Saya termasuk orang yang pesimis dengan kondisi manajemen pendidikan Indonesia pada umumnya, dari mulai TK sampai Universitas, sampai S-3 nya sekalipun. Kok nggak bisa menjadi motor penggerak yang sejati bagi bangsa ini ya? Korupsi semakin merajalela, masih banyak yang lugu pula, gimana nggak, kok bisa bisanya ada saja yang masih memilih artis debutan yang nol besar dalam bidang politik. Ha..ha..saya jadi kebayang kalau si artis nanti jadi pejabat, dikelilingi para pejabat banyak dinas yang membutuhkan petunjuk dan arahan. Bisa ngomong apa dia? Paling-paling statement-statement general saja, seperti “mari kita tingkatkan pendidikan bagi generasi penerus bangsa”. Bah ! Itu sih omongan yang hanya boleh diucapkan seorang presiden, kalau sudah di bawah presiden ya harus sudah berbau “juklak”, sudah mulai rinci dan tajam serta kasuistis sesuai dengan kondisi di daerah masing-masing.
Makanya saya lebih cenderung suka jika 80% semua kegiatan pendidikan diarahkan ke sektor “praktek”, real bermanfaat dan dapat dilihat buktinya dalam waktu yang tidak lama. Karena orang-orang Indonesia katanya malas mikir, dan pengennya cepat dapat hasil, tidak mau lama-lama, seperti untuk investasi dalam pendidikan anak-anaknya. Jadi stengah hati melakukannya, dan itu pasti tidak akan menghasilkan apa-apa.
Nah, itu artinya, bongkar saja semua SMU menjadi SMK. Ya kalau keberatan, biarkan namanya tetap SMU (apalah arti sebuah nama), tapi di dalamnya harus dirombak menjadi tempat pelatihan, bukan melulu pendidikan, yang saat ini selalu dimaknai sebagai melulu hafalan dan ingatan. Sudah saatnya Omar Bakri melihat bahwa sepedanya dijadikan sepeda listrik oleh anak-anak didiknya.
Dari website-nya, disebutkan bahwa :
SMK Negeri 1 Cimahi merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Menengah Kejuruan di Jawa Barat yang menyelenggarakan Program Pendidikan Kejuruan 4 Tahun, dan merupakan salah satu SMK dari 8 (delapan) SMK Negeri di Indonesia yang memiliki program 4 (empat) Tahun, yang pembangunan fisiknya dimulai sejak tahun 1969, di atas tanah seluas 3,4 Ha, dan telah menerima siswa sejak tahun 1974 dengan nama STM Negeri Pembangunan Bandung, yang diresmikan pada tanggal 24 Maret 1977. Perkembangan SMK Negeri 1 Cimahi dari sejak berdiri sampai dengan tahun 1995/1996 bernama STM Pembangunan Bandung, sedangkan nama SMK Negeri 1 Cimahi.
Terus soal bidang keahlian dan programnya, ada beberapa bidang di sana dan program disana, antara lain :
1. Bidang Keahlian Teknik Elektro terdiri dari
• Program Keahlian Elektronika Industri dan Komputer
2. Bidang Keahlian Listrik terdiri dari
• Program Keahlian Listrik Industri
3. Bidang Keahlian Teknik Pendinginan terdiri dari
• Program Keahlian Teknik Pendinginan dan Tata Udara
4. Bidang Keahlian Teknik Instrumentasi Industri terdiri dari
• Program Keahlian Kontrol Proses
• Program Keahlian Kontrol Mekanik
5. Bidang Keahlian Teknologi Informasi dan Komunikasi
• Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak
• Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan
• Program Keahlian Teknik Produksi Program Pertelevisian
Nah, maybe saya usulkan ke adik saya untuk masuk program Program Keahlian Teknik Komputer dan Jaringan atau di Program Keahlian Rekayasa Perangkat Lunak. Mudah-mudahan dia mau tuh, soalnya kalau lihat tipikal orangnya, dia nggak terlalu suka teori-teori. Sukanya ya komputer itu, Cuma ya maennya game saja. Mudah-mudahan ini tidak berkepanjangan, smoga dia jadi “bosan” dan akhirnya berpaling ke permainan komputer lainnya seperti pemrograman dan instalasi jaringan. Yah, kecil kemungkinan dia suka, tapi siapa tahu.
Selain pertimbangan itu, saya cenderung lebih suka memilihkannya jurusan yang tidak terlalu jauh dari yang ditekuni saya, kakaknya. Ya, siapa tahu bisa bantu-bantu dia nanti dalam pelajarannya, atau setidaknya kalau ada masalah saya bisa lebih mudah memahaminya. Apa yang sudah saya capai, walaupun kecil, setidaknya bisa dia pakai untuk penopang kakinya agar lebih mudah dan lebih cepat memanjat pohon cita-citanya. Sayang sekali dulu kenapa tidak ada anak-anak Dad yang mau jadi tentara, padahal Dad sudah punya pintu untuk itu.Dad sendiri juga tidak mengarahkan kami ke sana sih, semua serba demokratis, asal harus S-1, katanya gitu.
Makanya saya nggak pernah merasa menyalahkan kalau ada artis yang menjadikan anaknya menjadi artis juga, “menjual” anak-anaknya ke produser atau pemandu bakat yang mereka kenal, lalu dalam waktu singkat…boom…sudah jadi artis deh. Bagi saya mereka tidak curang, tapi cerdik, karena ibu atau bapaknya sudah punya “tempat”, ya dipakai saja oleh si anak. Soal ada cibiran dari orang, ya anggap saja kafilah yang sedang menggonggong.

Comments (0)