Miris juga melihat berita koran kompas kemarin (16 Oktober 2008). Kang Dada sang walikota Bandung meminta para camat kerja bakti bersih-bersih lingkungan. Ditambahkannya pula bahwa harusnya urusan beginian sudah dikerjakan tanpa menunggu perintahnya.
Tul banget tuh Kang, ini dia yang menjadi kegemasan saya pada aparat-aparat pemerintahan, dan banyak lagi para pemimpin organisasi lainnya. Punya hak dan kewajiban, sudah tahu job desc, sudah paham apa yang harus dilakukan, tapi aneh bin ajaib, nggak ada yang bergerak, malah banyak juga yang NATO (not action talk only) alias omdo.
Apa sih yang sudah dan akan dikerjakan para Kades, camat, bupati, walkot, gubernur sampai menteri bahkan Presiden ? Itu baru pentolannya, apalagi bawahan-bawahannya, bagaimana tuh. Tapi terkadang kalau disuruh membuat list tentang apa saja yang sudah dilakukan plus prestasi apa saja yang berhasil didapat, kemudian ditambahkan dengan manfaat apa saja yang sudah dihasilkan dari apa yang sudah dilakukan tadi, pasti list-nya bisa panjang lebar. Laporan tebal-tebal setiap tahunnya, untuk disampaikan kepada atasan atau manajemen diatasnya. Penuh dengan gambar, grafik kemajuan, analisa keberhasilan, foto-foto senyuman keberhasilan (yang kadang terlihat terlalu dibuat-buat). Dan anehnya lagi itu semua sudah menjadi pekerjaan “biasa”, yang dilakukan secara berjamaah, tanpa sentuhan perbaikan dari tahun ke tahunnya, dan tanpa sentuhan keberanian untuk berkata jujur tentang kelemahan diri.
Saya mengimpikan ada laporan tahunan yang ada bagian khusus tentang ketidakberhasilan program-program yang dilakukan. Misalnya dalam hal kegagalan penanggulang banjir, ya ceritakan saja fakta-faktanya. Plus semua sebab dan kalau perlu tunjuk siapa saja yang dianggap bertanggung jawab juga terhadap itu semua, dan siapa saja yang harusnya diharapkan berperan aktif untuk mencarikan solusinya. Kemudian masukkan laporan itu ke koran, website, kirim juga ke semua perguruan tinggi yang ada di wilayahnya untuk dimintai komentar dan analisanya, biar sekalian menjadi bahan pelajaran bagi para mahasiswa.
Kalau urusan banjir ya berikan saja terutama para mahasiswa yang punya mata kuliah utama tentang lingkungan, juga pada mahasiswa planologi, arsitektur, bahkan ilmu-ilmu kesehatan (termasuk kedokteran). Semua disuruh memberi masukan dan apa yang bisa dikerjakan universitas untuk hal itu. Buat juga usulan plan action nya.
Bangsa yang harusnya bisa benar-benar besar ini (baca : I-n-d-o-n-e-s-i-a), sudah terkenal kalau soal pembangunan memang jagonya, tapi kalau sudah urusan memelihara alias konsistensi, wah….letoy dah. Mungkin termasuk saya juga. Kalau lagi menghadapi hal-hal baru, sering semangat 45, tapi itu sangat sering tidak bertahan lama, untuk kemudian layu sebelum berkembang. Apakah ini sudah “given” dari sononya ya? Jangan-jangan penjajah dulu (Belanda kali nih, sebagai bangsa yang terlama menjajah kita) sudah mencuci bukan saja otak, tapi juga mental manusia Indonesia dan itu diwariskan secara turun temurun ke anak cucu sampai cicit dan seterusnya nanti. Ya mudah-mudahan akan ada revolusi mental suatu saat nanti. Wah, jangan-jangan harus menunggu sang Imam Mahdi dulu nih baru bisa begitu, wah agak percuma juga, karena itu berarti sudah dekat kiamat.
Konsistensi memang menjadi barang yang sangat mahal di mana-mana. Saya saja sering angin-anginan untuk urusan sholat, kalau lagi kenceng iman maka kenceng juga ketepatan waktu sholat berikut ngajinya. Tapi ya sekali lagi, itu tidak bertahan lama, untuk selanjutnya “biasa” lagi, loyo lagi, butuh di-charge lagi. Konsistensi, dimana kau berada?
