Dusun Sewugalur, Desa Karangsewu, Kulon Progo, dilaporkan 23 benda cagar budayanya terabaikan. Rakyat di sana tidak peduli. Ada rumah, makam, bekas fondasi cerobong asapa pabrik, bekas tugu kincir angin, yang semuanya katanya adalah peninggalan bekas kompleks pabrik gula milik Belanda.


Ditanyakan ke Seksi Sejarah dan Kepurbakalaan Kulon Progo, jawabannya adalah kekurangan dana. Jawaban klise, yang jika diikuti dengan kata yang umum dipanuti yaitu “menyerah”, ya sudah, bubarlah dunia ini. Heran, kenapa tidak ada jawaban lain yang lebih kreatif, misalnya “masih perlu diolah dan dilestarikan lagi dengan cara baru dengan melibatkan generasi muda, bla-bla-bla”. Kenapa anak-anak sekolah tidak diajarkan sejarah tentang penjajahan Belanda dengan mengambil lokasi pengajaran di sana? Kenapa juga tidak memasukkannnya dalam website Pemda atau membuat blognya dalam blog gratisan ala Google punya atau lainnya lah.


Sejarah dapat dijual? Tentu ini agak provokatif, tapi kenapa tidak? Sekalian saja sejarah ini dijadikan sumber ilmu saja, diabadikan oleh skripsinya mahasiswa ilmu budaya apalagi yang mengambil kekhususan tentang sejarah. Jangan melulu tentang borobudur dan situ-situs konvensional lainnya. Yang seperti pabrik tua gitu bisa dijadikan “plasma nutfah sejarah” Indonesia.


Memang tidak gampang, semuanya memang tidak mudah. Tapi itu kan sudah jadi tugas bagi Dinas Sejarah di Pemda? Ya sudah, laksanakan tugas secara profesional deh. 
Wah, hari ini saya dapat pencerahan dari tulisan menarik dari Pak Setyo Wibowo di koran Kompas hari ini yang berjudul “Cukupkan diri, jangan berlebihan”. Katanya Sokrates pernah bilang bahwa kita harus mengenali diri sendiri, dan jangan berlebih lebihan. Puncak kebijaksanaan adalah ketika manusia tahu jati dirinya adalah jiwanya, bukan hartanya”.

Juga dikatakan bahwa tidak ada resep yang mudah agar rasio klop ama jiwa, harus sering dilatih.Kalau nggak, ya seperti yang banyak kita lihat, ada pemimpin teriak-teriak agar menjadi sederhana, dia sendiri nggak nyadar kalau jauh dari apa yang diucapkannya sendiri. 

Saya setuju tuh, malah saya senank kalau presiden negara ini rumah pribadinya (bukan rumah dinas atau istana presiden) berukuran tipe 60 aja lah maksimal. Kasih contoh pada rakyat, ya nggak perlu ala Mahatma Gandhi lah, dan si Ibu presidennya juga nggak perlu ala Bunda Theresa yang super hebat itu. Tapi why nggak bisa seperti mereka? Harusnya bisa dong, wong udah nggak mikir apa-apa lagi. Semua sudah ditanggung negara, sakit akan diobati negara, mau berobat ke dukun manapun sedunia juga gratis, anak-anak juga pastinya sudah punya modal untuk hidup mandiri, apalagi coba?


Saya ingin presiden dan istri, juga wakilnya, terus pantau rakyat selama 24 jam (makanya jangan yang tua milihnya, yang muda dong), kreatif, dan terus memberi semangat pada rakyat. Masuk koran tiap hari, masuk ke blog atau milist di Internet tiap hari, kasih masukan apa saja buat rakyat dan jadikan rakyat Indonesia ini kembali untuk PEDE, seperti PEDE-nya rakyat waktu mendukung proklamasi dulu.


Dan satu hal, tekankan bahwa JIWA adalah nomor satu. Makanya sekolah penting, membaca penting, sastra penting, agama super penting, semua harus dinomorsatukan, jangan mau dikalahkan sama budaya konsumerisme, budaya buang-buang duit bin serakah membawa berkah, ah….parah kalau jadi panutan.


Tapi itu bukan berarti menteri ekonomi enak-enakan. Dia harus berusaha mengawasi 24 jam keadilan dalam berekonomi dan kesempatan rakyat berjuang dalam ekonominya. Beri kesempatan rakyat kecil makan dengan teratur, dan peringatkan kalau ada pengusaha yang mulai serakah, padahal sudah kaya. Kaum achievers (yang berprestasi) – meminjam sebutan dari tulisannya Pak Rheinald Kasali di salah satu tulisannya di Kompas hari ini juga) harus dapat kesempatan lebih. Biar Indonesia ini benar-benar berprestasi, yang pinter akan dihargai, yang bodoh apalagi membuat keonaran harus disingkirkan.


