau bisa dipermudah, dan murid harusnya dibantu agar bisa lebih pintar dari gurunya.Wah, saya kok jadi sok lebih pintar ya dibandingkan dengan para guru. Tapi yakinlah, saya punya data akurat (karena saksi matanya adalah saya sendiri) bahwa tidak sedikit guru atau dosen yang gaya-nya masih saja terlihat "mempersulit", entah sadar atau tidak.

Comments (0)