Tadinya agak-agak ada rasa “menghina” juga pada suatu institusi yang menjanjikan gelar S-1 tanpa skripsi, tiga tahun “dijamin” lulus pula. Ini saya lihat pada suatu harian surat kabar di Bandung (Tribun). 


Ada juga di sebelahnya Hartomo Mechanical Training Centre, yang menyediakan layanan pendidikan jadi montir sepeda motor, yang katanya memberi beasiswa bagi korban lumpur Lapindo, Tsunami Aceh, Tsunami Pangandaran, Gempa Jogja. Semuanya bekerjasama dengan Bank Ekspor Indonesia dan beberapa BUMN.


Satu lagi inspirasi saya hari ini, si iron woman Miss Chrissie Wellington yang jadi juara thriatlon dunia baru-baru ini di ajang dunia Ironman World Triathlon Championship, Hawaii. Ini cewek benar-benar hebat, lengkap dengan cerita “bersahabat dengan alam” di Nepal sana, yang membuat fisiknya terlatih oleh alam. Maka terbitlah cerita fantastis dalam perjuangannya berenang, mengayuh sepeda dan marathon, yang totalnya mencapai ratusan kilometer perjalanan menuju tangga juara.


Lantas, apa hubungan cerita Chrissie ini dengan pendidikan kita?

Ulet ! itulah kunci yang sudah seharusnya kembali kita renungkan dan praktekkan. Saya meyakini jika keuletan bisa mengalahkan segalanya, tentu atas ridlo Allah, yang pasti akan membantu hamba-hambanya yang ingin mengubah nasibnya, sesuai dengan salah satu ayat di Quran. Dan janji itu Insya Allah akan benar menjadi kenyataan, asalkan kita benar-benar sudah maksimal mengusahakannya. 


Saya tahu bahwa sekolah saat ini sudah hampir kehilangan daya mujarabnnya untuk bisa mengatasi berbagai persoalan. Nggak usah jauh-jauh, Bandung aja carut marut pembangunannya, padahal di situ ada beberapa universitas ternama. Ini pada kemana orang-orang pinternya? Atau sudah pada cuek semua? Atau pemda-nya yang sudah bebal nggak mau dengar teriakan para aktivis dan mahasiswa kampus?


Saya pribadi sih sebenarnya tidak terlalu peduli dengan gelar, tapi bagaimanapun manusia Indonesia harus dilatih menjadi orang pinter yang tahan banting lengkap dengan hati nurani yang terasah. Dan salah satu candradimukanya ya di kampus.

Maka aneh saja kalau ada kampus yang memudahkan mahasiswanya lulus, nggak pakai skripsi segala lah, Cuma tiga tahun saja lah (kenapa nggak sekalian dua setengah tahun sekalian, atau dua tahun saja kalau mau, kan itu Cuma masalah birokrasi saja).


Sudah cukup lah dengan kemudahan-kemudahan itu. Kita harus latih generasi muda dengan tantangan-tantangan, biar mereka berfikir keras untuk dirinya, melatih otot-otot otaknya, mengembangkan imajinasinya. Jangan lagi ditambahkan buaian-buaian hanya karena ingin kampus cepat dapat mendatangkan keuntungan karena calon mahasiswa tertarik dengan berbagai kemudahan itu. 
Coba kita lihat lebih jauh lagi. Saat ini kalau ada Pe-er sedikit lebih banyak saja, anak-anak sekolah sudah pada cengeng. Orang tua juga pada ngomel, dipikirnya si guru hanya cari masalah saja. Padahal kalau dikerjakan, paling-paling butuh dua jam, selesai. Bandingkan dengan berapa jam yang dibutuhkan si anak nonton TV atau maen playstation, misalnya.
Jadi guru saat ini memang serba salah. Saya pernah mengalaminya waktu mengajar di salah satu SMK terkemuka di Makassar. Baru saja dikasih beberapa PR, saya malah dicemberutin anak-anak. Mereka sudah mulai “marah” pada saya. Entahlah, generasi sekarang kok tambah lembek saja.

Lihat saja cara mendidik ortu modern saat ini. Semua yang berbau kotor dan keras, tidak diperbolehkan untuk dilakukan sang anak. Maka si anak jadi cengeng, norak, egois, maunya enak sendiri. Ah, itu bukan menjaga namanya, tapi justru menyiksa secara pelan-pelan. Sampai kapan ortu akan memanjakan anaknya? Bahkan nenek-nenek jaman sekarang saja sudah sulit ditemui yang nganggur, semua pada sibuk, seperti sibuknya mereka dulu waktu mengasuh anak-anaknya. Ngapain aja mereka ? Ya, sibuk ngurusin cucu-cucunya, padahal si ibu nganggur di rumah saja. 


Para generasi muda, latih otot otak dan otot mentalmu. Jangan lemot dan loyo untuk tetap konsisten belajar dan bekerja keras. Sudah waktunya hilangkan impian-impian hidup ala sinetron yang banyak bohongnya itu. Sudah waktunya sinetron atau acara sejenis yang meninabobokkan pemirsa diharamkan dari layar TV, buat apa ada Lembaga Sensor coba? Jangan hanya berfikir sempit kalau yang harus disensor Cuma yang ada sex-nya doang. Kalau itu sih, saya juga bisa kok. Gampang banget.

Comments (0)