Sekolah buat orang pinter dan berkemauan keras, bukan buat orang kaya tapi bodoh nan pemalas. Camkan itu Indonesiaku !

Saya termasuk orang yang pesimis dengan kondisi manajemen pendidikan Indonesia pada umumnya, dari mulai TK sampai Universitas, sampai S-3 nya sekalipun. Kok nggak bisa menjadi motor penggerak yang sejati bagi bangsa ini ya? Korupsi semakin merajalela, masih banyak yang lugu pula, gimana nggak, kok bisa bisanya ada saja yang masih memilih artis debutan yang nol besar dalam bidang politik. Ha..ha..saya jadi kebayang kalau si artis nanti jadi pejabat, dikelilingi para pejabat banyak dinas yang membutuhkan petunjuk dan arahan. Bisa ngomong apa dia? Paling-paling statement-statement general saja, seperti “mari kita tingkatkan pendidikan bagi generasi penerus bangsa”. Bah ! Itu sih omongan yang hanya boleh diucapkan seorang presiden, kalau sudah di bawah presiden ya harus sudah berbau “juklak”, sudah mulai rinci dan tajam serta kasuistis sesuai dengan kondisi di daerah masing-masing.


Jangan-jangan orang Indonesia nggak cocok jadi orang sekolahan ya, seperti halnya orang Indonesia katanya nggak cocok bergerak di bidang manufaktur. Itu cocoknya buat orang Korea, Jepang, Cina. Kalau kita mungkin cocoknya ya pertanian, pelayaran alias kelautan, dan mungkin berbakat menjadi eksportir TKI terbesar di dunia, bahkan nanti-nanti siap-siap saja untuk menyiapkan bisnis eksportir TKI ke planet-planet yang nanti bakal jadi hunian baru manusia.

Makanya saya lebih cenderung suka jika 80% semua kegiatan pendidikan diarahkan ke sektor “praktek”, real bermanfaat dan dapat dilihat buktinya dalam waktu yang tidak lama. Karena orang-orang Indonesia katanya malas mikir, dan pengennya cepat dapat hasil, tidak mau lama-lama, seperti untuk investasi dalam pendidikan anak-anaknya. Jadi stengah hati melakukannya, dan itu pasti tidak akan menghasilkan apa-apa. 


Nah, itu artinya, bongkar saja semua SMU menjadi SMK. Ya kalau keberatan, biarkan namanya tetap SMU (apalah arti sebuah nama), tapi di dalamnya harus dirombak menjadi tempat pelatihan, bukan melulu pendidikan, yang saat ini selalu dimaknai sebagai melulu hafalan dan ingatan. Sudah saatnya Omar Bakri melihat bahwa sepedanya dijadikan sepeda listrik oleh anak-anak didiknya.


Saya jadi bersemangat untuk menyekolahkan adik saya tercinta ke SMK. Dan di Cimahi rasanya nggak banyak yang jurusannya sesuai dengan “selera” saya, yang berbau komputer. Dianya juga mau, seperti dulu sempat kami diskusikan bersama dalam suatu kesempatan ngobrol. Setelah saya surfing bentar, ternyata ada SMK Negeri 1 Cimahi, yang ada di jalan Leuwi Gajah. Saya jadi ingat Pak Uud, ustadz masjid kami di BPI, yang pernah cerita punya anak pernah sekolah di sana. Waktu itu sempat kami ngobrol saat beliau menjadi “mediator” keluarga kami dengan keluarga Mas Ari, calon adik iparku untuk bertunangan dengan adikku satu lagi.

Dari website-nya, disebutkan bahwa :

SMK Negeri 1 Cimahi merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Menengah Kejuruan di Jawa Barat yang menyelenggarakan Program Pendidikan Kejuruan 4 Tahun, dan merupakan salah satu SMK dari 8 (delapan) SMK Negeri di Indonesia yang memiliki program 4 (empat) Tahun, yang pembangunan fisiknya dimulai sejak tahun 1969, di atas tanah seluas 3,4 Ha, dan telah menerima siswa sejak tahun 1974 dengan nama STM Negeri Pembangunan Bandung, yang diresmikan pada tanggal 24 Maret 1977. Perkembangan SMK Negeri 1 Cimahi dari sejak berdiri sampai dengan tahun 1995/1996 bernama STM Pembangunan Bandung, sedangkan nama SMK Negeri 1 Cimahi. 


