Ada petikan promo UNSW (Universitas New South Wales) yang lumayan “mengganggu” saya, berbunyi “pendidikan global + jejaring global = peluang global”. Apa iya itu masih benar dalam kondisi carut marut ekonomi dan sosial dunia saat ini? Apakah pernyataan itu tidak ditakar ketidakpastiannya? Dan berikutnya apakah calon mahasiswa dan ortunya sekalian memiliki kemampuan dalam mengkritisi pernyataan-pernyataan “boom” semacam itu?
Saya coba berhati-hati terhadap gelagat pamer diri yang saat ini sudah jamak diadop oleh pihak universitas sekalipun, yang sebenarnya harus benar-benar steril terhadap urusan “keduniawian”. Tapi kalau ditinjau dari soal sah tidaknya ya tentu sah saja, apalagi yang membuat slogan itu toh bukan UNSW nya sendiri, bisa jadi kerjaannya para merketernya di Jakarta.
Agak curiosity ke universitas yang satu ini, saya coba surfing sebentar di homepage-nya. Ada statement di dalamnya bahwa :
“UNSW, a member of the Go8, is one of Australia's leading research intensive universities. While we conduct research across a wide range of disciplines, we are investing considerable resources in particular areas where we feel we can make a difference. This involves building on existing strengths, in fields where we are already a world leader, as well as identifying emerging problems and opportunities, and moving to meet the challenge. In the latest issue of Research@UNSW, we outline developments in climate change and sustainability, smart technology, creative media, social policy and life saving medical research”.
Hm, gagahnya mereka, pede-nya mereka. Seolah-olah hampir segala bidang yang “laku” saat ini sudah berada dalam jangkauan riset mereka. Kapan saya bisa saksikan “kesombongan” ini di website universitas-universitas di negeri kita ya?
Tiba-tiba saya ingat pada Rachael Ray, si cantik jago masak yang meroket di Amrik dengan talk show-nya, bahkan sudah mampu menyaingi Oprah. Dia mampu meramu berbagai masakan dari bahan-bahan yang ada, tidak perlu yang ruwet-ruwet, rumit-rumit, aneh-aneh, yang kalau di supermarket ada ya sudah langsung saja pakai, tidak harus masak dengan bumbu yang harus dibuat sendiri dari nol besar. Dan hasil masakannya banyak yang berpendapat tidak kalah dengan hasil racikan resto-resto supermewah di sana. Ya ini katanya, dan mungkin juga itu semua resep bukan hasil riset dia sendiri, tentu sudah ada team-nya yang membantu.
Namun bukan soal masakan itu yang saya mau ambil di sini. Saya hanya mau padukan keinginan kuat untuk riset dari universitas UNSW dengan bahan-bahan “seadanya dan disekitar lingkungan kita” dari Racahel Ray. Formula ini mungkin perlu ditambah dengan bumbu-bumbu lain seperti pola menghargai karya sendiri ala Mahatma Gandi dengan swadesi-nya, yang membuat rakyat India hanya akan membeli hasil produk tenunan sendiri walaupun kalah jauh kualitasnya dengan produk luar negaranya. Artinya, saya ingin kita semua belaja menghargai hasil karya sendiri.

Jika anda bisa menghasilkan karya, sekecil apapun itu, berbanggalah. Jangan membandingkannya dengan produk luar yang serupa yang mungkin jauh lebih baik kualitasnya. Ya menoleh ke produk lain bolehlah, namun hanya untuk memberi pelajaran tambahan untuk memperbaiki hasil produk kita lebih baik lagi. Saya baru saja semingguan lalu membaca PT Inka akan membuat mobil hemat energi buatan bangsa sendiri. Ini sih tidak aneh sebenarnya, karena sudah ada isu serupa bahkan sejak jaman Soeharto. Namun marilah kita menyikapinya dengan lebih wise lagi, hentikan kebiasaan yang tidak jelas juntrungannya, yang hanya selalu produk luar minded. Saya sih bukan bermaksud untuk anti terhadap produk luar, tapi hanya berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak hanyut dalam gelombang paradigma yang makin menganak-emaskan produk luar, yang akhirnya akan membuat bangsa ini bangkrut, PHK masal, orang pada malas menjadi produsen, mendingan jadi pedagang saja, tidak usah memikirkan nasib buruh, yang penting dapat untung.
