Dalam http://www.kampusbook.com, ada review sedikit tentang buku dengan judul “Spiritual Thinking”. Dikatakan dalam situs tersebut bahwa :
“Manusia mudah terkelabui fenomena dunia yang fana dan sementara. Berlomba mengejar harta, jabatan, dan hal-hal duniawi lainnya. Ironisnya, mereka tidak pernah puas dengan apa yang dicapainya. Mereka dikendalikan oleh ego dan nafsunya yang bisa membuat sengsara. Sikap tersebut muncul dari pola pikir yang salah, sehingga kemudian berubah menjadi kebiasaan yang buruk. Selain memberikan alternatif nilai yang kokoh dan menenangkan, buku ini juga menawarkan terapi, latihan, dan solusi yang mudah dicoba dan dipraktikkan. Menggabungkan unsur iman dan spiritual yang berpijak pada ajaran Islam yang komprehensif serta dilengkapi dengan metode Neuro Linguistic Programming (NLP), zen, reiki, yoga, dan lain-lain. Buku ini mengajak para pembaca untuk menapaki kehidupan yang damai, bahagia, sejahtera, dan penuh makna. Simak dan miliki buku ini oleh siapa saja yang ingin mengubah pola pikirnya menjadi lebih baik dan bijaksana”.
Hmm, NLP lagi NLP lagi….saya kok jadi makin penasaran dengan barang satu ini, karena banyak juga buku-buku pengembangan pribadi yang based on NLP ini. Walaupun saya yakin ini bukan rumus akhir yang didapat oleh manusia untuk mengetahui jati diri sebenarnya, justru karena dekade ini kalau boleh saya sok tahu, adalah permulaan manusia mennyadari bahwa dirinya ternyata masih sangat-sangat kecil dibandingkan dengan sang Pencipta, wong memahami diri sendiri saja belum selesai (dan mungkin tidak akan pernah selesai sampai akhir jaman).
Namun pencarian pola atau rumus manusia itu akan terus berlangsung, sebagaimana manusia-manusia pelakunya yang terus resah atas ketidakmampuan mereka menghadapi dunia yang semakin tidak karuan ini dengan hanya berbekal otak mereka. Mereka memerlukan “pintu-pintu” lain untuk bisa mengeksplor segala potensi yang dimiliki manusia. Maka bisa kita lihat sudah mulai banyak metode-metode penyembuhan menggunakan halusinasi, membuat pelanggan puas dalam pelayananan yg diberikan dengan menggunakan pendekatan psikologi, menghentikan kebiasaan merokok memanfaatkan potensi alam bawah sadar, dan masih akan banyak lagi kegiatan-kegiatan sejenis itu. Sayangnya ada saja yang memanfaatkannya untu kejahatan. Tapi itu memang suatu keniscayaan, bagai uang yang selalu memiliki dua sisi permukaan.
Mengambil keterangan dari Wikipedia versi Indonesia (http://id.wikipedia.org/) dikatakan bahwa :
“Neuro-Linguistic Programming (NLP) adalah model komunikasi interpersonal dan merupakan pendekatan alternatif terhadap psikoterapi yang didasarkan kepada pembelajaran subyektif mengenai bahasa, komunikasi, dan perubahan personal. Secara semantik, Neuro dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dilakukan individu dalam menginterpretasikan informasi yang didapat melalui panca indra dan berbagai mekanisme pemprosesan selanjutnya di pikiran. Linguistic ditujukan untuk menjelaskan pengaruh bahasa yang digunakan pada diri maupun pada individu lain yang kemudian membentuk pengalaman individu akan lingkungan. Programming dapat diartikan sebagai berbagai mekanisme yang dapat dilakukan untuk melatih diri seorang individu (dan individu lain) dalam berpikir, bertindak dan berbicara dengan cara baru yang lebih positif. Walaupun pikiran individu telah memiliki program "alaminya", yang didapat baik melalui pewarisan secara genetis maupun melalui berbagai pengalaman, individu tetap dapat melakukan peprograman ulang sehingga dapat bertindak lebih efektif”.