Terus soal bidang keahlian dan programnya, ada beberapa bidang di sana dan program disana, antara lain :

1. Bidang Keahlian Teknik Elektro terdiri dari

• Program Keahlian Teknik Transmisi
• Program Keahlian Elektronika Industri dan Komputer
2. Bidang Keahlian Listrik terdiri dari
• Program Keahlian Listrik Industri
3. Bidang Keahlian Teknik Pendinginan terdiri dari
• Program Keahlian Teknik Pendinginan dan Tata Udara
4. Bidang Keahlian Teknik Instrumentasi Industri terdiri dari
• Program Keahlian Kontrol Proses
• Program Keahlian Kontrol Mekanik
5. Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi
• Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak
• Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan
• Program Keahlian Teknik Produksi Program Pertelevisian

Nah, maybe saya usulkan ke adik saya untuk masuk program Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan atau di Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak. Mudah-mudahan dia mau tuh, soalnya kalau lihat tipikal orangnya, dia nggak terlalu suka teori-teori. Sukanya ya komputer itu, Cuma ya maennya game saja. Mudah-mudahan ini tidak berkepanjangan, smoga dia jadi “bosan” dan akhirnya berpaling ke permainan komputer lainnya seperti pemrograman dan instalasi jaringan. Yah, kecil kemungkinan dia suka, tapi siapa tahu.


Selain pertimbangan itu, saya cenderung lebih suka memilihkannya jurusan yang tidak terlalu jauh dari yang ditekuni saya, kakaknya. Ya, siapa tahu bisa bantu-bantu dia nanti dalam pelajarannya, atau setidaknya kalau ada masalah saya bisa lebih mudah memahaminya. Apa yang sudah saya capai, walaupun kecil, setidaknya bisa dia pakai untuk penopang kakinya agar lebih mudah dan lebih cepat memanjat pohon cita-citanya. Sayang sekali dulu kenapa tidak ada anak-anak Dad yang mau jadi tentara, padahal Dad sudah punya pintu untuk itu.Dad sendiri juga tidak mengarahkan kami ke sana sih, semua serba demokratis, asal harus S-1, katanya gitu.

Makanya saya nggak pernah merasa menyalahkan kalau ada artis yang menjadikan anaknya menjadi artis juga, “menjual” anak-anaknya ke produser atau pemandu bakat yang mereka kenal, lalu dalam waktu singkat…boom…sudah jadi artis deh. Bagi saya mereka tidak curang, tapi cerdik, karena ibu atau bapaknya sudah punya “tempat”, ya dipakai saja oleh si anak. Soal ada cibiran dari orang, ya anggap saja kafilah yang sedang menggonggong.

So, siap-siap tahun depan ya adikku. Wah, saya juga harus sudah mulai menyiapkan pintu lainnya nih, yaitu duitnya. Nah ! 

Tadinya agak-agak ada rasa “menghina” juga pada suatu institusi yang menjanjikan gelar S-1 tanpa skripsi, tiga tahun “dijamin” lulus pula. Ini saya lihat pada suatu harian surat kabar di Bandung (Tribun). 


Ada juga di sebelahnya Hartomo Mechanical Training Centre, yang menyediakan layanan pendidikan jadi montir sepeda motor, yang katanya memberi beasiswa bagi korban lumpur Lapindo, Tsunami Aceh, Tsunami Pangandaran, Gempa Jogja. Semuanya bekerjasama dengan Bank Ekspor Indonesia dan beberapa BUMN.


Satu lagi inspirasi saya hari ini, si iron woman Miss Chrissie Wellington yang jadi juara thriatlon dunia baru-baru ini di ajang dunia Ironman World Triathlon Championship, Hawaii. Ini cewek benar-benar hebat, lengkap dengan cerita “bersahabat dengan alam” di Nepal sana, yang membuat fisiknya terlatih oleh alam. Maka terbitlah cerita fantastis dalam perjuangannya berenang, mengayuh sepeda dan marathon, yang totalnya mencapai ratusan kilometer perjalanan menuju tangga juara.


Lantas, apa hubungan cerita Chrissie ini dengan pendidikan kita?

Ulet ! itulah kunci yang sudah seharusnya kembali kita renungkan dan praktekkan. Saya meyakini jika keuletan bisa mengalahkan segalanya, tentu atas ridlo Allah, yang pasti akan membantu hamba-hambanya yang ingin mengubah nasibnya, sesuai dengan salah satu ayat di Quran. Dan janji itu Insya Allah akan benar menjadi kenyataan, asalkan kita benar-benar sudah maksimal mengusahakannya. 


