Sengaja saya tambahkan huruf “m” pada judul tulisan ini, jadi itu bukan kesalahan ketik. Judul yang mungkin cocok untuk menggambarkan kegalauan saya dalam praktek-praktek globalisasi yang membuat konsentrasi bangsa ini hanya tertuju pada uluran tangan dunia luar untuk bangsa, entah itu atas nama kerjasama saling menguntungkan, atas nama transfer teknologi, atas nama peluang menjadi negara industri, dan puluhan alasan lain yang biasanya menghiasi proposal proyek prestisius tersebut.

Baru saja muncul berita dari Deputi Menteri Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady yang mengatakan bahwa produsen ponsel terbesar di dunia Nokia dan produsen ponsel asal China dan Korea sedang menjajaki kemungkinan membangun pabrik perakitannya di Indonesia. Boleh-boleh saja kita senang dibuatnya, karena terbayang ratusan tenaga kerja mendapatkan “sawah” garapannya.

Namun ada banyak keresahan yang sebagiannya berdasarkan pada pengamatan pribadi saya pada peluang-peluang semacam ini. Semuanya bermuara pada makin tidak mandirinya kita sebagai bangsa, alias ketergantungan yang semakin menjadi-jadi pada cengkraman tangan-tangan kapitalisme. Padahal apa kurang inovatifnya bangsa ini? Sepak bola saja sudah bisa di-mix dengan tinju, pemain bola yang harusnya diganjar kartu merah malah langsung ditangkap polisi di lapangan, energinya saja dari air (brown energy), sekali ada acara yang mengundang banjir iklan di TV maka tak lama kemudian langsung ada berbagai ragam acara kembarannya. Mungkin anda bisa cari lagi puluhan contoh bentuk kreativitas edan ala Indonesia. Jangan lupa bahwa beberapa bulan lagi akan sama-sama kita lihat bagaimana implementasi kaum golput yang konon katanya “memilih untuk tidak memilih”. Kreatif bukan ?

Kini saatnya untuk menggali dalam-dalam kreativitas itu untuk memperbaiki bangsa. Bagaimana caranya menyelematkan nasib korban PHK yang konon sudah mencapai 38 ribu pada akhir Februari ini, berikut 16 ribu lainnya yang dirumahkan. Bagaimana menjawab pertanyaan rakyat tentang untuk siapa sebenarnya pemilu kali ini, bagaimana mengimplementasikan jihad anti korupsi ala SBY.

Tertarik sekali saya dengan informasi dari Rika Ichsan, seorang manager International Education Consultancy Group yang membeberkan beberapa keunggulan pendidikan di Australia. Beberapa diantaranya yang menurut saya oke sekali adalah siswa di sana diasah untuk memiliki kemampuan analisa dan berani memiliki pendapat sendiri, mampu berkomunikasi secara verbal dan tulisan (termasuk berdebat), memformulasikan pendapat sendiri, meng-explore pengetahuannya sendiri via berbagai media terutama Internet.

Itu artinya pendidikan di Australia ini sudah secara komplit mengasah berbagai potensi para siswanya. Bukan sekedar asal kelihatan global saja, apalagi menggombal. Dalam pembuatan program studi di universitasnya saja selalu melibatkan pihak industri sehingga siswa nantinya siap dipekerjakan ke dunia kerja, tidak seperti di Indonesia yang industri dan pendidikannya tidak nyambung, andaipun suatu waktu kelihatan “nyambung”, itu hanya sebentar, untuk kemudian putus lagi, mirip dengan salah satu lagu ABG yang cukup terkenal itu.

Tapi okelah, semua yang serba wah dan global itu harus tetap difilter dengan budaya bangsa, tetapi tetap dalam kerangka pikiran positif mencapai bangsa idaman. Ternyata memang hanya seidikit negara saja yang berhasil memanfaatkan globalisasi, diantaranya Cina, India, dan sejumlah negara Eropa timur seperti Rumania, Estonia, Slowakia.

Comments (0)