Seru juga kalau menelusuri lebih jauh informasi selanjutnya pada halaman tersebut. Ada hal menarik yang sebenarnya tidak baru sih, tetapi bagus menjadi triger untuk berfikir lebih kritis, misalnya dalam hal reframming (membuat sudut pandang baru), dikatakan bahwa jika orang berkata “everyone hates me”, critical question-nya adalah who actually hates you? Sering juga sih saya men-declare “hidup saya bobrok” jika sedang ada masalah yang sebenarnya tidak terlalu serius sekalipun. Harusnya dengan reframming saya bisa tanyakan lagi pada diri saya “dalam hal apa? Wong kamu sudah berhasil mendapat kerjaan mapan kok. Wong kamu punya gaji hampir tiga kali lipat gaji adik-adikmu kok. Wong kamu sudah berhasil memper-istri cewek yang supersabar kok. Lah, kok tega-teganya masih menyimpulkan bahwa hidupmu bobrok? Jangan-jangan bukan hidupmu, tapi pikiranmu yang sudah bobrok. Wahh…
Ada satu lagi dalam NLP ini yang keren untuk diangkat sebagai bahan kontemplasi saya, yaitu Metaprograms. Masih dari halaman yang sama dari Wiki, saya kutipkan :
“Metaprograms merupakan program yang telah ada (built-in) yang mempengaruhi setiap tindakan individu. Sedikitnya saat ini telah dapat diidentifikasi sebanyak 64 metaprogram dan tentunya masih banyak lagi yang belum teridentifikasi. Contohnya berpikir dahulu atau bertindak dahulu? Menilai pencapaian menggunakan standar diri atau berdasarkan pujian atau hinaan orang lain? Menginginkan semua hal untuk sama atau mudah terstimulasi oleh berbagai hal baru dan berbeda? Apa pun cara alami individu dalam melakukan pekerjaan, selalu ada individu lain yang melakukan dengan cara berbeda. Mungkin seorang individu menganggap caranya adalah cara yang benar dan tidak menyadari sebenarnya ia hanya melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda. Dari berbagai metaprogram yang ada, sekitar 30-40% dari populasi memiliki preferensi berada di salah satu kutub, sementara sekitar 20-30% berada di antaranya. Namun bagaimana pun juga, mayoritas individu perlu melihat gambar besarnya terlebih dahulu sebelum mereka memahami detailnya, dan sebagian besar individu sangat nyaman dengan persamaan (sedikit perbedaan) dibandingkan perbedaan yang menyolok – dan salah satu penyebab mengapa perubahan di suatu organisasi cenderung lambat”.
Nah, pantas saja manusia Indonesia cenderung latah, pantas saja manusia Indonesia cenderung susah berubah, ke arah yang lebih baik sekalipun. Ada cerita kalau orang Indonesia ada di negeri lain, dia akan tergerak mengikuti aturan di sana, dan benar-benar menjadi orang yang berbeda, menjaga kebersihan, displin dalam antrian. Tapi ketika pulang ke Indonesia lagi, tiba-tiba “kemampuan” itu hilang, jadi jorok lagi, jadi egois lagi. NLP harusnya bisa menjawab fenomena ini. Dedi Cobuzye harusnya dihadirkan tiap rapat DPR dimulai untuk membahas sesuatu, agar semua anggotanya bersemangat 45, kritis dan mau mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya, tidak ada kepentingan negatif tertentu. Semua dihipnotis aja dulu, baru kalau sudah terkondisi sesuai dengan sifat-sifat tadi, baru DPR diperkenankan memulai rapatnya. Gimana tuh idenya, masuk akal kan? Wong dulu jaman saya kecil saja, di perguruan karate saya, jika ada yang mau bertanding ke kejurda, si Simpay-nya (guru karate) memutarkan film Rambo dan film Tae Kondo-nya Eric Robert “Best of the Best”, biar anak didiknya menjadi beringas saat bertanding, membayangkan pukulannya setara pukulah Rambo dan tendangannya seyahud Phillip Rhee (see http://www.philliprhee.com). Hebat gak tuh, sudah kepikir ke sana.