Saya tahu bahwa sekolah saat ini sudah hampir kehilangan daya mujarabnnya untuk bisa mengatasi berbagai persoalan. Nggak usah jauh-jauh, Bandung aja carut marut pembangunannya, padahal di situ ada beberapa universitas ternama. Ini pada kemana orang-orang pinternya? Atau sudah pada cuek semua? Atau pemda-nya yang sudah bebal nggak mau dengar teriakan para aktivis dan mahasiswa kampus?


Saya pribadi sih sebenarnya tidak terlalu peduli dengan gelar, tapi bagaimanapun manusia Indonesia harus dilatih menjadi orang pinter yang tahan banting lengkap dengan hati nurani yang terasah. Dan salah satu candradimukanya ya di kampus.

Maka aneh saja kalau ada kampus yang memudahkan mahasiswanya lulus, nggak pakai skripsi segala lah, Cuma tiga tahun saja lah (kenapa nggak sekalian dua setengah tahun sekalian, atau dua tahun saja kalau mau, kan itu Cuma masalah birokrasi saja).


Sudah cukup lah dengan kemudahan-kemudahan itu. Kita harus latih generasi muda dengan tantangan-tantangan, biar mereka berfikir keras untuk dirinya, melatih otot-otot otaknya, mengembangkan imajinasinya. Jangan lagi ditambahkan buaian-buaian hanya karena ingin kampus cepat dapat mendatangkan keuntungan karena calon mahasiswa tertarik dengan berbagai kemudahan itu. 
Coba kita lihat lebih jauh lagi. Saat ini kalau ada Pe-er sedikit lebih banyak saja, anak-anak sekolah sudah pada cengeng. Orang tua juga pada ngomel, dipikirnya si guru hanya cari masalah saja. Padahal kalau dikerjakan, paling-paling butuh dua jam, selesai. Bandingkan dengan berapa jam yang dibutuhkan si anak nonton TV atau maen playstation, misalnya.
Jadi guru saat ini memang serba salah. Saya pernah mengalaminya waktu mengajar di salah satu SMK terkemuka di Makassar. Baru saja dikasih beberapa PR, saya malah dicemberutin anak-anak. Mereka sudah mulai “marah” pada saya. Entahlah, generasi sekarang kok tambah lembek saja.

Lihat saja cara mendidik ortu modern saat ini. Semua yang berbau kotor dan keras, tidak diperbolehkan untuk dilakukan sang anak. Maka si anak jadi cengeng, norak, egois, maunya enak sendiri. Ah, itu bukan menjaga namanya, tapi justru menyiksa secara pelan-pelan. Sampai kapan ortu akan memanjakan anaknya? Bahkan nenek-nenek jaman sekarang saja sudah sulit ditemui yang nganggur, semua pada sibuk, seperti sibuknya mereka dulu waktu mengasuh anak-anaknya. Ngapain aja mereka ? Ya, sibuk ngurusin cucu-cucunya, padahal si ibu nganggur di rumah saja. 


Para generasi muda, latih otot otak dan otot mentalmu. Jangan lemot dan loyo untuk tetap konsisten belajar dan bekerja keras. Sudah waktunya hilangkan impian-impian hidup ala sinetron yang banyak bohongnya itu. Sudah waktunya sinetron atau acara sejenis yang meninabobokkan pemirsa diharamkan dari layar TV, buat apa ada Lembaga Sensor coba? Jangan hanya berfikir sempit kalau yang harus disensor Cuma yang ada sex-nya doang. Kalau itu sih, saya juga bisa kok. Gampang banget.

Dari koran yg kubaca hari ini, ada berita menyedihkan dari Kampung Babakan, kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, dimana ada lima pekerja pembangun tebing tertimbun tanah sampai meninggal dunia. Ironisnya, persis di sebelahnya ada bahasan sedikit tentang perkelahian anak-anak UKI vs YAI yang sudah jadi tradisi.


