Beberapa waktu lalu terdengar kabar pendirian forum T4J (Telco’s for Jabar) yang merupakan kumpulan perwakilan para operator yang beredar di Jawa Barat. Bukan merupakan hal baru karena yang seperti ini memang sudah menggejala dimana-mana. Ya, muncul lagi sebuah komunitas, yang saat ini tengah naik daun seiring semakin populernya situs ala friendster atau facebook, bukan hanya tentang situsnya, namun juga adopsi perasaan “terikat dengan aman dan mudah” yang ditawarkan oleh situs-situs gaul tersebut.
Maka berbondong-bondong perusahaan (terutama yang profit oriented) memaksakan gejala dunia ini menjadi energi baru untuk menghasilkan revenue. Entah sebagai added value atau menjadi inti dari mesin uang alias produk-produknya. Karena semakin disadari bahwa konsumen sudah semakin sadar akan haknya, sudah semakin rewel dengan apa yang didapatnya, semakin kritis, bahkan seperti mengendalikan tontonan TV via remote control, dia bisa berpindah produk dengan cepat jika produk yang dinikmatinya terasa ada yang kurang oke atau produk lain menawarkan kualitas yang lebih tinggi.
Saat ini pendekatan marketing sudah hampir menuju door to door marketing. Pelangan harus dikunjungi, didemokan produk yang ditawarkan secara visual dan mudah. Tidak cukup dengan brosur saja atau telpon saja. Apakah kegiatan ini memakan cost yang besar, tentu sangat tergantung bagaimana mekanisme dan trik dari program marketing itu sendiri. Low cost but high impact sangat perlu menjadi pertimbangan.
Pada suatu berita terbersit bahwa saat ini muncul euforia suatu jaman dengan generasi yang memiliki karakter sangat berbeda dengan karakter generasi sebelumnya, ada yang menyebutnya generasi Z, kalau saya lebih senang menyebutnya dengan generasi Internet, dimana sudah muncul para anak muda yang cenderung malas kongkow darat, lebih senang berbicara atau berdiskusi via internet, surfing minded setiap hari, anti birokrasi, namun kurang beretika (sebagai salah satu dampak negatifnya). Generasi inilah yang mewarnai berbagai produk teranyar yang dikeluarkan provider produk terkini. Generasi yang “cair dan serba sharing”. Tidak aneh kalau nanti kita dengar kabar Perusahaan Research in Motion (RIM) dengan BlackBerry-nya dan Apple dengan iPhone-nya akan mengalahkan Nokia, Motorola, Sony, Erricson, dll yang saat ini produknya sudah mulai melewati tahap puncak untuk turun teratur jika segera berganti arah.
Setuju sekali kalau para manager marketing benar-benar bisa “merayap” kemana-mana, masuk ke lingkungan elit bisnis di daerahnya masing-masing, kasak-kusuk kantor Pemda, bergaya guru atau dosen saat berjualan di sekolah atau kampus untuk keperluan promosi, berakrab ria dengan para ustadz pesantren saat memperkenalkan produknya, dan segudang kegiatan lainnya yang membutuhkan ketrampilan gaul tingkat tinggi. Communicty capability akan semakin berkibar menjadi kekuatan penentu kinerja seseorang dan organisasi.
Jangan lupa juga tentang kemampuan berpikir dan bertindak secara integrasi, dimana wawasan dan kemampuan bertindak multi disiplin menjadi kunci untuk kesuksesan suatu kegiatan, dalam bidang apapun. Ini sudah menjadi kewajiban bagi semua karyawan perusahaan untuk memahaminya dan menjadikannya sebagai standar dalam pengembangan produknya, baik dari sisi nilai maupun teknologi. Regulasi saja saat ini sudah mengarah kepada konvergensi, maka pasar harus mengantisipasinya jauh-jauh hari agar tetap dapat bertahan di tengah persaingan yang makin edan-edanan ini. Contoh kasus adalah UU No 32/2002 atau UU Penyiaran, regulasi tentang aplikasi atau konten yang diatur dalam Permen Kominfo no 1/2009, dan UU No 36 tentang Telekomunikasi, nantinya akan dilebur menjadi satu menjadi UU Konvergensi. Dan itu akan terjadi tak lama lagi. Sudah siapkan para operator dan pabrikan hardware-software terkait mengantisipasinya?
Makanya saya lebih senang jika WiMAX yang sudah menjadi concern tingkat nasional diberikan saja pengolahannya kepada komunitas, dengan pemerintah sebagai fasilitatornya. Komunitas ini bisa beranggotakan semua perguruan tinggi yang berminat memanfaatkan teknologi 4G ini, ditambah dengan para provider teknologinya, yang diharapkan banyak kandungan lokal di dalamnya. Tidak perlu lah proyek ini dilakukan tergesa-gesa, karena yang lebih penting dari adopsi teknologi ini bukan hardware-nya namun “software” di kepala para stakeholder-nya, misalnya manajemen optimalisasinya, regulasinya, kesiapan para penegak hukum, kesiapan dukungan industri dalam negeri, sampai kepada kesiapan pengguna sendiri untuk bisa memanfaatkannya menjadi barang yang produktif, tidak sekedar dijadikan mainan belaka.
Perlu diingat bahwa tujuan penggelaran teknologi WiMAX ini adalah bagaimana masyarakat dapat mengakses internet dengan cepat, mudah dan murah. Jadi ada PR besar bagi para pengambil kebijaksanaan negeri ini untuk juga memikirkan bahwa kalau sudah tersambung ke Internet, lalu apa ? Karena jika gagal memanfaatkan internet menjadi enzim pembangunan, lalu buat apa itu semua capek-capek dikembangkan di Indonesia? Paling-paling sekedar menambah kocek bagi para provider asing saja. Dan community, bisa berpanjang lebar membahas dan menganalisa hal ini secara rame-rame. Dan andai itu dilakukan, saya optimis bisa internet bisa mendongkrak kemampuan negeri ini dalam menggenjot mesin ekonominya.
Untuk itulah para pengambil kebijakan di pemerintahan perlu menjadi anggota community secara aktif. Selain sebagai sarana sosialisasi kebijakan, ajang ini bisa dijadikan sumber informasi utama sebagai masukan dalam suatu proses pengambilan keputusan atau kebijakan. Maka salut juga jika ada beberapa mentri dan pejabat negara yang kita dengar sudah memanfaatkan facebook dalam kerja sehari-harinya. Karena community sejatinya bukan sekedar urusan bisnis belaka, seperti yang dipraktekkan banyak perusahaan pengejar profit dalam bentuk VOC (voice of customer), CSR, temu pelanggan, atau yang benar-benar dibandrol dengan sebutan “community” seperti yang bisa diperoleh para pelanggan suatu produk telekomunikasi.

Comments (0)