Lebih jauh lagi, saya jadi sempat berpikir sejauh apa NLP ini bisa benar-benar membantu hidup dan sehatnya suatu perusahaan, dalam bidangnya masing-masing. Seperti halnya pada perusahaan saya yang bergerak dalam bidang telelkomunikasi, misalnya, apakah saat ini sudah diperlukan ilmu-ilmu “bawah sadar” itu untuk memperlancar dan mengembangkan bisnisnya? Saya kekurangan data untuk ini, tetapi secara prinsip sih sudah sejak puluhan tahun silam kami menggunakan prinsip maksimalisasi pelayanan agar pelanggan benar-benar bisa dipuaskan. Harus begini caranya menghadapi pelanggan yang marah-marah, harus begitu menghadapi pelanggan yang ngemplang gak mau bayar atas layanan yang sudah dinikmatinya, dan seterusnya. Standar ini saya fikir akan terus diterapkan, walaupun sudah dipermak di sana-sini menyesuaikan dengan jaman, dimana saat ini sudah gak gampang lagi memuaskan pelanggan, utamanya yang sudah kritis apalagi pelit.
Timbul pertanyaan, apakah teknologi mampu menjawab kebutuhan ini ya? Siapa tahu begitu pelanggan marah masuk ke ruang pelayanan, begitu dia mencium bau wewangian tertentu, dia akan lupa dengan marahnya. Siapa tahu ada pelanggan yang akhirnya menjadi fanatik abis terhadap produk telekomunikasi kami saat dia mendengar suatu alunan musik yang menghiasi meja layanan kami. Bisa ditebak, bahwa wewangian dan musik itu adalah hasil dari pemanfaaatan NLP. Mungkinkah itu terjadi ? Wah, kenapa tidak, wong saya sudah membuktikannya walau dalam skala kecil kok, begitu selesai kuliah, pulang ke rumah, lalu mendengarkan musik-musik Kitaro, hmmm……sejuknya. Padahal itu tidak menggunakan campur tangan teknologi NLP loh.
Makanya aspek penampilan (walaupun tidak perlu juga harus mengikuti kursusnya John Robert Power) perlu ditekankan untuk diterapkan pada aplikasi-aplikasi customer service. Udah lecek bajunya, masam mukanya, wah…customer service yang begini perlu “dikalibrasi” lagi. Dan itu sebabnya, kenapa grup Ungu, Nidji dan konco-konconya dijadikan maskot suatu service, ya untuk imaging tentunya, memanfaatkan sifat latah dan sok ngartis sebagian masyarakat Indonesia khususnya kawula muda.
Pada saatnya nanti dengan NLP seseorang mungkin hanya perlu satu menit saja untuk menguasai suatu ilmu, seperti Trinity saat sang Neo memerlukan pertolongan untuk segera pergi dari kejaran sang Agent menggunakan helikopter dalam film Matrix. Cukup beberapa detik saja si Trinity minta diinstalkan ilmu mengendarai helikopter dari The Operator. He..he…
Dan pada saatnya nanti, saya meyakini bahwa agama akan makin terang menjadi jalan hidup, semakin terbukti kebenarannya. Ya kalau versi saya, maaf karena saya beragama Islam, Quran akan menjadi referensi tertinggi dunia ilmu pengetahuan sedunia, salah satunya karena teknologi NLP mampu mengeksplorasi semaksimal mungkin jawaban-jawaban pertanyaan mengapa Nabi Muhammad sangat jarang sakit, mengapa beliau bisa melihat ruang dibalik hijab (ramalan, mahluk gaib, berita-berita dari langit), memiliki EQ tertinggi di kolong langit, garang saat perang dan lembut saya menggendong anak-anaknya di rumah.

Comments (1)
Jelas....Jelas banget, pejelasan yang lugas dan simple memberikan inti NPL yang sangat mudah untuk dicerna. thanks