Kedua kejadian itu sama-sama menunjukkan pertarungan terhadap dunia yang keras. Namun sangat berbeda sekali kutubnya, yang di Dramaga adalah pertarungan suci nan Insya Allah diridhoi Allah, karena keluarga mereka menunggu di rumah, di kampungnya di Majalengka, menunggu bapak atau saudara atau anaknya datang membawa uang untuk keperluan sehari-hari dan mungkin untuk sekolah anak-anaknya. Sedangkan satunya adalah pertarungan kekanak-kanakan bin kampungan bin ndeso yang nggak ada pantas-pantasnya dilakukan sang generasi muda, anak sekolahan. Bahkan dari razia polisi kabarnya ada asesories senjata tajam, minuman keras, dan obat terlarang yang kesemuanya mewarnai kehidupan sang generasi penerus bangsa itu. Ada alibi bahwa semua tidak lepas dari kecemburuan sosial karena salah satu kampusnya lebih megah dari yang lain. Menurut saya tetap saja itu tidak menjelaskan alur logika, apalagi ini mahasiswa, siswa yang harusnya sudah “maha”, termasuk sopan santunnya tentu. Kelakukan cetek begitu sih nggak ada bedanya dengan anak-anak tetangga di kampung saya yang berkelahi gara-gara persoalan kalah maen kelereng atau kalah maen bola.


Saya tahu kalau mereka mereka itu oknum saja, tidak mewakili semua mahasiswa YAI dan UKI tentunya. Tindakan tegas harus diambil. Minimal pecat mereka dari pangkat mahasiswanya, dan harus dipenjara juga. Jangan dilepaskan begitu saja. Keenakan mereka nanti. Tapi ya polisi harus diingatkan jangan sampai gara-gara Mama dan Papanya datang ke polisi terus anak-anaknya yang super nakal itu dilepas. Wah, ini bisa menimbulkan kecurigaan pada polisi, jangan-jangan main mata deh.


Akhirnya Rektor kedua kampus itu “bersumpah” akan mencari solusinya. Ha..ha…ha..itu sumpah udah berapa kali diucapkan, dari tahun kapan tuh, karena kejadian ini sudah berkali-kali. Malah sudah empat kali dalam dua tahun terakhir, dan kata Kompas itu belum ada hasilnya sama sekali. Ya, nggak salah juga sih, si rektor emang harus ngomong begitu, demi menyelematkan muka, dan menyelamatkan bisnis pendidikan yang dibebankan padanya sebagai bosnya kampus. Kasiyan deh.

Saya jadi mikir nih, kok banyak sekali mahasiswa yang doyan perang ya. Pengalaman setahun saya di Makassar dulu juga begitu, anak-anak di sana doyan sekali demo dan membuat irama kekerasan, atas nama militan dan membela idealisme. Antar fakultas di universitas yang sama saja sering terjadi perkelahian. Ya sekali lagi memang tidak semuanya sih, tapi tetap saja masyarakat geleng-geleng kepala. Ayo, mari kita hancurkan sama-sama negeri ini. Kata salah satu lagunya Mas Dani Ahmad dulu tuh (lupa judulnya) “yang muda mabuk yang tua korup”. Lengkap sudah.


Jangan-jangan ini bukan hanya menunjukkan kegagalan di universitasnya, tapi juga dari tingkat dasarnya ada (SD dan SMP) sudah nggak menghasilkan lulusan dengan kualitas dan etika yang layak.


Tadinya saya ingin menganalisa, dan ingin coba mencari solusi lebih jauh. Tapi tiba-tiba saya jadi malas, apagi tersadar bahwa ini Indonesia, dan yang saya bicarakan dari tadi adalah manusia. “Manusia Indonesia” tepatnya. Nah, kalau bicara tentang yang namanya Manusia Indonesia nih, capek deh….sampai berbusa nih mulut nggak bakal menemukan solusi, kecuali ada revolusi besar-besaran di segala bidang di Indonesia ini. Dan itu cukup impossible.

Ada petikan promo UNSW (Universitas New South Wales) yang lumayan “mengganggu” saya, berbunyi “pendidikan global + jejaring global = peluang global”. Apa iya itu masih benar dalam kondisi carut marut ekonomi dan sosial dunia saat ini? Apakah pernyataan itu tidak ditakar ketidakpastiannya? Dan berikutnya apakah calon mahasiswa dan ortunya sekalian memiliki kemampuan dalam mengkritisi pernyataan-pernyataan “boom” semacam itu?

Saya coba berhati-hati terhadap gelagat pamer diri yang saat ini sudah jamak diadop oleh pihak universitas sekalipun, yang sebenarnya harus benar-benar steril terhadap urusan “keduniawian”. Tapi kalau ditinjau dari soal sah tidaknya ya tentu sah saja, apalagi yang membuat slogan itu toh bukan UNSW nya sendiri, bisa jadi kerjaannya para merketernya di Jakarta.

