Dari koran yg kubaca hari ini, ada berita menyedihkan dari Kampung Babakan, kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, dimana ada lima pekerja pembangun tebing tertimbun tanah sampai meninggal dunia. Ironisnya, persis di sebelahnya ada bahasan sedikit tentang perkelahian anak-anak UKI vs YAI yang sudah jadi tradisi.
Kedua kejadian itu sama-sama menunjukkan pertarungan terhadap dunia yang keras. Namun sangat berbeda sekali kutubnya, yang di Dramaga adalah pertarungan suci nan Insya Allah diridhoi Allah, karena keluarga mereka menunggu di rumah, di kampungnya di Majalengka, menunggu bapak atau saudara atau anaknya datang membawa uang untuk keperluan sehari-hari dan mungkin untuk sekolah anak-anaknya. Sedangkan satunya adalah pertarungan kekanak-kanakan bin kampungan bin ndeso yang nggak ada pantas-pantasnya dilakukan sang generasi muda, anak sekolahan. Bahkan dari razia polisi kabarnya ada asesories senjata tajam, minuman keras, dan obat terlarang yang kesemuanya mewarnai kehidupan sang generasi penerus bangsa itu. Ada alibi bahwa semua tidak lepas dari kecemburuan sosial karena salah satu kampusnya lebih megah dari yang lain. Menurut saya tetap saja itu tidak menjelaskan alur logika, apalagi ini mahasiswa, siswa yang harusnya sudah “maha”, termasuk sopan santunnya tentu. Kelakukan cetek begitu sih nggak ada bedanya dengan anak-anak tetangga di kampung saya yang berkelahi gara-gara persoalan kalah maen kelereng atau kalah maen bola.
Saya tahu kalau mereka mereka itu oknum saja, tidak mewakili semua mahasiswa YAI dan UKI tentunya. Tindakan tegas harus diambil. Minimal pecat mereka dari pangkat mahasiswanya, dan harus dipenjara juga. Jangan dilepaskan begitu saja. Keenakan mereka nanti. Tapi ya polisi harus diingatkan jangan sampai gara-gara Mama dan Papanya datang ke polisi terus anak-anaknya yang super nakal itu dilepas. Wah, ini bisa menimbulkan kecurigaan pada polisi, jangan-jangan main mata deh.
Saya jadi mikir nih, kok banyak sekali mahasiswa yang doyan perang ya. Pengalaman setahun saya di Makassar dulu juga begitu, anak-anak di sana doyan sekali demo dan membuat irama kekerasan, atas nama militan dan membela idealisme. Antar fakultas di universitas yang sama saja sering terjadi perkelahian. Ya sekali lagi memang tidak semuanya sih, tapi tetap saja masyarakat geleng-geleng kepala. Ayo, mari kita hancurkan sama-sama negeri ini. Kata salah satu lagunya Mas Dani Ahmad dulu tuh (lupa judulnya) “yang muda mabuk yang tua korup”. Lengkap sudah.
Jangan-jangan ini bukan hanya menunjukkan kegagalan di universitasnya, tapi juga dari tingkat dasarnya ada (SD dan SMP) sudah nggak menghasilkan lulusan dengan kualitas dan etika yang layak.
Tadinya saya ingin menganalisa, dan ingin coba mencari solusi lebih jauh. Tapi tiba-tiba saya jadi malas, apagi tersadar bahwa ini Indonesia, dan yang saya bicarakan dari tadi adalah manusia. “Manusia Indonesia” tepatnya. Nah, kalau bicara tentang yang namanya Manusia Indonesia nih, capek deh….sampai berbusa nih mulut nggak bakal menemukan solusi, kecuali ada revolusi besar-besaran di segala bidang di Indonesia ini. Dan itu cukup impossible.

Comments (0)