Usulan untuk melakukan reposisi pasar produk-produk hasil buatan anak negeri ini ke negara –negara para syeikh (Arab dan konco-konconya), waktu krismon menghajar tanpa ampun fondasi ekeonomi, ternyata hanya panas-panas tahi ayam doang, untuk selanjutnya ya ke Amrik lagi ke Amrik lagi…Sekarang saat krismon ala Lehman Brothers sudah mulai meresahkan kita, baru deh banyak para pakar dan orang-orang pemerintahan mulai sok kreatif dan sok inovatif melahirkan ide untuk reposisi pasar semacam itu, padahal bagi saya itu sudah bassssiii, cerita lammaaaa. Lihat saja nanti, kalau ekonomi sudah kalem lagi, back to nature deh, Amrik deui Amrik deui.
Lain lagi ceritanya gorong-gorongnya Jakarta dan Bandung misalnya, yang pada bulan-bulan terakhir ini sudah mulai diutak-atik keberadaannya, karena sebentar lagi akan musim banjir (sebagai pengganti istilah musim hujan). Banyak yang mampat di banyak ruasnya. Dan coba saja lihat nanti kalau musim hujan sudah lewat, ya dibiarin lagi tidak terurus, dan menjadi bak sampah terpanjang didunia dan menjadi surga bagi para cecurut dan tikus.
Jadi kembali ke urusan para pentolan-pentolan organisasi yang tidak “tahu diri” tadi. Ayolah kita semua belajar berperang melawan mental negatif yang seakan-akan sudah menjadi kutukan bagi bangsa ini. Jangan jadi kiamat dulu baru sadar. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan, dan pasti itu ada dan pasti banyak, kalau mau, ingat..kalau mau, dan mestinya harus mau dong, kan demi rakyat atau anggota organisasi yang anda pimpin. Kalau tidak, ya lihat saja nanti, mabuk masal ala Indramayu akan terulang lagi, entah di kota mana atau dikampung mana, dengan berbagai variasinya. Tawuran antar kampung, antar pelajar, antar mahasiswa, akan menjadi budaya abadi. Orang-orang merokok di dalam bus atau kereta yang penuh dijejali penumpang, akan menjadi pemandangan yang makin biasa saja, walaupun peraturannya sudah ada, bahkan nanti akan muncul RUU Dampak Tembakau (Prolegnas 2009).
Hi hi hi…jangan jangan saya sedang menelanjangi diri sendiri, dan kemudian mentertawakannya.
Konsistensi ? Tahu diri ?
Hua..hua..hua..ha..
Tul banget tuh Kang, ini dia yang menjadi kegemasan saya pada aparat-aparat pemerintahan, dan banyak lagi para pemimpin organisasi lainnya. Punya hak dan kewajiban, sudah tahu job desc, sudah paham apa yang harus dilakukan, tapi aneh bin ajaib, nggak ada yang bergerak, malah banyak juga yang NATO (not action talk only) alias omdo.
Apa sih yang sudah dan akan dikerjakan para Kades, camat, bupati, walkot, gubernur sampai menteri bahkan Presiden ? Itu baru pentolannya, apalagi bawahan-bawahannya, bagaimana tuh. Tapi terkadang kalau disuruh membuat list tentang apa saja yang sudah dilakukan plus prestasi apa saja yang berhasil didapat, kemudian ditambahkan dengan manfaat apa saja yang sudah dihasilkan dari apa yang sudah dilakukan tadi, pasti list-nya bisa panjang lebar. Laporan tebal-tebal setiap tahunnya, untuk disampaikan kepada atasan atau manajemen diatasnya. Penuh dengan gambar, grafik kemajuan, analisa keberhasilan, foto-foto senyuman keberhasilan (yang kadang terlihat terlalu dibuat-buat). Dan anehnya lagi itu semua sudah menjadi pekerjaan “biasa”, yang dilakukan secara berjamaah, tanpa sentuhan perbaikan dari tahun ke tahunnya, dan tanpa sentuhan keberanian untuk berkata jujur tentang kelemahan diri.
Saya mengimpikan ada laporan tahunan yang ada bagian khusus tentang ketidakberhasilan program-program yang dilakukan. Misalnya dalam hal kegagalan penanggulang banjir, ya ceritakan saja fakta-faktanya. Plus semua sebab dan kalau perlu tunjuk siapa saja yang dianggap bertanggung jawab juga terhadap itu semua, dan siapa saja yang harusnya diharapkan berperan aktif untuk mencarikan solusinya. Kemudian masukkan laporan itu ke koran, website, kirim juga ke semua perguruan tinggi yang ada di wilayahnya untuk dimintai komentar dan analisanya, biar sekalian menjadi bahan pelajaran bagi para mahasiswa.