Agak curiosity ke universitas yang satu ini, saya coba surfing sebentar di homepage-nya. Ada statement di dalamnya bahwa :

“UNSW, a member of the Go8, is one of Australia's leading research intensive universities. While we conduct research across a wide range of disciplines, we are investing considerable resources in particular areas where we feel we can make a difference. This involves building on existing strengths, in fields where we are already a world leader, as well as identifying emerging problems and opportunities, and moving to meet the challenge. In the latest issue of Research@UNSW, we outline developments in climate change and sustainability, smart technology, creative media, social policy and life saving medical research”.

Hm, gagahnya mereka, pede-nya mereka. Seolah-olah hampir segala bidang yang “laku” saat ini sudah berada dalam jangkauan riset mereka. Kapan saya bisa saksikan “kesombongan” ini di website universitas-universitas di negeri kita ya?
Tiba-tiba saya ingat pada Rachael Ray, si cantik jago masak yang meroket di Amrik dengan talk show-nya, bahkan sudah mampu menyaingi Oprah. Dia mampu meramu berbagai masakan dari bahan-bahan yang ada, tidak perlu yang ruwet-ruwet, rumit-rumit, aneh-aneh, yang kalau di supermarket ada ya sudah langsung saja pakai, tidak harus masak dengan bumbu yang harus dibuat sendiri dari nol besar. Dan hasil masakannya banyak yang berpendapat tidak kalah dengan hasil racikan resto-resto supermewah di sana. Ya ini katanya, dan mungkin juga itu semua resep bukan hasil riset dia sendiri, tentu sudah ada team-nya yang membantu.

Namun bukan soal masakan itu yang saya mau ambil di sini. Saya hanya mau padukan keinginan kuat untuk riset dari universitas UNSW dengan bahan-bahan “seadanya dan disekitar lingkungan kita” dari Racahel Ray. Formula ini mungkin perlu ditambah dengan bumbu-bumbu lain seperti pola menghargai karya sendiri ala Mahatma Gandi dengan swadesi-nya, yang membuat rakyat India hanya akan membeli hasil produk tenunan sendiri walaupun kalah jauh kualitasnya dengan produk luar negaranya. Artinya, saya ingin kita semua belaja menghargai hasil karya sendiri.


Jika anda bisa menghasilkan karya, sekecil apapun itu, berbanggalah. Jangan membandingkannya dengan produk luar yang serupa yang mungkin jauh lebih baik kualitasnya. Ya menoleh ke produk lain bolehlah, namun hanya untuk memberi pelajaran tambahan untuk memperbaiki hasil produk kita lebih baik lagi. Saya baru saja semingguan lalu membaca PT Inka akan membuat mobil hemat energi buatan bangsa sendiri. Ini sih tidak aneh sebenarnya, karena sudah ada isu serupa bahkan sejak jaman Soeharto. Namun marilah kita menyikapinya dengan lebih wise lagi, hentikan kebiasaan yang tidak jelas juntrungannya, yang hanya selalu produk luar minded. Saya sih bukan bermaksud untuk anti terhadap produk luar, tapi hanya berusaha mengingatkan diri sendiri untuk tidak hanyut dalam gelombang paradigma yang makin menganak-emaskan produk luar, yang akhirnya akan membuat bangsa ini bangkrut, PHK masal, orang pada malas menjadi produsen, mendingan jadi pedagang saja, tidak usah memikirkan nasib buruh, yang penting dapat untung.

Sedih juga kalau melihat fakta bahwa sampai detik ini kita masih tidak mampu menambang minyak dengan alat sendiri, tidak mampu membuat infrastruktur telekomunikasi dengan hasil karya sendiri, tidak mampu membuat benang walau terkenal sebagai salah satu negara produsen clothing. Hmm, begini lah kalau range pikiran hanya sampai situ-situ saja, berhenti di urusan perut. Masih lumayan kalau yang seperti itu adalah para tukang becak, atau petani miskin di pedesaan. Karakter yng seperti itu ternyata juga sangat ramai “diminati” banyak orang pintar di negeri tercinta ini, termasuk di kalangan universitas.