Sedih juga kalau melihat fakta bahwa sampai detik ini kita masih tidak mampu menambang minyak dengan alat sendiri, tidak mampu membuat infrastruktur telekomunikasi dengan hasil karya sendiri, tidak mampu membuat benang walau terkenal sebagai salah satu negara produsen clothing. Hmm, begini lah kalau range pikiran hanya sampai situ-situ saja, berhenti di urusan perut. Masih lumayan kalau yang seperti itu adalah para tukang becak, atau petani miskin di pedesaan. Karakter yng seperti itu ternyata juga sangat ramai “diminati” banyak orang pintar di negeri tercinta ini, termasuk di kalangan universitas.
Kembali ke peluang global, apakah iya pendidikan global menjadi kuncinya? Kalau pada awal tadi dalam sudut pandang nasionalisme saya agak membencinya, tapi pemikiran gila saya malah setuju saja untuk dicoba jika memang gaya pendidikan “lokal” saat ini tidak bisa memberi solusi yang diinginkan. Bayangkan jika para rektor seluruh universitas di Indonesia diganti dengan manajer-manajer ulung yang kita import dari Singapura, India, Amerika, Hongkong, China. Kita bayar mahal mereka untuk menghargai profesionalitasnya, seperti Chelsea mambayar mahal “the special one” untuk menggolkan keinginan mereka merajai lapangan bola di daratan Inggris. Solusi aneh ? Wah, nggak juga. Malah saya usulkan saja sekalian kita import orang untuk jabatan-jabatan anggota DPR sampai menteri, tapi jangan presidennya lah. Why not? Mungkin suatu saat pun khayalan ini akan jadi kenyataan loh.
Nah saat itulah slogan jejaring global = peluang global, saya yakini, akan bisa direalisasikan. Kan sudah jadi warisan nenek moyang kalau bangsa ini selalu nurut kalau diperintah wong Londo ? Jadi siapa tahu dengan begitu, rakyat Indonesia akan lebih mudah diatur, gampang termotivasi untuk kerja, kerja dan kerja sekalian gak banyak omong, karena tidak mengerti bagaimana speaking in English kepada para meneer barunya. Dan kalau ada pegawai yang bandel atau kinerjanya kurang baik, si meneer akan lebih “sampai hati” memecatnya. Lihatlah Ibu Sri Mulyani, yang baru-baru saja merombak jajaran di eselon 2 di departemennya yang berkinerja buruk, dimana dulunya si pejabat-pejabat brengsek ini tetap survive karena dilindungi terus oleh eselon 1 di atasnya, atas dasar kasihan misalnya. Menyedihkan memang !
Saya coba berhati-hati terhadap gelagat pamer diri yang saat ini sudah jamak diadop oleh pihak universitas sekalipun, yang sebenarnya harus benar-benar steril terhadap urusan “keduniawian”. Tapi kalau ditinjau dari soal sah tidaknya ya tentu sah saja, apalagi yang membuat slogan itu toh bukan UNSW nya sendiri, bisa jadi kerjaannya para merketernya di Jakarta.
Agak curiosity ke universitas yang satu ini, saya coba surfing sebentar di homepage-nya. Ada statement di dalamnya bahwa :
“UNSW, a member of the Go8, is one of Australia's leading research intensive universities. While we conduct research across a wide range of disciplines, we are investing considerable resources in particular areas where we feel we can make a difference. This involves building on existing strengths, in fields where we are already a world leader, as well as identifying emerging problems and opportunities, and moving to meet the challenge. In the latest issue of Research@UNSW, we outline developments in climate change and sustainability, smart technology, creative media, social policy and life saving medical research”.
Hm, gagahnya mereka, pede-nya mereka. Seolah-olah hampir segala bidang yang “laku” saat ini sudah berada dalam jangkauan riset mereka. Kapan saya bisa saksikan “kesombongan” ini di website universitas-universitas di negeri kita ya?
Tiba-tiba saya ingat pada Rachael Ray, si cantik jago masak yang meroket di Amrik dengan talk show-nya, bahkan sudah mampu menyaingi Oprah. Dia mampu meramu berbagai masakan dari bahan-bahan yang ada, tidak perlu yang ruwet-ruwet, rumit-rumit, aneh-aneh, yang kalau di supermarket ada ya sudah langsung saja pakai, tidak harus masak dengan bumbu yang harus dibuat sendiri dari nol besar. Dan hasil masakannya banyak yang berpendapat tidak kalah dengan hasil racikan resto-resto supermewah di sana. Ya ini katanya, dan mungkin juga itu semua resep bukan hasil riset dia sendiri, tentu sudah ada team-nya yang membantu.
