Sore ini saya dan istri, lagi-lagi, menonton tawuran antar mahasiswa YAI dengan UI di Salemba, yang salah satu korbannya adalah sebuah avanza yang hancur, dilempari batu-batu sebesar buah kelapa, kaca pecah berantakan, luamayan ringsek juga. Kasiyan si pemilik, ngomelin kedua lembaga universitas yang tidak mampu “menggembala” anak-anak didiknya jadi manusia bener. Omelan selanjutnya tertuju kepada pihak kepolisian yang tidak bisa berbuat apa-apa melihat itu mobil yang tak berdosa sedikitpun dihancurkan, padahal sudah dengan setia menunggu tuannya kontrol kesehatan di rumkit Cipto.

Well, inilah wajah negeri yang makin bopeng saja disana-sini, bukan melulu komedo atau jerawat, tapi sudah super cacat dan sangat muskil untuk bisa diperbaiki lagi, kecuali mungkin para malaikat turun langsung menjadi anggota DPR, menjadi pejabat-pejabat penting. Astaghfirullah. Tapi apa hendak dikata, sudah demikian adanya. Saya sendiri kadang merenung masih terasa asyik jadi generasi yang lahir di tujuh puluhan, saat waktu remaja dulu masih terbuka (walaupun tidak lebar) lapangan pekerjaan. Saya generasi yang mungkin dalam tigapuluh tahunan lagi (Insya Allah jika mengikuti “aturan umur Nabi”) mungkin sudah menghadap padaNya. Saat itu bagaimana jadinya bangsa saya ini ya? Alamnya semakin hancur, semakin panas, makin banyak bencana di sana-sini, makin korup, adu jotos dimana-mana, hama tanamana produksi semakin tidak terkendali, manusia semakin egois, kriminalitas semakin naik daun. Aduh, baru ingat nih, saya masih punya adik yang masih kelas tiga SMP. Semoga Allah melindungimu adindaku.

Itu memang pandangan skeptis saya, yang memang sering-sering meremehkan usaha-usaha dari segelintir orang yang masih berprilaku bener di negara kita ini. Tapi ya sudah menjadi sifat sih, dulunya sih nggak, tapi karena sudah keseringan dikecewakan oleh tayangan-tayangan di televisi, koran dan Internet, akhirnya menjadi “habit”, susah untuk diubah. Saya memandang Indonesia adalah kapal yang akan segera karam, dan saya berani bertaruh bahwa itu “pasti”, cepat atau lambat, tinggal bagaimana kita sekarang banyak-banyak berdoa agar bisa masuk surga. Se-simple itu kok. Meminjam Mas Ebit G Ade, Tuhan tampaknya sudah benar-benar bosan ama perilaku manusia, dan manusia itu gak jauh-jauh, kita !

Adakah upaya memperlambat karamnya sang kapal raksasa itu? Mungkin bisa, walaupun ingat loh ya, ini hanya memperlambat saja, tidak mencegah. Saat ini kita membutuhkan orang sepopulerdan setenang SBY, secepat berpikir ala JK, namun sekuat Gusdur atau Suharto. Bukan berarti saya penyuka figur-figur ini, saya sih biasa-biasa saja, toh setiap dari mereka punya kelebihan dan kekuranganny masing-masing, nggak usah repot-repot mengagung-agungkan mereka jika anda fans berat, tapi juga hemat energi anda untu ngomelin mereka jika anda gak suka dengan mereka-mereka ini, jangan mau capek deh pokoknya, nggak mengubah apapun juga kok, malah bisa-bisa kalau salah cara mengungkapkannya dan timingnya tidak tepat, malah bisa jatuh ke dosa.