Kembali ke peluang global, apakah iya pendidikan global menjadi kuncinya? Kalau pada awal tadi dalam sudut pandang nasionalisme saya agak membencinya, tapi pemikiran gila saya malah setuju saja untuk dicoba jika memang gaya pendidikan “lokal” saat ini tidak bisa memberi solusi yang diinginkan. Bayangkan jika para rektor seluruh universitas di Indonesia diganti dengan manajer-manajer ulung yang kita import dari Singapura, India, Amerika, Hongkong, China. Kita bayar mahal mereka untuk menghargai profesionalitasnya, seperti Chelsea mambayar mahal “the special one” untuk menggolkan keinginan mereka merajai lapangan bola di daratan Inggris. Solusi aneh ? Wah, nggak juga. Malah saya usulkan saja sekalian kita import orang untuk jabatan-jabatan anggota DPR sampai menteri, tapi jangan presidennya lah. Why not? Mungkin suatu saat pun khayalan ini akan jadi kenyataan loh.

Nah saat itulah slogan jejaring global = peluang global, saya yakini, akan bisa direalisasikan. Kan sudah jadi warisan nenek moyang kalau bangsa ini selalu nurut kalau diperintah wong Londo ? Jadi siapa tahu dengan begitu, rakyat Indonesia akan lebih mudah diatur, gampang termotivasi untuk kerja, kerja dan kerja sekalian gak banyak omong, karena tidak mengerti bagaimana speaking in English kepada para meneer barunya. Dan kalau ada pegawai yang bandel atau kinerjanya kurang baik, si meneer akan lebih “sampai hati” memecatnya. Lihatlah Ibu Sri Mulyani, yang baru-baru saja merombak jajaran di eselon 2 di departemennya yang berkinerja buruk, dimana dulunya si pejabat-pejabat brengsek ini tetap survive karena dilindungi terus oleh eselon 1 di atasnya, atas dasar kasihan misalnya. Menyedihkan memang !
“Microsoft rupanya tak hanya tercatat sebagai produsen software terbesar di dunia. Perusahaan milik miliuner Bill Gates ini juga didapuk sebagai perusahaan yang paling banyak menggelontorkan pundi-pundi uangnya untuk research & development (R&D). Menurut data yang dikeluarkan Industrial R&D Investment Scoreboard Uni Eropa, Microsoft tercatat sudah menginvestasikan US$ 7,65 miliar untuk kebutuhan R&D pada 2008 ini. Angka itu sekaligus melonjakkan Microsoft di posisi teratas daftar tersebut setelah pada tahun lalu menduduki posisi keempat. Di bawah Microsoft ada dua perusahaan asal Amerika lainnya yakni General Motors dan Pfizer untuk mengisi posisi kedua dan ketiga. Perusahaan TI dan Telekomunikasi rupanya banyak juga yang dinilai royal dalam hal riset. Sebut saja Nokia, Samsung Electronics, Intel, IBM, Alcatel-Lucent, Siemens, Sony, Cisco Systems, Motorola serta Ericsson masuk dalam daftar ini”.

Begitu bunyi salah satu berita dari “www.detik.com” yang baru saja saya baca menjelang tidurku malam sabtu yang cukup membahagiakan kali ini, karena banyaknya ilmu baru yang saya dapatkan dalam ruang kelas kuliah dari pagi sampai sore tadi.
Kagum dan cek..ck..ck..

Mungkin itu ungkapan yang tepat ditujukan kepada perusahaan-perusahaan itu. Sepintas terpikir mereka bisa karena mungkin didukung oleh kemampuan finansialnya yang tinggi. Sepintas lalu juga terbayang berbagai macam sarana prasarana pendukung untuk melakukan inovasi-inovasi hari demi hari dalam pekerjaan para engineer mereka. Sepintas lalu terbayang kemudahan yang diberikan oleh suasana koordinasi nan indah terintegrasi yang sudah berhasil diciptakan landasannya oleh para nenek moyang negara-negara mereka yang dengan landasan ini maka pesawat inovasi terbaru siap diluncurkan dengan kecepatan tinggi dan siap menyasar pangsa pasar sesuai kehendaknya ke seluruh dunia, yang sebagiannya akan singgah ke bangsa yang super konsumtif (padahal kere) yang tak lain adalah Indonesia.

Pertanyaan besar yang selalu saja cenderung dijawab dengan guyonan yaitu kenapa bangsa kita tidak bisa seperti mereka? Padahal sudah susah menghitungnya orang-orang pintar yang S2 bahkan S3, yang anehnya sebagiannya benar-benar jagoan di kampusnya yang sebagiannya malah di luar negeri, tapi begitu masuk kandangnya lagi alias balik ke Indonesia, jadi macan ompong lagi. Faktor dana riset lah, kekurangan waktu riset lah, kurangnya peenghargaan pada hak intelektual lah, kurang terintegrasinya pemerintah-universitas-swasta lah, de-el-el alasan, yang saya sendiri sudah mendengarnya mungkin ratusan kali. Sudah bosan.