Namun bukan soal masakan itu yang saya mau ambil di sini. Saya hanya mau padukan keinginan kuat untuk riset dari universitas UNSW dengan bahan-bahan “seadanya dan disekitar lingkungan kita” dari Racahel Ray. Formula ini mungkin perlu ditambah dengan bumbu-bumbu lain seperti pola menghargai karya sendiri ala Mahatma Gandi dengan swadesi-nya, yang membuat rakyat India hanya akan membeli hasil produk tenunan sendiri walaupun kalah jauh kualitasnya dengan produk luar negaranya. Artinya, saya ingin kita semua belaja menghargai hasil karya sendiri.
Jika anda bisa menghasilkan karya, sekecil apapun itu, berbanggalah. Jangan membandingkannya dengan produk luar yang serupa yang mungkin jauh lebih baik kualitasnya. Ya menoleh ke produk lain bolehlah, namun hanya untuk memberi pelajaran tambahan untuk memperbaiki hasil produk kita lebih baik lagi. Saya baru saja semingguan lalu membaca PT Inka akan membuat mobil hemat energi buatan bangsa sendiri. Ini sih tidak aneh sebenarnya, karena sudah ada isu serupa bahkan sejak jaman Soeharto. Namun marilah kita menyikapinya dengan lebih wise lagi, hentikan kebiasaan yang tidak jelas juntrungannya, yang hanya selalu produk luar minded. Saya sih bukan bermaksud untuk anti terhadap produk luar, tapi hanya berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak hanyut dalam gelombang paradigma yang makin menganak-emaskan produk luar, yang akhirnya akan membuat bangsa ini bangkrut, PHK masal, orang pada malas menjadi produsen, mendingan jadi pedagang saja, tidak usah memikirkan nasib buruh, yang penting dapat untung.
Sedih juga kalau melihat fakta bahwa sampai detik ini kita masih tidak mampu menambang minyak dengan alat sendiri, tidak mampu membuat infrastruktur telekomunikasi dengan hasil karya sendiri, tidak mampu membuat benang walau terkenal sebagai salah satu negara produsen clothing. Hmm, begini lah kalau range pikiran hanya sampai situ-situ saja, berhenti di urusan perut. Masih lumayan kalau yang seperti itu adalah para tukang becak, atau petani miskin di pedesaan. Karakter yng seperti itu ternyata juga sangat ramai “diminati” banyak orang pintar di negeri tercinta ini, termasuk di kalangan universitas.
Kembali ke peluang global, apakah iya pendidikan global menjadi kuncinya? Kalau pada awal tadi dalam sudut pandang nasionalisme saya agak membencinya, tapi pemikiran gila saya malah setuju saja untuk dicoba jika memang gaya pendidikan “lokal” saat ini tidak bisa memberi solusi yang diinginkan. Bayangkan jika para rektor seluruh universitas di Indonesia diganti dengan manajer-manajer ulung yang kita import dari Singapura, India, Amerika, Hongkong, China. Kita bayar mahal mereka untuk menghargai profesionalitasnya, seperti Chelsea mambayar mahal “the special one” untuk menggolkan keinginan mereka merajai lapangan bola di daratan Inggris. Solusi aneh ? Wah, nggak juga. Malah saya usulkan saja sekalian kita import orang untuk jabatan-jabatan anggota DPR sampai menteri, tapi jangan presidennya lah. Why not? Mungkin suatu saat pun khayalan ini akan jadi kenyataan loh.
Nah saat itulah slogan jejaring global = peluang global, saya yakini, akan bisa direalisasikan. Kan sudah jadi warisan nenek moyang kalau bangsa ini selalu nurut kalau diperintah wong Londo ? Jadi siapa tahu dengan begitu, rakyat Indonesia akan lebih mudah diatur, gampang termotivasi untuk kerja, kerja dan kerja sekalian gak banyak omong, karena tidak mengerti bagaimana speaking in English kepada para meneer barunya. Dan kalau ada pegawai yang bandel atau kinerjanya kurang baik, si meneer akan lebih “sampai hati” memecatnya. Lihatlah Ibu Sri Mulyani, yang baru-baru saja merombak jajaran di eselon 2 di departemennya yang berkinerja buruk, dimana dulunya si pejabat-pejabat brengsek ini tetap survive karena dilindungi terus oleh eselon 1 di atasnya, atas dasar kasihan misalnya. Menyedihkan memang !
20.43 |
Category: |
0
komentar

Comments (0)