Kalau urusan banjir ya berikan saja terutama para mahasiswa yang punya mata kuliah utama tentang lingkungan, juga pada mahasiswa planologi, arsitektur, bahkan ilmu-ilmu kesehatan (termasuk kedokteran). Semua disuruh memberi masukan dan apa yang bisa dikerjakan universitas untuk hal itu. Buat juga usulan plan action nya.
Bangsa yang harusnya bisa benar-benar besar ini (baca : I-n-d-o-n-e-s-i-a), sudah terkenal kalau soal pembangunan memang jagonya, tapi kalau sudah urusan memelihara alias konsistensi, wah….letoy dah. Mungkin termasuk saya juga. Kalau lagi menghadapi hal-hal baru, sering semangat 45, tapi itu sangat sering tidak bertahan lama, untuk kemudian layu sebelum berkembang. Apakah ini sudah “given” dari sononya ya? Jangan-jangan penjajah dulu (Belanda kali nih, sebagai bangsa yang terlama menjajah kita) sudah mencuci bukan saja otak, tapi juga mental manusia Indonesia dan itu diwariskan secara turun temurun ke anak cucu sampai cicit dan seterusnya nanti. Ya mudah-mudahan akan ada revolusi mental suatu saat nanti. Wah, jangan-jangan harus menunggu sang Imam Mahdi dulu nih baru bisa begitu, wah agak percuma juga, karena itu berarti sudah dekat kiamat.
Konsistensi memang menjadi barang yang sangat mahal di mana-mana. Saya saja sering angin-anginan untuk urusan sholat, kalau lagi kenceng iman maka kenceng juga ketepatan waktu sholat berikut ngajinya. Tapi ya sekali lagi, itu tidak bertahan lama, untuk selanjutnya “biasa” lagi, loyo lagi, butuh di-charge lagi. Konsistensi, dimana kau berada?
Usulan untuk melakukan reposisi pasar produk-produk hasil buatan anak negeri ini ke negara –negara para syeikh (Arab dan konco-konconya), waktu krismon menghajar tanpa ampun fondasi ekeonomi, ternyata hanya panas-panas tahi ayam doang, untuk selanjutnya ya ke Amrik lagi ke Amrik lagi…Sekarang saat krismon ala Lehman Brothers sudah mulai meresahkan kita, baru deh banyak para pakar dan orang-orang pemerintahan mulai sok kreatif dan sok inovatif melahirkan ide untuk reposisi pasar semacam itu, padahal bagi saya itu sudah bassssiii, cerita lammaaaa. Lihat saja nanti, kalau ekonomi sudah kalem lagi, back to nature deh, Amrik deui Amrik deui.
Lain lagi ceritanya gorong-gorongnya Jakarta dan Bandung misalnya, yang pada bulan-bulan terakhir ini sudah mulai diutak-atik keberadaannya, karena sebentar lagi akan musim banjir (sebagai pengganti istilah musim hujan). Banyak yang mampat di banyak ruasnya. Dan coba saja lihat nanti kalau musim hujan sudah lewat, ya dibiarin lagi tidak terurus, dan menjadi bak sampah terpanjang didunia dan menjadi surga bagi para cecurut dan tikus.
Jadi kembali ke urusan para pentolan-pentolan organisasi yang tidak “tahu diri” tadi. Ayolah kita semua belajar berperang melawan mental negatif yang seakan-akan sudah menjadi kutukan bagi bangsa ini. Jangan jadi kiamat dulu baru sadar. Lakukan saja apa yang bisa dilakukan, dan pasti itu ada dan pasti banyak, kalau mau, ingat..kalau mau, dan mestinya harus mau dong, kan demi rakyat atau anggota organisasi yang anda pimpin. Kalau tidak, ya lihat saja nanti, mabuk masal ala Indramayu akan terulang lagi, entah di kota mana atau dikampung mana, dengan berbagai variasinya. Tawuran antar kampung, antar pelajar, antar mahasiswa, akan menjadi budaya abadi. Orang-orang merokok di dalam bus atau kereta yang penuh dijejali penumpang, akan menjadi pemandangan yang makin biasa saja, walaupun peraturannya sudah ada, bahkan nanti akan muncul RUU Dampak Tembakau (Prolegnas 2009).
Hi hi hi…jangan jangan saya sedang menelanjangi diri sendiri, dan kemudian mentertawakannya.
Konsistensi ? Tahu diri ?
Hua..hua..hua..ha..
07.25 |
Category: |
0
komentar

Comments (0)