Tapi apakah tidak ada solusi lagi selain alasan-alasan itu tadi yang benar-benar membuat kita semua mati kutu beku dalam kulkas keterbelakangan? Bagaimana caranya negara ini agar bisa menjadikan orang-orang pintarnya semua tiba-tiba menjadi “kerasukan” atau “gila” dalam riset dengan segala keterbatasan dana, waktu, dan lain-lain yang menjadi latar belakangnya?

Semangat! Dan ridlo Allah! Saya meyakini inilah kuncinya. Kita sudah tidak kehilangan, bahkan mati, dalam hal semangat ini. Sudah tidak ada motivasi lagi untuk membangkitkan kemampuan bangsa dalam bidang pelayaran, pertanian, kemampuan persatuan dalam kemajemukan, kemampuan memelihara toleransi, dan lain-lain bidang. Sudah waktunya Presiden dan para pembantunya dan pejabat pemda tertinggi sampai ke tingkat RT, para tokoh dan ilmuwan, terutama para pengajar di kampus, bergandeng tangan serta sama-sama secara serempak melakukan revolusi mental dalam semangat riset. Go to riset !

Apa yang harus diriset? Ini perlu fokus juga, agar bisa menjadi pembeda, istilah marketingnya adalah positioning dan differentiation. Tapi ya jangan terlalu berleha-leha juga dalam pembahasan strategi-strategi semacam ini, nanti kehabisan waktu hanya untuk memikirkan rencana, yang akhirnya rencana untuk membuat rencana berikutnya. Pokoknya riset yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat dan negara, nah itu yang harus diutamakan. Tapi biarkan juga jika ada seglintir ilmuwan yang ingin menliti tentang relativitas ala Einstein, misalnya!

Saat ini dibutuhkan evidence, dan diantara kita yang memiliki kapasitas riset ya harus melakukannya, walaupun itu hanya dalam suatu bentuk tulisan berupa analisa yang kemudian diupload ke Internet, misalnya. Saya kok nggak yakin kalau banyak yang bilang bahwa sebagian besar kita tidak bisa menulis. Jangan-jangan bukan tidak bisa, tetapi “sengaja” tidak bisa, dengan berbagai alasannya, dari yang alami (malas) sampai yang canggih (dibuat-buat).

Sepintas saya terlihat optimistic, tapi saya tegaskan bahwa saya tidak sedang ceramah secara berkobar-kobar menyemangati para pembaca (dan saya juga di dalamnya). Tidak sama sekali. Keyakinan saya pada potensi daya riset Indonesia berdasarkan pada pengamatan langsung pada banyak para orang pintar Indonesia yang pernah saya jumpai sehari-hari sampai pada yang hanya saya amati dari kejauhan via koran, majalah dan tentu saja Internet. Banyak dari mereka kelihatan mampu kok (dengan otak risetnya sangat potensial), tapi kok tidak pernah atau jarang melakukan riset ya? Pasti jawabannya nggak jauh dari alasan klasik yg sudah saya uraikan pada paragraf-paragraf awal.

Sudahlah, jangan terlalu banyak berteori tentang harus bagaimana riset. Jendral Sudirman melakukan perjuangannya dengan gerilya, suatu taktik yang sangat Indonesia banget. Rasanya “riset gerilya” mungkin bisa saya sodorkan menjadi judul besar kebangkitan riset Indonesia. Apapun yang anda punya, apapun yang tidak anda punya, asal anda punya potensi riset, lakukan riset, sporadis perorangan sekalipun, bermodalkan buku dan pensil saja (untuk menghasilkan rumus matematika yang baru, analisa fisika yang baru, strategi marketing baru) sekalipun, atau bermodalkan seember air dan sebuah tanaman bunga sekalipun (untuk menghasilkan cara bercocok tanam yang lebih modern).

Kalau gagal? Hm, saya baru siang tadi mendapat pencerahan dari salah satu dosen S2 saya, mengatakan bahwa Apple saja sudah pernah puluhan kali gagal dalam produknya yang jumlahnya ratusan. Tapi mereka tidak pernah kenal lelah.
Rasanya riset sudah jadi darah daging mereka. Kegagalan justru menjadi air dan makanan pembentuknya. Pahami saja ini untuk dijadikan pelajaran bagi kita, dan gampang saja kok, kita tinggal tiru semangat itu, tidak usah berkontemplasi untuk sampai mendapatkan contoh itu kan?

Don’t talk if you don’t wanna do it!