Lalu siapa yang memiliki sifat itu semua? Gak ada ! Asli gak ada ! Tidak juga Amin Rais yang dulu saya favoritkan atau Sinuwun Sultan atau Dien Samsudin. Lalu ? Ya jangan menciptakan orang, ciptakan sistem yang memiliki sifat-sifat itu. Yang sering dilupakan orang adalah bahwa yang namanya presiden sebenarnya kalau menurut UUD bukan orang, tapi lembaga, disana berdiri banyak orang selain wakilnya sendiri, para staf ahli, jubir, sekretaris, dengan ratusan orang-orang yang sakti dalam bidangnya masing-masing,  yang sewaktu waktu bisa dimintai pendapat atau petuah, misalnya Forum Rektor, kumpulannya para direktur perusahaan besar, tokoh-tokoh lembaga strategis (LAPAN, LIPI, PAL, dll). Nah lo, kurang apa lagi. Makanya salah besar kalau SBY berfikir dirinya adalah “tok til” presiden, karena dirinya sebenarnya bagian dari suatu sietem. Karenanya sang presiden ini harus bisa menjadi perekat sekaligus communicator yang super-super ulung (mungkin harus pakar dalam NLP misalnya) untuk bisa menciptakan sinergi, sebuah kata yang teramat sering diucapkan secera formal dalam berbagai forum, agak bullshit dan sudah terbukti sulitnya setengah edan untuk bisa diwujudkan dalam kehidupan berorganisasi, bernegara dan berbangsa, termasuk ber-RT ria dalam lingkungan kita sehari-hari. Sepertinya konsep-konsep manajemen dari negara barat saya rasa tidak cocok dengan budaya Indonesia yang serba pingin cepat alias instant, konsumtif, berfikir pendek-pendek saja. Harusnya Hermawan Kertajaya atau Rheinald Khasali bisa menciptakan manajemen gaya asli Indonesia tersebut, bagaimana sifat suka tawuran bisa menjadi penggerak signifikan ekonomi Indonesia modern, bagaimana sifat suka korup bisa menjadi soko guru perekonomian nasional, bagaimana sifat latah yang semakin memasyarakat bisa menjadi motor inovasi Indonesia di mata dunia Internasional. Ooooo….saya jadi berfikir, pantas saja dulu penjajah Belanda ampun-ampunan mempertahankan kedudukannya di Indonesia, bagaiaman bisa bertahan menghadapi ribuan orang yang “latah, nggak ada takutnya kalau keroyokan, nekad, keras kepala”. Lihat saja perang Surabaya, jaman kemerdekaan dulu, Belanda lari tunggang langgang. Gimana nggak, wong yang dilawan moyangnya bonek !

Kembali ke diri saya sendiri, malam ini saat saya menekan-nekan keyboard laptop hasil korupsi saya ini, saya sebenarnya sedang sedih, karena saya tidak berdaya menolong bahkan hanya sekedar menengok saja Mbah saya yang sedang sakit nun jauh di Banjar sana. Saya juga tidak berdaya ketika memikirkan jangan-jangan Mom saya ingin terbang ke sana. Wah, saya nggak punya cukup duit. Apalagi sudah dua minggu ini dalam kepala saya masih berterbangan memori menyedihkan Mbahlek saya (adik kakek saya) yang di Jogja dalam kondisi sakit, sudah tua, dengan rumah yang sudah terluluh-lantakkan gempa Jogja beberapa tahun silam, makan hanya nasi dan tempe saja. Menangis hati saya, tapi saya tidak berdaya. Ah, andai saya Warren Buffet !

Mengapa orang yang harusnya berdaya di negeri ini menjadi kerdil, tidak berdaya apa-apa. Hakim dengan palu ketegasannya, polisi dengan pistolnya, Menteri dengan kekuasaannya, anggota DPR dengan cek kosong yang diberikan rakyat padanya. Ah….semua menjadi tidak berdaya, apa iya hanya bergairah saat ada proyek yang ada duitnya saja?

Termasuk saya yang tidak berdaya apa-apa untuk membantu lebih kepada keluarga besar saya. Saya hanya mampu membantu sedikit-sedikit Mom, Dad, dan adik terkecil saya. Tidak pula bisa diharapkan untuk mertua saya atau paman-bibi saya, apalagi yang hubungannya lebih jauh lagi. Hanya kepada Allah saja saya serahkan segala urusan ini, karena dengan Kun Fayakun-Nya segala sesuatu serba mungkin terjadi. Allah adalah Tuhan saya yang Maha Perkasa di seluruh jagad alam raya ini, bagaimana tidak, wong jagad ini ciptaan-Nya juga, sekedar mahluk-Nya.

Allah Tuhanku yang Maha Besar, berilah pertolonganmu untuk semua ketidakberdayaanku ini. Aku bergantung pada kekuatan-Mu yang tiada tara itu. Berilah aku dan keluargaku rejeki yang meimpah ruah, namun tetap dalam alur keselamatan yang Engkau kehendaki. Hanya kepada Engkau aku bergantung.

Akhirnya ampuni hamba dengan segala kealpaan yang hamba perbuat selama ini, karena kuyakini bahwa Engkau adalah Al-Gofur, sang Maha Pengampun. Amin.

Comments (0)